
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Perjalanan menuju ke restoran khas Indonesia food membuat Boy merasa tidak nyaman, karena meninggalkan Lolita dengan Evan, padahal Bobby sudah mewanti-wanti Boy agar selalu menemani nya jika Bobby tidak berada di samping Lolita. Pemaksaan yang dilakukan oleh Asha membuat Boy merasa seperti menelan buah simalakama
Begitu sampai di restoran khas Indonesia food, Asha , Boy , dan seluruh para bodyguard, serta sopir Asha ikut menikmati sajian kuliner khas Indonesia food, sampai mereka merasa cukup puas mengisi perut mereka.Restoran dengan kualitas premium pasti menyajikan masakan kualitas premium juga, citarasa dan aroma yang begitu autentik, tentu saja begitu menggugah selera makan para pengunjung tanpa terkecuali. Namun Boy, kali ini tidak begitu menikmati masakan yang terhidang di hadapan nya, Boy masih memikirkan keadaan Lolita, dan bagaimana jika Bobby mengetahui bahwa Boy meninggalkan Lolita sendirian di kamar rawat inap.
" aunty " ucap Boy dengan lembut, sambil menatap Asha dengan tatapan memelas
" iya " ucap Asha dengan singkat
" Hm "
" Mommy "
" yuk
" kita pulang ,aunty "
" kita sudah terlalu lama meninggalkan Mommy " ucap Boy dengan hati-hati
" lagi pula ,kita sudah cukup memberikan mereka waktu untuk bersama "
" walau bagaimanapun "
" Boy, merasa tidak nyaman meninggalkan Mommy terlalu lama " ucap Boy kepada Asha dengan nada memelas
" iya juga siih "
" baiklah "
" aunty mau membayarkan bill kita terlebih dahulu"
" kamu tunggu sebentar " ucap Asha, gerakan tangan Asha membuat pelayan restoran mendekati Asha, kemudian Asha melakukan proses pembayaran melalui card yang dia punya.
Sedangkan di koridor rumah sakit, nampak Bobby berjalan dengan penuh semangat, dan sukacita membawakan begitu banyak paperbag untuk kekasih hatinya
...................****Bruk****....................
Suara paperbag yang berisi buah tangan dari Bobby terjatuh ke lantai koridor rumah sakit. Pada saat Bobby membuka handle pintu kamar rawat inap Lolita, Bobby tidak mengetuk seperti pada umumnya, selain tidak ada rahasia diantara mereka, Bobby juga tidak pernah berfikir negatif terhadap kekasih hatinya , dan dia juga berfikir jika kekasih nya mungkin saja sedang tertidur, akan terbangun apabila mendengar suara ketukan dari pintu kamar
Sesuai dengan dugaan Bobby jika saat ini sang kekasih tertidur dengan pulas, namun yang membuatnya terkejut adalah Lolita tertidur bersama mantan suaminya dan anaknya Rio. Apalagi posisi tidur mereka bagaikan sebuah keluarga kecil yang harmonis, dimana Lolita memeluk anaknya Rio, tubuh Evan memeluk tubuh Lolita dengan wajah mencium puncak kepala Lolita ,dan posisi kepala Lolita berada di bawah ketiak Evan. Sangat ironis bagi Bobby melihat pemandangan di hadapannya ,dengan manik mata yang sudah berkaca-kaca ,tentu saja dengan perasaan yang begitu sangat terluka, Bobby menutup kembali handle pintu kamar dengan gerakan sangat pelan.
Ada dua bodyguard yang diperintahkan oleh Theo berada di depan kamar Lolita, hanya menatap terkejut dengan kehadiran Bobby, namun mereka tidak berani untuk mencegah Bobby untuk masuk ke dalam kamar rawat inap Lolita, mereka juga sudah menduga Bobby akan terluka, karena di dalam kamar rawat inap Lolita ada Evan yang datang berkunjung. Perubahan raut wajah Bobby ketika baru saja keluar dari kamar rawat inap Lolita sudah dipastikan jika Bobby melihat sesuatu hal yang pasti tidak menyenangkan bagi Bobby, karena Bobby keluar dalam keadaan wajah yang begitu terluka.
Akan tetapi aku mah bisa apa, ucap para bodyguard Theo didalam benak mereka berdua masing-masing, mereka berdua hanya saling pandang dan terdiam, mereka mengalihkan pandangannya kearah lain, karena merasa kasihan pada sahabat dari tuan mereka. Bobby berjalan terhuyung-huyung menyelusuri koridor rumah sakit ,berjalan menuju ke arah luar rumah sakit, hati dan perasaan Bobby sungguh terluka, bahkan Bobby tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata.
Selama daam perjalanan pulang ke rumah sakit Boy merasa sangat gelisah ,entah kenapa...
ingin rasa hati Boy untuk segera sampai ke rumah sakit. Bahkan Boy meminta pak sopir, untuk sedikit menambah kecepatan nya, tentu saja Asha tidak mempermasalahkan permintaan dari Boy, karena sopir menyetir dengan kecepatan minimalis. Setelah pak sopir meminta persetujuan dari nyonya Theodore, pak sopir segera melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata.
