
Nurdin dan Lastri memutuskan untuk mengunjungi Elis, mereka akan berangkat pagi ini. Dadang sebenarnya mau ikut, namun dilarang Bapak. Karena Bapak mau Dadang membuktikan ucapannya kemarin, saat Dadang berjanji akan kembali pada Sandra .
" Pak, ayolah izinkan Dadang ikut !! Soal Sandra kan bisa setelah pulang dari rumah Agung dan Istrinya.."
" Kamu pikir Bapak nggak bisa baca niat di hati kamu itu, jangan membuang waktu dan bertele-tele dang. Sana pergi ke rumah Fatma, jemput Sandra dan juga bayinya. Itu yang utama harus kamu lakukan sekarang, biar urusan Agung, bapak Sama Emak saja yang ke sana..!!"
Mendapat penolakan telak, membuat Dadang mengalihkan pandangan nya pada sosok Emak, seolah meminta Emak ikut menjelaskan pada Bapak. Agar mengizinkannya untuk ikut.
" Jangan tatap Emak seperti itu Dang !! salahmu karena Kamu terlalu banyak mengucapkan janji, namun nyatanya tak ada yang kamu tepati "
Emak bicara tegas, seolah tahu jika putranya itu memintanya untuk membela, seperti kejadian-kejadian yang lalu.
Dadang semakin lesu, ketika ibunya juga mendesaknya. Dia sekarang memang sedang menghindari akan pertemuan dengan Sandra, Dadang masih belum siap, terlebih jika harus melihat wajah bayi yang telah Sandra lahirkan.
" Jadi , berangkat nggak bang ?" Agung mendekati Dadang, sedari tadi dia memang telah menunggu di mobil namun ketiga orang yang dia tunggu, nyatanya masih sibuk berdebat. Hal yang kemarin sebenarnya sudah mencapai kesepakatan.
" Nggak Gung !! Silahkan kalau mau berangkat, Abang titip salam buat Elis yah ..!!" Dadang menepuk pundak Agung, memberi semangat lewat sentuhan.
Bagaimanapun Dadang pernah merasakan kehancuran yang sama, saat Siti harus kehilangan rahimnya sekaligus anak yang ada didalam kandungannya.
Mengingat itu, Dadang sesegera mungkin menuju keluar rumah tak ingin menunjukkan air mata didepan Agung, entah air mata simpati atau air mata penyesalan akan hal yang dilaluinya bersama dengan Siti.
Nurdin lega saat Dadang tak lagi bersikukuh untuk ikut ke rumah Agung, baginya Sesuatu yang selalu ditunda tak akan mendapatkan hal yang baik. Dan kebiasaan itulah yang mungkin membuat Dadang dihadapkan dengan situasi yang tak pernah menguntungkannya.
"Ayo Gung !!" Ajak Bapak, ketika dia melihat Agung yang kini menatap Dadang lekat, bergeming.
"Oh ya , Salsa sudah di mobil apa masih di kamarnya ?"
" Sudah dari tadi pak,, Ayo ..!!"
***
__ADS_1
Dadang kini memilih menuju rumah yang dibangunnya bersama Siti, sebesar apapun usahanya untuk melapangkan dada dan menerima Sandra lagi, nyatanya egonya tetap saja tak bisa diajak kompromi.
Meskipun dia sudah berjanji dengan Bapak dan Emak, dia tetap saja butuh waktu, entah sampai kapan...
Baru saja masuk halaman depan rumahnya, dia dikejutkan dengan Sosok Sandra yang tengah berdiri didekat pintu. Seolah menunggu kedatangannya,
Dadang memandang Sandra dengan jengah, ternyata selain pembohong, perempuan ini juga sudah kehilangan urat malu, hingga nekad mendatanginya kesini..
" Mau apa kamu kesini San !!"
Sandra menunduk, belum juga dia menyapa. Dadang sudah menyambutnya dengan ucapan sinis.
" Aku masih istri kamu bang !! apa salah jika aku datang kesini ?"
" Heh.. Ja**ng. Jangan membuat drama lagi, hingga membuatku muak. Aku sudah cukup diberi kejutan yang sangat- Sangat membuatku murka.. Sekarang biarkan aku tenang, tanpa kamu dan juga anak ha**m ini !!"
Dadang berteriak, membuat para tetangga datang untuk melihat, citra Dadang yang sudah buruk semakin membuat Kekhawatiran di hati warga akan keadaan Sandra dan juga bayinya.
