
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Moment rutinitas sarapan pagi biasa di lakoni mereka setiap harinya di mansion Theo dan Asha, lebih ramai dari sebelumnya, kalau biasanya, Asha hanya di temani Rava dan Ravi, kali ini dengan banyaknya personil yang duduk memenuhi kursi meja makan, membuat Asha semangat menghabiskan menu sarapan pagi nya hingga tandas, selesai mengisi perut mereka, sedikit obrolan ringan sebelum mereka semua melakukan aktivitas lain, ke sekolah dan bekerja.
Bobby bahkan meminta izin pada Asha untuk menginap di mansion Theo sampai akhir pekan, untuk Lolita menginap di mansion Asha, walau pun sebenarnya semalam sudah menyampaikan hal itu pada Theo, Bobby hanya sekedar basa-basi, membuka obrolan kala itu,
jawaban Asha sudah pasti seperti biasa, Asha sangat antusias atas permintaan Bobby kepada dirinya, bahkan Asha sudah mempersiapkan schedule untuk mereka menikmati weekend bersama keluarga, hal ini tentu saja tidak pernah diperkirakan oleh Lolita, Bobby seenak jidat memutuskan sesuatu tanpa persetujuan dari Lolita, bukan karena apa Lolita risih tinggal di rumah orang lain meskipun sahabat baiknya sekalipun, Lolita merasa sungkan untuk menumpang di tempat orang lain sedangkan masih banyak opsi lain tanpa harus menumpang, karena tentu saja membebani orang yang akan ditumpangi oleh anggota keluarga Lolita. Namun Asha yang sudah tahu dengan sikap Lolita berpura-pura merajuk untuk menarik simpatik Lolita agar Lolita mau menuruti kehendak Bobby dan Asha, yah mau bagaimana lagi, mau tidak mau Lolita harus mengiyakan permintaan Bobby dan Asha.
Bobby memilih kediaman keluarga Theo dikarenakan Bobby merasa keamanan Lolita dan kedua putranya Lolita aman jika berada di mansion Theo ketimbang Lolita harus menginap di penginapan atau hotel, Bobby sangat tahu betul karakter mommy Melani yang pasti menghalalkan segala cara untuk membuat Bobby dan Lolita berpisah, oleh karena itu Bobby memutuskan hal ini tanpa mempertimbangkan terlebih dahulu pendapat Lolita yang sudah pasti menolak.
" Mom "
" Mommy "
" bolehkah Rio meminta adik yah " ucap Rio saat hendak beranjak dari kursinya
Uhhuk..... Uhhuk......
Permintaan dari Rio membuat, Lolita saat itu sampai terbatuk-batuk, hingga Asha sedikit menepuk- tepuk ringan punggung Lolita, dengan harapan derita Lolita yang sedang tersedak sedikit berkurang, air yang diminum Lolita , berpindah ke dalam lubang hidung, membuat wajah Lolita sedikit memerah,
adik dari mana, nih bocah, emak ma bapak lo udah cerai, nak...gumam Asha dalam benaknya
" Mommy, tidak apa-apa " tanya Rio dengan cemas, sedangkan Lolita melambaikan tangannya memberikan kode bahwa dirinya baik-baik saja, suasana di ruangan makan tiba-tiba terasa canggung akibat ucapan Rio secara spontan, Bobby sama terkejutnya dengan Lolita dengan diam mematung, Evan terkejut namun kemudian tersenyum simpul menahan senyuman yang akan menjadi lebih sumringah, mengingat perubahan raut wajah Bobby yang duduk di hadapannya, sedangkan Boy sudah menekuk wajahnya menahan perih di hatinya atas permintaan sang adik.
" ayo, dik "
" nanti kita telat " ajak Boy mengurai kecanggungan orang dewasa,dan dirinya. Boy sendiri terkejut dengan pernyataan yang baru saja adiknya lontarkan kepada sang mommy.
