Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Bude tak setuju .


__ADS_3

Kulihat bude tengah duduk di kursi teras ketika kami tiba. Wanita paruh baya itu asyik dengan segelas kopi yang masih mengepulkan asap kepermukaan. Wajahnya nampak biasa saja, melihat kami yang baru saja datang.


Syukurlah bude masih tetap menanggapi salam Dadang dengan ramah.


Kami juga ikut duduk berhadapan dengan bude sekarang.


" Maaf ya bude , tadi ketemu teman lama dijalan pulang, jadinya agak sorean sampai disini.hehe"


Aku mendahului Dadang yang hendak bicara. "Orangnya tadi bilang Katanya tadi ketemu bude, buat nanyain Siti ? '"Aku mencoba mengingatkan bude akan sosok Angga agar bude tak kesal dengan kedatangan kami. meskipun bude tak menampilkan wajah marah, tapi aku tahu bude tipe orang yang ceplas ceplos jika sedang kesal.


" Teman lama ? oh Angga . iyah dia tadi kesini, baru aja pulang. pantes kalau kalian ketemu dijalan.. Kalian nggak berantem kan.."


Dadang tertawa, " Kenapa bude menanyakan hal itu ? bude sama seperti Siti ekspektasinya ketinggian soal pertemuan kami . Hanya karena Angga adalah mantan Siti, bukan berarti kami harus berantem kalau tak sengaja ketemu. Tenang bude aku legowo dengan segala masa lalu Siti pun dengan pilihan ponakan bude nantinya. Jika jodoh tak akan lari kemana."


Bude menatap lama kearah Dadang ,mungkin bude mempunyai pikiran sama denganku tentang sosok Dadang yang memang sudah berpikiran dewasa.


" Jadi bude masih bisa jika mengenalkan lelaki lain yang mungkin saja lebih baik darimu. Jujur Dang, bude khawatir jika melepas Siti untukmu. Kamu masih muda, dan hanya sebagai petani kopi yang bahkan mungkin kebun mu itu masih milik orang tuamu. Jadi bagaimana bude mau mempercayakan Siti. Bude bahkan takut membayangkan jika Siti tak kamu beri makan dengan layak. Meski orang tuamu pegawai pemerintahan sekalipun , bude tetap khawatir. Karena ketika menikah kamu bukan lagi tanggungan orang tuamu, dan Siti yang bahkan akan menjadi tanggung jawab mu nantinya, semua yang berkaitan dengan Siti kamu yang akan memenuhinya nanti..


Bude ragu. Akan kemampuanmu untuk membahagiakan Siti Dang.."


Aku melongo mendengar ucapan bude yang tajam dan pedas, aku khawatir Dadang tersinggung dan malah menyerah dengan hubungan kami. Kenapa bisa tiba-tiba bude bicara seperti ini. Apakah karena kedatangan Angga dengan membawa mobil mahal tadi ? Tapi kukira aku berlebihan jika menuduh bude sematre itu.

__ADS_1


" Bude kenapa tiba-tiba ngomong gitu? Bukankah bude bilang jika akan menerima siapapun yang Siti pilih sebagai suami Siti nantinya. Dan Siti sudah putuskan jika pilihan Siti tetap pada Dadang..Aku kecewa bude bicara seperti ini !!" akhirnya aku bisa menyuarakan isi hatiku didepan bude.


Bude memalingkan wajahnya mendengar semua keluh kesah dan protes ku.


" Kamu terlalu muda untuk mengambil kesimpulan Siti. Menikah itu bukan hanya soal cinta, rasa nyaman dan mengerti satu sama lain. kamu belum merasakan gimana nantinya ketika setiap harinya harus memikirkan apa yang akan dimasak untuk keluargamu, semuanya mudah jika didukung dengan penghasilan yang pasti dan menjanjikan tapi jika mengandalkan hasil kopi yang musim panennya setahun hanya sekali. Apa kamu nggak mikir dari mana bisa dapat uang untuk makan. Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik lagi Siti. Apalagi jika nanti kalian punya anak bebannya akan semakin besar, memang benar jika rezeky bisa dicari dan dikejar . Tapi tetap saja masih tergantung kemampuan dan skill yang kita punya jadi untuk kamu juga Dang, bude mohon pikirkan baik-baik lagi tentang hubungan kalian kedepannya karena Kalian masih terlalu muda untuk menikah. ."


