Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
tabur tuai?


__ADS_3

Siti dan bude Dewi kini duduk berdampingan di kursi ruang tamu, sengaja mereka memilih bicara disini karena takut anak-anak Siti terbangun.


" Bude Kenapa tadi ? panik banget kayaknya ?"


Siti bertanya dengan penuh selidik, tak biasanya bude menunjukkan ekspresi seperti tadi, jadi Wajar jika Siti malah kepikiran .


" wajar bude panik Ti !! Kamu kan tadi dalam keadaan emosi saat mengendong Bara dan Dio, bude takut kalau kamu malah melakukan sesuatu yang membahayakan mereka dan diri kamu sendiri..!"


Siti mendadak mengingat, akan tingkah Agung tadi. Terlebih dengan ucapan Om dari anak-anaknya itu yang seolah menuduh Siti tak bisa membahagiakan anak-anaknya dan menjamin masa depan mereka.


" Aku keselnya sama Agung Bude, bukan sama anak-anak !! Lagian kenapa juga sih Agung bisa berpikir seperti itu, seharusnya dia mengerti akan posisiku, jika sayang !! Bukan berarti dia harus memisahkan mereka dari ibunya juga kan?"


Siti mengeluarkan unek-uneknya, masih tak habis pikir Agung datang jauh-jauh kesini untuk hal itu.


" Jangan salahkan dia Siti, Kitakan nggak tahu gimana pergolakan batinnya menghadapi sang istri yang Depresi, dan juga mungkin dia ingin mengurangi sedikit bebanmu..!!"


" Iya ,bude !! Tapi anak-anakku tak pernah aku anggap beban. Mudah-mudahan Agung bisa menemukan solusi terbaik, tanpa harus mengusik anak-anakku !!!"


" Aamiin..!!"


***


Dadang kini tengah berdiri menghadap dengan Bapak. Dia dengan wajah penuh air mata meminta maaf dengan suara serak. Sekarang, dia butuh dukungan, karena situasi yang tak bisa dia kendalikan dan kuasai seorang diri, meski diusianya yang sekarang, dia tetap butuh sosok ayah yang merangkulnya.


" Kenapa minta maaf dang, kami sadarkan jika kamu itu selalu saja seperti ini ! Percuma permintaan maf jika tak disertai kesadaranmu untuk berubah..


kali ini bapak berikan kamu kesempatan sekali lagi, Bapak maafkan kamu, tapi bapak punya permohonan yang harus kamu kabulkan !!"


Nurdin menatap Dadang, dia sebenarnya lega sang anak masih menganggap dirinya dan meminta maaf padanya. Baginya semua yang terjadi sudah kehendak yang kuasa, sekuat apapun melawan takdir tetap saja tak akan bisa.


Jadi, menjalaninya dengan ikhlas adalah solusi terbaik.


" Apa syaratnya Pak ?"


" Terima Sandra dengan hatimu, Dang !! mungkin dia perempuan yang tak seperti yang dibayangkan oleh mu, tapi !! kamu sudah membawanya kedalam singgasanamu dan telah berdua menjalani rumah tangga. Tepati janjimu pada Allah dang, nikahi kembali Sandra , lakukan ijab lagi di KUA.."


" Pak !! Aku lelaki pak, bagaimana mungkin bapak meminta sesuatu yang menjatuhkan harga diriku ? Bapak pun tak akan mau kan, seandainya disuruh menikahi perempuan yang telah dihamili oleh orang lain..!"


Dadang terdengar marah, baginya Sandra tak bisa lagi dimaafkan dan tak akan bisa hatinya untuk menerima perempuan yang telah membohonginya habis-habisan.


" Dia salah , Memang !! tapi, apa kamu ingat jika kamu juga membawanya ke arah Zina, dan bahkan kamu menikmati itu dengannya hampir setiap malam, saat kalian belum sah menjadi suami istri. jangan mencoba menyelamatkan dirimu sendiri, Dang !! Salahmu juga karena tidak mencari tahu dulu asal usulnya, yang kamu pikirkan seolah hanya ************...!!!"

__ADS_1


Nurdin tahu jika Dadang pasti akan bersikap seperti ini saat dia menasehatinya, Dadang rupanya tak berubah kalau soal ego.


" Pak !!!"


" Bapak juga nggak mau jika sesuatu terjadi sama anak perempuan atau cucu bapak nantinya Dang, karena hukum tabur tuai itu nyata dan pasti akan terjadi.."


Dadang mengepalkan tangannya, dan memandang Sang Ayah dengan mata memerah. Dia marah dan kecewa, namun tak bisa mengekspresikannya lebih dari sekedar seperti ini.


Suara salam dari luar terdengar, tak lama sosok Agung menampakkan diri. Lelaki itu seolah tak merasakan ketegangan antara Bapak dan Abangnya, dia terlihat lebih mengasihani dirinya karena penolakan Siti.


" Kenapa kalian ? Kok nggak ada yang jawab salam?"


Agung menyandarkan diri di sandaran Sofa, kakinya dia julurkan kedepan. Dia lelah karena melakukan perjalanan yang jauh dan hanya beristirahat di rumah Siti , itupun tak lama.


" Kamu sendiri Gung? Istrimu mana ? kenapa kalian susah dihubungi belakangan ini ?"


Bapak menatap anak lelakinya yang paling bontot itu dengan pandangan mengarah ke halaman depan, mencari sosok Elis, sang menantu. mencoba mengalihkan pembicaraan ketopik lain,


" Elis di rumah Pak. Agung kesini sendiri, hape kita hilang pak, !"


