
πΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎπΎ
Masih berada di dalam ruangan rawat inap Boy, Asha dan Bobby terlibat percakapan yang cukup serius membahas tentang sikap Lolita sejak kedatangan Evan, untungnya Asha cepat tanggap , otaknya dipacu Asha untuk berfikir cepat dan cerdas menelaah keadaan yang terjadi, walaupun Asha tidak melihat kejadian yang dilihat Bobby secara langsung. Asha bertindak dengan diplomatis menerangkan duduk perkara , menjelaskan kronologis mengapa Asha mengajak Boy meninggalkan Lolita disana sendirian bersama Evan, mengapa Lolita bersikap seperti itu, yang jelas pasti ada sebabnya, dan itu tidak mungkin dilakukan oleh Lolita tanpa sebab yang kuat dan alasan yang tepat. Apalagi Lolita sudah memutuskan untuk membuka hatinya untuk Bobby, pasti Lolita mempertimbangkan segala sesuatu, bagaimana Lolita bersikap terhadap lawan jenisnya
" Asha lanjutkan yah, bang "
" terus..."
" abang Evan langsung saja peluk Lolly yang saat itu masih terdiam di ranjang pasien "
" bahkan Lolly tidak langsung membalas pelukan abang Evan "
" dengan bla...bla..bla....ucapan Rio yang membuat Lolly terpaksa membalas pelukan dari bang Evan, si situ tangisan Rio pecah, suasana haru terjadi di sana " ucap Asha yang kini malah ikut menitikkan air mata
" Rio menangis dengan terisak-isak"
" mengeluarkan isi hati nya "
" hati orang tua mana yang tidak tersentuh melihat anaknya begitu sedih dana terluka, karena kedua orang tuanya tidak pernah bertemu, sekali bertemu mereka nampak begitu asing "
" jangan kan Lolly dan abang Evan "
" bahkan Asha saja yang melihat dan menyaksikan itu "
" sangat terenyuh dengan tangisan Rio, bang " ucap Asha sambil terisak-isak, dan suara tangisan Asha pun pecah di dalam ruangan rawat inap Boy, sembari menuturkan apa yang dia lihat dan dia dengar sendiri
******Ceklek......********
suara handle pintu kamar rawat inap Boy terayun, kemudian terlihat Theo yang berdiri tegak di muara pintu kamar rawat inap Boy
" apa yang kamu lakukan, By ! " ucap Theo yang naik beberapa oktaf sambil mencengkeram kerah baju Bobby secara kasar, karena Theo melihat isterinya yang menangis tersedu-sedu, tanpa ba bi be bo lagi Theo langsung saja naik pitam ,tanpa membiarkan Bobby membela diri.
Boy yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, sangat kaget melihat adegan yang cukup serius di hadapannya,
apa yang terjadi ? ucap Boy dalam batinnya, sambil berjalan cepat, untuk memisahkan antara Bobby dan Theo. Asha segera memeluk tubuh kekar suami nya, tentu saja berusaha menenangkan amarah sang suami,
" Bee "
" kamu salah paham, sayang "
" kamu harus mendengarkan terlebih dahulu ,Bee "
" please " ucap Asha dengan nada memelas. Theo langsung melirik isteri nya, dan langsung memeluk erat Asha dalam dekapan Theo , Asha masih berupaya menenangkan suami nya, sambil mengelus - elus punggung Theo. Bahkan Asha mengajak Theo untuk duduk di sofa yang tersedia di dalam kamar rawat inap Boy, Asha pun segera mengambil air mineral dan meminta suaminya menghabiskan minumnya
Gluk...gluk....glukk....
air mineral tandas di minum oleh Theo tanpa tersisa satu tetes pun.