Di koridor arah ke kamar rawat inap Lolita, nampak Bobby berjalan dengan gontai, Boy segera berjalan cepat nyaris berlari , menghampiri sang Daddy
" Dad " ucap Boy dengan nada kecil
" Dad, are u okay ? " ucap Boy dengan khawatir
" NO "
" it's not good,my son " ucap Bobby dengan menenggelamkan wajahnya di tumpuan lengannya, saat Bobby menghentikan langkahnya
" talk me "
" what happened, Dad ? "
" please " ucap Boy dengan nada rendah, di dalam pikiran Boy pasti terjadi sesuatu, akan tetapi Boy tidak tahu apa itu
Bobby hanya terdiam seribu bahasa, Bobby malas untuk sekedar mengucapkan satu kata saja, Bobby berusaha menahan diri untuk tidak mengungkapkan sesak di dalam benaknya, yang bahkan Bobby menahan agar dirinya tidak terlihat lemah di mata orang lain termasuk Boy.
Asha yang baru saja datang dengan nafas terengah-engah karena tidak bisa menyamakan langkah kaki Boy, melihat Bobby dan Boy yang terduduk di koridor rumah sakit. Dugaan Asha pasti ada hal yang tidak mengenakkan yang terjadi pada Bobby, dan itu pasti karena kehadiran Evan di dalam kamar rawat inap Lolita,
" bang "
" abang kenapa ? " ucap Asha dengan nada suara rendah, namun Bobby tidak mengubris pertanyaan Asha, membuat Asha menghelakan nafasnya dengan berat
" Boy "
" ayo kamu ajak Daddy kamu "
__ADS_1
" masuk ke dalam ruangan rawat inap kamu saja "
" ayo, cepatlah " ucap Asha kepada Boy
" come on, Dad "
" get up, please " ucap Boy sambil memaksa Bobby untuk segera bangkit dari duduknya. Dengan langkah gontai Bobby terpaksa mengikuti langkah kaki Boy, yang menarik lengan Bobby secara paksa
Asha yang melihat paperbag terjatuh di lantai koridor rumah sakit segera memunguti nya satu persatu , menurut feeling Asha bahwa ini pasti buah tangan Bobby yang hendak diberikan kepada Lolita. Lalu kenapa Bobby bersikap seperti ini ? , pasti terjadi sesuatu pada Lolita,atau sesuatu yang tidak diinginkan oleh Bobby, apakah Bobby melihat sesuatu ? begitu lah yang dipikirkan oleh Asha di dalam benaknya. Tanpa menunggu pemilik paperbag Asha segera mengambil paperbag itu,dan membawanya masuk ke dalam ruangan VVIP rawat inap Boy, Asha segera mengirimkan pesan kepada suami tercintanya, bila saat ini Asha tidak berada di ruang rawat inap Lolita,
Tentu saja hal itu membuat Theo penasaran, jiwa kepo Theo meronta, kenapa? ada apa? apa terjadi sesuatu ?,
Theo segera menghubungi salah satu bodyguard , menanyakan apa maksud pesan yang dia kirimkan, tentu saja bodyguard Theo menjelaskan semua yang dia lihat dari A sampai Z , oleh karena itu Theo sedikit paham kenapa Asha mengajak Bobby masuk ke dalam kamar rawat inap Boy saja. Tidak berselang lama Theodore segera menelepon dan menanyakan kepada Asha bagaimana kondisi sahabatnya saat ini, Theodore juga memberikan kabar kepada Asha jika dirinya dalam perjalanan menuju rumah sakit, hanya saja Theo mengalami kemacetan, percakapan dengan Asha tentu saja menjadi obat kejenuhan dalam perjalanan Theo.
Boy menatap manik mata sang Daddy, tersirat kesedihan, dan terluka yang dirasakan oleh Bobby, pasti karena kehadiran Daddy kandung Rio yang membuat Bobby sedikit terguncang, dan mungkin juga ada hal lain yang tidak diketahui Boy, disaat dia menemani aunty Asha jelajah kuliner akibat percakapan absurd mereka tadi
" Dad "
" Daddy belum mau mandi ? " ucap Boy
" kamu saja dulu yang mandi ,nak " ucap Bobby ,sambil menatap jendela luar yang memperlihatkan hamparan gedung pencakar langit lainnya
" Hm "
" baik ,Dad "
" Daddy jangan pulang "
" tetaplah disini menemani Boy " ucap Boy sambil berjalan menuju ke arah kamar mandi
" bang "
" abang kenapa ? "
" apa karena bang Evan yang ada di dalam kamar rawat inap Lolita " ucap Asha dengan hati-hati, membuat Bobby menghelakan nafasnya dengan berat
" Lolly, Sha " ucap Bobby dengan nada suara rendah, yang masih setia menatap hamparan gedung pencakar langit
Asha setia menunggu kalimat selanjutnya dari bibir Bobby
" Lolly tertidur dan Evan berada disana di ranjang yang sama "
" aku melihatnya sendiri "
" kehadiran aku seperti seorang pria yang merusak hubungan keluarga kecil itu " ucap Bobby masih dengan nada suara yang sama, bahkan Bobby mencoba menahan kesedihan dan emosi secara bersamaan. Asha tidak langsung menjawab ucapan Bobby, Asha masih mencoba menelaah kondisi dan situasi yang terjadi saat itu, dengan mempertimbangkan sudut pandang berbeda
" bang "
" dimana posisi Rio ?"
