
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
perjalanan menuju ke rumah Hamid hanya menempuh waktu tidak lebih dari satu jam perjalanan dengan roda empat, apalagi jalanan tidak terlalu ramai seperti biasanya, hari ini sudah masuk waktu weekend bagi para pekerja kantoran
Lolita memaksakan diri nya untuk tidak tertidur di dalam mobil, takut Evan akan masuk ke kamar nya dan memaksa menginap, sedangkan dia jika tertidur sudah tidak tahu apa-apa, dengan menahan kantuk dan sakit di sekujur tubuhnya membuat Lolita merasakan sakit kepala luar biasa,
saat mobil yang di tumpangi nya sudah berhenti tepat di depan halaman rumah Harun, Lolita mengucapkan berjuta-juta rasa syukur ,di dalam hatinya, karena tubuhnya butuh istirahat,
" mas pulang, mandi, makan, dan istirahat yah.." pinta Lolita sebelum turun dari mobil Evan
" aku antar ke dalam yah, sayang..." pinta Evan dengan sedikit memaksa
" tidak usah mas..."
" pulang lah yah...." pinta Lolita dengan lembut menerbitkan seutas senyuman di wajah cantiknya
" mari, bang, ..." ucap Lolita menatap Jhon dan para bodyguard sembari turun dari mobil, sedangkan Evan jangan di tanya sebelum turun Evan sudah bermanja-manja ria, beberapa kali Lolita membuat rayuan pulau kelapa agar Evan tidak semena-mena nanti nya,belum lagi Evan meminta jatah peluk dan cium meski tidak di bibir tetap saja harus mencium Lolita, tanpa malu di hadapan para bodyguard, Jhon, dan sopir,
mereka yang melihat nya saja pura-pura tidak melihat,dan tidak mendengar, isi percakapan mereka berdua, yang di dominasi sikap Evan yang seperti balita usia lima tahun merengek manja terhadap ibunya
Lolita mengetuk pintu rumah Harun, disertai salam sapa, wajah Amelia menyambut kedatangan Lolita dengan wajah sumringah mendadak berubah pias
" mami...." panggil Lolita dengan suara kecil
" kamu kenapa, nak.." tanya Amelia dengan wajah cemas
" kamu tidak di apa-apa kan Evan ..." tanya Amelia lagi dengan segudang pertanyaan, dan raut wajah cemasnya
" bukan, mi..."
" bukan evan, wanita itu..." ucap Lolita dengan nada melemah
" Lolly......" belum selesai Lolita menyelesaikan kalimatnya, sakit kepala yang menyerang nya semakin kuat, sehingga dia tidak mampu menahan nya lagi, membuat tubuh nya terjatuh ke lantai
" Lolly...!!!!!!...." teriak Amelia dengan sekencang - kencangnya
" Dad...."
" Daddy...." teriak Amelia yang sudah berteriak dengan kencang, Amelia melupakan jika mereka memiliki tamu yang menginap di rumah mereka
" Astagfirullah Allazim..." ucap Harun, sambil berusaha mengangkat tubuh Lolita,namun Bobby tidak membiarkan tuan Harun melakukan nya, dia membopong tubuh Lolita ala bridal style dengan cepat menuju ke kamar Lolita
" Astaghfirullah Allazim..."
" mi, ada apa dengan Lolly..." ucap Harun pelan , setelah menunggu kedatangan dokter keluarga ke rumah mereka
" tidak tahu, mami..,"
" Daddy...." ucap Amelia yang memang Lolita pulang sudah dalam kondisi seperti ini
" apa , Evan..." tanya Harun pelan,agar tidak terdengar oleh tamu mereka
" bukan...."
" Lolly bilang, wanita itu..." ucap Amelia agak besar supaya Bobby mendengar juga, agar tidak berasumsi sama dengan suami nya, takut terjadi perkelahian yang tidak terduga, yang pasti akan menyebabkan pertikaian di antara kedua belah pihak
" wanita itu..?..."
" siapa, mi..." tanya Bobby, dengan berusaha menahan emosinya agar tidak terlihat
jangan ditanya Boy, saat ini hati dan perasaan nya sangat sedih melihat Lolita selalu seperti ini, seperti nya Mommy yang sangat dia cintai ini , sangat lah lemah, bukan lah wanita tangguh yang mampu berkelahi,
__ADS_1
" opa..."
" waktu kecil, Mommy kenapa tidak les beladiri, opa..." tanya Boy, sambil menatap wajah cantik Lolita yang sudah banyak goresan luka cakar, walaupun sudah di bersihkan oleh Amelia, baju dan tubuhnya,
" sudah, cucu ku..."
" Mommy kamu ini tidak pernah naik sabuk,..."
" karena setiap dia latihan saja..."
" saat lawannya terluka karena pukulannya,..."
" dia menghentikan pertandingan nya.."
" sampai guru yang mengajar, apa namanya...sempai nya bilang..."
" Mommy kamu pelajari basic nya saja, untuk perlindungan diri, sudah segitu saja..." ucap Harun dengan frustasi
" lagian, Mommy kamu ini, tidak pernah ada musuh, sayang..."
