
Pagi ini aku bangun telat, untungnya ini hari Minggu jadinya aku tak terlalu direpotkan. karena baik Salsa maupun Agung tak masuk kuliah.
aku semakin semangat karena rencana kami semalam. Kondisi emak juga sudah membaik, terbukti karena emak kini telah bergabung bersama kami dimeja makan, hendak sarapan bersama.
" kalian jadi ke pasar Dang ?" Bapak nampak bertanya, saat kami baru selesai sarapan. Dan meja telah selesai aku dan Salsa bereskan.
" Iya pak !!"
Bang Dadang menjawab enteng, menyeruput kopi yang masih mengepulkan asap, didepannya.
" Loh emangnya pembangunan rumah kalian masih berlanjut Dang, bukannya sudah selesai ya..?" Emak ikut menimpali nampak penasaran, kami memang belum bicara tentang kepindahan kami yang akan dilakukan seminggu lagi. Aku juga tak tahu kenapa Bapak seolah tahu , akan rencana kami semalam.
"Memang sudah selesai Mak. Hari ini Kita mau beli perabotan,, karena rencananya Minggu depan kita pindahan. "
Emak terdiam, seolah sedang memikirkan sesuatu. Jujur saja, terbiasa mendengar ucapan yang nyelekit dari bibir mertuaku itu membuatku agak sedikit berpikir negatif saat dia terlihat seperti hendak bicara.
" Emak sudah bilang ke Mondi, tukang mebel di samping pertigaan, pas jalan ke pasar itu loh Dang. coba kamu tanya sudah siap belum lemarinya, soalnya emak udah minta dibuatkan khusus untuk kalian pindah nanti..
Uangnya juga sudah emak kasih ke dia, jadi kalian tinggal ambil aja, katanya dua minguan selesai, ini sudah tiga minggu soalnya."
" Serius mak, wah bakalan lebih hemat nih belanjaan kami heheh" Bang Dadang terkekeh, membuat senyum terbit dibibir kami yang menyaksikan.
" Makasih Ya mak. ." aku ikut menimpali, tentu saja aku terharu mendapat kejutan seperti ini.
" Tapi itu lemari buat hadiah ke cucu emak, bukan buat kalian. jadi kalau bisa kalian beli sendiri saja.." aku tersenyum segitu gengsinya emak untuk menunjukkan kepeduliannya.
" Yah berarti kecil dong mak. Ukuran lemarinya ?"
"Besar lah Dang, tapi kan anak kalian ada tiga, jadi pas lah untuk ukuran segitu."
Bang Dadang mengangguk mengerti " makasih Mak. Aku tahu jika emak memang yang terbaik.."
" Tapi Dang, nanti perabotannya mau di taro kemana dulu ? Bukannya lebih baik kalian bereskan dulu rumah nya, di pel atau di sapu gitu. biar bersih, dan perabotannya bisa langsung dibawa ke sana nggak perlu lagi bolak balik buat nata disini.."
Aku sebenarnya juga memikirkan itu, Rumah emak memang luas, tapi benar kata emak. Akan repot nanti jika harus bolak balik mengangkutnya saat pindahan.
" Entahlah Dek, gimana menurutmu ?"
Bang Dadang menatapku, meminta saran.
" Benar juga sih bang. Tapi , kayaknya kita bisa titip dulu di tokonya, kan kita sudah kenal sama Koko Aliong, jadi kalau mau pindahan nanti tinggal telpon tokonya, minta dianter langsung ke rumah.."
__ADS_1
Toko Koko Aliong memang menjadi andalan jika membeli perabotan rumah, selain lengkap harganya juga tak menguras kantong. Tak heran, jika orang dikampung bude pun rela membeli perabotan di sana meski memakan waktu karena lokasinya yang jauh ..
" Emang bisa begitu ,Siti ?"
Bapak menatap ke arahku, agak ragu dengan usul yang aku utarakan.
" Iya pak. Nanti kita dikasih Nota ,dan juga nomor telpon. Tenang pak, Toko ini sudah jadi langganan kok di daerah tempat Siti tinggal. Karena walau jauh kita nggak perlu keluar uang lagi buat bayar ongkos pengantaran.."
Aku menjelaskan layaknya sales promosi ke Bapak.
" Ya sudah dek ,siap-siap sana gih. Kalau terlalu siang takutnya nanti Bara malah kepanasan dijalan.."
" Loh mbak, Bara dibawa toh ?"
Salsa bertanya cepat,
" Iyah , nanti nangis lagi. kamu kan suka misuh-misuh nggak jelas, kalau dengar Bara nangis. Nanti malah mbak dan Abang mu yang kamu teror karena Bara rewel.."
