
Hari sudah beranjak sore, Anak-anak juga sudah selesai mandi dan wangi. Sebagai tetangga baru, beberapa hari ini aku ikut bergabung dengan perkumpulan ibu-ibu yang biasanya setiap sore selalu bersantai didepan rumah mbak Salma, baik sekedar bercerita hal yang lucu, hingga membicarakan keburukan tetangga.
Jika di kota kita harus tebal dompet, tapi dikampung ini, kita mesti tebal telinga. Karena hal sekecil apapun itu akan dikomentari.
" Mbak lihat suamimu itu kok nggak pernah pergi ke kebun ya, Ti ? Apa memang setiap harinya dia seperti itu saat dirumahnya emak Salsa ?"
Aku tersenyum " Nggak kok Bu Ida, kebetulan kebun lagi aman jika ditinggal, kan musim panen baru dua bulanan ini selesainya.
jadi masih belum ada yang dikerjakan juga meski berangkat ke kebun. "
" Oh suamimu nggak pernah jadi buruh gitu, bantuin petani lain ? Atau bisa juga kan tukar tenaga saling bantu. Lumayan loh kalau mau jadi buruh , pak haji lagi cari soalnya. 50 ribu bersih loh Ti. sudah dikasih makan sama rokok.."
Aku mencerna ucapan bu Ida, lumayanlah untuk ukuran hidup di desa dengan uang segitu setiap harinya, tapi apa bang Dadang mau ?
" Iya Bu, nanti nanya dulu ke orangnya mudah-mudahan dia mau. Soalnya memang bang Dadang nggak pernah tukar tenaga, apalagi nyambi jadi buruh tani.. "
" Lah iya kan Bapaknya PNS, jadi bisalah minta dibantu pendanaan kalau lagi nggak musim kopi, betul kan ibu-ibu.
Kamu beruntung Siti dapat mertua PNS, jadi meski Suami pemalas. Mertua siap mengucurkan dana..heheh"
Bu Inggid ikut menimpali. ibu-ibu yang lain malah terkekeh akan sikap Bu Inggid yang blak-blakkan.
Aku kadang kurang nyaman, jika harus ikut acara ghibah ini. Tapi yang namanya hidup bertetangga harus bisa bersosialisasi. Tapi hari ini, mendengar sendiri jika ibu-ibu ini malah menghibahkan suamiku, rasanya malah semakin tak bisa dikatakan jika aku baik-baik saja.
Prinsip ku tetap sama, aib suamiku adalah aibku. pantang bagiku jika harus, membuka aib seseorang yang masih aku pertahankan posisinya disisi ku. bagaimanapun sikap dan perilaku bang Dadang. Aku sebisa mungkin tak terhasut dan malah ikut menghibah.
aku tak lagi menanggapi ucapan bu Inggid, Anjing menggonggong kapilah berlalu.
__ADS_1
Biarlah nanti ini akan ku bicarakan dulu dengan bang Dadang, tapi setelah ku pikir jika menurut gengsi dan harga dirinya yang tinggi. Kurasa bang Dadang bakalan menerima , jika harus jadi buruh disela-sela panen kopi yang hanya satu tahun sekali.
Aku yang terdiam dan rupanya ini bisa membuat bu Inggid mengalihkan topik, kini beliau malah membahas masalah sinetron kesukaan. suara ibu-ibu terdengar bersahutan satu sama lain, semakin sore malah semakin ramai.
Sebenarnya aku sudah tak kerasan disini. Tapi Bara yang tampak anteng sedari tadi malah membuatku tak tega jika harus mengajaknya pulang.
Rama dan Dio juga terlihat berbaur dengan anak - anak seumuran mereka. Lokasi rumah kami memang jauh dari jalan raya, hanya ada jalan setapak sebagai akses keluar masuk. Makanya disini sering kumpul anak-anak dari gang depan, selain tak khawatir akan kendaraan, disini juga terdapat lapangan yang luas dan biasa digunakan anak-anak untuk bermain bola.
Bang Dadang pulang menjelang maghrib, dengan membawa beberapa kresek berisi Bakso, makanan kesukaan anak-anak.
