
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Setelah Bobby dan Boy melonggarkan pelukan mereka, Bobby masih menatap wajah sang putera
" Daddy akan berusaha, untuk membuat kamu memiliki keluarga yang utuh..."
" tapi saat ini, Daddy masih harus mengurus beberapa hal penting..."
" demi Mommy, demi kamu, dan demi Daddy..."
" demi kita..." ucap Bobby dengan lembut, Boy masih mencerna ucapan Bobby, dan Bobby menghela nafas mencoba memberikan kalimat yang terbaik untuk dia lontarkan kembali dari hati nya yang paling dalam
.
.
" jaga Mommy, jika Daddy tidak di sisi nya..."
" tetaplah bersama Mommy, meski Daddy tidak bersama kalian..."
" cinta kasih Daddy hanya untuk kalian.."
" selalu dan selalu untuk kalian,.."
" Hm...." ucap Bobby lagi dengan nada yang sama seperti sebelumnya, Boy masih diam saja, dia hanya menganggukkan kepalanya, seperti sebelumnya
" kamu putera Daddy..."
" kamu juga putera Mommy...."
" putera kesayangan kami,.."
" dan akan selalu seperti itu, tidak akan tergantikan..." ucap Bobby lagi
kali ini airmata Boy mengalir deras tanpa bisa dia hentikan
kebetulan Lolita turun dari lantai tiga ke lantai dua, dengan menapaki setiap anak tangga
" bang..." ucap Lolita dengan kesal
Lolita memeluk tubuh Boy yang hampir tidak bisa dipeluknya lagi, karena pertumbuhan remaja ini kian pesat
" katakan,.."
" apa Daddy menyakiti kamu.."
" Hm..." ucap Lolita memindai seluruh bagian tubuh anaknya, namun pertanyaan Lolita mendapatkan gelengan kepala dari sang anak,
Boy memeluk tubuh mungil sang Mommy, dan Lolita mengelus-elus puncak kepala Boy
" ada apa, nak...."
" katakan, sayang...." ucap Lolita dengan lembut, Boy menjawab pertanyaan Lolita dengan gelengan kepala lagi
" bang...." tanya Lolita menatap kesal sang kekasihnya, dengan sedikit mendelik matanya
Bobby menggaruk tengkuknya yang tidak gatal,
" tidak, Mom...."
" tidak apa-apa...."
" Boy hanya ....."
" hanya ingin dipeluk Mommy, dan Daddy..." ucap Boy,
Lolita dan Bobby mendengarkan pernyataan dari Boy, tanpa perlu aba-aba, Bobby segera mendekati Boy, dan mereka melakukan big hug,...
Boy merasa dicintai, sungguh dia enggan waktu berlalu, berhenti lah berputar, dia takut pelukan ini mungkin terakhir kali yang akan dia rasakan, kejadian di mansion orang tua Daddy nya sungguh meninggalkan kesan yang luar biasa menyakitkan, meski sang Mommy selalu mencoba tersenyum saat mereka berada dalam taksi, tetap saja luka itu membekas di hatinya
" hei .."
" ayo...mandi...."
" kita masih harus berkunjung di panti asuhan nyonya Darwis...." ucap Lolita, dengan lembut
pasangan ayah dan anak itu, enggan melepaskan pelukan mereka
" Kya...." teriak Lolita, namun bukan melepaskan pelukan mereka berdua sepakat mengerjai Lolita
" baik..baik...."
" nyonya keropi..." ucap Bobby berleha-leha di curuk leher Lolita
" nih, yah..."
" bukan di ajarin baik ,anaknya..."
" malah diajarin gini...." ucap Lolita sambil mencubit perut Bobby yang sixpack,
" cepetan mandi, Boy..."
" ibu si keropi mau ngamuk tuh..."
"lihat, tuh mata keropi sudah pada melotot..." ucap Bobby menggoda Lolita
Lolita baru sadar, jika dia di kerjain, oleh bobby karena memakai piyama bewarna hijau bergambar kodok dengan kedua mata yang ukurannya lebih besar dari tubuh
.
.
.
.
Panti asuhan nyonya Darwis,
Ada pasangan yang datang terlebih dahulu sebelum mereka tiba, setelah mengucapkan salam, ibu Darwis menyambut Bobby dengan pelukan
" wah..."
