Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Siti dalam kenangan


__ADS_3

Dadang memutuskan menemui anak-anak didalam kamar Salsa, duduk disini dia seolah hanya menjadi patung karena tak dihiraukan. Bagaimana tidak Emak dan Bapak lebih tertarik menanyakan banyak hal pada Fian, termasuk banyak pertanyaan dari Nurdin tentang keinginannya untuk mengubah lahan kopinya menjadi tanaman sawit saja.


Kepergian Dadang membuat Siti lega ,entah hanya perasaannya saja atau memang Dadang sedari tadi menatap Fian dengan tatapan tak biasa, terlebih Bapak lebih asyik mengobrol dengan Fian.


"Bapak tenang saja, nanti kalau mau bibit berkualitas . Bapak telpon saya saja. Biar saya antar langsung kesini gratis..!!"


" Hahahhaha...nah Itu yang paling membuat tenang Nak Fian. kata gratis itu ...!!!"


Fian ikut tertawa, mendengar gurauan Mantan mertua Siti itu.


" Bapak sebenarnya deg-degan tadi, kalau-kalau kalian datang bawah undangan pernikahan .."


ucap Nurdin seraya menghapus jejak air mata disudut matanya, saking serunya pembicaraan mereka, dia sampai mengeluarkan air mata .


Siti melirik Fian, yang ternyata juga menatap kearahnya. Di tanya dengan pertanyaan sama, oleh dua orang yang berbeda, membuat keduanya tampak kikuk juga.


"Doakan saja yang terbaik, Pak! Kalau jodoh tak akan kemana,, "


Nurdin menatap lekat Fian, pemuda ini membuatnya kagum saat pertama melihatnya tadi. Sebagai seorang yang pernah muda, Nurdin tentu tahu jika Fian menaruh perasaan pada mantan menantunya, Siti.


" Kalau kamu yang jadi Ayahnya cucu-cucu bapak, Bapak senang kok nak Fian. Mereka akan dijaga dengan orang yang tepat. ."


" Terima kasih kepercayaannya pak, tapi. Semuanya kan balik lagi ke Siti. Dia nya mau nggak sama saya..!!" Fian tersenyum.


Membuat Siti malah semakin menunduk dalam, karena merasa tak enak telah membawa Fian ke situasi yang seperti ini..


" Gimana kabar bude mu Siti ? Titip salam ya dari emak.." ucapan emak mengalihkan perhatian Siti,


" Oh bude juga titip salam tadi kok Mak. Siti jadi lupa karena malah keasyikkan ngobrol..!"


Emak tersenyum maklum.


" Mbak buat Ayam geprek yuk !! Sudah lama nggak nyicip masakan mbak. Salsa jadi kangen.."


Salsa datang dengan kantung kresek besar ditangannya. Dan menatap Siti dengan menghiba. Berharap Siti mau dan mengikutinya kedapur.

__ADS_1


" Loh Sa, kapan kamu beli bahan-bahannya ini ?' Emak bertanya penasaran, karena sedari tadi, dia tahunya jika anak gadisnya itu sedang menemani keponakannya dikamar.


" Sejak anak-anak tidur Mak. hehe.. Memang tadi sengaja jalan belakang. Karena takut ganggu obrolan.."


Salsa menarik tangan Siti, karena Siti masih diam saja. membuat Salsa malah seolah sedang memaksa Siti. Dia sebenarnya ingin menceritakan banyak hal dengan Siti. Terlebih kehadiran kakak iparnya yang baru. Yang sifatnya bahkan lebih parah dari Hesti, istri abangnya yang nomor dua .


" Kebetulan loh , Sa. Sudah dua hari ini anak-anak request ayam krispi. Tapi mbak belum bisa eksekusi.. Dan sekarang seolah kamu ngerti aja kesukaan para ponakanmu, kamu benar-benar Tante idaman.." Siti gemas, mencubit kecil pipi Salsa. Mereka kini telah berada di dapur, dengan semua bahan yang tadi dibeli oleh Salsa berada didepan mereka.


" ihk Mbak apaan sih, Nanti Salsa jadi nggak nafsu makan tahu..!!"


" Alah kamu itu, nggak nafsu aja bisa ngehabisin satu piring penuh. Gimana kalau lagi doyan..hahahah"


Mereka malah tertawa bersama, tapi tangan keduanya sama cekatannya ketika mengaduk adonan, untuk ayam krispi.


Tiga puluh menit berlalu tanpa terasa, Salsa yang duduk di kursi makan, memandang Siti dengan mata berbinar. Semua yang ada di diri Siti membuatnya merasa ingin meniru.