" dari kecil hingga selesai sekolah..." ucap Amelia dengan lembut
" jadi siapa wanita itu, maksud oma tadi..." ucap Boy menoleh kearah Amelia, sedangkan Amelia menatap kearah suaminya
" wanita itu yang dimaksud oma..."
" seorang teman di masa kuliah Mommy kamu, bukan teman dekat, tapi dia berusaha dekat dengan Mommy kamu, nak..."
" Mommy kamu, mana tahu jika dia akan menjadi duri dalam daging di pernikahan mommy kamu dengan Daddy Evan ..."
" intinya , wanita itu lah yang menyebabkan Daddy Evan dan Mommy kamu bercerai..." ucap Amelia dengan pelan agar tidak menganggu tidur Lolita
" tekanan darah nya rendah..."
" SpO2 nya juga rendah..." ucap dokter menjelaskan diagnosis awal
" apa itu SpO2, dokter..." tanya Harun dengan cemas
" Oh itu..."
" lihat alat ini..."
" saya sedang mengukur kadar oksigen dalam darah nona Lolly, cukup rendah di bawah standar nya, tapi tidak terlalu buruk
" kemungkinan karena Lolly kelelahan, tidak cukup istirahat dan kurang suplai makanan, belum lagi tubuh seperti ini..."
" apa sebelumnya nona mengalami perkelahian,.." tanya dokter
" seperti nya dokter..."
" dia mungkin tidak sengaja bertemu dengan wanita itu lagi, dok..." ucap Amelia dengan nada mulai menunjukkan kekesalan nya
" Oh...."
" dasar wanita bar- bar..."
" siapa yang merebut, siapa yang di tuduh, di sakiti pula orang nya..." ucap dokter tidak kalah kesal, karena dokter yang memeriksa Lolita adalah salah satu teman Lolita yang lulus di kedokteran
" baiklah, terimakasih, nak..." ucap Harun
" iya..."
__ADS_1
" nanti kalau Lolly sudah bangun, dan nafas nya sudah baikan, tidak perlu lagi di pakai oksigen nya, namun untuk infus biarkan saja, nanti malam sepulang kerja, saya mampir lagi ke sini, Daddy...." ucap dokter kepada ayahnya Lolita
" terimakasih, nak..." ucap Harun sambil mengantarkan dokter keluarga menuju keluar rumah , setelah dokter mengatakan bahwa dia masih harus kembali ke rumah sakit
Bobby dan Boy masih setia menemani Lolita, sedangkan Amelia sudah menuju dapur untuk membuatkan bubur yang akan di konsumsi oleh Lolita
entah berapa jam Lolita tertidur, hanya saja, perut nya terasa lapar, sangat lapar, karena dia melewati jam makan siang, dan sarapan pagi tadi juga sangat sedikit,
beberapa minggu di rumah sakit membuat nya kehilangan nafsu makan, terlihat tubuhnya semakin tipis saja, hanya bagian tertentu saja yang masih menonjol, dari tulang rahang nya semakin terlihat jelas, jika Lolita kehilangan bobot tubuh yang signifikan
Bobby sudah salah sangka selama dua minggu ini, hanya karena Lolita bertukar pesan chat,tanpa mau menerima panggilan video call, maupun suara, padahal itu dilakukan Lolita untuk menjaga hati Evan agar tidak berfikir buruk yang akan mempengaruhi kondisi jiwa Evan
Lolita menggerjap-ngerjapkan kedua matanya, karena harus menyesuaikan mata nya dengan sinar lampu
" Mommy...." ucap Boy , tanpa ragu, Boy menghujami wajah Lolita dengan kecupan, dan pelukan yang sangat dia rindukan dari sang Mommy
Lolita membalas pelukan dari Boy, mengelus puncak kepala Boy dengan kasih sayang,
" kapan datang, sayang..." tanya Lolita dengan suara serak ,khas bangun tidur
" kemarin malam..." sahut Boy
" mana adik kamu.." tanya Lolita lagi yang masih enggan melepaskan pelukan nya
" di rumah opa Hamid, ..."
" kami di jemput oleh opa Hamid..."
" oma Ida memaksa adik ikut mereka..." ucap Boy
Uhhuk.... Uhhuk
ehem...ehem..... Bobby pura-pura terbatuk-batuk, agar Lolita mengalihkan perhatian kepadanya
" bang..." ucap Lolita singkat, memberikan seutas senyuman manis, sangat manis, tersirat kerinduan di manik mata Lolita, begitupun Bobby, mereka saling merindukan satu sama lain, ...dua minggu lebih tidak bertemu, tanpa mendengar suara, tanpa melihat melalui sambungan video call, maupun Skype seperti biasa, LDR paling ekstrim bagi mereka berdua,
Boy mengalah, sengaja mengalah demi bayi besar sang Mommy, yang selalu menanyakan sang Mommy kepada Boy, tak jarang Bobby tertidur di ruko, karena rindu dengan aroma tubuh Lolita yang biasanya dia rasakan
Bobby memeluk tubuh Lolita dengan posesif, dan sangat lembut, merasakan aroma tubuh yang dia rindukan, sangat dia rindukan...
" baby..."
" aku sangat merindukanmu..." ucap Bobby, masih memeluk tubuh Lolita, dan enggan melepaskan dekapannya,
*
*
*
*
*
*
*
*
🍒🍒
__ADS_1