__ADS_1
" sekian lama, baru nonggol,.."
" kemana saja kamu, nak..." tanya ibu Darwis, dengan binar di wajahnya, sedangkan Bobby menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
" Bang..." ucap Bobby sembari bersalaman, dan berpelukan khas lelaki
" apa kabar kamu..."
" wah pinter juga kamu pilih..." ucap Kenzie
" kenalkan bang..."
" kakak..."
" ini Lolita, calon isteri Bobby...." ucap Bobby dengan malu
Zhafira segera mendekati Lolita, seperti biasa Zhafira orang yang begitu hangat dengan siapapun , Zhafira meraih tubuh Lolita untuk segera berpelukan setelah mereka melakukan salam-salaman , sejak Kenzie menikah dengan Zhafira, kini dia mengikuti cara sang isteri , untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis
" nona Zhafira..." ucap Lolita dengan malu,
Lolita mengenali wajah Zhafira, karena Zhafira pernah menjalin kerjasama dengan mantan suaminya di kota S***
" iya..." sahut Zhafira dengan polos
" Hm...."
" nona lupa sama saya.." tanya Lolita,dengan wajah malu- malu
Zhafira menatap suaminya, Kenzie tahu bila sang isteri soleha nya pasti lupa dengan lawan bicaranya
Kenzie merangkul pinggang kecil Zhafira
" Honey..."
" tuan Evan di kota S***,..." ucap Kenzie mencoba mengingatkan sang isteri, berharap sang isteri mengingatnya
" bisnis tambang di sana..."
" adik kandung tuan Farel..." ucap Kenzie lagi mencoba mengingatkan Zhafira, namun Zhafira mengelengkan kepalanya, pertanda dia tidak menginggat apapun itu,
" wanita ini, mantan isteri Evan..." ucap Kenzie masih berbisik di telinga Zhafira, namun Zhafira tetap melupakan sosok pria mana pun kecuali keluarga nya saja
ingin rasanya Kenzie segera memakan Zhafira saat ini juga, yang begitu terlihat menggemaskan bagi Kenzie
namun Kenzie harus menahan diri sampai mereka menyelesaikan kunjungan di panti asuhan milik nyonya Darwis, agar sang isteri merasa senang,
Kenzie dan Bobby mulai bercengkerama membahas bisnis dan segala topik pembicaraan pria, sedangkan Zhafira dan Lolita membahas banyak hal seputar perempuan
" sepertinya kamu lebih muda dari aku yah ..."
" sudah punya dua anak..."
" masyaallah...." ucap Zhafira dengan antusias
" tidak juga, kak..."
" kita seumuran, beda beberapa bulan saja..."
" kak...."
" saya akan mendoakan, semoga kakak segera mendapatkan momongan...." ucap Lolita mendoakan orang yang dikenalnya
" Aamiin, ya Robb..."
" Allahumma aamiin..." ucap Zhafira dengan mengukir senyum di wajah cantiknya
.
.
.
" katakan,..."
" ini bukan perempuan yang di katakan Darren..."
" saat dia menghadiri acara pertunangan kamu .." ucap Kenzie menyelidiki Bobby dengan sedikit memicingkan matanya
" abang ada undangannya..." tanya Bobby
" yah, adalah..."
" masa sekonyong-konyong, abang datang ke mansionnya tuan Ubaidillah Affandy..."
" walaupun hanya di hadiri oleh Darren saja .."ucap Kenzie
Bobby menepuk jidat nya,
" kenapa kamu begitu frustasi...." ucap Bobby
" mohon bantuannya ,bang..."
" tolong bantuin Bobby, bang..."
" Mommy menjodohkan Bobby dengan Olivia..."
" abang tahu kan sepak terjang perempuan itu..." ucap Bobby dengan frustasi
" jangankan sepak terjang dia...."
" sepak terjang kamu saja abang juga tahu..." ucap Kenzie santai
" tolong lah, bang...."
" Bobby sudah tidak tahu lagi siapa kawan siapa lawan di perusahaan Bobby..."
" bahkan Finn berkhianat..."
" beberapa dokumen penting yang mana yang hilang, yang mana yang belum Bobby cek dan kroscek,..."
" yang mana yang telah dicurangi ,Finn ...." ucap Bobby dengan wajah frustasi
__ADS_1
Bobby menarik nafasnya dalam-dalam,
" waktu aku kurang dari enam bulan ,bang..."
