
Siti memandang jam didinding rumah dengan cemas . Hari sudah pukul sembilan pagi. Padahal mereka janjian pada pukul tujuh, tapi Fian belum juga menampakkan hidungnya.
Rasa khawatir menyergap hati Siti, takut terjadi apa-apa dengan Fian.
" Fian belum juga datang Ti ? Sudah kamu telpon belum ?"
Bude bertanya mendapati Siti masih berada di rumah, padahal sedari tadi dia telah membawa anak-anak keluar rumah agar tak menangis saat melihat Siti pergi..
"Belum bude, nomornya nggak aktif ini !! kira-kira kenapa ya, nggak biasanya loh . Fian kayak gini ?"
" Tunggu sebentar lagi siapa tahu dia memang sedang ada urusan terlebih dahulu.. Dan tak sempat mengabari.."
Bude berusaha menenangkan Siti yang nampak khawatir seraya mengigit bibirnya..
Cuaca yang dari tadi memang mendung kini akhirnya mengalirkan curah hujan, sangat deras disertai dengan dentuman petir.
Membuat Bara yang sedari tadi anteng digendong an bude Dewi menangis histeris , Dia berontak dan menggapai Siti , setelah berada di pelukan sang ibu, Bara memeluk Siti dengan erat. Begitupun juga dengan Dio yang sejak pulang tadi anteng menonton televisi, kini malah kaget dan membuat bocah itu segera berlari kearah Siti, ikut memeluk ibunya erat dengan tubuh bergetar hebat..
Dio dan Bara memang takut dengan Petir, pun dengan si sulung Rama. Tapi karena sudah besar, Rama cenderung bisa mengendalikan diri jika ada suara petir.
" Bu...Tak. kutt..!!" Dio berbisik lirih, membuat Siti mengelus kepalanya mencoba membuat anaknya tenang . Sementara Bara kini memejamkan mata, dan tak bergerak sedikitpun digendongan Siti.
" Dio sama nenek aja ya, kasihan ibu. Masa harus gendong abang dan dek Bara !!"
Dio menatap Kearah Dewi, dan segera mengulurkan tangannya. Minta digendong,
" Ti, sebaiknya besok saja. Atau kapan-kapan kalian ke bank nya . Cuacanya lagi nggak bersahabat ini.."
Siti memandang keluar, hujan semakin deras, meski kini sudah tak lagi disertai petir. Tapi pikirannya masih tetap ke Fian, ia berharap tak ada sesuatu yang buruk terjadi pada pria itu.
" Kayaknya batal hari ini bude , udah siang juga ini "
***
Hari ini Dadang dan Sandra sibuk membersihkan rumah, mereka memang hanya cukup membersihkan karena memang semua barang rumah tangga tak ada yang dibawa Siti ke rumah Bude . Pun dengan Lastri yang tetap membiarkan Semua barang yang dibeli Siti tetap berada di rumah itu..
Semalam mereka akhirnya memutuskan untuk tidur di rumah Fatma, sang Tante. Karena memang rumah ini tak memungkinkan untuk ditinggali secara langsung.
Ditengah aktivitasnya membersihkan rumah Sandra menemukan kartu ATM atas nama Siti.
__ADS_1
Awalnya dia cuek saja, tapi rasa penasaran membuatnya menyimpan ATM itu, siapa yang tahu kan jika beruntung dia bisa mengambil uang yang ada didalamnya, apalagi sudah ada sebuah note kecil tentang nomor PIN ATM tersebut.
Tak sadar Sandra tersenyum senang, dan malah bersenandung dengan enerjik sambil tangannya terus mengepel setiap sudut rumah dengan cekatan.
Dadang sebenarnya heran dengan kelakuan Istrinya,
Tapi dia senang. Karena Sandra sudah mulai berubah.
" Dadang. Sandra, makan dulu gih . Sudah siang . Pasti kalian lapar ?"
Fatma datang dengan membawa rantang susun berisi nasi dan lauk, juga tak lupa air mineral.
Sandra menyambut sang Tante dengan antusias , entah dia atau bayinya yang tengah kelaparan, tapi yang jelas dia bersyukur sang Tante datang diwaktu yang tepat. Tak lupa, dia juga mengandeng Dadang untuk menghampiri Fatma.
" Jadi ngerepotin, nih mbak !! Terima kasih karena sudah perduli dengan Saya dan Sandra.."
Dadang berucap sopan, dan menatap lembut Fatma.
" Kok dari kemarin aku perhatikan, Kamu manggil Tante, mbak terus sih bang ?" Sandra protes dengan mulut penuh, dan mengamati wajah sang Tante dan Suami secara bergantian.
