
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
Setelah menghabiskan waktu tiga hari di kota Malang, mereka kini melanjutkan perjalanan ke kota selanjutnya, lebih tepatnya kabupaten Gresik, untuk mengeksplore destinasi wisata yang di tawarkan di daerah itu,
sebelum menuju pantai Noko Selayar , mereka harus menyeberang ke pulau Bawean setelah menitipkan kendaraan mereka di salah satu hotel kabupaten itu, perjalanan ke pulau Bawean, mereka akan di sambut oleh tour guide yang merupakan saudara dari salah satu karyawan Evan yang asli dari kabupaten itu, mereka juga sudah di siapkan homestay oleh tour guide, di pulau Bawean, untuk tempat mereka beristirahat di sana
Kini mereka harus membawa tas ransel masing-masing, untuk di bawa ke pulau Bawean, karena nanti kapal yang mereka sewa bukanlah kapal yang sangat besar, lagian jika mereka membawa koper, lebih merepotkan saja, sehingga mereka hanya packing yang mereka butuhkan saja untuk kegiatan menyelam ,
kini mereka berada di pangkalan pelabuhan, mereka masih menunggu kapal Ferry yang sudah mereka sewa untuk mereka tumpangi yang akan membawa mereka menuju pulau Bawean, yang berada di tengah laut jawa, lebih tepatnya 80 mil dari pelabuhan Gresik, hamparan air yang luas sepanjang mata memandang,
mereka sengaja mengunakan kaos oblong dengan warna yang sama, entahlah apa maksud nya mungkin saja untuk mempermudah mereka jika kehilangan satu rekan mereka, yang berjumlah lebih dari kesebelasan sepak bola, bodyguard Evan enam di tambah dengan bodyguard Bobby, dua sopir pribadi, kedua orang tua Lolita, dan juga mereka berlima, cukup banyak, sehingga kapal Ferry yang mereka sewa pun yang paling besar yang ada di sana, namun tetap saja tidak terlalu besar- sekali, namun cukup lah untuk menampung mereka semua, dan semua kapal Ferry nya full terisi,
" mas nanti disana, bagaimana..." tanya Evan kepada saudara salah satu karyawan nya
" sudah ready ,pak bos..."
" dan tadi juga saya sudah beritahu pak RT setempat, akan ada tamu dari Surabaya..."
" apalagi banyak kayak gini, memang wajib lapor dengan perangkat setempat,...." ucap saudara salah satu karyawan Evan
" Evan saja, mas...."
" tidak perlu embel-embel pak atau bos..."
" kayak nya tua an situ....." ucap Evan dengan sopan
" mau dibilang muda, gitu..." ucap Bobby menggoda Evan
" iya lah...." ucap Evan sambil tertawa kecil, yang menular pada yang lain nya yang ikut menyimak percakapan mereka
" terimakasih, mas Joko..."
" sudah merepotkan, mas..." ucap Bobby
" Oh..."
" tidak masalah, pak...." ucap Joko dengan sopan
" nah, kalau dia , iya...."
" pantas di sapa bapak, sudah lebih tua dari saya..." ucap Evan menggoda Bobby, sambil tertawa, membuat semua orang menahan tawa mereka masing-masing, takut si Bobby tersinggung
" kamu itu harus nyadar, Van..."
" lihat jambang, sama kumis kamu itu...."
" lebih terlihat tua kamu dari aku..."
" Nih, kinclong...."
" di sentuh, Cling....Cling....." ucap Bobby membela diri , menyebutkan iklan sun****
" ya aragh...."
" cowok tuh, meski ada jambang kayak begini..."
" terlihat lebih manly....." ucap Evan dengan bangga membelai jambang nya sambil dengan gaya angkuh nya, bergaya iklan wak do***
" wah...."
" tidak meski, bung...."
" tampilan maskulin lebih di sukai para gadis, bos..."
" apalagi pada musim opa- opa Korea nih..."
