Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Masalah yang akhirnya datang.


__ADS_3

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam pun kini telah berganti hari.


Bulan demi bulan pun telah kami lewati sebagai pasangan suami istri. Meski masih tinggal satu atap dengan mertua tapi semua berjalan baik tanpa ada kendala yang berarti. ketiga adik bang Dadang . Indra , Hafiz dan Agung bahkan kini telah menyelesaikan kuliah mereka.


Bahkan Indra dan Hafiz sudah menikah setahun yang lalu.


Sedangkan Salsa kini masih kuliah.


Usian pernikahan kami kini telah memasuki usia ke delapan tahun, semakin kesini bang Dadang mulai berubah. Dia yang biasanya betah di rumah ,kini malah keluyuran tak jelas.


Semangatnya untuk bekerja pun seolah terkikis waktu, semua berawal dari kelahiran putra ketiga kami. Bara Bramasta, Putra yang sejatinya kehadirannya tak terlalu diharapkan, karena memang aku kebobolan saat usia Dio baru 1 tahun lebih sedikit.


Emak juga sikapnya mulai berubah , karena bang Dadang yang selalu mengadu soal kelakuanku yang menurutnya salah, juga soal hamil jarak dekat yang ku alami saat itu, seolah semua terjadi seutuhnya adalah kesalahanku.


" Ternyata pendidikan itu, juga menjamin sikap seseorang ya Dang. Buktinya semakin kesini Istrimu itu semakin menunjukkan sikap aslinya, pemalas dan hanya bisa tiduran doang dikamar. alasan nemenin anak. Tahunya malah main hape nggak jelas,, " Lagi, aku mendengar emak dan Bang Dadang membicarakan ku, Mungkin beliau sengaja berucap keras agar aku mendengarnya..


Dua menantu baru di keluarga ini, memang sarjana semua. Itu juga mungkin yang mempengaruhi sikap emak yang kini telah berubah drastis.


" Udah ah mak, aku pusing..


Sepertinya Aku salah memilih istri..."


Ucapan bang Dadang membuatku menekan dada keras, kenapa bisa lelaki yang dulu penyayang kini malah tega mengatakan itu , apakah kehadiran ketiga anak kami ini , tak sedikitpun membuat Bang Dadang merasa bersyukur?


Hubungan kami memang hambar, karena semenjak hamil Bara aku terlalu sering mengacuhkan bang Dadang, dan bahkan menolak keinginannya saat dia ingin menyalurkan hasratnya sebagai seorang lelaki normal, tapi aku tak menyangka jika setiap penolakan ku malah membuatnya semakin jauh dan membuat hubungan ini tak lagi sehat .

__ADS_1


***


aku semakin tak betah di rumah ini, ingin pulang ke rumah bude tapi aku malu dan takut jika hatiku masih goyah dan kembali lagi kesini.


Makanya aku berniat membangun rumah meski kecil.


" Bang, tahun ini kita ngebangun rumah ya, Insya Allah uangnya cukup ..,"


Aku mencoba membicarakan hal ini pada bang Dadang, ketika suamiku itu kebetulan masuk ke kamar kami.


" Uang Darimana ? Kamu


pikir bertindak semudah kamu bicara, , Lagian juga tahun ini kebun kopi buahnya agak kurang. Sabar aja kenapa sih ?"


Aku lagi-lagi hanya bisa istighfar dalam hati. Bagaimana mungkin kopi bisa berbuah lebat, jika bang Dadang bahkan tak sekalipun mau melihat ke sana, dan bahkan malas untuk memberi pupuk dengan alasan tak punya uang untuk membelinya. Nada suara bang Dadang pun kini tak lagi bersahabat bila berbicara denganku.


Mata bang Dadang dengan awas mengamati ku, apakah ada yang salah dengan ucapan ku tadi ?


" kamu bilang sudah nggak simpan uang lagi, terus sekarang malah bilang kalau masih ada tabungan dan malah berniat bangun rumah segala. Kamu mau jadi istri durhaka, bisa -bisanya kamu diam dan tak membantu saat suami kesusahan, jangan-jangan Bude bahkan masih sering kasih kamu uang bulanan, kenapa semakin hari kamu semakin pelit pada suami sendiri..."