" Bee "
" kamu haus yah " ucap Asha menggoda suami nya, sambil mengelus - elus dada suaminya,dengan menaik turun kan alis Asha, ekspresi imut Asha sedikit melunakkan panas di hati Theo. Theo tersenyum-senyum sendiri, merasa malu
" Bee "
" kamu tadi salah paham, Bee "
" kamu harus meminta maaf kepada abang Bobby " ucap Asha
" Hm " ucap Theo hanya berdehem saja, malu untuk mengakui kesalahannya
" Bee "
" Asha tadi menjelaskan kepada abang Obby "
" apa yang terjadi sesungguhnya antara Lolly dan bang Evan"
" apalagi tadi abang Obby sudah salah paham terhadap Lolly "
" padahal yang terjadi tidak seperti itu "
" apa yang kita lihat,belum tentu benar "
" kita harus bertanya dengan baik-baik"
" kita harus mendengarkan terlebih dahulu penjelasan orang lain yang sesungguhnya "
" seperti yang pernah Bee lakukan dahulu , inget tidak " ucap Asha mengerucutkan bibirnya di akhir kalimat
" kapan, Honey ? "
" rasanya tidak pernah aku melakukannya " ucap Theo terkesiap
" dahulu "
" pernah kan " ucap Asha mengingatkan Theo tentang kesilapan di masa lalu
" itu kan dahulu, Honey "
" sekarang tidak kan ? "
" sudah Ah, jangan ungkit- ungkit masa lalu, yang penting itu masa sekarang "
" yang penting aku tidak pernah mengulangi perbuatan itu lagi, kan "
" aku pasti akan menanyakan terlebih dahulu duduk permasalahannya dan kebenarannya kepada kamu " ucap Theodore
" iya "
__ADS_1
" Uh...makin cinta deh aku sama kamu, Bee " ucap Asha sambil mengelus pipi sang suami
" nach, untuk saat ini bang Obby lah yang salah paham kepada Lolita, Bee " ucap Asha menatap ke arah Bobby. Bobby masih belum terlalu baik moodnya, bahkan air mineral yang di berikan oleh Boy saja hanya di minum sedikit.
" oke "
" Asha lanjutkan lagi yah, bang " ucap Asha, menatap wajah Bobby dengan serius, dan dibalas Bobby hanya dengan mengangguk- anggukan kepalanya saja. Theo dan Boy ikut menjadi pendengar yang baik.
" Ehem "
" Ehem "
" Ehem "
" terus , ...."
" Lolly yang melihat Rio menangis di hadapan nya "
" Lolly langsung dengan segera memeluk tubuh Rio "
" begitu pun juga dengan abang Evan "
" yang secara refleks memeluk tubuh Rio dan Lolita secara bersamaan "
" ada rindu, sedih, pokoknya suasana haru di dalam kamar rawat inap Lolly " ucap Asha dengan lirih, bahkan mata Asha mulai kembali berkaca - kaca. Theo yang melihat istrinya seperti itu, segera mengelus- elus punggung isterinya
" Rio juga mengatakan "
" jika dirinya merindukan Mommy dan Daddy yang hidup bersama seperti dahulu "
" menjadi keluarga bahagia, hidup dan tinggal bersama dalam suka dan duka bersama , Rio merindukan momen kebersamaan mereka "
" maaf "
" maafkan aku, abang Obby " ucap Asha yang kali ini tidak mampu menahan airmata yang meluncurkan dengan derasnya. Asha sungguh merasa dalam posisi dilema, satu sisi Bobby adalah sahabat suaminya,dan karena intens aktivitas bersama membuat Asha dan Bobby terikat hubungan emosional, dan Asha sudah menganggap Bobby abang nya. Dan di sisi yang lain , melihat Rio, keinginan Rio, suatu hal wajar ,tidak ada satu orang anak pun di dunia ini, menerima keputusan egois dari orang tuanya, seorang anak pasti mengharapkan kasih sayang lengkap dari sang ayah dan ibu, karena Asha pernah hidup sendirian sampai sekarang hidup tanpa orang tua, tentu sangat mengerti bagaimana perasaan yang dirasakan oleh Rio.
suasana dalam kamar rawat inap Boy Hening, sangat hening, tanpa satu orang pun berani mengemukakan pendapat. Boy menatap iba pada sang Daddy, dia tahu betul jika Bobby sangat mencintai Lolita dengan tulus, akan tetapi dia juga paham apa yang dirasakan oleh Rio, karena dia merasakan kerasnya hidup tanpa kedua orang tua.
