
Setelah sholat subuh berjamaah , kini para perempuan menuju kedapur untuk membuat sarapan. Dan disini lah Aku yang kini tengah menemani bude dan emak memasak di dapur. Syukurlah emak ternyata tak semengerikan seperti dugaan ku. Buktinya beliau sangat akrab dengan bude dan juga bisa santai bergurau bersama. Emak dan bapak memang masih berada disini, sedangkan adik-adik bang Dadang telah pulang ke rumah Emak. Karena disana masih ada cicik Lia yang merupakan adik kandung emak.
" Siti.. Kamu tinggal di rumah emak aja ya sama Dadang.."
Aku tersedak air putih yang baru saja masuk ke mulutku, kenapa tiba-tiba emak ngomong begitu . " Sebenarnya Emak udah lama ingin ngomongin masalah ini. Tapi nggak ketemu waktu yang pas, Kebun kalian kan dekat kalau dari rumah Emak kalau disini mah jauh..."
Aku melirik ke arah bude, namun sepertinya emak juga sudah memberi tahu bude tentang idenya ini hingga bude terlihat biasa saja .
" Ya Siti. Mertuamu benar, bukannya bude ngusir kamu dari rumah bude, tapi setelah menikah kamu harus menuruti keinginan suami kamu.."
" Jadi bang Dadang sudah tahu..
kenapa malah nggak pernah bilang ke aku ya ?" Aku berucap pelan, bertanya lebih kepada diri sendiri. Bude juga main setuju aja. Batinku nelangsa.
" Kenapa nak ? Kamu ngomong sesuatu ?"
" Oh enggak kok mak. Siti sih terserah bang Dadang, benar kata bude Siti bakalan ikut kemanapun suami Siti pergi.."
Emak kini mendekat dan memelukku erat " Terima kasih Ya, emak pikir kamu mau ngontrak seperti yang Dadang bilang. Rupanya anak itu yang malah nggak mau serumah sama Emak dan Bapaknya lagi.."
Waduhhhh, jadi. bang Dadang sudah menyampaikan usulanku tapi aku malah mengacaukan rencana ku sendiri.
Aku meminum lagi air mineral di depanku, entah kenapa tenggorokanku mendadak kering padahal hari masih pagi.
" Tapi untuk seminggu ke depan bolehkan Mak kalau kami menginap dulu disini ?"
Ide cemerlang mendadak melintas di kepala, Bukannya tak mau untuk serumah dengan mertua, tapi. Dengan bang Dadang saja aku masih butuh menyesuaikan diri apalagi keluarganya,,
" Oh boleh dong, kan kalian pengantin baru. Kalau di rumah kan rame, tapi kalau disini kan cuman ada budemu saja.." Ada senyum dibibir emak ketika mengatakan itu. Kulihat bude juga sedang tersenyum lebar.
Mendadak pipiku terasa panas, ahh.kenapa jadi seperti ini. Apakah setiap pengantin baru akan melalui fase ini ??
***
Setelah sarapan, emak dan bapak memutuskan untuk pulang. Emak bilang nggak enak karena di rumah tak ada yang menjaga. Kerena adik perempuan emak tadi menelpon jika mereka ada keperluan mendesak yang mengharuskan mereka untuk pulang secepatnya..
" Dek bude mana ? ini prasmanan dan alat masak ini punya siapa ? "
Bang Dadang datang dengan membawa satu kardus prasmanan, Dia juga menunjuk kearah wajan besar serta segala pernak pernik untuk memasak dalam porsi banyak lainnya.
" Eh Dang. Itu nanti bakal dijemput sama yang punya, jadi jangan diotak-atik lagi.."
Bude datang dengan tergesa, menuju kardus yang tadi bang Dadang bawa. " Ini sudah ditempatnya, jadi tinggal di naikin mobil, oh iya mending kamu bawa itu kukusan besar dibelakang, barusan bude cuci soalnya.."
