Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Trauma Dio


__ADS_3

Pagi ini Dio merengek hendak pulang, Dia juga mau menginap ditempat nenek dan kakeknya karena mendengar jika abang Rama dan adiknya Bara telah menginap disitu, untungnya tak lama kedua saudaranya yang baru saja diingat oleh Dio kini menyapa Dio dengan senyuman.


Rama mendekat setelah mengucapkan salam dan dibalas oleh sang Ibu.


" Kenapa Dio Bu ?" Rama bertanya, heran melihat Dio yang manyun dan memalingkan wajah kearah lain.


" aku juga mau sama Ayah dan nenek. Abang dan Bara curang, kalian enak-anakan tidur di sana aku malah disini, dikasih makan bubur lagi !! Aku kan bukan bayi...!" Lagi, Dio memalingkan wajahnya.


" Yasudah. Sekarang Dio harus sehat dulu.. Tante kan gemas kalau Dio terus-terusan manyun kayak gitu..!!"Salsa yang memang datang bareng Bara dan Rama kini ikut mendekat dan memeluk erat Dio, tak peduli akan gerutuan bocah itu yang katanya merasa sesak.


" Uluh-uluh, Bayi gede..Hhiihiih"


Salsa semakin menggoda Dio, membuat sang ponakan semakin menunjukkan raut lucu karena marah.


" Bu !! Bilang sama pak dokternya , Dio sudah sehat kok ! Sudah nggak demam lagi, ," saat Salsa melepas pelukan padanya Dio protes dengan mengatakan keadaanya yang sudah membaik.


" Iyah. Nanti ibu bilang ke pak dokternya Ya. Jadi mending sekarang Dio makan ya, buburnya..!!"


" NGGAK Bu..kan sudah dibilang Dio bukan Bayi..." Dio menutup mulutnya dan menggeleng, ketika Siti menyodorkan sendok yang sudah berisi bubur.


Semuanya kini terkikik geli, termasuk sosok yang baru saja tiba didepan pintu, sepertinya kehadirannya tak disadari oleh satu orangpun yang ada di ruangan ini !!


" Dio !! Tante periksa dulu ya ! Kalau sudah sehat nanti, tante izinkan Dio pulang. Tapi syaratnya Dio harus makan buburnya ya !"


Suara Elis mengalihkan perhatian Siti, Salsa, dan Bude Dewi. Sementara Bara dan Rama terlihat tengah menghibur Dio dengan memberikan mainan yang mereka bawa.


" Ehh Elis, silahkan !! kamu sudah mulai kerja lagi !"


Siti menatap perempuan yang menggunakan seragam khas Dokter itu dengan senyum senang, sekaligus memberi ruang bagi Elis untuk memeriksa Dio.


" Iyah Mbak !! sempat tersesat karena pikiran yang keliru itu ternyata tak enak hehehehe. Padahal jika aku bekerja, akan ada banyak anak-anak yang aku temui.. !!" Elis tersenyum, sembari memeriksa kondisi Dio.


" Kondisi Dio cukup Stabil mbak. Jika bertahan terus seperti ini hingga siang nanti, Entar sore Dio bisa pulang..!!"


" Kok Sore sih Bu Dokter, Diokan maunya sekarang !! Dio mau ketemu Ayah..!" Dio cemberut lagi, dan melepaskan semua mainan yang sempat dimainkannya tadi.


" Ayah nanti kesini Dio. Kalau Dio pulang sekarang berarti Dio juga nggak akan ketemu Ayah loh !"


Salsa menatap Dio, " Tadi Ayah lagi mandi. Terus tante tinggalin deh sama Bang Rama dan dek Bara. ." Salsa mencoba menjelaskan, dan berhasil membuat Dio menatapnya dengan pandangan berbinar


" Jadi Ayah bakalan kesini lagi tan ?"


" Assalammualaikum ...!!!"


" Waalaikumsalam... Wah Ayah beneran datang yeyyyy ....!!"


belum juga Salsa menjawab Dio, Dadang sudah datang dan telah menampakkan diri didepan bocah itu.

__ADS_1


Dio memeluk Dadang erat. Membuat suasana seketika menjadi haru.


