Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Sandra dan Sampah


__ADS_3

Sandra meninggalkan rumah Dadang dengan muka ditekuk, dia tak menyangka jika semuanya malah jadi seperti ini ? Bagaimana bisa Dadang meminta kartu itu kembali, lagian untuk apa coba, toh kartunya juga sudah diblokir, mending dibuang saja kan .


Dan memang Sandra sudah membuang kartu itu ditempat sampah tantenya, sepulang dari pasar bersama Dadang tadi, dan dia juga melihat dengan jelas jika sampah itu sudah diangkut oleh tukang sampah yang biasa keliling desa,


" Tante Fatma.. Kang sampah yang biasa ngambilin sampah itu rumahnya dimana ya ?"


" Kenapa kamu nanyain dia, memang ganteng sih. Tapi bau tahu ?"


Sandra heran dengan jawaban aneh sang tante, bahas kegantengan segala lagi.


" Tadi Sandra nggak sengaja jatuhin anting didalam bak Sampah Tante, jadi niatnya mau cari. Siapa tahu masih rezeki kan ?"


Sandra sengaja menyembunyikan antingnya sebelah, dan hanya memamerkan anting di telinganya yang tinggal satu.


" Kamu itu ada-ada saja San, kok bisa antingmu jatuh disitu ? coba kamu ingat-ingat lagi. Mungkin bukan disitu jatuhnya, tapi ditempat lain..!"


" Enggak tante. Aku yakin jatuhnya disitu tadi. ayolah tan, nanya alamat aja kok sampai diintrogasi kayak gini segala sih ?"


Sandra sedikit sewot karena Sang tante malah membuat waktunya terbuang percuma.


" Tuh, di persimpangan depan, tepat sebelum belokan rumah mertuamu. nggak perlu tanya orang. Kamu endus saja baunya.."


Sandra nampak berpikir sejenak, tak mungkin kan Dia mencari kartu itu sekarang. Sementara hari sudah beranjak malam, dan dia juga dalam kondisi hamil. Tapi yang dia bingung sekarang dia harus tidur dimana ?


Fatma rupanya menyadari kebingungan Sandra, dia menatap keponakannya itu dengan mata menyelidik.


" Kenapa kamu ? marahan lagi sama suamimu ? Kamu diusir ?"


Fatma masuk kedalam,Sementara Sandra mengekor, rupanya Tentenya itu kini tengah memasak lauk untuk makan malam. Sandra memilih duduk, beruntung dia sudah makan saat pulang tadi. Sehingga dia tak harus meneguk air liur akan masakan sang tante yang tampak lezat.


"Kenapa kamu ? Ditanya kok malah diam saja..?"


" Bang Dadang marah , karena antingnya hilang jadi kalau belum ketemu , dia ngelarang aku buat pulang ke rumah. ."


Sandra sengaja memasang wajah sedih di hadapan sang Tante meminta simpati .


Sementara Fatma, menampakkan reaksi yang jauh dari bayangan Sandra " Kamu nggak lagi ngibul lagi kan ? Mana mungkin suami kamu begitu. Apalagi dengan kondisi kamu yang tengah hamil begini ? Kalau ngarang jangan cari topik yang terlalu mudah ditebak.."


" Izinkan aku ya tan. Tidur di rumah tante, malam ini !!" Tak kehabisan ide, Sandra akhirnya memohon dengan wajah memelas.


" Iyah. Sudah sana tidur , sudah malam ini. Nggak baik bagi bumil kalau terlalu malam tidurnya .."


" Terima kasih tan... Tante memang terbaik.. hehheh"

__ADS_1


" Ckckckck" Fatma berdecak tak mengerti kenapa bisa ia punya ponakan seperti sosok Sandra. ..


***


Hari sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, ketika Sandra membuka mata. Syukurlah tantenya tak cerewet dengan membangunkannya subuh-subuh.


Setelah selesai cuci muka,Sandra melangkah kearah belakang rumah sang Tante, mencoba jalan pintas agar tak berpapasan dengan mertuanya yang sekarang pasti telah dijalan untuk berangkat ke Kebun karet.


Sampai di persimpangan, memang benar kata sang Tante, aroma sampah terasa menusuk hidung, Sandra berdo'a semoga saja kresek sampah milik sang Tante belum dibuang ke TPA.


" Bang Ali ya ?"


Sandra menyapa dengan menutup hidungnya, meski tahu jika sikapnya kurang sopan namun dia tetap melakukannya.


" Kresek milik Tante Fatma yang kemarin di taro dimana Ya?"


Tanyanya sembari menelisik timbunan sampah yang menumpuk tinggi.


" mbak nggak salah, nanya begitu ?"