Bang Dadang mengangguk dan segera menuju ke belakang rumah, tempat biasa bude mencuci perabotan yang agak besar. Rupanya bude disana sedari tadi pantes nggak kelihatan
" Bude mau makan apa siang ini ?"Aku bertanya karena memang kami belum makan siang, Biasanya kami hanya memasak lauk pada pagi dan sore hari. Tapi adanya bang Dadang sekarang membuatku harus terbiasa menyuguhkan hidangan istimewa, apalagi tadi kami hanya memasak sambel saja dan tumisan kangkung, karena rendang daging masih ada.
"Masak sambel terasi aja Ti, kebetulan ayam masih ada di kulkas jadi kamu goreng apa ditepungin. Terserah kamu sih ."
Bude sepertinya masih sibuk menghitung jumlah barang yang merupakan sewaan itu. Karena aku mengajaknya bicara bude harus menghitung ulang dengan telunjuknya.
" Alhamdullilah semuanya pas. Kita nggak ganti rugi..hehe . Ya udah sana kamu masak, nanti suami kamu kelaperan lagi.."
Aku segera menuju kebelakang, menemui bang Dadang terlebih dahulu,ingin menanyakan apakah ia menginginkan sesuatu yang beda untuk kami makan siang ini.
Kulihat suamiku itu masih sibuk membersihkan kukusan yang bude suruh ambil tadi." Loh bang kok bolong ?"
aku heran kenapa kukusan itu bisa bolong sebesar bola pingpong di bagian alasnya. Apakah ini ulah bude atau..
" Abang terlalu kencang menggosoknya dek.."
Jawaban bang Dadang akhirnya menjawab juga keheranan ku.
__ADS_1
" Abang pikir belum bersih jadi Abang gosok lagi deh.. Kan masih hitam dibawahnya sedangkan yang di atas sudah putih dan licin...hehe"
Ucapnya polos, namun menunjukkan penyesalan.
kutepuk keningku , dengan telapak tangan. Bude tadi sudah girang tak perlu ganti rugi tapi karena kelakuan bang Dadang, agaknya kami harus menggantinya dengan yang baru..
" Bang, bagian bawah.memang dibiarkan hitam, karena Kitakan masaknya masih menggunakan kayu bakar, jadi kalau terlalu sering digosok makanya bolong..hhhh. Kita harus ganti rugi deh.."
" Oh gitu ya dek, maaf ya abang nggak tahu. ini kisaran harganya berapa ya dek?"
"Harga apa Dang ?"
Bude kembali datang secara tiba-tiba membuatku kaget karena pertanyaannya. " Ini kenapa belum dibawa kedepan Dang , perasaan sudah lama kamu disini ?"
Bang dadang menunjukkan bolongan yang ada pada kukusan itu, bude menganga tak percaya " Kok bisa sih ? perasaan tadi nggak bolong loh ?"
" Dadang yang bolongin bude. Soalnya Dadang nggak tahu kalau bagian bawah memang sengaja nggak digosok terlalu kuat, maaf ya bude. Dadang bakalan ganti.."
" Siti kamu masak ya, Dadang kamu temenin bude kepasar, soalnya orangnya sebentar lagi datang. Jadi kita harus cepat ganti yang baru.."
" Harus sekarang bude, , ? "
" Lah iya. kalau nanti kita sendiri yang datang nganterin barangnya, tapi kalau belinya sekarang kita nggak perlu repot ke desa tetangga dengan bawa kukusan gede kayak gini.."
Bang Dadang berlalu masuk kedalam setelah pamit mengganti baju.
Bude menatapku " Dasar suami kamu itu, Semalem sudah bikin bolong . Siangnya malah kukusan yang jadi sasaran.."
Aku berkedip berkali-kali karena ucapan bude, setelah paham. Aku langsung berlari menuju dapur , menghindari menatap bude yang kini malah menatap pada dompetnya dengan lekat, Hhh bude pasti kesal karena kelakuan bang Dadang tapikan , suamiku berjanji akan menggantinya jadi bude seharusnya tak menampilkan wajah ngenes nya itu.
Sementara menunggu bude dan bang Dadang aku langsung menghadap kompor, memasak pesanan bude.
Aku sampai lupa menanyakan bang Dadang tentang menu siang ini. semoga saja apapun yang aku masak suamiku itu menyukainya.
