
aku dan bang Dadang hanya beristirahat sejenak setelah akad , dan kini tibalah untuk sesi resepsi, karena memang biasanya resepsi di desa kami diadakan saat malam hari dan di hadiri muda mudi, baik yang berasal dari desa setempat maupun desa tetangga.
Acara akan dimulai pada pukul tujuh malam, dan diakhiri pada pukul sebelas malam.
Akhirnya aku mengenakan gaun yang dipesan khusus oleh bude, gaun ini ternyata terlihat berkilauan dibawah sinar lampu pelaminan, sungguh aku merasa jadi seorang princess sekarang. Rupanya itu juga yang dilihat oleh bang Dadang, karena sedari tadi dia nampak terpana dan terpesona dengan gaun dan juga make up ku pada malam ini. Rasa bahagia ini tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata.
" Jangan melihatku seperti itu Bang !! Aku malu..."
" Loh dek kenapa malu? Kitakan suami istri sekarang ? sudah muhrim dan sah di mata agama dan negara. Jadi tak ada salahnya kalau Abang mandangin kamu, karena kamu halal bagi Abang, kecuali Abang fokus ke biduan yang disudut sana itu.."
Telunjuk bang Dadang mengarah ke sudut panggung tempat dimana para biduan menunggu untuk tampil, aku tepis telunjuknya dengan kuat seraya menampilkan wajah kesal" Nggak gitu juga kali bang . Maksudku, seharusnya Abang fokus ke tamu undangan ,lihat tuh mereka pada ngelihatin ke arah kita.." kini ku arahkan wajahnya ke depan, menyadarkan kekeliruan sikapnya.
"hummm...kok lama ya dek.. Abang kan udah nggak sabar...hehheeh" Mata itu mengedip genit, membuatku menghadiahinya sebuah cubitan cukup kencang pada perut lelaki yang berstatus suamiku itu.
" Jangan mesum. Ingat tempat!"
Kupalingkan wajah kearah lain, takut bang Dadang menyadari jika wajahku telah berubah warna menjadi merah.. Ahhh kenapa jadi gerah begini sih suasananya !!!.
Setelah berjam-jam duduk di pelaminan akhirnya acara telah selesai. Aku langsung rebahan di atas kasur pengantin, ini memang adalah kamarku yang kini disulap dengan ornamen indah penuh bunga-bunga.
Tepukan pelan bang Dadang pada pipiku membuatku membuka mata yang telah terpejam, sungguh mata ini serasa sangat berat dan sepertinya kasur ini sangat menggoda untuk ditinggalkan.
" Kenapa bang, aku capek!"
" bersih-bersih dulu dek,itu make up kamu dan juga bajunya belum kamu ganti..."
__ADS_1
Meski enggan aku akhirnya beranjak juga, segera ku bersihkan make up di wajahku dengan kapas yang telah diberi cairan pembersih wajah, Aku juga bergegas Menganti bajuku,
Bayangan tidur nyenyak telah didepan mata, hingga tak sadar jika aku membuka bajuku didepan bang Dadang, Entahlah bagaimana ekspresi suamiku itu, yang jelas aku ingin segera membaringkan diri di atas kasur. Setelah mengganti baju dengan handuk, aku segera menuju kamar mandi, meski minimalis namun rumah bude sudah dilengkapi kamar mandi di setiap kamarnya.
Selesai cuci muka dan berganti pakaian aku mempersilahkan bang Dadang untuk gantian melakukan hal yang sama. Mata yang terasa berat akhirnya membawaku terlarut dalam buai mimpi yang indah. aku benar-benar melupakan jika aku sekarang berstatus istri orang.
Aku merasa hembusan nafas seseorang kini mengenai wajahku, Aroma mint menguar membuatku membuka mata penasaran. Melihat wajah bang Dadang yang sangat dekat aku refleks mendorongnya kebelakang. Hanya kaget dan setelah tersadar akan status kami sekarang aku menampilkan senyum termanis ku ke arah bang Dadang yang masih dalam posisi terjungkal.
