Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Langkah awal Dadang


__ADS_3

Dadang kini meneguk segelas air putih hingga tandas, tangannya bergetar seolah sudah lama dia tak merasakan sejuknya air yang kini mengalir di tenggorokannya.


Ucapan Sandra tadi mempengaruhi nuraninya. Jika memang demikian bukankah Dadang tak akan dikenal dengan kata lelaki bodoh lagi. Bagaimanapun juga, tak ada yang mau jadi korban pemerkosaan, dan Dadang tak bisa membayangkan beratnya hidup Sandra jika dia memilih meninggalkan ibu satu anak itu, nantinya. Apakah ini jawaban tuhan untuknya ? Seolah sang penguasa langit dan bumi tengah menunjukkan padanya jika jalan yang sejatinya dianggap Dadang sulit, kini telah menemukan pelita penerang !


Tok..Tok..Tok


" Assalammualaikum Dang !! "


Dadang sudah hapal dengan suara itu, kini dia segera ke depan untuk membuka pintu setelah menjawab salam dari sang tamu.


Benar saja, Tante dari sang Istri, Fatma kini menatap kearahnya. Wanita itu juga membawa anak Sandra dalam gendongannya. Membuat Dadang mengernyit heran kenapa bayi ini mesti dibawa oleh Tantenya Sandra kesini.


" Mbak boleh masuk kan Dang !!"


Dadang yang sedari tadi bengong menghalangi pintu kini mempersilahkan Fatma untuk masuk .


Setelah duduk lesehan , dan memastikan bayi Sandra yang berada di gendonganya merasa nyaman, Fatma kini menatap Dadang.


" Dang !! Mbak mohon, terlepas dari kebohongan Sandra padamu, dia benar-benar cinta sama kamu Dang !! Mbak takut dia depresi, mbak takut jika bayi ini tak terurus, sepulang dari sini Sandra banyak melamun, dia juga tak perduli lagi dengan bayi ini sekarang !!"


Dadang memalingkan wajahnya, meski ada perasaan iba dihatinya, tetapi ini terlalu cepat. Tapi wajah Emak dan Bapak kini malah bergantian di pelupuk matanya, Jika seperti ini bukankah dia tak perlu merendahkan diri untuk menjemput Sandra dan Bayinya pulang ke rumah ini ?


" Siapa namanya Mbak !!"


Dadang mendekat, dia menguatkan hati untuk melihat wajah bayi mungil tak berdosa itu.


Cukup lama, bagi Fatma untuk menjawab ucapan Dadang. Dia seperti kaget akan reaksi Dadang yang kini tampak tenang, seolah mencoba menerima bayi ini


" Kania ,Dang !! Sandra bilang, nama itu yang selalu kamu sebut, jika bayi ini perempuan.. !"


Ada denyut tak biasa yang dirasakan Dadang, tentu saja dia sangat suka jika anak perempuannya diberi nama Kania, tapi. Setelah tahu akan asal usul anak ini yang jelas-jelas bukan anak kandungnya. Dadang merasa sakit juga jika nama itu tersemat pada Bayi Sandra


"Kamu mau gendong Dang ?"


Fatma menyerahkan bayi Kania dipangkuan Dadang, Dadang semula gelagapan namun tak lama dia malah terbius akan wajah cantik sang bayi yang sangat mirip dengan Sandra .


Dengan tangan bergetar Dadang menyentuh wajah mungil itu, ada senyum haru yang tiba-tiba terbit dibibir Dadang, membuat hati Fatma seolah tersiram air sejuk yang mampu menghilangkan dahaga .


" Maafkan Sandra Dang !! "


Dadang mengangguk dan dengan penuh keharuan dia menciumi wajah mungil itu dalam diam.


Fatma ikut terharu, dia bahkan sampai sesegukkan didepan Dadang.


***


Hari ini Siti berniat membawa anak-anaknya ke pasar, jika sebelum-sebelumnya dia cukup mengandalkan Fian sebagai sopir pribadi, tapi tidak untuk kali ini. Dia telah menghubungi taksi desa yang biasanya mangkal di gardu perbatasan. Pertemuan antara dirinya dan Fian waktu di kebun sawit milik bude membuat Siti malu, jika harus menghubungi Fian terlebih dahulu. Sedang Fian kini malah menghilang lagi tanpa kabar.


Hari ini sengaja Siti mengajak ketiganya untuk belanja kebutuhan selama ramadhan. Karena besok merupakan hari pertama puasa, maka Siti hendak menyajikan menu sahur istimewa untuk bude , Rama dan juga dirinya.


