
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Kebahagiaan terpancar di wajah Evan, dan Rio, sedangkan bagi Lolita , dia harus berusaha menampilkan wajah yang terlihat bahagia, meskipun di dalam batinnya Lolita merasa risih dengan interaksi cukup i*t*m.s dengan Evan. Di dalam kamar tempat Lolita beristirahat dari segudang aktivitas sehari-hari nya, setelah kepergian Bobby dan yang lainnya, Lolita meminta bantuan kepada perawat khusus untuk membantu Lolita melakukan aktivitas khusus di kamar mandi, yang tidak mungkin Lolita meminta bantuan kepada para pria. Kenapa tidak dengan Siska, Mona, dan para pegawai Lolita perempuan yang lainnya, itu karena Lolita merasa sungkan, apalagi para pegawai Lolita sibuk dengan pekerjaan yang dibebankan kepada mereka semua sejak Lolita mengalami kecelakaan yang di sengaja oleh Melani.
Seluruh pegawai Lolita pulang ke rumah masing-masing, ada yang memilih untuk berkumpul di suatu tempat yang sudah di janjikan, apa yang langsung pulang ke tempat tinggalnya masing-masing . Mereka yang tersisa di dalam ruko menikmati sajian makan malam yang sudah di bawa oleh Jhon, dan hari kian malam, waktunya semua kembali ke tempat istirahat nya masing-masing, kecuali Rio, Evan, dan Lolita. Boy sempat diajak oleh Evan dan Rio, namun entah kenapa Boy memilih untuk beristirahat di kamarnya sendiri, memberikan ruang untuk keluarga kecil itu untuk beramah tamah, Boy cukup mawas diri, jika dirinya hanyalah pemeran pembantu dalam sekuel keluarga cemara itu.
Sungguh diluar dugaan Lolita , kini Evan sangat memanfaatkan momen seperti ini, untuk dia mengikat Lolita dalam hubungan yang tidak jelas, bagaimana tidak jelas ? mereka adalah pria dan wanita yang terikat adanya anak setelah perceraian mereka, namun Evan memeluk tubuh Lolita, terkadang memberi Lolita kecupan , apalagi saat ini, entah sengaja atau tidak sengaja, tangan Evan berada diatas dada Lolita, padahal Evan tahu betul jika mereka bukan lagi pasangan menikah. Di perlakukan seperti itu, rasa nya uwir- uwir, gimana gitu, dengan jarak semakin tipis, bahkan tanpa cela sedikitpun, Evan menempel di tubuh Lolita seperti seekor lintah, bahkan Rio juga melakukan hal yang sama seperti yang Evan lakukan, nemplok di sisi satunya. Di satu sisi Lolita harus menjaga hati kekasih hatinya, sedangkan satu sisi lainnya Lolita harus menjaga hati buah hatinya.
dedek lelah jiwa dan raga, ucap Lolita di dalam batinnya
Akan tetapi , sekali lagi Lolita wajib dan harus menampilkan wajah bahagia di hadapan Rio, demi Rio, yah itu semua demi buah hatinya Rio
Percakapan yang terjadi diantara mereka, yang entah berlabuh kemana ,yang tidak tentu arah , dikarenakan Lolita masih mengkonsumsi obat yang dokter berikan, Lolita menjadi lebih gampang mengantuk, seperti saat ini, Lolita tiba-tiba tertidur, saat Rio masih bercanda ria di kasur bersama Evan.
" Dad "
" Mommy, sudah bobok " ucap Rio dengan suara paling rendah
" yaah sudah "
" kamu pipis terlebih dahulu ,nak "
" sudah itu, kita ikut mommy bobok "
" Oh iya "
" Daddy tidak bisa membantu kamu "
" lihat nih " ucap Evan menunjukkan dengan jari telunjuk nya, ke arah Lolita yang tertidur di dekapan Evan
" iih, Daddy "
" Rio sudah gede ,kali "
" tidak perlu Daddy harus membantu semua kegiatan Rio lagi " ucap Rio dengan kesal, namun tetap dengan suaranya yang rendah agar Lolita tidak terbangun karena mendengar percakapan mereka, Evan hanya tertawa kecil mendengar penuturan Rio yang semakin kritis berargumen
" Dad "
" Rio mau bobok di kamar abang yah " ucap Rio
" Loh, kenapa "
" kenapa kamu tidak mau tidur sama Mommy dan Daddy ? " tanya Evan
" bukannya, Daddy selalu bilang "
" Rio , kamu Bobok di kamar Rio yah, Daddy mau kangen- kangenan sama Mommy "
" kata Daddy kalau sudah lama tidak ketemu Mommy " ucap Rio mengulangi kalimat yang biasa Evan ucapkan
" itukan yang selalu Daddy katakan "
" kalau Daddy pulang dari luar kota atau luar negeri " ucap Rio
" sudah Ah "
" Rio mau ke kamar abang " ucap Rio sambil berlalu kearah pintu kamar.
