Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Solusi


__ADS_3

Tahun berganti, kehidupan kami semakin terasa sulit. Meski aku mencoba untuk acuh akan masalah pembayaran bank. Namun tetap saja, nurani ku tak tega jika menatap mata anak-anakku.


Bagaimanapun, mereka lahir karena hubungan ku dengan by bang Dadang. Aku juga tak mau dianggap hanya ingin senangnya saja dan tak mau membantu suami saat susah.


Tahun ini sesuai perkiraan, buah kopi kami panennya semakin sedikit saja, meski tergolong mudah perawatannya, batang kopi juga perlu di siangi dan dibersihkan dari rumput liar.


Arisan tahunan yang sejatinya ku anggap tak akan terlalu kesulitan membayarnya. Nyatanya tak memenuhi target dan malah kami terancam tak bisa membayarnya..


Ditengah kebingungan akan waktu pembayaran yang semakin dekat, bang Dadang dapat telpon dari Rio. Sahabat kami sejak SMA. Dia meminta bang Dadang untuk datang bekerja saja padanya. Soal gaji bang Dadang akan diberi uang 100 ribu bersih perharinya. Meski suamiku itu belum memberi jawaban, tapi ku harap bang Dadang mau bekerja di sana agar bisa membayar Arisan kami.


" Dek , boleh kan Abang merantau barang sebentar, hanya agar bisa bayar arisan kita.."


" Aku sangat setuju bang," aku malah terlampau antusias menjawab pertanyaan bang Dadang. Karena memang ucapan itulah yang aku tunggu beberapa hari ini .


" Enggak apa aku sedikit kerepotan ngurusin anak-anak yang penting kita nggak telat, apalagi sampai tak membayar, nggak enak sama ibu-ibu anggota kalau aku sebagai ketua malah kesannya nggak amanah.."


" Tapi..."


Bang Dadang cukup lama terdiam, mata nya menatap lekat kearah ku. "gimana kalau aku rindu sama kamu dek "


Aku tak menduga jika bang Dadang tampak ragu hanya karena masalah itu, padahal ku pikir dia akan berat karena akan jauh dari anak-anak..


" Sepenting itu bang, urusan bawah perutmu ? hingga kamu nggak mikirin masalah keuangan yang lagi kita hadapi. Belum lagi angsuran bulanan dan juga mingguan. Aku mohon bang, sekali ini saja, kamu dengarkan perkataan ku. Ini demi kebaikan keluarga kita. Dua bulan saja cukup kok bang "


Bang Dadang nampak berpikir, syukurlah dia tak tersinggung dengan ucapan ku tadi.

__ADS_1


Aku harap dia bisa lebih bijak kali ini, dan tidak membiarkan ego menguasai.


***


Sebulan berlalu dengan cepat, Bang Dadang memang akhirnya memutuskan untuk ikut dengan Rio, Selama ditinggal oleh bang Dadang kami hanya mengandalkan uang tabunganku untuk makan dan keperluan sehari-hari.


Aku memang tak minta dikirimi uang dan beralibi telah diberi bude buat pegangan. Padahal, aku bahkan tak memberi tahu bude soal bang Dadang yang merantau. Prinsip ku tetap sama, aib suami juga aibku..


***


Malam ini tiba-tiba bang Dadang pulang tanpa memberi tahu, katanya biar jadi kejutan untuk aku dan anak-anak. Sebenarnya aku inginnya uang arisan ditransfer saja, tapi rupanya malah bang Dadang sendiri yang mengantarkannya, rindu anak, adalah alasan yang diucapkan bang Dadang padaku.


" Bang, kan sudah dibilang transfer aja, aku nggak punya uang lagi buat ongkos kamu ke sana lagi nanti.."Belum juga bang Dadang duduk, aku sudah mencecarnya dengan keluhan.


Aku juga merasa jika aku seolah tak menghargai suamiku itu. Tapi, Uang di tanganku memang menipis, terlebih aku sudah mengurangi kegiatanku berjualan online, dan hanya menerima pesanan langganan tetap saja.


Aku terdiam, agaknya sifat ku yang suka menyimpan masalah sendirian, harus aku rubah sedikit demi sedikit agar aku tak menemukan masalah seperti ini dikemudian hari.


Bang Dadang kini beranjak, mendekat ke arahku dan memelukku erat, menciumiku dengan penuh g**rah, membopong tubuh mungilku dan membawaku ke peraduan.