" iya enggak, Beibs..." ucap Bobby mendekap bahu Lolita dengan gaya cool, yang sudah berdiri di forecastle deck
" apaan sih, bang..."
" di lihat banyak orang, iih..." ucap Lolita menolak Bobby secara halus yang sedang merangkul bahunya, karena di lihat anak-anaknya, dan Evan, lagian dia memang risih jika di sentuh seperti ini , tidak munafik dia suka, namun dia harus menjaga martabat nya sebagai seorang wanita, apalagi saat ini status mereka sebagai pasangan , namun Lolita belum mau terburu-buru melangkah kearah selanjutnya, masih banyak hal yang harus dia pikirkan dengan matang, dan dia juga tidak mau memilih seorang pria karena hasrat saja, namun memang karena sudah ada dasar yang kokoh dari awal,
dengan Evan saja, yang sudah tahu seluk beluk nya, dia masih mengalami fase fluktuatif dalam kehidupan rumah tangga, apalagi dengan Bobby yang masih seujung kuku, belum lagi restu dari sang calon mertua masih tertahan, dipastikan Lolita masih berusaha memikirkan pilihannya dengan sangat matang,
" ganteng semua...."
" cakep semua...." ucap Lolita mengacungkan kedua jempol di hadapannya, dengan seutas senyuman di wajah cantiknya
" enak mancing nih, kalau lihat laut begini..." ucap Bobby santai
" iya, yuk kita mancing juga lah..."
" bisa tidak, mas Joko...." tanya Evan kepada saudara salah satu karyawan nya
" bisa saja, pak.."
__ADS_1
" nanti saya tanya urus izinnya buat mancing..." ucap Joko
" Jo, kamu urus kapal nya buat kita..." ucap Evan menatap bodyguard sekaligus bawahan Diki,
" sudah, pak..." ucap Jonathan singkat
" cepat juga kerja kamu...." ucap Evan terkejut
" disini agak susah sinyal, pak..."
" sebelum di perjalanan saya sudah prepare terlebih dahulu.."
" saya menjalankan perintah pak Diki..."
" kata nya bapak suka kayak orang kena step..." ucap Diki dengan nada datar
" Hah..."
" step..??..."
" apaan itu...." tanya Evan dengan heran,
" bukan apa-apa, pak...." ucap Jonathan dengan datar, namun tubuhnya mendadak berkeringat padahal angin menerpa cukup kencang
sedangkan Lolita yang sudah tahu arti kata step, hanya menahan tawanya
" bagus kerja kamu..." ucap Evan yang bangga dengan kinerja bawahan nya
" Beibs..."
" apa step..." tanya Bobby sedikit berbisik
" kamu tahu penyakit ay**..." ucap Lolita
namun Bobby hanya mengerutkan keningnya
" epi***.."
" you know..." ucap Lolita lagi, dan Bobby langsung tertawa terbahak-bahak
" yes, i do..." ucap Bobby masih dengan tertawa, dan Evan menatap mereka berdua dengan curiga
" mommy, Rio koq mual..." ucap Rio memegang perutnya
" iklan, dik..."
" iklan loh...." ucap Boy di sela gelud mereka
" sebentar lagi kok kita sampai..." ucap Joko, karena sudah mulai terlihat pulau Bawean yang akan menjadi trip mereka kali ini...
mereka turun dengan wajah bahagia, apalagi motor sudah menanti untuk mereka tunggangi, menuju homestay yang akan mereka singgahi,
setelah mereka beristirahat sebentar meletakan travel bag,dan perlengkapan mereka, mereka menikmati pulau Bawean dengan mengendarai sepeda motor,
tidak ada kemewahan disini, kesederhanaan yang khas daerah , namun mereka malah menikmati suasana asri di kabupaten ini, suasana sejuk dan masyarakat yang ramah, atau mereka yang ramah, entah lah, yang pasti dimana tempat mereka selalu berusaha untuk mengakrabkan diri dengan masyarakat disini
kehadiran mereka di sambut oleh masyarakat sekitar, bahkan seperti kedatangan tamu besar,
" Lita....." teriak salah satu warga, membuat Lolita mencari asal suara
" Mila......" teriak Lolita tak kalah heboh
" apa kabar kamu , Lit...."