Bude berlalu, beliau masuk kedalam setelah mengucapkan semua itu. Kini tatapanku menuju kearah Dadang, lelaki itu nampak menunduk sedih. Tapi tak ada satu katapun yang dia ucapkan . Apakah ia akan mundur, dimana keyakinannya yang selama ini dia ucapkan untukku. Kurasa semua nya akan gagal sekarang kecuali Dadang mau membuktikan keseriusannya padaku.. Tapi bagaimana caranya ?


" Beri aku satu tahun dek..! Aku janji akan membuktikan sama bude jika aku pantas untukmu. Tapi Apakah kamu juga mau berjanji untukku, Kamu akan menjaga diri dan hatimu . Dengan tak menanggapi lelaki lain. Aku harap kamu memberiku kepercayaan penuh dengan janjiku. Kamu mau kan menungguku ? "


" Maksud kamu apa, kenapa harus satu tahun..! memangnya apa yang akan kamu lakukan selama satu tahun itu..!!"


Meski risih dengan panggilan baru yang Dadang sematkan untukku, namun aku tak terlalu peduli lagi soal itu. Ada hal yang lebih penting sekarang dibanding protes ku


" Kamu mau kita LDR, kita nggak akan bertemu selama waktu itu ? apa aku bisa ...". Pelan suaraku terasa menekan Dada. bukankah aku sudah bilang padanya jika aku tak bisa menjalani hubungan jarak jauh, Tapi kenapa sekarang Dadang malah mengusulkan hal itu pada hubungan kami ?


" Nggak juga sih. Pasti aku bakalan sering ngapelin kamu kesini. Apalagi kalau malam Minggu.."


" Oh aku pikir kita bakalan LDR. Bang, aku harap kamu memaafkan bude ya. Soalnya secara tidak langsung bude sudah merendahkan mu dan


menolak mu. Aku harap kamu tak menyimpan dendam pada bude.."

__ADS_1


Dadang mengelus tanganku dengan tangannya mencoba mengurangi rasa khawatir dan juga ketakutan ku.." Aku ngerti kok, perasaan bude. Jadi kamu tenang aja, tak akan ada dendam untuk bude. Malah semua ucapan bude tadi akan kau jadikan lecutan semangat agar meraih sukses meski hanya sebagai petani. Bagaimanapun juga bude kan adalah orang tuamu . Beliau memang tak melahirkan mu, tapi dengan kasih sayangnya kamu bisa tumbuh besar dan cantik seperti ini, dan sepertinya kita harus memikirkan usul emak soal panggilan sayang.."


Aku terharu akan ucapan Dadang. Mataku pedih dan akhirnya bulir bening itu mengalir juga.membasahi pipiku yang terasa panas sedari tadi. Aku marah pada bude, tapi memikirkan jasanya padaku, aku malah merasa bersalah sekarang. Bude pasti menginginkan yang terbaik untukku, percuma jika aku mengajaknya berdebat akan kebaikan dan kepantasan Dadang sebagai calon suami untukku. Dadang benar, aku akan turut mendukungnya untuk membuktikan jika kami akan berhasil dalam menjalani rumah tangga nantinya.


" Makasih ya Bang. Atas pengertiannya..Aku janji akan coba bujuk bude agar tak terlalu keras menghadapi mu. Dan semoga rencana kamu dimudahkan oleh Allah. Ya , Sayang "


Aku mendekat berusaha memberi pelukan pada Dadang, namun lelaki itu malah menghindar,


" Ingat tempat dek !!!"


Jitakan pelan mendarat di keningku, membuatku memberenggut kesal. " Tapi kayaknya jangan deh, entar kebiasaan. Kan bisa gawat..!!!"


Mata Dadang mendelik aneh, membuatku mengerutkan kening.


" Kenapa ??"


"Takut kebablasan...hehe"


Aku menatapnya tajam, namun tak berani menyentuhnya, bisa gawat kan kalau ucapannya jadi nyata...


Dasar mesummmm!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2