" bang "
" coba abang bicarakan hal ini baik- baik dengan Lolly "
" aku yakin, sangat yakin "
" saat ini, Lolly pasti dalam keadaan tidak baik- baik saja lebih dari apa yang abang rasakan "
" hati dan jiwa nya terguncang "
" coba deh abang pikirkan dari sisi Lolly "
" Asha yakin Lolly sama sedihnya dengan abang, bahkan lebih " ucap Asha dengan sendu
Bobby lagi-lagi hanya terdiam, tanpa bisa menjawab apa yang diucapkan oleh Asha,
seakan - akan otaknya berhenti berfikir, bahkan bibirnya kelu walau mengucapkan satu kata saja. Bobby memilih meninggalkan Asha, Theo, dan Boy ,berlalu pergi begitu saja menuju kamar mandi. Mungkin setelah mandi,dan sholat, membuat pikiran dan perasaan Bobby akan menjadi lebih baik seperti yang selalu diucapkan oleh Lolita kepada Bobby , disaat Bobby merasa tidak bisa menjawab dari apa yang terjadi, atau saat Bobby mengalami masalah yang cukup berat
....
Bobby memilih mengadu kepada sang pemilik hati, mengadu akan luka nya,akan kegundahan hati nya,
" Dad "
" aunty sekarang menunggu kita di kamar Mommy " ucap Boy kepada Bobby
" Hm " ucap Bobby hanya berdehem saja
" Daddy Rio dan Rio sudah pulang, Dad "
" ayo, Dad " ucap Boy , dan Bobby segera bangkit dari posisi sebelumnya. Tanpa disadari Bobby ,jika dia sudah cukup terlalu lama berada di salah satu fasilitas rumah sakit , masjid yang disediakan jika pengunjung atau keluarga pasien hendak melaksanakan sholat,
beberapa waktu lalu,
sebelum pintu kamar rawat inap Lolita terbuka , seorang perawat yang sedang bertugas masuk ke dalam kamar rawat inap Lolita untuk mengecek kondisi Lolita , vital sign, suhu, dan mengecek cairan infus yang terpasang di punggung telapak tangan Lolita
Lolita yang terbangun lebih dahulu daripada Rio dan Evan, menghujami kecupan di puncak kepala Rio, dan kembali mengingat permintaan Rio yang sangat kecil kemungkinannya untuk dipenuhi oleh Lolita ,apalagi secara perlahan , Lolita telah membuka pintu hati nya akan cinta yang baru kepada Bobby,yang dengan setia menantikan jawaban dari perasaannya
" Mom " ucap Rio sambil menggeliatkan tubuhnya
" iya ,nak " ucap Lolita
" lapar " ucap Rio dengan malas tanpa membuka mata nya, membuat Lolita tertawa kecil,
" kalau kamu lapar,"
" bangun gih " ucap Lolita
Jarak yang terlalu dekat, lebih tepatnya terlalu berhimpitan, membuat aroma tubuh maskulin Evan menembus indera penciuman Lolita, jika di masa lalu , aroma tubuh ini sangat begitu dirindukan dan dinantikan oleh Lolita, dimasa kini Lolita merasa risih dalam posisi seperti ini, rasa yang tidak sama lagi, tidak akan pernah sama, meskipun masih ada sepenggal rasa yang tertinggal, rasa itu juga sudah terbalut rasa lain, sehingga sudah terasa hambar. Hanya menghormati dan menghargai Evan yang ada di dalam pikiran Lolita saat ini.
