Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Surat perjanjian


__ADS_3

Malam ini semua telah berkumpul diruang keluarga, bude Dewi sengaja memilih waktu malam setelah anak-anak Siti dan Dadang tertidur, agar ketiga bocah itu tak menganggu meditasi yang akan mereka lakukan.


Nurdin , Lastri dan Dadang sebenarnya merasa heran. Namun mereka lebih memilih diam dan menunggu bude Dewi membuka suaranya terlebih dahulu. Sementara Salsa dan Siti yang telah mengetahui hal apa yang akan diberitahu bude merasa santai saja. Meski dalam hati Siti agak segan menyodorkan surat perjanjian ini. Jujur saja , Sepuluh tahun lebih bersama Dadang hal-hal buruk dalam rumah tangganya dia telan sendiri. Namun, ketika harus berhadapan dengan mertuanya dan memberi persyaratan agar hubungan ini tetap berlanjut membuatnya merasa tak enak hati . Seolah dirinya benar-benar tak menginginkan lagi jika Dadang menjadi suaminya.


Tapi tekadnya sudah bulat, dia hanya menjaga perasaannya, setidaknya Dadang tak lagi semena-mena melontarkan perkataan yang menyakitkan hati yang perlahan bisa mengikis kewarasannya.


" Saya sengaja mengumpulkan kalian disini untuk membicarakan kelanjutan hubungan Siti dan Dadang sebagai suami istri. Juga menentukan bagaimana nasib rumah tangga mereka kedepannya.."


Bude menarik nafas panjang. Matanya melirik kearah Siti yang nampak menunduk, juga sosok Dadang yang matanya kini menatap lekat kearahnya seolah menginginkan kejelasan lebih akan ucapan dari bibirnya.


" Saya sebagai orang tua dari Siti mengajukan surat perjanjian. Meski sebenarnya saya sendiri masih percaya jika Dadang masih menjadi yang terbaik bagi anak saya Siti. Tapi , dengan adanya peristiwa kemarin saya sedikit khawatir akan mental Siti, jika nanti kembali satu atap dengan Dadang. Maka dari itu, Surat ini saya buat untuk menjaga anak perempuan saya agar diperlakukan dengan lebih baik dan keberadaannya dalam rumah tangga bisa sedikit lebih dihargai .."


Bude Dewi meletakkan dua buah map biru di atas meja yang tepat berada di tengah-tengah mereka. karena memang posisi mereka melingkari meja . Saling berhadapan satu sama lain.


" Silahkan dibaca Dang. Pak , buk ?"


Bude Dewi menyodorkan langsung berkas itu kearah kedua besan dan juga pada menantunya.


Isinya memang sama . Tapi sengaja dibuat dua bagian agar nanti bisa dijadikan sebagai pegangan pada masing-masing pihak yang melakukan perjanjian yaitu antara Dadang dan juga bude Dewi dan Siti.


Lastri dan Nurdin kini fokus membaca setiap poin dari perjanjian ini. poin-poin awal seolah memberatkan Dadang sebagai kepala keluarga. Tapi ternyata di sana juga mengingatkan posisi Siti sebagai seorang Istri dan juga seorang ibu.

__ADS_1


" Apa ini harus Mbak ? " Lastri bertanya sambil matanya masih membaca lembar perjanjian itu.


" Bukankah ini bisa disebut pemaksaan. sedangkan kita tahu jika pernikahan bukanlah kesepakatan yang tertulis ..


Bukankah kita akan mengunakan hati dalam menjalani hidup bersama seorang lelaki yang disebut suami.. Jika seperti ini apakah kita tidak menciderai hak suami dan juga marwahnya dalam rumah tangga. Sesalah-salahnya Dadang dia tetap kepala keluarga. Rasanya tidak etis jika ada perjanjian seperti ini.."


Nurdin menyentuh tangan Lastri, mencoba mengingatkan istrinya agar meneliti lagi isi surat perjanjian yang disodorkan Dewi.


" Saya mengerti jika sebagai orang tua dari Dadang surat ini seolah membatasinya dalam mendidik dan mengarahkan Siti agar lebih baik dalam bersikap. Tapi, Saya berani jamin Siti tidak akan memanfaatkan perjanjian ini untuk menginjak harga diri suaminya. Meski dia hanya lulusan SMA, tapi dia dididik dengan adab dan akhlak sedari kecil. Percayalah saya hanya berusaha menyelamatkan hubungan mereka sebagai suami istri. Dan berharap hal ini akan menjadikan mereka lebih mawas diri dan mengesampingkan ego demi anak-anak.." jelas Dewi, mencoba memberi pengertian ke sosok besan perempuannya.