Kami benar-benar menikmati kegiatan kami, seolah Menganti malam-malam dingin kami tanpa adanya pasangan. Meski peluh sudah membasahi tubuh ku dan bang Dadang, namun hasrat suamiku itu seolah tak terpuaskan dan semakin menghentak tubuhku dengan semangat, kami berpacu tak perduli waktu,


aku bahkan tak sadar jika kami telah melewati berapa ronde malam ini,


Setelah benih bang Dadang memenuhi rahimku untuk yang ketiga kalinya, kupikir suamiku itu akan menghentikan kegiatan panas kami. Tapi rupanya, bang Dadang malah kembali memancing diriku dengan cumbuan dan kecupan yang dalam.

__ADS_1


Membuatku kini menerimanya kembali dengan penuh ga***h, Rasanya kami kembali pada saat malam pertama kami, tak ku pungkiri rasa rindu juga sudah menguasai diriku...


Bang Dadang kini telah tertidur pulas, rasa lelah karena perjalanan jauh dan juga pertempuran ranjang kami barusan agaknya benar- benar membuatnya terlena akan kantuk yang menyerangnya..


Bang Dadang tertidur, setelah mengatakan jika uang untuk arisan ada disaku celana yang tadi dia gunakan saat riba disini.


syukurlah, bukan hanya tiga juta jumlah uang yang ada di sakunya, tapi ada lebih tujuh ratus ribu di lembaran uang yang masih tampak baru itu.


Aku mungkin terlalu berpikir negatif pada suamiku, kupikir dia hanya membawa uang untuk arisan saja, tapi nyatanya lebih dari itu.


Pagi kini telah menyapa kami. Sinar mentari pagi ini terasa hangat, rupanya musim kemarau telah datang, mengantikan musim hujan yang biasanya turun tak berjeda, hingga membuat petani karet mengeluh, karena tak bisa menyadap jika hari terus hujan.


Pagi ini aku sengaja bangun lebih awal, meski tak bisa menyediakan menu spesial untuk bang Dadang, karena kedatangannya yang tak aku ketahui, tapi aku berusaha untuk menyajikan sarapan lagi buat suamiku itu setelah satu bulan tak melayaninya di meja makan.


" Apa menu makan kita pagi ini dek ?" Tak seperti biasanya ,bang Dadang bangun lebih awal dan langsung keramas, kemudian dia mendekatiku yang masih sibuk menata lauk dan nasi yang telah matang. " Abang nggak biasa kalau di sana, sarapan pagi. Tapi melihat menu ini, abang ngiler, rindu juga masakan istriku ini ..." Bang Dadang memelukku dari belakang. Sepertinya suami ku yang romantis kini telah kembali lagi..


Aku melepaskan pelukan bang Dadang, mempersilahkannya untuk duduk. Menu masakan ku sebenarnya sangat sederhana hanya tempe dan tahu goreng, serta sambel bawang, berhubung lagi musim Pete, jadi aku menyajikannya hanya sebagai lalapan, sesuai kegemaran bang Dadang.


" Maaf ya bang, seadanya. Soalnya kan kamu pulangnya mendadak, dan nggak ngasih tahu. Jadi ya aku nggak punya persiapan..!!"


" Segini juga istimewa kok dek. Soalnya Abang bosen, di sana lauknya ikan sama ayam terus hehhe. Oh iya , uangnya sudah kamu hitung dek. Yang tujuh ratus itu, Rio ngasih anak-anak kita sama buah dan mainan juga Rio yang beliin..."


" Oh pantes bang, aku juga ngerasa aneh kok tumben kamu sempat-sempatnya beli mainan dan oleh-oleh buat anak-anak. Tahunya malah dari Rio.. Pantes aja"


" Iya dek, aku kan hanya pengawas di lokasi sawit, jadi nggak bisa kalau harus beli oleh-oleh. Rio juga malah niatnya beliin kamu baju, tapi aku larang, apa maksudnya coba beliin baju buat istri orang.. hehhehe.."

__ADS_1


Aku ikut tertawa mendengar candaan bang Dadang, " Sepertinya Rio nggak berubah, ya bang ! Meski kini telah sukses.. Mudah-mudahan suksesnya nular ke kamu ya bang.. Aamiin !!!"


Bang Dadang tersenyum, membuatku memandang lekat wajah suamiku yang kini lebih gelap dari sebelum dia berangkat. Melihatnya begitu lahap dengan sarapan menu alakadarnya dariku.Entah kenapa membuatku lebih merasa dihargai . Dalam hati ku panjatkan doa. Mudah-mudahan perubahan suamiku ini akan bertahan untuk seterusnya..


__ADS_2