" mas " ucap Lolita
" Hm " ucap Evan,tanpa membuka matanya,dan malah semakin mendekap tubuh Lolita semakin masuk kedalam dada bidangnya. Evan masih merindukan aroma tubuh Lolita,
" mas " ucap Lolita lagi, karena Lolita merasa risih, dalam posisi seperti ini, apalagi rambut Lolita yang tidak di keramas sampai hari ini ,hanya di cuci saja,oleh karena ada luka di kepala nya,yang belum boleh terkena air bagian yang terluka
" Hm " ucap Evan dengan singkat
" mas, "
__ADS_1
" rambut Lolly belum di keramas, "
" jauh Ah " ucap Lolita, menolak perlakuan Evan secara halus
" mas "
' Rio sudah lapar " ucap Lolita dengan suara lembut, membuat Evan mencoba membuka mata nya. Pandangan mata Evan langsung tertuju pada rambut yang habis dicukur, akan tetapi tidak di tutupi plester supaya cepat kering lukanya. Evan menatap sendu melihat kepala Lolita, yang masih terlihat bekas penganiayaan
" Lolly "
" siapa orang yang telah melakukan ini kepada kamu ? " ucap Evan dengan lembut menyembunyikan emosi nya
" Oh "
" biasa lah,mas "
" nama nya usaha ada saja yang tidak suka sama kita "
" biarkan saja lah ,mas " ucap Lolita menutupi kenyataan yang sesungguhnya
" Apakah kamu tahu siapa orang nya , Lolly ? " ucap Evan lagi dengan suara lembut menutupi emosinya
" sudahlah ,mas "
" Lolly saja,sudah tidak mempermasalahkannya lagi "
" Lolly ,sudah tidak mau ambil pusing "
" apalagi sampai berurusan dengan pihak kepolisian, ditanya ini, itu, malas Ah "
" lagi pula ini hanyalah ujian yang harus Lolly terima dan Lolly hadapi "
" sudah Ah "
" mending mas pesan makanan, Rio sudah lapar ,mas " ucap Lolly dengan lembut, agar Evan melupakan permasalahan yang dihadapi oleh Lolita. Sebelum bangkit dari tidurnya , Evan kembali membelai dan beri kecupan di puncak kepala Lolita
" Oh my son,"
" sudah bangun juga nih "
" kamu sudah lapar, sayang ? " ucap Evan
" iya, Dad " ucap Rio begitu bersemangat,wajah nya begitu bersinar,senyum terus terukir di wajah tampannya. Evan segera memesan di aplikasi online, hal ini terpaksa dilakukan Evan. Karena di kota J, Evan kurang terlalu tahu lokasi, selain itu dia hanya ingin terus bersama Lolita dan Rio saja.
pukul 20.00 wib,
Suara operator yang mengatakan jam kunjungan berakhir, membuat Lolita bernafas lega
" mas, kamu tinggal dimana ? " ucap Lolita
" di hotel X " ucap Evan menatap penuh cinta pada Lolita
." mas "
" kamu jangan begitu sih " Lolita risih dengan tatapan Evan
" mas "
" tidak apa-apa kan jika Rio sementara menginap di mansion abang Theo " ucap Lolita dengan lembut
" tidak usah "
" besok hari sabtu kan, Rio libur sekolah "
" biar Rio ikut dengan mas saja " ucap Evan
" mas "
" soal permintaan Rio "
" Hm " ucap Lolita hendak mengajak Evan membahasnya saat ini juga, namun Evan mengatakan jika sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membahas itu dan Evan juga mengatakan bahwa dia sudah mereview beberapa brosur perumahan dan apartemen untuk dia beli,dan tempati jika berada di kota J.
Lolita pasrah saja,toh itu hak nya Evan,untuk memiliki sesuatu kecuali cinta dan hati Lolita, karena cinta nya kepada Evan telah lama terbenam dan tenggelam bersama masa lalu,
" mas "
" maaf "
" sudah malam, kasihan Rio " ucap Lolita menatap manik mata Evan, takut jika Evan merasa tersinggung, yang di tatap bukan merasa tersinggung ,malah merasa sedih
sedih harus berpisah dari wanita yang saat ini masih bertahta di hatinya. Pada akhirnya Evan membawa Rio menuju hotel X ,tempat Evan menginap di kota J.
*
*
*
*
*
*
*
ππ
__ADS_1