" Apaan sih dek . Kasar banget..!" Sosok itu menggerutu, namun rupanya rasa kaget ku belum juga teratasi. Hingga aku merasa takut sekarang.
" Aku be-lum sssii -ap bang" Pelan suaraku, membuat diriku sendiri bahkan tak bisa mendengarnya dengan jelas,
" Apaan sih dek, jangan berpikiran aneh. Ayo bangun mandi terus wudhu kita sholat subuh berjamaah.."
" Abang nggak minta hak abang ?" Meski rasa panas menjalar di pipi, tapi aku tahu jika ini adalah kewajiban ku sebagai seorang istri, Bang Dadang berhak kapanpun dia menginginkan diriku didalam pelukannya.
Tukkk
keningku jadi korban jitakan bang Dadang.
" Jangan mikir aneh-aneh, sana mandi .."
" Aku serius loh bang!!" Aku bersuara lagi, apakah bang Dadang kesal atau bahkan marah karena malah aku tinggal tidur semalam. kan nggak lucu, baru menikah masa sudah marahan.
" Abang juga serius nyuruh kamu mandi biar bisa sholat berjamaah, buruan dek nggak enak kalau terlalu lama ditungguin.. Lagian kalau soal itu sih nggak usah ditawarin. Kalau Abang makan kamu sekarang bisa-bisa kita nggak akan keluar sebelum ashar. kan malu dek, Abang nggak bisa jamin ngelepasin kamu hanya dalam satu ronde, .."
__ADS_1
Aku merasa wajahku sekarang pasti Semerah tomat. Apa Iyah yang Abang Dadang katakan. huh otakku lagi-lagi traveling kemana-mana..
" Serius nih !! Ya udah aku mandi dulu.." mendengar ucapannya tadi membuatku deg-degan juga, bagaimanapun. Menurut buku yang aku baca, katanya malam pertama itu akan terasa sedikit menyakitkan, Dan jika bang Dadang tak bisa hanya satu ronde berarti aku harus siap-siap istirahat di atas kasur setelahnya..hhhh kok jadi kepikiran begini sih ?
Ku tinggalkan bang Dadang yang kini nampak merapikan baju Koko nya. Aku sebenarnya malu, kenapa bisa aku bahkan nggak mendengar adzan subuh berkumandang. Mudah-mudahan ibu dan bapak mertua tak mengurangi nilai ku sebagai menantu karena ini.
Aku keluar kamar dengan menenteng mukena, rambutku yang basah memang sengaja ku gerai. Biar cepat kering, aku bahkan juga masih menggunakan handuk kecil dibahu ku agar bajuku tak ikut basah , kini aku malah melihat Emak dan bude saling lirik dan saling sikut seperti orang yang ingin mengatakan sesuatu namun merasa sungkan . Kemudian mereka terkikik bersama.
" Kenapa bude ? Ada apa " kulihat pantulan diriku di cermin yang kebetulan ada diruang keluarga, meneliti apakah ada sesuatu atau hal yang salah pada wajahku. Tapi aku tak menemukan apapun,
" Siti pakai mukena mu sana, Kamu mandi wajibkan tadi. Bukan keramas doang?"
Ya ampun.. Jadi bude dan emak menganggap Ku dan bang Dadang telah melakukan ritual malam pertama kami. pantas mereka tadi saling sikut dan cekikikan bareng Hhh
" Ayo Mak, bude. keburu imsyak !!" Bang Dadang memangil kedua orang tua itu tanpa memperdulikan ku yang memasang tampang malu, kenapa juga aku malah mandi tadi, kan mereka jadi salah paham..
Memikirkan itu aku malah mencak-mencak nggak jelas dan malah mengetuk kepalaku berkali-kali.
" Kamu kenapa dek ?"
Rupanya bang Dadang telah berada di depanku, " Ayo cepat..!!"
Aku mengekor dibelakang suamiku itu, dan akhirnya kami bisa memulai sholat berjamaah pertama kami sebagai keluarga..!! hhhhh
Malam pertamanya gagal, tapi malah dibuat malu karena ulah sendiri...Siti...Siti..!!!
__ADS_1