" Sudah jadi kebiasaan ya mau gimana San..ngerasa aneh juga jika aku manggil mbak Fatma dengan sebutan Tante.."
" Sudah, San. Perihal panggilan aja kok dipermasalahkan. Yang penting masih dipanggil dengan sopan, Tante sih nggak mempermasalahkan.."
Sandra cemberut dan menatap Suaminya. Ia pikir Dadang akan merasa menang. Tapi kenyataannya Dadang malah tak perduli sama sekali dengan hal itu.
" Ehh, Tan. Hari ini sibuk nggak ? Temenin aku ke gerai ATM terdekat, mau cek Saldo Tan, siapa tahu masih ada, kan lumayan bisa buat beli keperluan rumah seperti sembako.."
Fatma memandang Sandra dengan heran, seingatnya ponakannya ini tak punya kartu ATM , tapi kenapa mendadak mau cek saldo ?
" Iya Tante temenin, tapi langsung setelah kamu selesai makan ya, soalnya nanti sore Tante mau nyusul om kamu ke kebun karet, , "
" Oh iya, nggak apa kan bang , Sandra pergi sama Tante Fatma.?"
"Iya nggak Apa, lagian ini juga semuanya sedikit lagi selesai, tinggal nata ulang saja, enaknya gimana..!!" Dadang menjawab sembari memperhatikan setiap sudut rumah yang kini mulai terlihat bersih..
Selesai makan, Sandra langsung ke rumah sang Tante, mengambil motor yang akan mereka gunakan untuk berangkat ke bank. Dia sangat berharap jika ATM milik Siti yang ada di sakunya ini memiliki Saldo.
Dia tersenyum senang membayangkan bisa memegang uang yang banyak nantinya..
__ADS_1
Kondisi hari yang mendung, membuat Fatma mengendarai kendaraan roda duanya dengan santai. Jalanan juga nampak lancar.
Sesampainya di mesin ATM,tempat biasanya Fatma mengambil uang . Mereka segera turun .
" Tante mau ngapain ?"
Sandra bertanya tak enak. Dia memandang Fatma dengan senyum kikuk.
" Emang kamu bisa ,San..?" Fatma memang niatnya hanya ingin membantu Sandra , siapa tahu dia kesulitan. Tapi, ternyata Sandra tak perlu bantuannya, dan malah mengusirnya secara halus,
" Aku bisa kok, Tan..Kan sudah lama punya kartunya.." Sandra memperlihatkan kartu ATM ditangannya,tentu saja dengan posisi agak jauh dari sang Tante. Bisa gawat jika tantenya malah bisa membaca nama yang tertera dikartu tersebut.
"Oh ya sudah, Tante tunggu diparkiran saja kalau begitu ?"
Fatma akhirnya keluar membiarkan Sandra sendirian didalam sana.
Ragu-ragu , Sandra mulai memasukkan kartu dan menekan PIN, dia tak lupa mengucapkan bismillah , saat menekan angka terakhir nomor PINnya .
Berhasil
Dan saatnya cek Saldo, Dia segera menekan Cek saldo pada layar . Dan matanya kini membeliak tak percaya akan apa yang kini dilihatnya. Siti, mantan Istri dari suaminya memiliki Saldo hampir setengah milliar.
Ditengah kekagetannya Sandra tersenyum senang. Tidak menyangka dia bisa mendapatkan uang dengan mudah..
Dengan cepat dan semangat Sandra menekan penarikan senilai 20 juta sesuai dengan uang maksimal yang bisa ditarik perharinya..
Dia menunggu dengan was-was dan dengan perasaan yang berbunga-bunga. memikirkan besok dia bisa kembali lagi mengambil uang dengan nominal yang sama.
Dia semakin senang dan tak sadar malah tertawa puas, setelah penarikan berhasil dan berlembar-lembar uang berwarna merah kini telah memenuhi tangannya, Untungnya sebelum berangkat tadi dia sempat mengambil tas selempang miliknya di rumah sang Tante. Jadi dia tak perlu takut jika Tantenya melihat uang ini .
Sandra segera keluar, dan disambut Fatma yang menyodorkan helm padanya,
" Ke pasar bentar ya, Tan. Mau beli sembako dan bahan dapur .."
" O masih ada saldonya San !!
Berapa ?"
" Satu juta Tan , Lumayan hehehe !!"
__ADS_1
Fatma mengangguk dan segera naik ke motor, diikuti oleh Sandra. Mereka membelah jalanan lagi, karena lokasi pasar memang agak jauh dari tempat mereka sekarang..