Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Hadiah adik ipar


__ADS_3

Meski Indra memberi tahu akan sampai pada jam delapan pagi, tapi rupanya mereka malah belum sampai di rumah emak padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih.


Sebuah mobil yang datang, menarik perhatian aku, emak dan Bapak yang memang menunggu kedatangan Indra dan keluarga, di teras rumah.


Setelah sang pengemudi keluar, barulah kami tahu jika mobil itu milik Indra, entah kapan adik ipar ku itu belajar mengendarai mobil, hingga mereka kini berani membawa mobil sendiri. Mobil jenis Avanza yang bahkan belum menggunakan plat , yang berarti jika mobil ini baru saja mereka beli. Tak ingin nampak norak didepan Indra , karena takjub dan bingung dengan isi kepalaku sendiri. aku segera mengambil koper yang baru dikeluarkan oleh Indra dari dalam mobil mereka, sedikit menyambut adik ipar dan istrinya itu dengan antusias.


Kulihat Emak dan Bapak malah langsung mengambil alih Raja dari gendongan Hesti, kemudian membawa bayi itu masuk ke dalam, karena cuaca kini memang telah sedikit terik.


" Assalammualaikum Mbak !"


Perempuan berparas manis itu, menyapaku dengan ramah.


aku membalas salam Hesti, dan menyodorkan tanganku kearah tangannya yang telah siap menyalamiku.


aku mengangguk sopan akan sikap hormatnya dan menyuruhnya segera masuk kedalam menyusul emak dan bapak , sementara itu aku kembali mengangkat beberapa kantung belanjaan yang tadi telah dikumpulkan Indra di samping mobil, membawanya masuk kedalam.


Setelah memastikan semuanya telah selesai dan tak ada yang tertinggal aku segera bergabung dengan emak , bapak serta Indra dan Istrinya, sementara Dio memang sedari tadi telah berada didepan Tv, Anak keduaku memang suka menonton, apalagi jika acara kartun kesukaannya telah mulai.


"Ti, ambil pempeknya ya di dapur,."


aku bahkan belum sempat berbincang dengan Hesti, namun perintah emak malah mengharuskan ku untuk kembali ke dapur dan menyiapkan pempek beserta cuka.


Untungnya Bara sedang tidur jadi aku bisa melakukan semuanya dengan gesit.


" Dek bikinkan abang kopi dong..!!"


Suara bang Dadang membuatku sedikit kaget, aku benar-benar tak mendengar suara langkah kakinya tadi, hingga tak sadar akan kehadirannya.


" Ini loh bang ,aku sibuk !!


Indra sama istrinya baru saja sampai jadi kamu bikin sendiri ya kopinya, nggak enak kalau mereka menunggu lama.." aku menunjukkan pekerjaanku pada bang Dadang, agar dia mengerti dan berinisiatif membuat kopi untuk dirinya sendiri.


" alahh, Sama Indra aja kok nggak enak segala. Pokoknya bikinin aku kopi, selesai aku cuci muka, kopi harus sudah selesai dan berada dimeja..ngerti !!!"

__ADS_1


Bang Dadang memang baru saja bangun. Dan seperti biasa dia tak mau mengerti kerepotan ku, Aku yang malas berdebat, dan merasa nggak enak sama Indra jika pertengkaran kami terdengar sampai ke depan akhirnya mengalah dan segera memasak air untuk menyeduh kopi.


Aku sedikit melamun , entah kenapa pernikahan ini sekarang malah terasa menyiksa.


" Siti kok lama ? loh kok malah bikin kopi kamu "


" Ehh ini untuk bang Dadang mak, Dia baru bangun.."


Emak terlihat mengambil alih nampan yang telah ku siapkan dan menata mangkuk kecil, pempek beserta cuka didalamnya. Tak lupa juga air minum dan cangkirnya.


Emak diam saja tak menanggapi ucapanku, sampai dia akhirnya ke depan, sambil membawa nampan .


Aku tahu, jika bang Dadang salah maka emak bahkan tak terlalu perduli, kecuali jika kesalahan ada padaku maka emak akan berbicara panjang lebar dan memihak bang Dadang, bukan menasehati. Tapi malah makin menyalahkan aku.


Malamnya saat semua anggota keluarga tengah berkumpul, Indra membagikan baju-baju baru. Katanya sebagai oleh-oleh, sekaligus syukuran akan kelulusannya sebagai PNS, tahun lalu.


Semuanya kebagian, termasuk ketiga putraku, jujur saja aku sedikit merasa Iri dengan kehidupan Indra yang kini telah mapan meski usia pernikahan mereka masihlah sangat muda.


" Ini mbak..!"