Setelah dilihatnya dengan seksama, Siti sekarang nampak bahagia, apalagi bentuk badan dan juga wajah Siti kini tampak lebih cantik dan langsing bak gadis. Memang benar kata orang, Salah pilih suami jadi Babu, benar pilih suami jadi Ratu. Sayangnya posisi Siti malah pada pepatah yang pertama, dan kini setelah bercerai dengan abangnya, Siti seolah menunjukkan kilau aslinya yang seolah tertutup debu dan awan hitam saat berstatus istri dari Dadang, Abangnya Salsa.


" Sepertinya mbak lebih bahagia sekarang ?"


" Iyah lah Sa, kunci kebahagiaan anak-anak itu, terletak pada ibunya. Bagaimana bisa mereka bahagia jika hati ibunya diselimuti dengan perasaan sedih dan penuh tekanan, jadi jelas mbak sekarang bahagia makanya tambah cantik hheheh..!!"


Siti berucap santai, di sertai dengan candaan. Dia sama sekali tak bermaksud menyinggung sikap Dadang. Dan Salsa mengerti akan hal itu.


"syukurlah kalau begitu, aku ikut bahagia mbak..".


Salsa terlihat sedang mengingat sesuatu yang hendak dia sampaikan ke Siti.


" Eh Mbak, kemarin ada Penerbit loh yang menanyakan soal mbak..


Emangnya mbak nggak berminat buat novel cetak dari karya mbak itu ? Aku sempat kaget juga, kenapa mereka malah nanyain semuanya ke aku, rupanya. Mereka stallking akun mbak. Karena kita sering berbalas komen. Makanya mereka mau membujuk Mbak lewat aku. Tapi aku rada iri loh mbak, sampai segitunya mereka . Saking hebatnya novel Mbak. Mereka jadi seperti itu.hihihi"


Salsa menjelaskan panjang lebar,


" Ahh mbak males Revisi Sa. Karena mereka nyuruh mbak buat revisi, makanya mbak diemin mereka.."

__ADS_1


" Aku aja yang jadi editornya mbak, gimana. Biar Mbak nggak repot hehhe "


" Emang kamu mau ? Mbak itu tipe sungkan sebenarnya , kalau sudah nulis Seribu kata terus dibaca sekali lewat. Sudah . Mbak males kalau harus melirik lagi, tapi alhamdulilah kalau tulisannya masih nyambung. Namanya hobi ya, kalau menghasilkan uang mbak anggap aja itu bonus. Yang penting mbak konsisten aja udah. Buat menyalurkan hobi.."


Salsa mencomot Ayam yang telah matang, yang sengaja Siti


letakkan didepannya.


" Hmm.. aku doain mbak diberi hidayah ,agar mau revisi.. Demi masa depan anak-anak.. "


Siti mengaminkan ucapan Salsa, seiring dengan selesainya ia menggoreng ayam. Tangannya kini dengan cekatan menata semua ayam, berikut sambelnya di atas meja.


Karena hari memang telah siang, dan waktunya untuk makan.


Tepat saat selesai menata semua menu di atas meja, suara Anak-anak Siti terdengar, rupanya ketiga jagoannya itu, kini telah bangun, dan memanggil Sang ibu dengan nyaring.


" Eh sudah bangun Dek Bara..!!"


Siti mengendong Bara dan mengajaknya untuk cuci muka, sementara Dio dan Rama telah lebih dulu dituntun oleh Dadang, dan kini malah telah siap dimeja makan.


" Yeyyyy.... ayam crispy...!!!" Dio berseru senang, membuat Siti tersenyum. Mengingat kelakuan Dio yang mulai lagi ceria. Tak seperti dua Minggu belakangan.


Ketiga anak Siti kini diberi masing-masing satu ayam krispi dan juga nasi, mereka makan diruang keluarga dengan di dampingi Salsa. Sementara Siti duduk dimeja makan dengan Fian, Dadang serta emak dan Bapak.


" Rasanya memang beda ya ,Ti !! Kalau ayamnya kamu yang buat, bikin nagih.."


Ucap Emak dengan mata penuh kagum, dan juga lidah yang mencecap ayam dengan lahap.


" Emak bisa saja, kan Emak yang jadi gurunya, pantes kalau enak.. hehe "


Saat Siti mengatakan hal itu, Lastri jadi teringat akan awal-awal pernikahan Dadang dan Siti, Siti termasuk perempuan yang tak malu bertanya, Dan akan mempraktekkan langsung ketika diajari. Mengingat kenangan itu mata Lastri kini berkaca-kaca.


Suasana kini tampak hening, hanya suara sendok dan piring yang beradu.


Semuanya nampak makan dengan lahap, begitupun Fian. lelaki itu mengakui, jika masakan Siti memang Lezat dan pas di lidah.

__ADS_1


__ADS_2