Lastri menghela nafas panjang. Kini matanya dia alihkan pada sosok Siti yang masih betah menunduk sedari tadi.


Jujur saja membaca ini membuat Saya merasa kurang nyaman. Apakah tak ada lagi sedikitpun rasa di hatimu untuk Dadang . Dia sudah berubah , Apakah ucapan saya saja tak cukup bagimu ? " Lastri merasa sikap Siti kembali membangkitkan rasa benci dirinya pada sosok menantunya itu.


" saya setuju bude. Saya akan tanda tangani perjanjian ini. Terima kasih karena telah memberikan saya kesempatan sekali lagi. Saya berjanji, terlepas dari ada atau tidaknya perjanjian ini , saya akan memperbaiki semua sifat dan sikap saya yang tak berkenan di hati Siti selama dia menjadi istri saya. Bude bisa pegang janji saya..."


" Tapi Dang...." Lastri hendak protes namun Nurdin kembali menyentuh tangan sang Istri mengisyaratkan agar Lastri diam.


" Keputusan sepenuhnya ada padamu Dang. Bapak akan dukung apapun yang kamu ambil sebagai keputusan. Karena rumah tangga ini kamu yang akan menjalankan . Kami hanya sekedar bisa mengingatkan, sedangkan semuanya terserah kamu .." Bapak berucap bijak sementara Lastri nampak mendelik tak terima.


Bude Dewi memandang Dadang yang kini telah memegang sebuah pulpen, bersiap menanda tangani perjanjian yang telah dibacanya tadi. Setelah siap dan selesai, Dadang segera menyodorkan kepada anggota keluarga lain untuk ikut menanda tangani surat itu sebagai saksi.

__ADS_1


Siti juga ikut menanda tangani. Meski sedikit risau dengan ucapan ibu mertuanya, tapi dia dengan mantap membubuhkan tanda tangannya pada lembar surat itu.


Dalam hati dia berpikir jika bisa saja Lastri akan bersikap seperti dulu lagi, dengan adanya surat ini. Tapi demi budenya dan anak -anak. Siti akan berusaha membunuh rasa sakit hatinya dengan memberi kan kesempatan meski dalam bentuk sebuah kesepakatan. Terlepas dari benar atau tidaknya hal yang telah dilakukannya ini, semuanya akan terlihat nanti kedepannya akan jadi seperti apa.


Lastri menangis di pelukan Nurdin sang suami . Sungguh dia tidak rela jika harga diri putranya terinjak-injak dengan perjanjian ini. Tapi dia juga membenarkan ucapan suaminya. keputusan sepenuhnya ada pada Dadang. Jika Dadang saja setuju tanpa protes lalu dia bisa apa ?


Lagian Bukankah kebahagiaan cucu-cucunya jauh lebih penting sekarang.


" Maafkan Abang ya Dek ? Abang janji akan menjaga hatimu dan juga akan membantumu menjaga anak-anak dan mengurus rumah. Meski mungkin bagimu ini sudah terlambat, tapi Abang senang karena kamu memberikan Abang kesempatan. .." Dadang menatap Siti dengan tulus. Meski ragu dan masih terdiam Siti masih merespon ucapan Dadang dengan mengangguk kecil.


" Kita mulai semuanya dari awal ya dek.."


Dadang kini tersenyum, meski tak mendapat reaksi yang sama namun Dadang tetap merasa nyaman ketika Siti mau membalas tatapan matanya.


Semuanya kini merasa lega. karena meski diwarnai perbedaan pendapat tapi kini berakhir dengan indah dan sesuai dengan keinginan masing-masing pihak.


" Jadi besok kita pulang ke rumah kan Dek ? biar bude nginap di rumah kita. Kan beliau belum pernah menginap di rumah "


Siti memandang kearah bude Dewi yang dibalas anggukan oleh wanita paruh baya itu. Akhirnya kini senyuman itu terbit juga dibibir tipis Siti. setidaknya bebannya sedikit berkurang sekarang...


***

__ADS_1


__ADS_2