Bobby dan Evan mengekori anak mereka masing-masing, dan berpisah mengunakan mobil masing-masing, Boy nampak membuang wajahnya ke arah kaca yang bertengger di pintu samping tubuhnya, mood Boy mendadak langsung menyusut, Bobby bisa melihat perubahan raut wajah Boy, dan mood Boy sejak meninggalkan mansion Asha, Bobby yang sedang tidak menyetir sendiri, karena ada pak sopir yang bekerja dibelakang kemudi, terus menerus memperhatikan Boy sehingga Bobby merasa yakin dengan pendapat nya berdasarkan feeling , Apalagi terlihat jelas ketidaknyamanan anak angkatnya
" kamu kenapa ? "
" apakah kamu lagi ada masalah ? " tanya Bobby setelah puas sibuk dengan iPad nya yang sesekali melihat kearah Boy, Boy hanya menjawab pertanyaan Bobby menggelengkan kepalanya saja , Boy sudah malas untuk ngomong menceritakan isi hatinya, karena sang Daddy pasti akan menceramahi nya seperti yang sudah-sudah dengan kalimat bijak andalan sang Daddy, padahal dalam dunia percintaan, tidak ada pertemanan dalam hal bersaing, mendapatkan cinta seorang pujaan hati
Sedangkan menurut Boy dalam sebuah pertarungan menang atau kalah, dapat atau tidak, berhasil atau tidak, menikah atau tidak itu saja pilihan, hanya ada dua jawaban dari setiap usaha, menurut pikiran Boy saat ini. Dia bukannya tidak menyukai Evan yang memang punya ikatan darah pada adik yang begitu dia sayangi, namun Boy mempunyai harapan lain, dia berharap sang Daddy lah yang bersanding dengan sang Mommy, memiliki keluarga yang utuh dan bahagia. kalau sampai sang Daddy sudah menikah dengan Mommy, jelas Boy tidak akan merasa was-was seperti saat ini, kalaupun mau baik dengan Daddy nya Rio sebatas baik untuk menjalin hubungan silaturahmi saja, tapi dalam kondisi seperti ini, sangat riskan posisi Bobby, apalagi pernyataan Rio yang barusan saja meruntuhkan tembok harapan Boy.
Dalam hal ini bukan hanya Bobby saja yang galau, bahkan pendukung nya juga ikut merasakan kegalauan tingkat dewa, akan hasil akhir drama keluarga ini.
" kamu kenapa, Hm "
" di tanya Daddy, kok hanya diam saja "
" tidak baik Loh, mendiamkan orang lain yang mencoba mengajak kamu untuk mengobrol "
" apalagi orang tua " ucap Bobby dengan lembut, Bobby harus mengambil hati sang anak, karena usia remaja, usia yang sangat rentan, moodnya seperti rolling coaster, anak labil, kata para readers, setidaknya Bobby sudah tahu alasan kenapa Boy bertingkah laku seperti ini, hanya saja Bobby mencoba untuk mengkomunikasikan perasaan Bobby ke Boy agar semakin erat ikatan emosional antara dirinya dengan Boy
" Daddy tuh menyebalkan "
" sudah Ah "
" lagi malas ngomong sama Daddy " ucap Boy, yang mengalihkan pandangannya ke handphone miliknya
" menyebalkan "
" apanya yang menyebalkan dari Daddy "
" yah ,ngomong dong "
" kurangnya Daddy dimana "
" biar Daddy bisa introspeksi diri " ucap Bobby menautkan kedua alisnya, dan sedikit menyunggingkan senyuman tipis, umpan sudah dimakan ucap Bobby di dalam benaknya
" tahu Ah " ucap Boy singkat ,masih mode on merajuk
Daddy tuh tahu tidak , daddy tuh bikin sebal, greget tahu, Daddy tuh benar-benar nyebelin, bisa enggak Daddy tuh, gercep dikit kek....ntar disalip orang, ...kesel...kesel...kesel....ucap Boy dalam batinnya, dengan ekspresi marah dalam imajinasinya
Perjalanan yang mereka lalui telah sampai lah pada tempat tujuan, gedung sekolah Boy. Boy meraih telapak tangan Bobby untuk segera salim dengan penuh takzim dan dengan malas , kemudian Bobby membalasnya dengan mengusap puncak kepala Boy dengan penuh cinta kasih
" kamu sekolah yang benar "
__ADS_1
" itu kewajiban kamu sebagai anak "
" soal Mommy "
" Daddy pasti akan berusaha semaksimal mungkin "
" menurut feeling dan insting Daddy "
" Mommy pasti akan menjatuhkan pilihannya kepada Daddy "
" Daddy hanya tidak ingin memaksa Mommy "
" karena mommy kamu masih sangat memikirkan Rio "
" karena Rio tidak tahu hal sesungguhnya "
" jika Rio mengetahui kenyataan sesungguhnya hubungan Daddy dan Mommy ,akan menjadi taruhannya "
" apakah Rio mampu menerima kenyataan atau dia "
" apakah Rio akan memilih untuk mengikuti Daddy Evan "
" kasihan Mommy kamu nak "
" itu yang menjadi bahan pertimbangan Daddy untuk berdamai dengan waktu, oke "
" Daddy diam bukan berarti Daddy tidak ada usaha "
" Daddy diam menunggu saat yang tepat, nak,..."