Akhirnya aku memasak ayam goreng crispy, sesuai pesanan bude. Dan aku lebih memilih sambel bawang sebagai pelengkap tak lupa aku juga menumis buncis dengan irisan cabai merah.
" Pak, bilang ke buk Retno. kukusannya ada yang bolong . Tapi ini saya ganti sebagai pertangung jawaban saya..."
Bapak supir pick up terlihat mengangguk saja dan menerima kukusan baru yang masih berbungkus plastik putih besar itu. beliau kemudian menatanya di atas mobil, bersama barang-barang lainnya.
***
Kini malam telah datang, sejak selesai sholat Maghrib tadi aku memilih tiduran di atas sofa ruang keluarga sembari menonton acara televisi..Bang Dadang juga ikut duduk lesehan di depanku. Sementara bude, sedari tadi belum pulang ketika beliau pamit untuk mengantarkan tanda terima kasih pada tetangga karena telah membantu acara pernikahanku kemarin.
" Dek !! Masuk kamar yuk.."
Suara itu begitu pelan membuat bulu kudukku meremang. Sebenarnya sedari tadi aku ingin merebahkan diri dikasur tapi mengingat bude belum pulang, makanya aku masih betah disini.
" Ngapain ?" ucapku pura-pura tak mengerti dan sibuk Menganti channel televisi.
" Tunggu bude pulang dulu, takutnya dia malah nyariin nanti.."
" Ya elah dek,, udah jam delapan loh. mungkin bude memang sengaja ngerumpi di rumah tetangga biar kita punya waktu untuk berduaan..!"
Aku menatap bang Dadang dengan enggan sementara lelaki itu menunjukan wajah memohon.
Kupeluk suamiku itu dari belakang, mungkin ini saatnya aku harus menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri dengan memberi suamiku ini nafkah batin. rupanya dia lelaki sigap, dengan segera dia berdiri dan membawaku digendongan nya, langsung menuju kearah kamar kami.
Dengan duduk dibibir ranjang, Bang Dadang meletakkan ku di atas ranjang dengan hati-hati. Setelah dirasanya aku telah berada diposisi nyaman .
Sosok itu berbalik,
Dan menatapku dengan mata sendu. Apakah ini tandanya jika bang Dadang sedang meminta haknya?
__ADS_1
Entah siapa yang telah memulai namun kini Kami berciuman, dan saling menyentuh satu sama lain, meski aku masih awam sebisa mungkin aku mengimbangi bang Dadang, yang nampak mengikuti naluri lelakinya. Sesekali dia mengucapkan kata pujian akan apa yang telah dilihatnya pada diriku. aku merasa melayang, inikah yang namanya surga dunia.
Meski kami belum sampai ke permainan inti tapi rasanya sangat aneh, dan menyenangkan. Aku semakin dibuai oleh tingkah lelaki ku ini ketika tangannya dengan lembut menyentuh bu*h Dadaku. menciuminya sambil sesekali memberikan gigitan kecil pada puncaknya.
" Dek ..sshshshs." bisikan itu semakin membuatku terbuai, Aku seolah kehilangan kesadaran hingga sesuatu terasa menerobos pertahanan ku. Aku mengatupkan rapat-rapat mulutku, mencegah jeritan yang seolah hendak dikeluarkan. perih dan terasa penuh , tak sadar Aku memberikan tanda cinta berupa cakaran pada punggung bang Dadang.
Kami menyatu, dan mencari kepuasan pada kegiatan intim ini. gerakan yang tadinya pelan semakin lama semakin cepat. Hingga akhirnya perasaan meledak itu datang dan membuatku mengeluarkan de***an yang sedari tadi coba aku tahan.
Akhirnya aku bisa menjadi istri yang sempurna sekarang, Ada rasa bangga karena telah mempersembahkan mahkotaku pada lelaki yang telah berstatus suamiku.
Waktu tak terasa berjalan cepat dan kami masih asyik dengan aktivitas kami, rupanya Bang Dadang adalah tipe lelaki dengan li**do tinggi. Sehingga dia menggempur ku tanpa ampun.