"Yah. Kalau Dio sembuh! Dio boleh kan ikut nginap di rumah nenek. Dio mau tidur sama Ayah kan sudah lama kita nggak tidur bareng, sama Ibu juga..!!"


Ucapan Dio yang terakhir membuat semuanya terdiam.


" Loh ,jadi nenek ditinggal sendiri dong di rumah. Ibu aja temenin nenek ! Gimana ?" Bude Dewi mencoba bicara, dan berharap tak membuat Dio merajuk lagi.


Dio menatap Dewi, sang nenek dengan lekat, kemudian dia menatap kearah Dadang " Boleh deh Nek. Ibu temani nenek dulu. Kapan-kapan aja sama ibu. Tapi bang Rama sama dek Bara juga diajak Ya Ayah !!"


Dadang mengangguk, sementara yang lain merasa lega karena Tak sulit untuk memberi alasan pada Dio. Kegembiraan dan kehadiran Dadang membuat Dio menghabiskan makanannya sampai tak tersisa.


***


Tepat pada siang hari, Elis datang lagi. Dia mengecek keadaan Dio secara keseluruhan. Dan perempuan muda itu kini tersenyum kearah Siti dan Dadang selaku orang tua pasien.


" Dio sudah sehat. Dan sudah boleh pulang..! Sering-sering minum air putih ya sayang. Dan jangan suka jajan sembarangan.."


Elis mengelus kepala Dio dengan sayang, dan memberi bocah itu satu kecupan pada pipinya yang gembul.


" Beneran Tante Dokter. Horeee... Dio mau pulang ke rumah nenek..!!"


Dio kegirangan , Dia menatap Ayahnya dengan mata berbinar. Tak lama setelah itu pintu ruangan terbuka, menampilkan wajah Fian dan Rama.


Membuat bocah itu menunduk. Dia seketika terdiam dengan raut wajah takut ..


" Loh kenapa sayang ?"


Dadang melihat jelas perubahan sikap Dio, membuatnya keheranan. Namun tak ditanggapi oleh anaknya seolah infus yang melekat dipergelangan tangannya tampak lebih menarik.


" Heiii..!!!" Dadang mendekat dan memeluk Dio, " Katanya Dio senang karena mau pulang ke rumah nenek ?"


" Dio seneng Kok yah !! Tapi takut Ibu marah, karena om Fian .." Hampir berbisik Dio mengungkapkan rasa takutnya, Dadang yang mendengar itu menatap kearah Siti.


" Kenapa dengan Fian dan kamu Dek ?" Dadang bertanya, amarah tersirat jelas pada setiap kata yang dilontarkannya. Ayah mana yang tak emosi, melihat anaknya ketakutan sampai trauma seperti yang di alami Dio sekarang.


Siti memilih menunduk, bukan tak mau mengakui kesalahannya. Tapi takut jika mereka nanti sama-sama emosi. Semua akan berakhir dengan pertengkaran dan tentu saja akan disaksikan oleh ketiga anaknya.


" Bang !! Sebaiknya nanti saja membahas soal ini " Elis menyentuh bahu Dadang, dia juga mendengar ucapan Dio. Jadi dia tahu betul jika Dadang tengah emosi sekarang..


Dadang yang tadinya ingin membahas ini dengan tak sabaran, akhirnya memandang Dio, kembali memeluk anaknya itu dengan lembut.


Melihat itu Fian yang ingin mendekat kearah Dio, Bagaimanapun dia cukup akrab dengan anak kedua Dadang itu. Namun langkahnya di cegah oleh Bude Dewi. Selain Siti, bude Dewi juga tahu jika Dio ada trauma yang berhubungan dengan pemuda itu..


" Yasudah mending kita siap-siap untuk pulang ..!!" Dadang kembali bersuara dan membuat suasana menjadi kembali ceria.


Dadang Sebenarnya penasaran dengan apa yang maksud ucapan Dio padanya tadi. Namun dia menahan lidahnya untuk bertanya pada Siti, Sementara anak-anak masih menempel pada sang ibu, baik saat dalam perjalanan pulang tadi, hingga sekarang saat mereka telah di rumah Emak.

__ADS_1


Mereka memang kini sudah sampai di rumah Emak. Sesuai keinginan Dio, ketiga anak Siti akan bermalam di rumah ini. Siti hanya mengantar saja, tak ingin ada gosip yang berhembus jika dia juga ikut menginap disini.