Tentu saja Rama dan Dio menyambut Ayahnya dengan riang. Bahkan Rama dengan sigap segera mengambil mangkok untuk wadah bakso. Kebiasaan ini memang telah dilakukannya ketika kakeknya bepergian . Jika saja bang Dadang tak berangkat bersama Bapak, sudah dapat dipastikan jika suamiku itu akan pulang dengan tangan kosong.
Entahlah, aku bahkan tak tahu bang Dadang sebenarnya menyayangi anak-anaknya atau tidak.
Kini aku tengah duduk lesehan di ruang tamu. menyuapi Bara dengan pentol bakso yang sudah ku potong kecil-kecil, supaya Bara tidak tersedak.
Bang Dadang bersuara melihat kearah ku, dengan menunjukan amplop putih yang cukup tebal.
" Berapa jumlahnya bang ?"
Seharusnya ini telah dibicarakan oleh bang Dadang sebelum pencairan. Tapi nyatanya aku bahkan tak diberi tahu berapa jumlah pasti pinjaman bank itu. Hingga akhirnya aku utarakan saja agar tak seperti orang bodoh didepan suami sendiri. Padahal sudah pasti aku akan ikut dipusingkan nanti masalah pembayaran, terlebih jika bang Dadang tak berubah dan tetap pada rasa malasnya.
" Sedikit kok dek !!"
Bang Dadang membuka amplop dan mengeluarkan selembar kertas bernominal didalamnya,
"Itu dipake Bapak lima juta. katanya buat pegangan Emak dan Bapak saat wisuda Agung nanti. ."
__ADS_1
Dua puluh juta, total pinjaman. Belum dipotong angsuran awal dan biaya administrasi. Aku penasaran berapa jumlah yang tersisa dari uang ini. Namun sampai bang Dadang berlalu dengan menyampirkan handuk dipundaknya, pria itu tak juga mengatakan padaku .
Aku berusaha mengenyahkan rasa penasaranku dan lebih memilih fokus dengan Bara yang nampak lahap memakan bakso di mangkuk nya..
***
Setelah ku katakan pada bang Dadang tentang ide dari Bu ida bang Dadang masih tampak acuh, dia bilang jika selesaikan dulu masalah teras, dan dia akan memikirkan bagaimana nantinya.
Bulan berganti dan bang Dadang tetap pada kebiasaanya yang hanya di rumah dan malamnya dia malah kumpul-kumpul dengan Bapak-bapak di pos ronda . Pulang selalu menjelang pagi. Alhasil dia selalu bangun kesiangan, rasa kantuk, membuatnya cepat emosi dan malah melampiaskan semua kemarahan pada anak-anak.
Beruntung aku semakin dianugerahi rezeki melalui jualan online, kegiatan kumpul dengan ibu-ibu kini tak ku lakukan lagi.
Sudah dua bulan aku membayar angsuran bank. Duit pinjaman dari bank yang sejatinya hanya tersisa sedikit setelah pembangunan teras selesai, kini memang telah habis. Karena dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, tak lupa uang rokok untuk bang Dadang.
" Bang, kamu nggak bisa kayak gini terus. Uang kita sudah habis loh bang. Dua bulan ini aku terpaksa pakai uang modal penjualan supaya pembayaran nggak nunggak. Kalau begini terus bisa-bisa anak kita nggak makan lagi bang ..."
Aku menutupi tubuhku dengan selimut, aku baru saja selesai memberikan nafkah batin untuk suamiku itu, sengaja aku berbicara sekarang, karena aku tahu moodnya akan baik jika nafsunya sudah terlampiaskan.
" Ya udah , besok Abang bakalan tanya ke pak haji, butuh tenaga lagi atau tidak..."
Bang Dadang beranjak, mengambil handuk menuju ke kamar mandi. karena memang hari sudah mendekati subuh. Aku senang dengan jawaban bang Dadang, Meski ada ragu. Jika jam segini saja dia belum tidur barang sekejap, bagaimana mungkin dia akan berangkat untuk jadi buruh di kebun pak haji..
" Dek, aku ngantuk banget nih. Besok saja ya, Aku janji bakalan berangkat sama suaminya Mbak Salma, tadi Abang sudah bicara padanya kok.."
Dan ternyata....!!!
Aku benar, alasan dan waktu yang sangat tepat bukan ??...
__ADS_1