" saat abang melihat pemandangan itu " ucap Asha dengan serius
" Rio juga tertidur di tengah mereka " ucap Bobby
A Ha......Tring......otak jenius Asha beraksi....
mulai deeh jiwa detektif nya beraksi, Asha sangat yakin Lolita tidak mungkin melakukan hal itu, jika itu terjadi , pasti ada alasan di balik sikap Lolita, sudah pasti atas dasar permintaan Rio , maka Lolita melakukan hal itu, ucap Asha di dalam benaknya.
" nah itu dia, bang "
" berarti itu bukanlah kehendak Lolly ,bang "
" yakin deh "
" meskipun Lolly tidak
menutup seluruh auratnya menurut ajaran agama kalian atau berhijab "
" tapi Asha sangat yakin "
" Lolly tidak akan pernah melakukan hal itu, karena Lolly paling tidak suka jika tubuh nya di sentuh pria yang bukan muhrimnya " ucap Asha
" apa abang pernah mendapatkan izin dari Lolly "
" pada saat abang memberikan kecupan "
" memeluk, dan bermesraan dengannya, tidak kan "
__ADS_1
" pasti abang yang selalu mencuri kesempatan kan untuk itu " ucap Asha dengan yakin, dan dengan raut wajah yang serius. Bobby nampak menelaah pandangan dari sisi lain, dari pandangan seorang Asha yang sangat paham dengan tingkah laku sahabatnya, dan itu memanglah benar. Bobby selalu mencuri kesempatan dalam kesempitan,untuk sekedar memeluk,mencium,atau pun hanya sekedar menautkan jemarinya ke jemari tangan kekasih hatinya
" bang "
" abang tuh kudu harus yakin dengan perasaan abang "
" abang juga kudu harus yakin dengan Lolly "
" bagaimana pun,meski status mereka berdua sudah ditetapkan sebagai janda dan duda "
" status Rio tetaplah sebagai seorang anak dari mereka berdua "
" seorang ibu ataupun seorang ayah,mampu meletakan ego mereka di atas kebahagiaan sang buah hati"
" ada perasaan yang harus mereka lindungi "
" itu Rio, bang "
" dan kita tidak bisa memungkiri itu " ucap Asha dengan hati-hati
" apalagi tadi, Asha sempat mendengarkan secara langsung "
" Hm "
" maaf Asha, bang "
" jika nanti yang akan Asha katakan akan menyakiti hati abang " ucap Asha menghentikan ucapannya,menanti jawaban dari Bobby
" tidak apa-apa, Sha "
" abang akan mendengarkan kamu " ucap Bobby dengan wajah serius, membuat Asha menghelakan nafasnya dengan berat
" Hm "
" Asha melihat interaksi antara abang Evan dan Lolita ,bang "
" pada saat masuk ke dalam ruangan, Asha dapat melihat dengan jelas bagaimana interaksi mereka berdua yang sama- sama merasa canggung "
" terutama Lolly "
" nah saat itulah Rio memberikan komentar nya yang membuat abang Evan terpaksa memenuhi keinginan Rio "
" bahkan Lolly tidak membalas pelukan yang abang Evan "
" di saat itu juga Rio semakin memberikan komentar yang membuat Lolly terpaksa membalas pelukan hangat dari abang Evan " ucap Asha dengan hati-hati
" sepertinya baik abang Evan maupun Lolly belum memberitahu status mereka kepada Rio "
" jadi menurut Asha , hal wajar jika Rio meminta kedua orang tuanya untuk.. "
" Hm "
" untuk itu bang " ucap Asha dengan hati-hati sambil melihat ke arah Bobby , untuk melihat reaksi dari Bobby
" Asha lanjutkan yah, bang "
" terus..."
" abang Evan langsung saja peluk Lolly yang saat itu masih terdiam di ranjang pasien "
" bahkan Lolly tidak langsung membalas pelukan abang Evan "
" dengan bla...bla..bla....ucapan Rio yang membuat Lolly terpaksa membalas pelukan dari bang Evan, si situ tangisan Rio pecah, suasana haru terjadi di sana " ucap Asha yang kini malah ikut menitikkan air mata
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
🍒🍒