Kedua Untukku Dan Untukmu

Kedua Untukku Dan Untukmu
kita akan selalu bersama


__ADS_3

🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀


Dalam menjalani kehidupan ini,Janganlah suka mempermainkan hati, jika belum sanggup terluka. Apabila mampu melakukannya,tentu harus mampu menerima segala konsekuensinya , bisa datang dengan cepat, bisa juga datang terlambat, perlahan-lahan namun pasti ,hidayah Allah akan datang pada insan manusia,


Seperti saat ini, ada sepenggal penyesalan di dalam relung hati Evan yang paling dalam mengapa sampai dia melakukan kekhilafan yang dia sesalkan saat ini, sedangkan Lolita menyesali sikapnya yang memutuskan dengan cepat saat itu karena sudah tidak mampu menahan beban perasaan yang begitu menyesakan hatinya, dan berbuah kepahitan untuk Rio yang pasti tidak akan menerima jika dirinya adalah anak korban divorce kedua orangtuanya


Rio kangen kalian berdua berbaikan, seperti Mommy dan Daddy waktu kita di kota S "


" kenapa Daddy tidak pernah datang menemui Mommy dan Rio ? "


" kenapa Rio dan mommy harus tinggal disini ? , memangnya ada apa ? "


" Rio mau pulang ke kota S** ,..."


" Rio, tidak mau seperti ini "


" Rio tidak suka, Mom "


" Daddy "


" Rio mau kita selalu bersama " ucap Rio yang sudah mulai menangis. Tangisan Rio pecah kala melihat Mommy dan Daddy nya yang baru saja bertemu,setelah sekian tahun tidak pernah bertemu, jika tidak bersama sang Daddy,Rio selalu bersama sang Mommy,begitu pun sebaliknya, dan hari ini,di saat mereka bertemu,sikap kedua orang tua nya seperti itu.


Mereka berdua, baik Lolita dan Evan menatap buah hati nya,yang saat ini menangis dengan tersedu-sedu, ego mereka seketika jatuh tidak tersisa. Lolita segera merengkuh tubuh kecil Rio dalam dekapannya. Evan yang tadi nya kaku dan canggung, kini menepikan tubuhnya ke ranjang pasien, memeluk tubuh anak dan mantan isterinya sekaligus. Jika beberapa saat tadi semua yang dilakukan oleh Evan adalah sebuah kesempatan dalam kesempitan ,maka saat ini pelukan yang Evan berikan kepada mantan isteri nya dan anaknya adalah pelukan ternyaman bagi Evan.


Bolehkah aku egois, Allah , meminta kepada Allah untuk membalikan waktu , agar bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan masa lalu, bukan untuk diri aku sendiri,namun untuk anak aku , anak kesayangan aku ,buah hati aku yang begitu sangat aku sayangi dan cintai ya Allah, ucap Evan bermonolog dengan dirinya sendiri


" maaf " satu kata yang menembus gendang telinga Lolita dan Rio secara bersamaan


" maafkan , Daddy "


" nak "


" maafkan aku "


" sayang "


" karena aku, "


" aku..." ucap Evan dengan suara yang sudah bergetar


" mas " ucap Lolita dengan lembut


" Mommy "


" Daddy "


" kita akan terus bersama seperti ini yah "


" iya kan, Mom "


" dad " ucap Rio dengan nada memohon, tentu saja dengan mata yang sudah sembab, dan suara yang sudah parau. Evan menatap lekat wajah Lolita,menanti jawaban dari mantan isteri nya, sebuah pertanyaan yang tidak bisa dijawab cepat oleh Lolita


Lolita saat ini tidak bisa menjawab tidak,akan tetapi tidak mungkin juga bisa mengiyakan permintaan Rio. Perasaan Lolita berkecamuk antara iya atau tidak, atau bagaimana memberikan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Rio


" Rio, "


" kesayangan mommy "


" juga anak kesayangan Daddy " ucap Lolita, sambil menghujami wajah Rio dengan kecupan


" jika Rio mau, dan suka "


" ingin Mommy dan Daddy bersama "


" tentu saja hal itu akan mommy dan daddy bisa melakukannya "


" namun itu ada masa nya ,nak "


" ada waktu untuk kita "

__ADS_1


" untuk kamu, Mommy, dan bersama "


" dan itu tidak bisa setiap hari "


" Hm " ucap Lolita dengan lembut


" bolehkah mommy meminta sesuatu kepada kamu, nak ? " ucap Lolita sambil menatap manik mata anaknya, dibalas Rio dengan mengangguk - anggukan kepalanya


" Mommy meminta Rio untuk mengerti kondisi mommy yang harus bekerja di kota J "