Hingga saat waktu menunjukkan pukul sebelas malam, pintu terdengar dibuka . Rupanya dugaan bang Dadang benar jika bude memang sengaja meninggalkan kami berdua di rumah.
Aku sedikit takut jika bude mendengar suara ku dan Bang Dadang, karena sedari tadi aku nampak kelepasan dan tak menghiraukan suara des***nku yang menggema di seluruh kamar.
" Bang sudah ya !!" ini sudah keempat kalinya Bang Dadang memenuhiku dengan benihnya. Suaraku serak dan tubuhku terasa remuk.
" Satu kali lagi ya dek, boleh ya.."
Aku melongo tak percaya, apakah bang Dadang tak ada simpatinya pada tubuhku yang baru saja dia per****ni ?
" Masih sakit bang.. udah ya "
aku memperlihatkan tampang memelas ku agar suamiku ini mengerti.
" Ya udah.. Abang mau mandi dulu, kamu silahkan istirahat duluan...". Ada kecupan hangat mendarat di keningku.
" Terima kasih ya Dek .. untuk malam ini !!"
Aku tak melihat dan juga perduli akan reaksi yang ditunjukan oleh bang Dadang, kini yang kutahu mataku terasa berat, dan seluruh tubuhku terasa remuk.
aku memejamkan mataku dengan rapat , dan akhirnya kesadaran ku pun ikut hilang. Akupun terlelap karena kelelahan.
Adzan subuh terdengar samar di telinga, membuatku mengerjap mengumpulkan kesadaran yang masih diawang-awang dan merasa masih betah di atas kasur.
Aku yang duduk dengan cepat, kini merasakan bagian inti diriku terasa perih. Sejenak aku kembali mengingat kegiatan kami semalam. Kenapa sekarang baru terasa sakit ?
Bang Dadang menggeliat, dan kini mata itu terbuka dan bertatapan langsung dengan mataku,
" Sudah subuh dek?" Tanyanya parau, rupanya suamiku itu masih mengantuk.
" Iya bang, aku mandi duluan ya !"
aku melangkah dengan sangat pelan, rasa perih itu sangat terasa ketika kedua kakiku bergesekan saat melangkah. Apakah aku bisa ikut sholat kalau begini.
Aku berhenti dan memandang pantulan diriku di cermin, Karena posisiku kini tepat berada didepan meja rias. Rambutku acak-acakan dan juga tubuh polos ini kini dipenuhi tanda kepemilikan dari bang Dadang , kenapa aku bahkan tak sadar jika bang Dadang membuat tanda sebanyak ini ?
" Kamu ngapain dek ? Jangan pancing Abang lagi, kamu tahu, saat pagi si otong suka bangun dan minta haknya..".
Sebenarnya suara bang Dadang terdengar biasa, dia sepertinya masih sangat enggan meninggalkan kasur. Namun entah kenapa malah membuatku merasa terancam. Dengan cepat ku tutupi tubuh polos ku dengan selimut yang terogok dilantai sedari tadi. Ingin melangkah namun perih ini membuatku sedikit trauma untuk berjalan.
"Aku kayaknya nggak sholat subuh deh bang !"
Akhirnya aku mengutarakan apa yang ada di pikiranku.
Tak ku sangka ucapan yang terlontar dari bibirku membuat Suamiku itu tiba-tiba melompat ke arahku dengan pandangan khawatir. " Masih sakit Ya. Maaf ya dek, Abang benar-benar nggak ingat kalau ini yang pertama bagi kamu. . Apa kita tanya bude , siapa tahu ada obatnya biar nggak terlalu sakit lagi.."
Aku menjitak kepala bang Dadang, Bagaimana mungkin otaknya malah berpikiran kearah situ.
" Emang Abang nggak malu ngomong masalah ini ke bude ?"
Suamiku itu nampak berpikir, kemudian menampilkan senyum bodoh " Ya terus gimana dong dek , kalau bude nanti nanya kita mesti jawab apa,.."
__ADS_1
Aku semakin lemas, seharusnya ucapan itu keluar dari bibirku.
seperti ini rupanya malam pertama, selain menghanyutkan juga bikin bingung,..