Indra menyodorkan sebuah kotak perhiasan, berwarna merah beludru. " Aku sudah ada nazar, jika aku lulus PNS, maka aku akan memberikan Mbak seperangkat perhiasan. Sebagai tanda terima kasih karena Mbak selalu mendukungku baik secara materi maupun waktu, untuk mengajariku !"


Sebenarnya inilah alasan, dibalik tak berkembangnya finansial kami. Aku selalu berinisiatif membantu adik-adik bang Dadang agar bisa kuliah secara berbarengan. Karena meskipun PNS, keuangan Bapak tak stabil karena memang banyak yang harus dibayar , dan semuanya mengandalkan gaji yang tak seberapa karena memang, Gaji bapak tak lagi utuh, telah terpotong pinjaman bank.


Aku terharu , Tapi aku tahu jika tak elok rasanya jika aku menerima ini, terlebih kini Indra telah berkeluarga.


" Simpan aja Ndra, Mbak ikhlas kok. Lagian semua juga atas persetujuan Abang mu.."


" Ini nazar mbak. Dan kewajiban ku adalah membayarnya. Aku tidak mau jika ini nanti malah akan menjadi celaka untukku nantinya .."


"Kalau begitu, apa boleh perhiasan ini Mba jual ? Soalnya insya Allah kita mau bangun rumah tahun ini. Ndra..!!" Aku melirik bang Dadang yang sedari tadi diam saja.


Semua orang di ruangan ini kini, nampak berpandangan, meski aku tak tahu isi hati mereka, tapi aku tahu ada keraguan dari binar mata keluarga bang Dadang, termasuk suamiku itu.

__ADS_1


" Oh ya Mbak.. Boleh kok . Ini sudah jadi hak milik Mbak , Apalagi jika bisa digunakan untuk menambah kekurangan pembangunan rumah kalian nantinya.."


Indra berucap bijak,meski dia terdiam cukup lama.


aku tersenyum senang, menatap kearah seperangkat perhiasan emas pemberian Indra. Apa ini jawaban dan balasan akan kesabaran dan pengorbananku selama ini. aku tatap lagi wajah Indra dan dengan tulus mengucapkan banyak terima kasih, padanya.


Meski Emak seolah buta akan ini, tapi dengan perlakuan Indra saat ini. Aku merasa jika, aku masih dihargai di keluarga ini.


***


Semenjak malam dimana aku mengutarakan niat akan membangun rumah, keluarga bang Dadang seolah menganggap remeh dan mungkin tak terlalu percaya. Jadinya mereka bersikap seolah aku hanya membual saja, padahal semua uang sudah aku belikan material dan bahan bangunan. mereka akan siap kapanpun aku minta untuk diantar.


Aku juga bersyukur bang Dadang lebih terlihat menurut saja, tanpa komentar apalagi protes, Karena memang aku selalu berusaha mendiskusikan semuanya pada suamiku itu, sebagai bentuk menghargai . Walau pada akhirnya Dia kembali bersikap menyebalkan, dan lagi - lagi membahas hubungan ranjang kami, yang tak seintens dulu..


Aku pikir kehadiran Hesti bisa mengusir kebosanan ku, kala Salsa masih kuliah. Tapi rupanya Emak seolah memberi jarak antara aku dan Hesti. Mereka lebih sering ngobrol berdua, tak memperdulikan ku yang kerepotan dengan pekerjaan rumah yang seabrek, dan tak tahu kapan akan selesai.


Entah kenapa aku merasa jika aku hanya pembantu disini , bukanlah seorang menantu.


mungkin aku telah lelah menjadi orang tertindas,sehingga pikiranku kini malah berprasangka buruk terus. Suamiku saja bersikap begitu acuh seolah aku ini orang asing, jadi bagaimana aku bisa membesarkan hati pada cara emak yang nampak sekali memperlakukanku secara berbeda.


" Itu mobil pribadi kalian Hes ?"


" Iya mak, alhamdulilah!! Tapi masih kredit sih mak. Cicil ke bank.."


Jadi benar, itu milik mereka dan didapatkan karena menjaminkan SK ke bank.


Kulihat emak terdiam, Emak memang tak terlalu suka berurusan dengan bank. sementara mereka memang terpaksa pinjam ke bank untuk biaya kuliah ketiga putra mereka waktu itu.


" Oh iya, berarti tiap bulan kalian sekalian menabung tapi barangnya di terima lebih dulu. Iya kan hehe"


Oh. Nampaknya pengecualian untuk menantunya yang satu ini. Semakin jelas saja jika Hesti adalah menantu istimewa bagi Emak.


Sedangkan Aku !!!

__ADS_1


__ADS_2