
Hari ini aku sengaja mengajak bude untuk berkeliling didesa, tempat kelahiran suamiku.
Wajah itu nampak ramah dan berseri di sepanjang jalan yang kami lalui. Bude juga nampak akrab saat berbincang pada warga yang kebetulan lewat.
Warga disini memang terkenal ramah dan punya Adab yang baik akan kehadiran orang baru.
Aku pun merasakannya diawal pernikahanku dan bang Dadang beberapa bulan yang lalu.
" Eh ibunya Siti ya ? "bu Uci menghampiri kami yang sedang duduk di teras rumah Emak. Kami memutuskan bersantai, karena capek habis keliling tadi.
" Salam kenal ya !! Saya Uci tetangga sebelah"
Bu Uci menunjuk kesamping arah dimana rumahnya berada , memberi tahu bude jika ia tinggal tepat disebelah rumah Emak..
" Oh iya salam kenal juga ya, Saya Dewi, !!" Bude menyalami Bu Uci dengan Sopan, sembari tersenyum ramah.
" ehh ngomong-ngomong kamu sudah isi ya, Ti ?" Tatapan itu kini teralihkan ke arahku yang duduk bersebrangan dengan tempat bude.
"Alhamdullilah, sudah Bu..!! Doakan saja lancar luncur sampai lahiran.."Aku menyentuh perutku, mengantisipasi kejadian kemarin terulang lagi ketika bu Uci menyentuh perutku tanpa permisi. Meski tak menyakiti tapi rasanya tetap tak nyaman, dan terasa sangat lancang..
" Aamiin..Memangnya sudah berapa Minggu usia kehamilan kamu ? Kok nggak ada tanda-tandanya ya, misal mual atau pusing gitu ?"
" Satu bulan Bu..!! Dokter bilang janinnya sehat, meski aku sempat pingsan di rumah praktek dokter kemarin, ,Tapi alhamdulilah nggak terlalu mual dan pusing sih Bu "1
"Oh berarti sempat pusing juga toh, malah sampai pingsan segala.." Bu Uci manggut-manggut, pandangannya kini malah menatap lekat ke arah bude .
" ehh Bu Dewi, sebaiknya Siti dibawa pulang dulu sementara, banyak kejadian Lo kalau tinggal di rumah mertua malah tersiksa dan akhirnya keguguran.. Apalagi mertua modelan Mak Salsa ini, Suka muka dua.."
Aku merasa pembahasan ini mengarah ke hal yang membuatku tak nyaman, aku melirik bude yang tampak tak terpancing.
" Anakmu ini hanya karena belum hamil di pernikahan yang baru seumur jagung, nuduhnya udah kemana-mana.."
nyess, ucapan Bu Uci serasa menyentil ku lebih dalam .
" Bude nggak mau mandi lagi ? Kan tadi Siti lihat bude sampai keringetan banyak banget.."
__ADS_1
Aku berusaha mengalihkan perhatian bude, Sekaligus memberikan kode ke Bu Uci, jika aku tak suka beliau malah terkesan memprovokasi bude. Tapi sosok itu seolah acuh dan malah dengan anteng duduk di kursi kosong didepan kami.
" Nggak kok nak. Bude nggak kenapa-napa, malah sekarang sudah seger lagi nih..
Masa sih Bu, kalau besan saya seperti itu, kayaknya nggak mungkin deh.."
Ku gigit bibir bawahku dengan pelan, kenapa bude malah meladeni ucapan bu Uci sih ?
" Kecuali kalau dia tetanggaan sama wanita julid, yang sukanya adu domba dan selalu mencoba menuang bensin kedalam api. Memang menyenangkan jika kita bisa membuat orang lain saling salah paham. Tapi hati-hati ya Bu, nanti malah terpercik ke muka sendiri. Nggak usahlah saya kasih tahu contohnya nanti malah ibu syok dan malah trauma ketemu saya, kan nggak lucu, hahhahha.."
Aku kini melongo tak percaya akan apa yang telah bude ucapkan, juga sedikit merasa horor dengan tawa bude yang terdengar berbeda.sedangkan bu Uci kini malah berbalik ke rumahnya, tanpa mengucapkan satu katapun .Rupanya tetangga emak itu ,kena mental akan pernyataan bude tadi..
" Kenapa bude malah jawab begitu ?"
" Karena bude sudah sangat hapal sama manusia modelan tetangga mertuamu itu Siti. kalau ditanggapin akan makin melunjak, itulah contoh manusia yang sering lempar batu sembunyi tangan. Jadi jangan terlalu dipercaya.."
"Bude keren, sampai bikin Bu Uci terdiam gitu ..oh ya Bude tunggu disini ya , Siti ambilkan minum dulu, pasti haus kan ?? ."