" kangen banget sama kamu...." ucap Kamila
" masyaallah..."
" sama, Mil..."
" aku juga kangen sama kamu..." ucap Lolita dengan sangat bahagia bertemu dengan teman di kala masih memakai pakaian putih abu-abu
" makin cantik saja kamu, Lita..." ucap Kamila menatap Lolita dengan tatapan berbinar-binar
" Alhamdulillah, ..."
" di puji orang cantik, mah..."
" aku jadi baper...." ucap Lolita seperti biasa,masih seperti Lolita biasanya
" eh..."
" aku menetap di sini, Lita..." ucap Kamila
" Lolly...."
__ADS_1
" ada Hendro..." ucap Evan tanpa melihat kearah lawan bicara Lolita
" ini isterinya, mas..." ucap Lolita mengarahkan pandangannya ke arah Kamila
" Oh ala..."
" apa kabar kamu, Mil..."
" aku tidak lihat kamu, tadi..." ucap Evan sambil menyodorkan telapak tangannya
" bagaimana kamu,Mila..."
" ibu dan bapak, bagaimana kabarnya..." ucap Evan mengabsen kesehatan temannya, sebagai basa basi nya
" Alhamdulillah, sehat, Van...." ucap Kamila dengan seutas senyum
" sudah punya anak ..." tanya Kamila dengan ragu, takutnya pasangan di hadapannya ini belum di karuniai seorang anak
" Oh..."
" Alhamdulillah...."
" ada dua..."
" itu...
" ucap Evan dengan bangga menunjuk dengan jari telunjuknya kearah dua remaja tampan yang sudah berada di kerumunan para gadis desa
"masyaallah...."
" ganteng banget,...." ucap Kamila dengan berbinar-binar
" cetakan siapa dulu, lah...." ucap Evan dengan bangga, yang berbuah hantaman siku oleh Lolita, teriak Aaw, keluar dari bibir Evan, dan Lolita hanya tersenyum memperlihatkan barisan gigi putih nya,
" mas..." ucap Lolita memperingatkan Evan
" yah, apa..." tanya Evan yang tidak tahu letak kesalahannya, sambil mengherdikan bahu nya
" mulutnya itu, mbok di jaga kek..."
" dipikir orang sombong..."
" di san*** orang sini gimana..." ucap Lolita pelan hanya terdengar oleh Evan, seketika Evan susah menelan saliva nya
" maka nya..."
" jaga tutur kata dan etika..."
" di tempat orang..." ucap Lolita memperingatkan Evan dengan lembut, agar Evan mampu menjaga lisan dan sikap nya
Evan langsung menurut, bahkan selalu berada di samping Lolita sangking takutnya, Bobby hanya melirik menatap wajah cantik Lolita dari kejauhan, karena saat ini dia sedang berbincang dengan para pria di kampung itu, sosok Bobby yang humble disukai oleh para warga
" wah...sudah cocok jadi pejabat daerah nih..." ucap Lolita menggoda Bobby yang baru saja menghampiri kekasih nya
" iya..."
" kalau bapak Bobby mau..."
" kami akan mendukung bapak untuk mencalonkan diri sebagai pejabat daerah kami, pak..."
" lebih afdol kalau bapak menikah dengan gadis asal kami, pasti bapak terpilih..." ucap pak RT setempat, yang mendapatkan anggukan kepala dari rekan lainnya
......GLek......kali ini Bobby kesulitan menelan saliva nya
" saya sudah ada calon isteri, pak..." ucap Bobby dengan tegas namun sopan
" kan baru calon, pak..." ucap salah satu bapak yang ikut bersama dalam percakapan siang itu menggoda Bobby
" beibs...." ucap Bobby meminta bantuan kepada kekasih hatinya,
*
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1