" kalian marahan Gung !! " Emak menyela, padahal dia baru saja pulang dari rumah Fatma, membesuk sang cucu, meski Dadang masih enggan untuk menemui anak tak berdosa itu. Namun melihat Agung datang sendiri, pikiran itu tiba-tiba melintas di otaknya.


Agung berdiri. Menyalami emak, Dadang dan juga Bapak. Dia sampai lupa tata Krama saking tak fokusnya, akibat masalah yang datang menghampirinya bertubi-tubi. Terlebih tentang istrinya, Elis.


"Elis sakit Mak !! Jadi nggak bisa ikut.."


Suara Agung yang terdengar putus asa membuat Emak memandang curiga,


" Sakit kenapa Gung !! parah ? kenapa nggak kasih tahu kami, kan bapak sama emak bisa ke sana buat jenguk, kamu nggak perlu jauh-jauh datang kesini !!"


Agung tiba-tiba menangis, bahunya bergetar hebat.


Membuat ketiga pasang mata yang sedari tadi penasaran dengan jawaban Agung kini semakin dilanda kekhawatiran.


" Kenapa kamu Gung ?"


Emak mendekat mendekap Agung dalam pelukannya, membuat lelaki itu semakin terisak tak terkendali.


" agung nggak akan pernah punya keturunan Mak. Elis rahimnya diangkat, dia nggak bakalan bisa punya anak.!!"


" Kenapa Gung ? Kenapa bisa seperti itu..?"

__ADS_1


Emak bertanya pelan, getar suaranya mewakili hatinya yang ikut sakit mendengar kabar tentang menantunya itu.


" rumah dimasuki rampok Mak. Elis yang memang lagi di rumah berusaha mempertahankan apapun yang bisa dia pertahankan. perampok itu memukulinya hingga pingsan dan hal itu menyebabkan rahimnya rusak dan terpaksa diangkat..!"


Agung lagi-lagi harus mengingat peristiwa itu, dimana dia menemukan tubuh Elis yang dipenuhi darah, dan keadaan rumah yang berantakan.


" Astagfirullah nak...!!! Kuatkan Hatimu. ." Emak kini menangis tersedu, semakin menguatkan pelukannya pada Agung. Semua kejadian sejak Siti keguguran hingga hari ini berputar-putar di otaknya, entah kenapa semua kemalangan seolah datang kepada keluarganya.


Sementara Bapak kini memandang Dadang yang terlihat menangis, salahkah jika dia merasa jika ini adalah karma yang disebabkan akan kelakuan lelaki yang merupakan anak pertamanya ini, yang seolah memperlihatkan air mata penuh kepalsuan.


" Bang !! Abang bisa kan bujuk mbak Siti agar Bara ikut kami saja. Elis depresi bang, aku bingung harus melakukan apa untuk mengurangi rasa sedihnya.."


Agung menatap Dadang penuh harap, namun sang Abang hanya menampakkan wajah bingung yang seolah tak mengerti akan ucapan Agung.


" Jangan meminta hal itu pada abangmu Gung!! lagian jika memang kamu mau adopsi anak, kenapa nggak ke panti asuhan saja. Dadang hanya menyandang status sebagai penanam benih , dan tak berhak jika mengambil Anak-anak dari Siti.."


Bapak menyela, jelas terdengar jika dia emosi, entah karena apa .


" Bapak !!! bapak kenapa sih seolah benci denganku ? aku juga anak bapak, dan aku juga manusia, pasti punya salah dan pernah khilaf.."


" Khilaf itu hanya sekali, Dang !! kalau sudah berkali-kali itu namanya tuman. Bahkan belum ada Setengah jam, kita membahas ini. Apa kamu telah kembali lupa atau berusaha melupakan ?"


Agung kini menatap kedua lelaki berbeda usia itu dengan kening berkerut, apakah abangnya Dadang bikin ulah lagi. dan kehadirannya saat ini sangat tidak tepat.


" Berhenti...!!!" Emak bersuara pelan namun penuh penekanan.


" Bisakah, sekarang kita fokus mengurangi beban yang kini dirasakan Agung. Emak capek !!! Dang, apapun yang telah dikatakan Bapak, kamu mau kan menurutinya satu kali ini saja !"


"Mak, bapak memintaku menikahi Sandra kembali Mak, aku nggak.."


" Berarti kamu telah memilih jalan untuk dirimu sendiri Dang, jika memang begitu, angkat kakimu dari rumah ini, dan jangan juga kau berdiam di rumah yang sejatinya adalah milik anak-anakmu.." Emak kembali bersuara, kini suaranya datar dan dingin.


jangan ditanya apa yang dirasakannya kini. Hati ibu mana yang tak sakit, jika kedua putranya ditimpa permasalahan berat seperti ini.


" Mak...!! Emak juga mau menyalahkan Dadang ? Kenapa kalian semakin menyudutkan ku sekarang ? Apakah kalian tak menganggap ku anak lagi ?"


Emak berdiri


" Kamu tahukan pintu keluarnya sebelah sana Dang ! Silahkan angkat kaki, jika kamu masih ingin berdebat dan membantah. ."


Dadang memandang Emak dengan penuh air mata. Apakah sekarang kesalahannya sefatal itu. Tapi dia juga bingung akan kemana ?

__ADS_1


Dadang menatap Agung, dia seolah melihat mata itu lebih terluka sekarang ! Apakah dia harus menerima Sandra lagi ?


__ADS_2