Evan merebahkan tubuh Lolita, dan segera mengunci pintu kamar, Evan pun segera menuntaskan hajat kecil nya. Evan segera membenahi posisi tidur Lolita , Evan tidak henti memandangi wajah cantik mantan isteri nya kala terlelap tidur. Berawal dari Evan membelai wajah Lolita, karena tidak ada reaksi dari Lolita, efek obat yang diminum Lolita selain obat antiinflamasi, ada juga obat yang memberi efek lelap tidur,agar syaraf- syaraf Lolita tenang, meski dalam gangguan apapun, dia tetap akan tertidur dengan lelapnya
Sedangkan di tempat terpisah pikiran Bobby melalang buana memikirkan Lolita yang jika tertidur tidak akan bangun efek obat yang dia konsumsi. Hal ini lah yang membuat Bobby sampai tengah malam masih belum juga tertidur , di dalam kamarnya Bobby, dia
memikirkan nasib kekasih hatinya, bukan karena tidak percaya pada Lolita, tapi tidak percaya pada mantan suaminya Lolita, takut jika si mantan suaminya Lolita memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, melakukan tindakan mesum, Lolita dalam kondisi seperti ini semakin kuat alasan untuk Bobby datang ke ruko, ingin sekali Bobby segera datang ke ruko, akan tetapi apa yang menjadi alasan yang kuat untuk menutupi niat terselubung dari pikiran Bobby, sedangkan Bobby sendiri sudah memberi lampu hijau kepada Evan untuk memberi Evan kesempatan memperjuangkan cinta, tapi sudut hatinya yang lain tak rela, kalaupun menghubungi Lolita , hari ini sudah sangat larut malam, tentu saja Lolita tidak akan pernah mengangkat telepon dari Bobby, orangnya pasti sudah tertidur dengan pulas.
Di dalam hati Bobby, dia sangat berharap, Allah melindungi kekasihnya dari perbuatan mesum mantan suami kekasihnya, ucap Bobby, bermonolog dengan dirinya sendiri
.
.
.
Didalam kamar Lolita,
apa yang ditakutkan oleh Bobby mungkin benar, berdua saja di dalam kamar,dengan wanita yang masih sangat dicintainya, membuat Evan lupa diri, kini tubuh Evan semakin intims, mendekap Lolita
hidungnya sudah berada di ceruk leher Lolita,
memberikan kecupan,
1 k.e.c.u.p.a.n
2....lagi
3....lagi
4....lagi
5....dan lagi, dengan sedikit me**m.at
keinginan Evan semakin naik, aroma tubuh yang masih sangat dia rindukan, tangannya menerobos masuk dari ujung pakaian Lolita,telapak tangan Evan terus naik keatas, berawal di atas b.r.a,, sekian detik me.re.m.as.
..Tek....suara kaitan b** terlepas, kembali telapak tangan Evan menyelusuri b**ki.t, dan me*mil**in nya
hmmpph....
tubuh Lolita memberikan reaksi akan sentuhan, dengan sedikit melenguh, Evan segera menghentikan aktivitas nya, sekian waktu Evan menunggu, Lolita kembali tertidur, kemudian Evan kembali memberikan sentuhan pada tubuh Lolita kembali, bahkan sesuatu milik Evan yang tersembunyi mengalami perubahan dari sebelumnya
__ADS_1
Evan seakan-akan buta, dengan apa yang dia lakukan saat ini kembali membuatnya melakukan dosa besar, bagaimanapun intims nya dia, tetap saja, Lolita bukan muhrim nya,bukan hak nya lagi , tidak halal bagi nya..
namun keinginan dari rasa # ingin itu kian membuncah, menghilangkan akal sehatnya Evan, bahkan jika Lolita marah akan tindakan saat ini, dia dengan mantap akan kembali menikahi Lolita , bukankah itu niat dan tujuan nya,..