" dan Daddy yang harus bekerja di kota S "


" tidak bisa setiap waktu kita bisa bersama "


" Disini, mommy juga harus memikirkan tante dan om yang bekerja dengan mommy, dan mommy harus memberikan mereka gaji dong , begitu pun juga dengan Daddy "


" boleh mommy meminta kepada Rio untuk bisa memberikan mommy dan daddy kesempatan untuk melakukan hal yang harus kami lakukan, yaitu bekerja "


" toh, uangnya juga untuk Rio "


" semua untuk Rio loh, walaupun ada juga sih untuk abang kamu, nak " ucap Lolita sambil mengelus pipi Rio


" Daddy dan Mommy akan selalu memprioritaskan kebahagian Rio di atas kepentingan mommy dan daddy "


" okay " ucap Lolita dengan lembut


" Mommy dan Daddy berjanji akan mengatur waktu untuk kita bisa bersama "


" Rio, Mommy ,and Daddy "


" akan tetapi Rio juga harus berjanji "


" untuk tidak boleh memaksakan kehendak "


" seperti mommy harus begini, Daddy harus begitu, tidak boleh yah nak "


" kalau mommy ada waktu, Daddy juga ada waktu untuk kita ketemu, "


" okay "


" mengerti " ucap Lolita dengan lembut, memberikan pengertian kepada Rio


Rio tidak terlalu paham dengan makna tersirat ucapan sang Mommy


" okay, Mom " ucap Rio dengan pasrah, daripada tidak sama sekali, seperti beberapa tahun belakangan ini,


Evan mengeratkan pelukannya kepada Lolita dan menghujami puncak kepala nya dengan kecupan bertubi-tubi,meresapi aroma tubuh mantan isteri nya yang telah lama dia rindukan


dosa kah ? jawabannya sudah pasti berdosa, karena mereka bukan lagi pasangan halal.


Namun bagi Evan terserah orang mau ngomong apa ,yang jelas saat ini Evan sangat bahagia bertemu dengan Lolita dan Rio, perlakuan Evan seperti ini juga entah demi Rio atau memang demi diri nya sendiri, siapa yang tahu, toh di dalam diri Evan , dia sangat merindukan momen seperti ini, bermanja-manja dengan sang mantan isteri dan anaknya


" Alamak "


" onde Mande Wednesday, Friday "


" apa - apaan niih mas Evan "


" HAH "


" niih orang mencuri kesempatan dalam kesempitan "


" sial banget aku "


" Astagfirullah Allazim " ucap Lolita dalam batinnya ,tersalurkan lewat matanya yang mendelik tajam menatap ke arah Evan, Evan nampak santai menanggapi respon tubuh Lolita yang menolak sentuhan dari Evan. Sedangkan Rio, dia tersenyum bahagia melihat interaksi antara mommy dan daddy nya , apalagi Evan yang begitu bahagia menatap wajah Lolita dengan penuh cinta.


Ada secercah harapan kecil Rio tergapai hari ini, adalah menyatukan kedua orang tuanya, Rio yang merasa bahagia meminta Lolita dan Evan untuk memeluk tubuh Rio, mau tidak mau Lolita merebahkan tubuhnya di ranjang pasien , memeluk tubuh Rio, dan Evan juga memeluk tubuh Rio, karena ukuran tubuh Rio masih terbilang kecil, sehingga Evan masih bisa memeluk tubuh Lolita


Lolita memandangi wajah buah hati nya, tangannya sambil mengelus - elus rambut Rio,dan berakhir di pinggang belakang anaknya,

__ADS_1


Rio sudah berlayar ke alam mimpinya, terukir senyum di wajahnya meski dalam keadaan terlelap. Lolita yang memang masih dalam perawatan rumah sakit dengan kondisi tubuh yang tidak terlalu baik, mudah sekali untuk terlelap, dan langsung berlabuh ke alam mimpi. Kini tersisa Evan yang masih terjaga, Evan memandangi wajah cantik dan ayu sang mantan isteri yang sudah terlelap. Evan menyingkap beberapa rambut yang turun menutupi wajah Lolita, Evan menyelipkan rambut panjang Lolita di daun telinga, dan merapikan beberapa anak rambut di dahi Lolita .


Evan tersenyum terus,dan terus...


lagi dan lagi...jika ini mimpi, Evan tidak ingin terbangun dari mimpinya saat ini...


hingga mata Evan seakan-akan enggan berkedip ,takut Lolita di hadapannya wajahnya akan menghilang jika Evan menutup mata, Namun tubuh Evan tidak mampu menahan gejolak lelah yang mendera dirinya. Evan pun segera mengikuti Lolita dan Rio untuk berlabuh ke pulau kapuk berselancar ke alam.