" jangan khawatirkan hal itu "
" sekolah yang benar saja "
" bikin Daddy bangga sama kamu yah, nak " ucap Bobby agak panjang namun dengan nada suara yang lembut
Bobby bukan tidak tahu apa yang menjadi beban pikiran anaknya, walaupun mereka tidak terikat hubungan darah, keseharian yang mereka lalui bersama, membuat mereka mengenal lebih banyak, mengerti lebih banyak tentang apa yang disukai, tidak disukai, senang, kesal, sedih dan lainnya
" lelaki boleh menangis kok "
" tangisan laki-laki bukan tabu, menangis lah jika kamu mau menangis "
" mommy akan selalu menjadi mommy kamu "
" begitu pula dengan Daddy , akan selalu menjadi Daddy kamu "
" dan Mommy akan selalu menjadi milik kita, yakin itu yah nak " ucap Bobby, sambil menarik tubuh Boy kedalam pelukannya, air mata Boy sudah mengalir, terjatuh di punggung Bobby mengenai jas bobby bagian belakang, Bobby menepuk- tepuk punggung Boy dengan lembut
Boy mengangguk- anggukan kepala nya,harapannya dan doa nya, ingin memiliki keluarga utuh, meski bukan ayah dan ibu kandung, dia hanya ingin jika Bobby dan Lolita terus bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan hanya itu saja harapan nya.
mood Boy seperti ter- charge dengan full, semangat nya bangkit, tekad nya menjadi anak yang berbakti, anak soleh kebanggaan mommy dan Daddy, menyatukan Mommy dan Daddy , memiliki keluarga yang utuh, hanya itu impiannya saat ini. Boy berlalu meninggalkan Daddy nya, Bobby masih berdiri dengan meletakkan kedua tangannya di dalam saku celananya, Bobby masih setia memandangi punggung sang anak,
Sebenarnya di masa itu, Bobby sudah mulai meminta detektif yang dia sewa, untuk mengusut detail informasi tentang Boy, di lihat dari postur tubuh Boy yang tidak biasa dari ukuran anak remaja seusia dengannya , dipastikan dia bukan berasal dari warga pribumi +62, apalagi warna rambutnya Boy, jenis warna rambut itu, sudah sangat dipastikan bukanlah berasal dari penduduk pribumi, saat pertama kali bertemu dipikir Bobby anak itu mengecat warna rambutnya, ternyata itu warna asli dari rambut Boy, akan tetapi mengapa dia berada di sini? ataukah salah satu orang tuanya menikah dengan warga pribumi, atau Boy memang anak yang tidak diinginkan, atau apa....