Pemuda yang bernama Ali itu membalas ucapan Sandra dengan kening berlipat " Saya kan cuma melakukan tugas saya mengambil kresek sampah. Dan tidak sempat juga kalau harus memberi tanda atau nama pada kantung sampah itu !!! Kalau mau silahkan cek sendiri saja , kantung ini satu persatu...".


Sandra memandang lelaki didepannya dengan tatapan mengiba. berharap Lelaki ini mau membantunya melaksanakan tugas berat dari sang suami.


" Bantuin lah Bang !! Abangkan sudah terbiasa akan bau sampah.."


Sandra menatap lelaki didepannya dengan pandangan mengantuk, kenapa juga sekarang dia malah mendengar curhat si kang sampah ini !!


" Ini jam berapa bakalan di angkut ke TPA bang ?"


" Jam Sembilan mbak. Sebaiknya mbak gerak cepat. Selagi masih ada waktu.."


Sandra mulai menuangkan sampah-sampah itu kedalam gerobak dorong milik kang sampah dan mulai mengaduk-aduk sembari matanya dengan awas mengamati benda berwarna merah yang mungkin saja terselip di sana..


Satu persatu, jika tadi dia masih terlihat jijik karena masih menggunakan kayu untuk mengaduk, tapi kini Sandra malah mengunakan kedua tangannya tanpa menampakkan raut wajah yang berarti, seolah ia telah kebal akan bau sampah yang menusuk hidung.


Setengah jam berlalu, namun pencarian Sandra belum juga membuahkan hasil. Dia hampir saja putus asa, dan berharap ada bantuan yang datang.


" Ketemu mbak ? "


Sandra menoleh cepat, bagaimana bisa dia melupakan keberadaan Ali. Apakah karena dia terlalu tertekan makanya otak dan pikirannya sejenak menjadi kosong.


"Abang tolongin saya dong, jangan cuma jadi penonton. Biar cepat ketemu.."

__ADS_1


Ali cuek, seolah tak mendengar ucapan Sandra.


" Aku kasih lima puluh ribu, kalau ketemu.."


Seketika, Sandra seolah melihat binar cahaya dimata lelaki bernama Ali ini .


" Emangnya apa yang mesti dicari Mbak ?"


Ali dengan sigap ikut mengacak-ngacak sampah didepannya


" kartu ATM. Warna merah.."


Ali manggut-mangut dan langsung menuangkan seluruh kresek sampah di tanah. Tak sampai sepuluh menit, kartu yang disebutkan Sandra tadi kini berada ditangan Ali.


Sandra kegirangan dan ingin segera mengambil kartu itu.


" eits.. Tunggu dong Mbak bumil cantik. Uang nya mana ?"


Ali menengadahkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya dia gunakan untuk mengangkat kartu itu tinggi-tingi.


Sandra cemberut dengan perasaan tak ikhlas dia mengambil satu-satunya uang miliknya yang tersisa didalam saku. Tak ia pedulikan tangannya yang kotor dan bau itu kini menyentuh bajunya.


Dengan gerakan cepat, Ali merebut uang berwarna biru itu dari tangan Sandra dan menukarnya dengan kartu yang ditemukannya tadi.


" Nah ini baru benar Mbak. Mbak silahkan pulang saja, biar saya yang membereskan semua kekacauan yang sudah mbak perbuat disini.."


Ali berucap bahagia, dan memandang Sandra yang nampak kusut dan berwajah cemong.


***


Fatma akhirnya mendatangi Dadang, karena Sandra yang tidak dia ketahui keberadaannya. Dia khawatir jika Sandra berbuat nekat, karena pergi dari rumah tanpa pamit dan dalam kondisi lapar.


" Dang..Dadang !!!"


Dadang akhirnya membuka pintu, dengan memegang spatula ditangannya. Mungkin kedatangan Fatma mengejutkan Pria itu, hingga karena saking terburu-burunya dia malah tak sadar jika tangannya masih memegang alat untuk membalik lauk,


" Eh Mbak Fatma , kenapa mbak.."


" Sandra mana ?"


" Loh, bukannya ada yang bilang kalau Sandra tidur di rumah mbak semalam !!"


" Iya, tapi sekarang mbak nggak tahu dia kemana, mbak pikir dia pulang kesini. lagian kalian ada masalah apalagi sih ? Masa hanya karena antingnya hilang kamu sebagai suami tega menyuruhnya tidur diluar dan memintanya mencari sampai ketemu.."

__ADS_1


Mendengar Sandra telah mengarang bebas tentang kebohongan lain, demi menyelamatkan diri. Dadang akhirnya sedikit mundur dari posisinya yang tadi persis ditengah-tengah pintu,


" Mending mbak masuk dulu, Sepertinya Mbak mesti tahu kelakuan keponakan mbak itu..!!"


__ADS_2