Rama bertekad akan puasa satu bulan full tahun ini, karena dua tahun belakangan, dia hanya puasa dua puluh hari saja.


" Kita mau belanja baju Lebaran ya Bu ? " Dio bertanya saat Siti merapikan baju yang dipakai bocah itu.


Siti tersenyum, pun Rama yang yang sedari tadi membisiki adiknya itu.


" kata siapa Bang Dio ?"

__ADS_1


" Bang Rama yang bilang bu !!! Katanya, besok hari lebaran.."


Siti menatap sosok Rama yang masih cekikikan, sembari memandang Dio dengan wajah lucu. Siti tahu sekarang apa yang sedari tadi dibisikkan Rama pada adik pertamanya itu.


" Belum Sayang!! masih satu bulan lagi hari rayanya. . "


" Ohh berarti Abang bohong bu," Dio menatap Rama dengan wajah ditekuk,


"Terus kita mau beli apa ke pasar Bu ?"


" Beli buah sama mainan. Dio mau kan ?" Siti mengelus pipi chubby Dio dan mengecupnya pelan.


" Yeyeyeyeyeyyyy....Dio mau robot Ultraman ya Bu !!" Dio tampak sangat senang dan melompat Kegirangan.


Siti mengangguk, dan segera berdiri karena telah terdengar klakson dari mobil kang Barja yang merupakan Supir taksi di desa ini.


" Ayo Rama !! Oh iya nenek sama Bara mana ? Kok nggak kelihatan ? "


" Sudah didepan Bu !! " Rama menjawab dan menatap Sang ibu yang tampak mencari-cari keberadaan bude Dewi dan Bara.


Siti segera mengendong Dio untuk mempersingkat waktu menuju ke depan , sementara Rama telah berlari dengan penuh semangat.


Selama perjalanan yang cukup jauh, ketiga buah hati Siti itu seolah tak pernah bosan dan lelah berceloteh. Apalagi si kecil Bara yang selalu saja menanyakan hal apa yang dilihatnya sepanjang Jalan. Meski merasa tak enak dengan para penumpang lain akan kegaduhan yang dibuat anak-anaknya, Siti tetap saja sebisa mungkin memberi timbal balik akan pertanyaan penuh rasa penasaran dari anak-anaknya.


" ehh Mbak, sepertinya anaknya nggak pernah keluar buat sekedar jalan-jalan ya Mbak ?"


Seorang penumpang perempuan nyeletuk, wajahnya juga sangat judes saat berbicara. Sepertinya dia terganggu akan kehebohan yang dibuat Rama dan adik-adiknya.


" Iya , Mbak. .mereka Lebih sering ditinggal di rumah. Soalnya takut kalau dibawa ke pasar, kan rame dan juga sempit-sempitan .." Siti menjelaskan dengan sopan, tak terpengaruh akan sikap tak bersahabat yang diperlihatkan perempuan yang Siti lihat usianya tak terlalu jauh dari dirinya.


" Oh pantes ndeso. mestinya sekarang juga jangan dibawa mbak, mengganggu ketentraman saja. Apa-apa kok ditanyakan, , Dasar udik. .!"


Siti yang terpancing emosi, dan hendak membalas, langsung terdiam ketika seorang lelaki muda tampak mengemukakan pendapatnya, yang tentu saja bersebrangan dengan wanita judes tadi.


" Eh kok nyolot sih mas, kenapa juga situ yang repot. mulut-mulut saya , kok jadi situ yang sensi nggak jelas...!!"


" Nah itu mbak sadar, mulut anak-anak kok dikomentari, situ waras ?"


wanita itu mencebik, tak lagi menjawab apalagi dilihatnya dua penumpang yang lain juga ikut menatap aneh kearahnya.


Tak lama, kini keheningan tercipta, sepertinya ketiga putra Siti kini dilanda kantuk. Meski hari masih pagi, Angin yang membelai wajah ketiganya membuat mereka terbuai akan rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang.


Tak lama kemudian, wanita tadi akhirnya turun .Tepat disebuah rumah panggung yang tampak sepi. Dan terkesan horor.


" Ahh Pasti itu perempuan keturunan kuntilanak..! Makanya benci anak-anak ."


bapak-bapak yang kebetulan duduk bersebelahan dengan mbak tadi kini berkomentar.


" Saya sengaja ,tutup hidung dan tak mau membalas ucapannya tadi karena nggak tahan dengan parfumnya yang bau kemenyan.." Tambahnya lagi, membuat penumpang lain malah tertawa.