" Kesusahan yang kamu alami karena itu karena ulah mu sendiri. Bisa bisanya Abang abai menafkahi keluarga dan lebih memilih keluyuran nggak jelas. Emang duit bisa jatuh dari langit, Dan soal uang mahar. itu mutlak hak milikku ,dan abang nggak berhak mempertanyakan atau bahkan lebih parahnya menggunakannya untuk kepentingan abang sendiri, Soal uang kiriman bude, itu untuk anak-anak, kalau abang nggak bisa memberi, setidaknya jangan mengambil hak mereka, ,.."


" Alah kamu sok benar terus, apa kamu memenuhi kebutuhan aku setahun belakangan ini. Kewajiban kamu aja kamu abaikan sok-sok an mengingatkan kewajiban ku. Seharusnya kamu ngaca.."


Aku tertawa miris " apa ini soal nafkah batin lagi, kenapa sih bang, yang di otak kamu hanya itu. kamu nggak mikirin ketiga anak kita. Masa depannya, jajannya mereka dan bahkan mental mereka karena setiap hari harus mendengar pertengkaran orang tuanya yang tak pernah ada habisnya..

__ADS_1


Pokoknya, aku bakalan ngelakuin apa yang sudah jadi niatku, jika kamu masih punya tanggung jawab dan rasa malu, sebaiknya, kamu dukung aku..."


Aku meninggalkan bang Dadang, keluar dari kamar kami. Diluar kamar kulihat emak berdiri tepat didepan pintu, aku yang terlanjur kesal. Mengacuhkan keberadaan mertua perempuan ku itu. Biarlah ! toh, akhir akhir ini Emak juga memperlakukanku dengan tak baik..


" Mbak, ini ade Bara kayaknya laper !!" Suara Salsa terdengar, memang sepulang kuliah tadi dia mengambil Bara dari gendonganku, membiarkan aku menyelesaikan semua pekerjaan seperti mencuci dan beberes rumah.


Hanya Salsa yang mengerti dan membuatku sedikit merasa damai di rumah ini.


" Makasih Ya Sa.." Aku berusaha menahan air mata yang mendesak ingin keluar, Aku mengambil Bara dan langsung membawanya keluar.


Hari ini aku memang ada janji, dengan para ibu-ibu tetangga , ingin membicarakan Arisan tahunan yang akan kami lakukan dengan aku sebagai ketua, hal ini jugalah yang membuatku lebih semangat untuk membangun rumah.


tekad ku sudah bulat, dengan atau tanpa dukungan bang Dadang sekalipun.


" Jadi berapa satu tahun mbak,,?" Itu suara Bu Uci, sebenarnya para tetangga yang lain enggan jika mengikut sertakan Bu uci ke kelompok arisan, karena nama bu Uci telah di blacklist sebagai member arisan yang paling tak tepat waktu saat pembayaran bahkan terkadang sering kali tak ingin membayar dengan seribu alasan yang dibuat-buat.


Padahal dia sudah menang dan menerima uang yang utuh.


" Maaf ya bu ,Uci. kalau ibu mau ikut, isi nomor terakhir ya. Soalnya semuanya sudah full dan juga sudah dibayar .. Sini uangnya berikan ke aku "


Aku menadahkan tangan kananku, kearah bu Uci. sementara tangan kiriku, ku gunakan untuk menopang tubuh Bara yang ada di gendongan ku.


" Loh yang namanya arisan, harus dikocok dong. nggak bisa kalau diatur gitu nomornya. ga jadi deh kalau gitu , Nggak sudi aku, ikut arisan modelan kek gitu.."


" Alhamdulilah..." Serentak para ibu-ibu yang sedang kumpul di pos ronda malah mengucapkan hamdalah, kemudian disusul tawa karena merasa lucu akan kekompakan kami, meski tak direncanakan. wajah bu Uci memerah kesal, Dengan menghentakkan kakinya, wanita paru baya itu berbalik pulang ke rumah..

__ADS_1


Aku semakin terkikik geli, karena kelakuan bu Uci yang ngambek layaknya bocah. Inilah rutinitas ku jika hari telah menjelang sore, karena tak lagi merasakan kenyamanan dirumah mertua, untungnya selama tinggal disini. Aku memang aktif bergaul, jadinya bisa menghilangkan sedih dan rasa jenuh yang kadang datang tak diundang..


__ADS_2