" kalau tidak perusahaan aku bisa kolaps...." ucap Bobby dengan pasrah
Kenzie nampak kasihan dengan Bobby , sepertinya kondisi Bobby saat ini tidak main-main
" abang, bantu kamu,..."
" tapi jangan kamu bocorkan ke siapa pun..."
" bahkan tuan Ubaidillah Affandy..."
" itu akan mempengaruhi hubungan tuan Ubaidillah Affandy dengan Daddy nya abang...." ucap Kenzie dengan serius
" serius,bang..."
" Alhamdulillah...." ucap Bobby dengan mengatupkan kedua tangannya di wajah tampannya
" jangan senang dulu...."
" kita belum tahu seberapa besar dampak kerusakan pada sistem perusahaan kamu..."
" saat orang-orang nya abang bekerja, jangan kamu memperkenalkan diri pada mereka, jangan akrab, lakukan se natural mungkin,..."
" agar kita tahu siapa penyusup di perusahaan kamu..."
" kalau tuan Ubaidillah Affandy yang sudah memerintah itu, mungkin saat ini, tidak main-main, kamu harus menuruti kehendak nya..."
" kalau tidak, yah...." ucap Kenzie
" tolong lah, bang...."
" hutang Budi aku ini, kelak akan aku balas suatu saat nanti...." ucap Bobby
" ok..."
" itu janji kamu..."
" tepati itu, atau kamu akan berhutang seumur hidup, dengan aku..." ucap Kenzie
dan mendapatkan anggukan kepala dari Bobby
" enam bulan , bang...."
" itu batasnya..." ucap Bobby menatap serius lawan bicaranya, dan Kenzie nampak berfikir
" aku tidak bisa berjanji soal waktu,..."
" bisa cepat atau lamban...."
" aku hanya bisa berjanji akan membantu kamu, sampai perusahaan kamu pulih..." ucap Kenzie dengan realities
" di bantu abang, saja, sudah mengurangi beban Bobby, bang ..."
'' terima kasih banget, bang...." ucap Bobby, sambil menepuk pundak Kenzie
" ya elah,..."
" nih anak, dikasih hati, minta jantung..."
" asal main namplok aja..." ucap Kenzie yang sudah belajar tidak se datar saat masih single
" cie - cie..."
" yang sudah bisa nge-banyol..."
" kakak mah hebat,..."
" buat si pria kutub menjadi pria hangat..." ucap Bobby mengoda Kenzie
" Oh yah...."
" maka akan aku doakan wanita itu bisa mengubah kamu dari pria ramah menjadi pria soleh.." ucap Kenzie membalas godaan Bobby
" pria ramah...."
" pria apa itu...." tanya Fira mendekati suaminya
" oh bukan apa-apa , Honey,...." ucap Kenzie, tanpa memberikan penjelasan, takut sang isteri tahu arti yang sesungguhnya, tentu akan membuat Kenzie kena plintir perutnya, karena sudah menghina orang lain
Kenzie dan Zhafira segera undur diri dari panti asuhan nyonya Darwis, karena masih ada schedule yang harus mereka selesaikan hari ini sebelum mereka melakukan perjalanan bisnis
sekarang, saatnya pasangan baru ini yang akan memulai beramah-tamah dengan pemilik panti asuhan milik nyonya Darwis
Boy memindai setiap sudut panti asuhan, sepertinya panti asuhan ini sangat nyaman bagi para anak asuh nyonya Darwis, banyak fasilitas yang dilengkapi disini
nyonya Darwis menjelaskan apa saja keterampilan, apa saja prioritas panti, dan panti juga mengeksplorasi bakat dan minat anak asuhnya, sehingga jika mereka sudah keluar dari panti asuhan mereka akan menjadi sosok manusia yang mandiri
Boy merasakan kelembutan nyonya Darwis, bahkan dia sudah memanggil nyonya Darwis dengan sebutan eyang..
atas permintaan nyonya Darwis,
mereka memperkenalkan diri dengan anak-anak panti asuhan, dan anak - anak asuh bu Darwis sangat antusias akan kehadiran para orang baik, yang selalu mensubsidi panti, dan memberi fasilitas yang mereka butuhkan,
*
*
*
*
*
*
*
ππ
__ADS_1