Rio dan Evan tertidur dengan melukiskan seutas senyuman di wajah tampan mereka. Apalagi Evan yang selama beberapa tahun ini tidak bisa tidur dengan nyenyak, saat ini Evan tertidur dengan sangat pulas




Janji tinggal lah janji, menguap begitu laksana hamparan debu tertiup angin, seperti janji Asha yang berjanji hanya meminta Boy untuk menemani sebentar menikmati makan siangnya


Sajian khas nusantara yang tersaji di meja makan berbentuk oval,dengan citarasa otentik, terbalut servis terbaik yang pihak restoran berikan kepada Asha sebagai pengunjung eklusif nya siang ini, tentu saja pihak restoran memberikan semua yang terbaik yang mereka miliki. Tata letak sajian yang indah ,aroma makanan yang mengiurkan lidah untuk segera menikmatinya, membuat Asha melupakan sejenak beban yang baru saja dia rasakan, bahkan dengan santainya Asha mengajak bodyguard dan sopir untuk makan bersama meski dalam meja terpisah


Alangkah tidak menyenangkan bagi Asha yang harus menikmati sajian yang begitu banyak seorang diri enak, padahal Asha sudah meminta para bodyguard dan sopir untuk


duduk bersama di meja yang sama dengannya, Namun para bodyguard dan sopir Asha menolak dengan lembut, yang langsung memilih meja terpisah, bahkan Boy pun ikut di meja yang sama dengan para bawahan Theo. Akan tetapi lirikan maut Asha seakan - akan Asha seorang panglima perang yang berpakaian ala prajurit di medan perang yang berlari kearah Boy dengan membawa pedang panjang khas atau kebanggaan nya untuk bersiap- siap akan menghunuskan pedangnya tepat ke jantung Boy,


tidaaaakkkk.....teriak Boy dalam dunia khayalnya


Sentuhan tangan dari salah satu bodyguard Asha di bahu nya,menyadarkan Boy, dari lamunannya di dunia khayalan. Mungkin Boy terlalu kebanyakan main permainan online , mobil legend , FF, atau arcane ,dan sejenisnya, membuat Boy berimajinasi dengan dunia khayalan


Sedangkan di dunia nyata , Asha memang masih menatap wajah Boy, dengan wajah yang sudah di tekuk ,dan mengerucutkan bibir nya.


Yah sudah, apa mau di kata, lebih baik Boy mengalah,mendampingi aunty nya yang sedikit cerewet ini


" begitu dong, Boy "


" jadi anak laki-laki tuh harus gitu "


" harus peka dengan perasaan wanita "


" biar nanti jika ada pacarnya,tidak akan berpaling ke pria lain "


" karena susah move on dari pesona kamu "


" yang gantengnya ,bikin enggak nahaaaaan...." ucap Asha sedikit lebay menggoda Boy


" biasa saja sih,aunty " ucap Boy dengan gaya cool nya, padahal di dalam hatinya dia merasa senang karena dipuji Asha


Sejujurnya terkadang ada rasa bangga di puji orang lain ,selain pujian dari Lolita, akan tetapi hal itu tidak membuat Boy menjadi besar kepala, karena Lolita mendidik anak-anak nya dengan sangat baik,dalam bersikap,dan selalu menanamkan sifat-sifat kebajikan dalam diri anak-anak nya,sesuai tuntunan dari agama yang diyakini nya, agar anak- anak berakhlak baik. Lolita berusaha menjadi figur orang tua yang mampu mendidik anak-anak nya di era milenial sekarang ,dimana gadget,layar sentuh,dan lain sebagainya,serta media sosial sangat mudah di gapai hanya dengan sepersekian detik informasi langsung akan di dapatkan.


Generasi anak-anak di generasi Z, merupakan generasi yang paling bisa mumpuni di segala bidang, jika bisa memanfaatkan nya, pasti bisa meningkatkan kemampuan multitasking nya, dan tentunya peran aktif orang tua sangat penting disini. Sebagai orang tua, Lolita harus pintar-pintar mengetahui segala hal demi anak-anak, mengikuti perkembangan anak zaman sekarang, apalagi pergaulan, kid zaman now,luar biasa sangat terbuka dengan informasi apapun,


" aunty " ucap Boy, menatap Asha dengan memelas


" iya " ucap Asha dengan singkat


" Hm "


" Mommy " ucap Boy dengan raut wajah yang sama saat meminta dengan Asha,


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


🍒🍒


__ADS_2