Sementara Siti, kini menatap pemuda yang tadi membelanya. Ketika mata keduanya bertemu, Siti segera memberikan senyumnya


" Makasih ya !! soal tadi, , "


Siti berucap sopan,


" Iya nggak apa Mbak. Biasalah dunia ini kan banyak macam penghuninya, kebetulan saja mbak lagi apes karena malah satu mobil sama modelan manusia kayak gitu.." Lelaki itu berucap santai dan memandang Ketiga anak Siti yang kini tampak anteng, tak seheboh tadi.

__ADS_1


" Sepertinya mereka ngantuk ya mbak !!"


Siti menjatuhkan pandangan kepada ketiga anaknya, dia memangku bara sedangkan Rama dan Dio duduk bersisian dengan bude Dewi ditengah-tengah mereka.


" Iyah ni Om..!!" Siti menjawab mewakili anaknya.


" Eh Bu. Mirip om Fian ya ?" Rama tiba-tiba nyeletuk, membuat Siti menatap lekat sosok itu, dan kalau diperhatikan mereka memang sekilas mirip.


" Eh Kok kenal Bang Fian ? "


Tak disangka sosok itu memandang Rama dengan lekat. " Ini Rama ?"


Wajah itu kini beralih menatap Siti, " Ini mbak Siti ya, temannya bang Fian .!!,"


Siti kebingungan dan menatap penasaran sosok itu, " Kamu siapanya Fian. Setahuku, Fian anak tunggal ?"


Lelaki muda itu tersenyum " Ternyata dunia itu sempit ya Mbak.. Aku Rama..


Sepupunya Fian..!"


" Rama !!" Siti mengulang nama itu dengan heran.


" Iyah Mbak...!! makanya aku hafal karena namaku kebetulan sama dengan anak pertamanya mbak hehehe "


Siti tersenyum kaku sekarang,


" bang Fian selalu saja cerita tentang mbak ke saya. jujur saya penasaran, rupanya benar apa kata bang Fian. Mbak cantik dan juga ibu yang tangguh..!!"


Siti semakin merasakan panas menjalar di pipinya, dia malu. Dengan perkataan ceplas-ceplos pemuda didepannya ini.


Taksi berhenti memutuskan obrolan diantara mereka , Rama memilih turun di dekat lampu merah, sebelum pasar .


" Semoga kita bisa bertemu lagi ya ,Rama kecil..!!" Rama mengacak rambut anak pertama Siti itu dengan gemas ,dia pamit dengan sopan pada bude Dewi dan juga penumpang yang lain, termasuk pada Siti.


" Om itu mirip wajah doang sama om Fian, tapi kalah keren..!!" Rama berucap lagi, membuat mata para penumpang taksi itu kini menyipit menahan senyum yang tiba-tiba tak bisa dikendalikan..


Sementara Siti memandang tak mengerti akan ucapan Rama.


"Bude bangunin Dio, kita sampai nih ..!!" Siti berujar, dan melihat Dio yang ternyata telah bangun, bocah itu mengucek matanya.


" Kita sudah sampai Bu !?" Dio bertanya, dan tampak senang saat melihat keramaian diluar mobil.


" Iyah, ayo turun !!"


Setelah membayar taksi, dua perempuan dewasa dan tiga anak kecil itu kini beriringan berbaur dengan banyaknya pengunjung pasar, rupanya hari ini lebih ramai dari biasanya.


Membuat Siti memilih mengendong Bara, meski sedikit kesusahan.


" Om Fian !!!" Rama berseru, dan segera berlari ke depan, menuju sosok yang dipanggilnya tadi.


Siti mengikuti Rama takut jika anaknya salah orang, dan terpisah darinya. Tapi rupanya itu benar sosok Fian. Lelaki itu tampak gagah dengan pakaian kasual. Hal yang baru pertama kali Siti lihat dari Fian , karena selama ini Fian selalu tampil santai saat menemui bude dirumahnya.


Rama memeluk Fian dengan erat, sementara Siti terlihat lelah, dengan peluh memenuhi hampir seluruh wajahnya, dia sadar jika penampilannya sekarang pasti sangat kucel dan berantakan.


Fian mengambil Bara dari gendongan Siti, dan memberikan sapu tangan pada wanita itu,


" Terima kasih !!" Siti masih tampak mengatur nafasnya,sembari mengelap peluh diwajahnya.

__ADS_1


" Bang Fian !!" Sosok gadis cantik nan modis kini mendekati mereka, dan tiba-tiba mencium pipi Fian dengan santainya, bahkan tak perduli dengan Bara yang ada dalam gendongan lelaki itu,


Melihat itu Siti tertegun dan melihat sosok perempuan itu dan juga Fian dengan pandangan berbeda..


__ADS_2