Salsa cengengesan, dan menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
" Sudah kalian berdua saja yang berangkat, Bara biar sama emak. Agar nanti kalian lebih leluasa milih perabotan yang kalian inginkan.."
Salsa jadi semangat lagi, kemudian menghampiri Dio yang masih anteng didepan Tv,
" Abang Dio jajan yukk.!!"
Aku tersenyum, Salsa memang selalu sigap dalam bertindak, membuatku merasa jika kami benar-benar seperti saudara kandung.
***
Hari ini matahari terasa sangat terik, sudah dua jam kami disini. Sibuk memilih, meski kadang bang Dadang protes pada pilihanku yang selalu suka dengan warna hijau, tapi suamiku itu pasrah saja ketika satu kalimat darinya malah dapat seribu jawaban kalimat panjang dari bibirku.
Mungkin karena terlalu bersemangat aku tak sadar, dan malah kalap saat belanja. Saat dihitung, jumlah belanjaan kami kurang lebih mencapai 10 juta. Lebih besar, dari perincian awal. Meski aku sudah meminimalisir pembelian barang yang tak terlalu di perlukan.
" Uangnya Ada dek?" Bang Dadang berbisik di telingaku, aku memang tak menyebutkan jumlah uang yang tersisa ditabungan ku, pantas saja jika bang Dadang takut jika uangnya malah kurang.
" Ada bang. Aman..!"
Aku langsung membayar sejumlah uang yang disebutkan kasir, setelahnya aku mendapatkan nota serta bukti pelunasan . Rasanya sangat lega, akhirnya mimpiku untuk menghuni rumah impian akhirnya terwujud.
Kami kini melangkah keluar dari toko, Cuaca terasa semakin panas saja, membuat mataku menyipit karena silau.
__ADS_1
" Dek, Abang laper nih !"
Aku menatap jam di hp, sudah tiga jam lebih kami disini.
" Harus makan sekarang ya Bang, gimana kalau kita pulang dulu, Bara kayaknya sudah laper deh"
Aku dapat merasakan jika buah dadaku berdenyut kencang, tanda anak bungsuku itu telah lapar.
" Nggak bisa lah dek. Nanti malah kenapa-napa dijalan. Kita beli nasi didepan sana yuk, tadi kebetulan abang lihat walau sepintas .."
Aku mengikuti bang Dadang, kearah yang tadi dia sebutkan.
suamiku itu memang begitu, dia tak terlalu suka jajanan seperti bakso dan teman-temannya. Dan lebih memilih nasi di manapun dia berada, katanya tak kenyang jika hanya makan jajanan.
kurang lebih setengah jam kami duduk di warung ini. aku hanya memesan es teh manis sebagai penghilang rasa haus, karena memang aku belum terlalu merasakan lapar. juga untuk mempersingkat waktu , agar bisa segera pulang, khawatir Bara menangis.
" Kita langsung pulang habis ini dek ?"
" Iya bang. Tapi mampir di warung bakso depan ya Bang. Buat oleh-oleh.."
" Oh yasudah .. Kamu sudah selesai minumnya ? "
Aku mengangguk dan melihat bang Dadang dengan cepat menghabiskan es teh milikku yang masih sisa setengah itu. " Mubazir dek hhehe"
Kami akhirnya pulang ke rumah, disepanjang jalan pikiranku hanya tertuju pada Bara, karena memang naluri ku sebagai seorang ibu bisa tahu jika anakku itu pasti sedang menangis.
Benar saja belum sampai kami di rumah, sudah terlihat Bara menangis di gendongan emak. sepertinya emak sudah kehabisan cara untuk menenangkan cucunya itu makanya ia malah duduk di bawah pohon mangga mbak Santi yang memang rimbun.
Terlihat pelipis wanita paru baya itu dipenuhi keringat,.aku merasa bersalah , padahal emak tadi malam meriang kini malah dibuat capek karena menjaga Bara.
" Maaf ya Mak, jadi ngerepotin.."
" Iyah nggak kenapa-napa, sudah kamu pulang duluan sana bawa masuk dulu belanjaan kamu. Biar emak saja bawa bara.."
Aku memang memegang bungkusan bakso di tanganku, dan sesuai arahan emak aku segera masuk kedalam rumah.
dan meletakan bungkusan itu di atas meja dapur.
Salsa datang membawa Bara yang menangis kencang, " Sa, Baksonya tolong di sajikan ke depan ya, Mbak mau nidurin Bara dulu.."
" Siap mbak...!"
__ADS_1