Sandra juga ikut berteriak histeris, perkataan Dadang menyakiti hatinya tapi dia merasa pantas mendapatkan hal itu.
Sandra akhirnya bersimpuh, di kaki Dadang.
Melihat Sandra, Dadang seolah diingatkan akan tingkah Siti saat Dirinya mengemis minta maaf. Air matanya jatuh, dia mengusap wajah dengan frustasi. Bingung akan melakukan apa ?
Fatma tiba-tiba datang, menghampiri Sandra yang masih bersimpuh , bayinya pun kini terdengar menangis seolah tahu akan kesedihan ibunya.
" Sandra ,sadar nak!! Kasihan bayimu, , " Melihat Sandra yang lemas membuat Fatma mengambil alih bayi merah di gendongan ibunya itu , dia menatap bayi itu dan Sandra secara bergantian
"istighfar San. Jangan seperti ini, ingat anakmu sayang, dia cuma punya kamu sekarang !!"
" Aku benar-benar minta maaf Bang !! aku korban disini. Aku korban. Aku nggak bisa menolak bang, aku dipaksa, aku diperkosa Aaa..ku....huhuhuhu " Sandra seolah kehilangan akalnya, dia mengatakan hal yang selama ini dia sembunyikan dan telah ia simpan serapat mungkin.
__ADS_1
Semua warga yang mendengar pengakuan Sandra kini memandang perempuan itu dengan iba, mereka pikir jika Sandra memang Perempuan yang liar, tapi nyatanya. Dia juga ternyata korban.
Fatma yang mendengar itu kini ikut menangis, hatinya juga hancur mendengar semua ucapan Sandra. Hampir saja, bayi Sandra jatuh dari gendongan tangannya. Untungnya ada Salma, yang segera mengambil alih bayi itu. Setelah menyadari jika bayi itu aman . Fatma segera memeluk Sandra dengan erat, dia mengangkat Sandra memintanya berdiri.
" Sudah San. Jangan mengemis seperti ini ..masih ada Tante yang akan menerima kamu dan kania. Nak !! Berdirilah sayang, kuatkan kaki dan hatimu .."
" Bang ! Maaf,, maafkan aku. Aku sayang dan cinta sama kamu bang, Maaf !!"
Sandra seolah tak mendengar ucapan tantenya dia masih saja menatap Dadang dengan wajah penuh air mata.
Sementara Dadang yang betah berdiam diri, kini juga ikut menangis. Pengakuan Sandra, tentu saja berhasil membuka sedikit pintu hatinya yang sudah tertutup rapat.
perlahan wajahnya dia hadapkan kearah Sandra. Namun untuk menyebut nama perempuan itu, dia masih belum mampu.
Sandra sendiri masih terlihat lemas akan apa yang baru saja terlontar dari mulutnya, mati-matian dia mencoba melupakan kejadian naas itu, tapi didepan Dadang dia membukanya. Berharap lelaki yang masih berstatus suaminya itu memaafkan kesalahan serta kebohongan besarnya.
" Aku butuh waktu, Mbak !! Untuk sekarang tolong bawa ponakan Mbak pulang . aku mohon ..!!"
Dadang menangkupkan kedua tangannya didepan dada. menatap Fatma yang juga tengah memandang kearahnya.
Fatma kini semakin mendekap erat Sandra yang sekarang masih mengatakan maaf meski hampir tak terdengar bahkan oleh Sandra yang sejatinya tak berjarak dengannya.
" Kita pulang, San . Berikan lagi suamimu waktu. .Tante mohon..!!"
Sandra akhirnya mengangguk, meski matanya kini menatap Dadang, berharap lelaki itu berubah pikiran dan langsung memaafkannya dan mau menerima dia dan anaknya dalam hubungan suami istri dan juga anak..
Salma yang melihat Sandra dan Fatma yang seolah melupakan bayi Cantik yang kini digendong olehnya, kini memilih mengikuti kedua sosok itu.
Sementara kini para warga seolah menaruh simpati akan nasib Sandra. Meski masih ada saja yang menyayangkan sikap Sandra yang membohongi Dadang, mereka pikir seharusnya Sandra jujur akan kondisinya, maka kejadian seperti ini tak akan terjadi.
Sementara untuk Dadang, mereka seolah melihat karma yang nyata, akibat perlakuan lelaki itu dimasa lalu. Meski Siti baru membuka suara saat perpisahannya dengan Dadang terjadi..
__ADS_1