Namun Bobby mempertimbangkan perasaan Boy yang akan terluka jika Bobby menyelidiki asal usul nya, karena dengan pertimbangan itulah Bobby menghentikan investigasi kebenaran tentang Boy, Bobby sudah terlanjur sayang dengan anak angkatnya, Bobby tidak ingin melukai hati Boy, dan dia pun sudah bertekad dalam hatinya, Boy adalah anaknya, meskipun kelak dia akan memiliki anak yang memang darah daging nya sendiri
" ayo, jalan ,pak " ucap Bobby meminta pak sopir melanjutkan perjalanan mereka menuju kantor
Sedangkan di mobil yang berbeda, dengan tujuan yang sama, Evan mengantarkan pergi sekolah anak kandungnya,
" Daddy "
" kenapa tersenyum-senyum sendiri ? " ucap Rio dengan curiga
" iih , kamu nak "
" kenapa kamu meminta adik ,tadi "
" Hm " ucap Evan pada Rio, sambil mengelus-elus puncak kepala anaknya
__ADS_1
" Rio minta adik "
" kasih Rio adik yah, Dad " ucap Rio dengan penuh harap
membuat Evan menampilkan wajah yang begitu sumringah, akan penuturan dari anaknya, pasti setelah Lolita menerima dirinya kembali, dia akan segera mewujudkan keinginan Rio
" kamu mau adik laki - laki atau perempuan, nak ? " tanya Evan masih mengembangkan senyuman nya
" terserah, Dad "
" mau laki-laki ataupun perempuan "
" Rio suka semua " jawab Rio masih dengan penuh semangat
tanpa menjawab Evan hanya terus tersenyum bahagia,
" wah "
" Rio sudah mau meminta adik "
" selamat berjuang, tuan " ucap pak sopir menggoda tuannya, tanpa tahu hubungan sesungguhnya Evan yang sebenarnya sudah bercerai beberapa tahun yang lalu, bahkan banyak pegawai tidak mengetahui hal itu, wajar jika pak sopir tidak mengetahui, sekelas jajaran direksi saja tidak tahu, kecuali, para asisten pribadinya yang sekaligus sahabatnya
" mohon didoakan saja, pak " ucap Evan
sang sopir menganggukan kepalanya, kembali fokus dengan kemudinya untuk mengantarkan Rio dan Evan menuju tempat tujuan masing-masing
sedangkan di mansion, Theo yang baru saja turun dari kamar utama, di sambut tawa sang isteri dari arah dapur
" duh, seneng banget sih, kamu, Honey "
" puas- puasin ngobrol mumpung Lolly menginap "
" biar kamu tidak cemberut mulu " ucap Theo sebelum meminum susu hingga tandas
setelah Theo berangkat, seperti biasa, nyonya rumah tidak ada kerjaan lain, mulai sesi obrolan, kala pagi sambil ngerumpi segala hal, dari hal yang tidak penting, hingga agak sedikit berbobot
Lolita di pusingkan dengan janji temu klien, meski usaha nya masih terbilang kecil, yang merupakan usaha rintisan, namun cukup mumpuni di bidangnya, terbukti semakin banyak customer, bahkan beberapa perusahaan besar melirik usaha nya untuk di ajak kerjasama
kenapa Lolita menolak kerja sama dengan Evan, Theo, dan Bobby, karena Lolita ingin berjuang sendiri di bisnis start-up miliknya,
apalagi Lolita sangat paham betul bagaimana karakter orang- orang terdekat nya, Lolita hanya ingin mandiri, berjuang sendiri, bagaimana meniti karier dari titik terendah
padahal sudah beberapa kali Bobby memergoki beberapa klien yang berbeda genre dengan Lolita ada maksud lain setelah membicarakan hal bersifat pribadi diluar topik bisnis,
sampai- sampai dia harus mempekerjakan bodyguard perempuan yang sedang menyamar bekerja sebagai salah satu karyawan Lolita,
Siska, gadis itu juga lah yang memberitahukan kehadiran ibunya Bobby di ruko, kenapa Siska tidak ikut bertindak membantu Lolita, jika dia melakukan hal itu, tentu akan membuka kedoknya selama ini, dan tentu dia harus segera berhenti dari pekerjaannya
sedangkan Siska sudah terlanjur menyayangi Lolita, dia tidak ingin bekerja di tempat lain, dia terlalu betah dan nyaman dengan Lolita,
Siska akan bertindak jika yang menjadi lawan Lolita orang lain, dia tidak segan- segan menunjukkan kemampuan tarungnya terhadap musuh, berbeda jika berhadapan dengan Lolita, Siska berusaha keras merubah sikapnya yang dominan keras, menjadi begitu imut, lucu, dan lemah bila berada di sekitar Lolita, seperti sikap Mona yang nampak seperti kucing rumahan yang manja dan lucu
Mad, selalu menjulukinya rubah betina, atau Anabel, jika mereka bertemu, atau tidak sengaja bertemu...
Bobby bahkan sedikit pusing dengan tingkah mereka jika bertemu, seperti air dan minyak, tidak akan pernah menyatu,
oleh karena itu Mad di pindah tugaskan, Mad di pinta Bobby mengurus perusahan miliknya yang berada di NY . Untuk sementara ini , Richard,Mark, dan Dimas, yang akan mendampingi Bobby menjalankan perusahaan nya sendiri.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
🍒🍒