Aku baru saja akan masuk kedalam, ketika kulihat emak telah berdiri didepan pintu. entah sejak kapan beliau ada di sana. Emak juga membawa baki berisi jus jeruk dan juga cemilan berupa pisang goreng.
Aku berinisiatif untuk mengambilnya dari tangan emak dan mengajak mertuaku itu bergabung bersama kami di teras , Emak hari ini memang memilih untuk libur pergi ke kebun. Karena menghargai keberadaan bude.
Jujur saja aku takut jika percakapan antara bude dan Bu Uci tadi didengar oleh Emak. Tapi wajah emak yang tanpa ekspresi berarti malah membuatku bingung untuk menyimpulkan,
Emak tertawa, aku dan bude saling menatap kebingungan.." Hahhaha,," Air mata sampai menetes disudut matanya.
" kamu keren bu besan..,hahhah"
Tawa emak semakin pecah membahana, membuatku semakin kebingungan, entah apa yang terjadi pada Emak..?
" Itu tetangga emang julidnya nggak ketulungan. sudah makan korban yang banyak malahan..". Emak akhirnya membuka suara, meski tawanya tak juga reda.
" Emak nggak marah, kenapa malah kayak seneng banget gitu ? " Aku bisa menyimpulkan jika emak memang mendengar semuanya tadi, akhirnya ku utarakan juga rasa penasaranku akan reaksi tak terduga mertuaku itu.
" kenapa harus marah, Emak bahkan malah khawatir tadi jika bude mu malah percaya akan ucapan ular berwujud manusia itu.. Sepertinya Dia tahu dan sadar bahwa , dia memilih lawan yang salah ..hahhah"
__ADS_1
Aku ikut tertawa, kulihat bude
juga ikut terbawa suasana.
" Kok bisa tahan sama tetangga modelan begitu toh bu besan..?"
" Sebenarnya kita sering cekcok loh. Tapi ya karena itu manusia satu memang muka tembok sih. Jadinya kayak orang bloon gitu, seolah tak punya dosa.."
Lalu mengalirlah ghibah ala emak-emak, kini didepan ku. Aku yang kegerahan memilih untuk pergi mandi, setelah sebelumnya pamit ke emak dan bude, dan juga meminum jus jeruk buatan emak hingga tandas..
***
Setelah tiga hari menginap, hari ini bude pamit untuk pulang. Kebetulan memang sudah saatnya panen sawit. Wanita itu kini memelukku dengan erat, dikecupnya kepalaku berkali-kali. Sungguh aku merasa sangat beruntung, punya seseorang yang memberiku cinta sebesar ini..
" Bude sudah mengamati sifat dan sikap mertuamu selama disini Siti. Beliau orang baik, jadi bude nggak akan khawatir jika meninggalkanmu disini sekarang. Jaga diri dan kandungan kamu baik-baik ya Siti. Bude akan senantiasa mendoakan mu selalu.."
Bude menangis, menularkan hal yang sama pada diriku, selalu seberat ini jika berpisah dengan bude.
" Ini buat pegangan kamu. . Belikan apapun sekiranya kamu kepingin.."
Amplop coklat yang cukup tebal di letakkan bude ditelapak tanganku. Aku yang hapal sifat bude tak kuasa menolak. Dan memilih memasukkan amplop itu kedalam laci kamar, Kini memang kami berada di kamarku dan Bang Dadang, karena memang bude yang berinisiatif masuk takut diburu waktu , kedatangan bus pagi.
Sementara aku baru saja berganti baju sehabis mandi.
aku tetap berada di pelukan bude saat mengantarnya ke depan, sengaja meminta bang Dadang untuk mengantar bude karena takut telat dan melewatkan bus dengan keberangkatan pagi.
Karena kebetulan hari minggu, maka seluruh anggota keluarga kini malah mengantar kepulangan bude dengan berada di teras depan. Kulihat bude menyelipkan uang merah pada masing-masing adik ipar ku yang nampak berbaris rapi, seolah tengah menyambut orang penting..
Bude juga memeluk emak dan menitipkan keberadaan ku pada besannya.
Aku benci suasana yang seperti ini..
Tapi bukankah selalu akan ada perpisahan pada setiap pertemuan,,
Setidaknya kini aku tak lagi dipusingkan karena dihadapkan dengan pilihan..
__ADS_1
Karena bude sendiri yang sudah memberi pilihan itu, , Dan juga memantapkan hatiku agar tetap disini, dan membersamai bang Dadang, dengan mendukungnya meski hanya dengan doa..
Semoga saja, panen kopi tahun ini melimpah ..Aamiin !!!