" Bang, jagain adek ya ! Dan jangan minta menu buka yang aneh-aneh sama nenek dan Tante Salsa . Oke !!"


Rama hanya mengangguk saja, sementara matanya fokus pada gawai Salsa yang sedari tadi dikuasai sepenuhnya untuk bermain Game.


Melihat Rama yang cuek, Siti kini beralih ke Dio, anak keduanya itu kini sibuk memakan aneka buah-buahan bersama Bara sang adik.


Sebenarnya Siti tak tega untuk berpisah dengan Dio yang baru saja sehat, tapi karena ini termasuk motivasi Dio untuk kembali sehat. Maka Siti berusaha ikhlas meski sejatinya ini hanyalah perpisahan sementara saja.


" Dio, jangan nakal ya. Nanti kita video call, kalau ibu sudah sampai .Oke !! "


" Oke !! Ibu jangan terlalu sering telponan sama om Fian. Nanti ibu jadi lupa sama aku, adek dan juga bang Rama..!!"


Dio berucap polos , sambil mengunyah apel yang kini memenuhi mulut mungilnya..


" Iyah.. ibu nggak akan telponan lagi. Lagian juga tak akan ada yang bisa mengantikan abang Dio dan dua putra ibu yang ganteng ini. Jadi Dio jangan cemburu ya.." Siti mengacak rambut Dio gemas, Dan mulai menciumi wajah itu bertubi-tubi. " Ibu pasti rindu sama kalian..!!" Kini dia juga menciumi Bara, namun karena risih Bara mendorong wajah sang ibu yang menghalangi kegiatannya, saat asyik mengunyah buah anggur yang menggugah selera..


Siti malah tersenyum dengan penolakan Bara..Kemudian dia memandang semua orang yang ada di ruangan itu. Termasuk Elis dan Agung yang memutuskan juga menginap disini.


" Aku pamit semuanya !!! Titip tiga bocil ku ya ..!!"


Setelah bersalaman dan pamit dengan semua orang yang ada disitu . Siti melangkah keluar diikuti sosok Fian. Fian memang diminta Siti untuk menunggu di teras depan bersama Rama, sepupunya. Siti hanya takut, Dio malah merasa tak nyaman akan kehadiran lelaki itu.


" Dio sebenarnya kamu apakan ,Ti?"


Siti yang fokus dengan jalanan didepannya kini menoleh kearah Fian. Mereka telah berada di mobil , Siti disamping Fian yang menyetir sementara Rama terlihat tengah tertidur di bangku tengah.


" Aku ngebentak dia Yan. Parahnya, aku tinggalin dia yang tengah menangis ketakutan. Hanya karena...!!!"


" Karena dia matiin panggilanku ?" Fian seolah tahu , hal berat yang membuat Siti menghentikan ucapannya.


" Aku senang !!! Karena artinya kamu mulai menaruh perasaan padaku, tapi aku tak suka jika perasaanmu padaku membuat kamu malah abai akan anak-anak kamu sendiri. Mereka hebat loh Ti, tak terlalu membuat kamu kepikiran karena permintaan yang aneh-aneh. Mereka seolah mengerti akan apa yang telah kamu lalui sebelumnya. Jadi..


Jangan meminta mereka untuk lebih mengerti lagi, sesuatu yang sebenarnya belum sampai di otak mereka !!"


Siti menunduk, Fian benar. kenapa dia bisa jadi ibu yang egois kemarin . Padahal ketiga putranya adalah anak-anak yang manis dan tak banyak menuntut.


"Aku memang salah Yan. Dan aku menyesal akan itu . sangat-sangat menyesal !!"


"jadi..!!"


Siti menoleh pada Fian saat lelaki itu mengucapkan satu kata yang membuatnya merasa bingung.


" Jadi apa ?"


" Setelah berhasil menaklukan hati ibunya. Sekarang aku harus menghilangkan trauma Dio, karena melihatku ? Uhhh sepertinya ini lebih berat lagi dari perjuanganku kemarin.."

__ADS_1


Siti hanya tersenyum. Fian tetaplah Fian. Dia selalu saja tahu, bagaimana merubah suasana hatinya...


__ADS_2