Evan membuka semua yang membalut tubuhnya,tubuhnya terbakar rasa ingin yang kian membuncah, segera Evan mendekap tubuh Lolita dibawah tubuhnya, Evan melanjutkan niatnya kembali,
entah kenapa, sedikit rasa iba menghampiri benaknya, dalam posisi saat itu, dia melakukan itu, tanpa proses pen* satu - an semestinya,
namun Evan cukup puas, terbukti dari banyaknya cairan yang tumpah di punggungnya Lolita
.
.
.
waktu subuh tiba,
Lolita mencoba meraih handphone nya, yang berada di atas nakas, yang terus berdering,...
" assalamualaikum "
" beibs, bangun, subuh yuk " sapa dan pinta Bobby dari sambungan telepon
" Hm " ucap Lolita hanya berdehem saja
dengan malas
" koq hanya Hm saja sih "
" ayo ,kamu buruan bangun ,gih " ucap Bobby
" kamu tidur sama Maria, yah Honey ? " ucap Bobby, sedikit menginterogasi kekasihnya
" gelap, yang "
" aku tidak kelihatan "
" yah sudah, kamu sholat sana gih "
" Lolly bangunin Maria dulu "
" bye, "
" muaaaach "
" i love you "
" sayang " ucap Lolita bercakap-cakap dan membumbui kecupan di akhir kalimat sebelum menutupinya dengan kalimat salam
.
" Maria " ucap Lolita , sambil meraba-raba dengan sosok di sampingnya, namun Evan malah mendekap Lolita dalam dekapannya
aroma maskulin yang sangat dikenali oleh Lolita.
Astagfirullah Allazim , ucap Lolita sedikit keras
" ada apa, Love ? " tanya Evan dengan suara parau khas bangun tidur
" kenapa kamu tidur di sini,mas ! " bentak Lolita
namun Evan tidak mengubris perkataan Lolita, malah Evan semakin mengeratkan pelukannya,dan mencium puncak kepala Lolita, setelah itu Evan menghidupkan lampu kamar, dengan sedikit memicingkan mata, karena tiba-tiba terang.
" sebentar " ucap Evan segera menuju dispenser air, hal ini merupakan kebiasaan Evan setelah bangun tidur, dia pasti minum air putih, untuk memulihkan diri, baru ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi , wajah Evan nampak lebih segar, dan tidak lagi terlihat muka bantal
" sini "
" mas bantu kamu masuk ke kamar mandi " ucap Evan
Lolita belum menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh pada diri nya, mengikuti saja permintaan Evan, karena memang dia harus segera menuntaskan hajat kecil nya
" mas, tolong bangunin Maria "
" Lolly mau sekalian mandi,dan mengambil wudhu " ucap Lolita, dengan segera Evan mengendong Lolita ala bridal style, karena menurut Evan lebih cepat padahal dia memiliki maksud lain tentu saja dengan Lolita di gendong, Evan bisa lebih dekat dengan Lolita , kemudian setelah meletakkan tubuh di kursi yang sudah disiapkan untuk Lolita sebelum masuk ke bathub Evan lagi-lagi seperti biasa mencuri kecupan.
lama-lama aku seperti gadis malam deh, seperti tidak punya dan tidak ada harga diri lagi, gumam Lolita dalam batinnya
Evan segera meminta tolong kepada Maria untuk membantu rutinitas Lolita di kala subuh
Lolita binggung, kenapa piyama yang saat ini dia kenakan seperti bukan piyama semalam,
dan bagian belakang nya sedikit terasa perih,
semalem gue ngapain yah ?..apa gue menggaruk nya ,?...apa gue cacingan?...tanya Lolita pada diri sendiri
" kenapa , nyonya ? " tanya Maria , sambil membantu Lolita membuka arm sling, dan piyama yang dikenakan oleh Lolita sebelum masuk ke dalam bathtub
" Hm "
" ini sedikit memalukan, Maria "
" kalau aku mengatakan nya kepada kamu "
" tetapi itu...bagian belakang saya terasa perih " ucap Lolita dengan malu
" boleh saya lihat, nyonya " pinta Maria
__ADS_1
" jangan "
" saya malu, Maria " ucap Lolita
" pada bagian mana nya, nyonya "
" sekitar daerah V, atau pada bagian V nya, apa hanya pada daerah belakang nya ? " tanya Maria
" di arah sekitar itu " ucap Lolita dengan sangat pelan, dan wajah yang sudah merona karena malu
" mungkin karena penggunaan ****** ***** yang terlalu lama, kali nyonya "
" atau ****** ***** nya sempit ? " prediksi Maria yang belum berpengalaman dalam hal ****, maklum masih gadis, walaupun umurnya sedikit lebih tua dari Lolita
" Oh " ucap Lolita hanya dengan ber Oh ria
" kalau begitu, nanti saya carikan ****** ***** lain, yang berbahan katun, lebih nyaman saja ketimbang bahan yang ini "
" tunggu sebentar yah, nyonya " ucap Maria, dan Lolita menganggukan kepalanya. Beberapa saat kemudian, Maria masuk dengan membawa ****** ***** yang jenisnya berbahan katun.
Setelah keluar dari kamar mandi, Lolita bersiap untuk melaksanakan sholat subuh nya, sendiri
dengan posisi duduk,menghadap kiblat, karena dia belum bisa sholat seperti biasanya. Selesai sholat, Maria membantu Lolita kembali berbaring di atas kasur miliknya,
namun kali ini, seprei kasur yang semalam ,sudah berganti corak, membuat Lolita mulai berfikir lagi, apa semalam apa yang terjadi pada dirinya ?
apakah Evan berbuat sesuatu yang aneh ? buruk ? atau hanya prasangka buruknya saja ?
Lolita terus ber istighfar, semoga saja itu hanya praduga nya saja,
" ayo "
" sudah ditunggu yang lain di lantai dua "
" kita sarapan terlebih dahulu " ucap Evan sambil mengendong Lolita ala bridal style
Di lantai dua sudah ada Boy dan Rio menanti mereka,
Maria kembali ke kamarnya untuk melanjutkan istirahat nya lagi dan satu bodyguard masih terlelap di atas sofa lantai satu, mereka tidak dibangunkan karena mereka berbeda keyakinan, tapi Maria tahu dia harus mengurus Lolita di waktu subuh, sesuai isi kontrak kerja nya, jam berapa saja dia mulai melakukan rutinitas kerjanya, selebihnya, Maria memiliki waktu untuknya beristirahat
Mereka berempat berada di lantai dua, untuk menikmati sarapan pagi,
di sela makan, Boy membuka obrolan ringan di kala pagi itu,
" Mom "
" nanti setelah jam pulang sekolah, abang lanjut ke tempat kursus bimbel, di B "
" terus , nanti langsung ke tempat latihan di ruko senpai " ucap Boy
" adik juga, Mom "
" ikut abang " ucap Rio
" ya sudah, nanti kabari Daddy saja, nanti Daddy yang menjemput kalian berada, dan jangan lupa di search lock "
" Daddy belum begitu tahu jalan di sini " ucap Evan
" tidak usah, mas "
" nanti mereka di jemput oleh Bagas saja " ucap Lolita menimpali permintaan Evan
" tidak apa-apa, sayang " ucap Evan sambil menggenggam tangan Lolita
" kapan mas pulang ? " tanya Lolita
" mungkin dua atau tiga hari lagi " jawab Evan
" kalau mau pulang, tidak apa-apa sih , mas "
" ini sudah terlalu lama ,mas meninggalkan usaha mas "
" kasihan karyawan- karyawan "
" kalau mas tidak concern ngurus usaha kamu ,mas " ucap Lolita, mengusir Evan dengan cara halus
" sudah ada Diki dan Agil yang handle usaha ,mas di sana " ucap Evan
" yah, beda lah, mas "
" selama ini, mas " Lolita menggantung ucapannya
selama ini Evan menomorsatukan pekerjaan nya diatas kepentingan keluarga
kenapa disaat status mereka sudah seperti ini, Evan seakan-akan melupakan prioritas nya selama ini
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
*
ππ