Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Cucu perempuan


__ADS_3

Aku memilih tak lagi membahas masalah yang menyebabkan kepulangan bang Dadang yang lebih cepat, juga soal transferan Rio padaku . Ternyata Rio menepati janjinya. Dia juga menjelaskan secara detail akan kronologi yang menyebabkan bang Dadang minggat.


Rupanya kesalahan seutuhnya ada pada bang Dadang, karena merasa dekat dengan Rio yang merupakan pengawas utama, sekaligus orang kepercayaan bos. Membuat bang Dadang berbuat semena-mena kepada bawahan.


Sehingga rekan satu tim, supervisor dan juga mandor bersatu untuk menegaskan posisi bang Dadang sebenarnya. Suamiku itu tersinggung bahkan sempat menampar sang Mandor. Bang Dadang minggat karena takut akan di laporkan seperti ucapan pak mandor ..


Rio bahkan mentransfer dua juta kepadaku, katanya untuk jajan anak-anak. Aku yakin jika suamiku itu tak akan menghubungi Rio karena malu. Jadi sekalian saja ku manfaatkan hal ini untuk menyembunyikan uang yang dikirim Rio, sebagai dana darurat disaat kepepet.


" Dek, malam Minggu nanti Agung bakalan lamaran, Jadi Sabtu siangnya emak minta kamu ke sana buat bantu bikin kue untuk hantaran.."


Bang Dadang baru saja datang, setelah seharian ini aku tak melihat sosoknya .


" Loh lamaran aja, atau sudah sekalian tunangan Bang ? Kok pake hantaran segala ?" Agak aneh saja ,kalau sampai pake hantaran segala. Apa calon menantu emak kali ini juga orang berada dan punya gelar ?


" Sekalian Tunangan Dek, Kata Emak calonnya Agung orang kaya dan terpandang. Jadi harus diperlakukan spesial juga. .."


" PNS juga bang ?"


" Bukan. Calonnya Agung Dokter dek. .Orang kampung sebelah.."


" oh..!!"


Aku semakin merasa kecil dihadapan keluarga bang Dadang, bagaimana tidak, ketiga menantu emak sudah punya titel semua sedangkan aku sendiri hanya lulusan SMA.


***


Hari ini aku baru selesai memandikan dua jagoan ku, ketika ketukan pintu terdengar, diiringi suara khas Salsa yang melengking memangil namaku.


Tak lama gadis itu muncul dengan senyum ceria, sepertinya adik ipar ku ini sudah mandi hingga nampak rapih dan cantik.


" Mbak, aku disuruh Emak jemput. Biar kita bikin kue bareng.."


" Mbak mandi dulu ya Sa, soalnya mba lagi halangan. kamu duluan aja bawa Rama dan Bara supaya mbak nggak lelet ke sana nanti "


" oh Oke. Ayo para bocil ikut Tante ya ke rumah nenek.."


Kedua anakku itu tampak antusias dan langsung mengikuti langkah Salsa yang kini memapah tangan mereka...

__ADS_1


" MBAK JANGAN KESIANGAN YA DATANGNYA. Nanti Emak marah.."


Teriakkan Salsa mengagetkanku, karena ternyata dia malah ada tepat dibelakang tubuhku. Salsa cengengesan, setelah meminta maaf gadis itu undur diri dan menghilang seiring suara mesin motor yang semakin menjauh.


Selesai mandi aku mempersiapkan baju ganti untuk ketiga putraku. Semuanya aku masukan kedalam kantung kresek hitam. Tak lupa aku juga membeli diapers untuk Bara, takut tiba-tiba dia malah pup ,disaat kami tengah disibukkan dengan proses pembuatan kue..


Aku akhirnya sampai juga di rumah Emak , di teras sudah ada Hesti dan Indra yang tengah santai sambil bercengkrama akrab dengan Bapak..


" Eh Mbak Siti , akhirnya datang juga. Ditungguin emak loh dari tadi.. hhehe"


Indra menyalamiku, diikuti oleh Hesti. Istri dari adik ipar ku itu kini nampak lebih berisi. Setelah kuhitung-hitung, ini sudah memasuki bulan kesembilan kehamilan Hesti yang artinya sebentar lagi mereka akan dikaruniai anak kedua.


" Sudah USG, Hes ? perempuan atau lelaki ?" Aku hanya iseng menanyakan , basa -basi.


" Perempuan mbak, insya Allah. Doakan sehat ibu dan bayinya ya mbak sampai lahiran nanti.."


Indra yang malah menjawab dengan antusias.


"Iya Ndra. Semoga semuanya lancar ya. Emak pasti senang bakal dapat cucu perempuan untuk pertama kalinya.." Jujur meski sedikit iri. Tapi tetap saja aku ikut mendoakan apapun yang terbaik bagi Hesti dan bayinya.


" Bukan seneng lagi mbak. Emak malah minta Hesti buat lahiran disini aja.."


" Enggaklah mbak. Aku habis lahiran malah mager, nggak enak kalau jadi beban disini hheheh" Akhirnya Hesti buka suara, ibu hamil itu melirik kearah Indra, membuatku mengerti jika dua sejoli ini beda pendapat soal dimana Hesti akan melahirkan..


" Loh Siti. Kamu sudah disini ? Kok nggak langsung ke dapur, malah ngobrol nggak penting "


Emak datang dengan kopi dan juga cemilan kripik singkong pedas,,


meski ucapan emak tak enak didengar aku mencoba untuk cuek.


" Baru bentaran kok Mak. Ini juga baru mau ke dapur..!"


Aku berlalu , melihat siapa yang kini menghuni dapur emak.


Sesampainya di dapur, kulihat tak ada satupun kue yang telah jadi. Padahal Salsa bilang mereka butuh tujuh kue buat hantaran. Kenapa seolah aku yang sengaja disuruh buat sih ? Padahal aku bisa bikin kue juga karena belajar dari mertuaku


itu.

__ADS_1


" Loh Sa, belum ada yang jadi satupun kuenya ?"


" Belum lah mbak, kita dari tadi sibuk momong. Aku momong Bara sedangkan emak momong Raja..hehhe"


" Terus sekarang anak-anak dimana ?"


" Dikamar Salsa mbak. Nonton U dan I di laptop, biarin lah mereka kayak nya akur deh .."


" Oh..!!"


Aku segera menakar dan menimbang bahan yang diperlukan, Salsa bertugas memegang Mixer, mengaduk adonan agar mengembang. Sementara menunggu Salsa selesai dengan tugasnya aku mempersiapkan loyang untuk wadah memasak kue, Meski sedikit dikejar waktu syukurlah kegiatan ini bisa lebih cepat karena tak ada gangguan dari para bocil. Karena kini, baik Bara maupun Raja telah diasuh oleh neneknya. Diajak bergabung ke depan.


" Mbak sudah tahu kalau mbak Hesti bakalan melahirkan anak perempuan ?"


" Tahu kok Sa, barusan Mbak tanya ke orangnya langsung ."


Salsa tersenyum, membuatku mengeryit bingung " Kenapa Sa, kok kayak ada yang lucu ? Hayo kamu lagi mikirin apa ?"


" Aku lagi ngebayangin Mbak. Cucu perempuan Emak bakalan mirip aku atau nggak ya, soalnya kalau cucu lelaki malah mirip bapaknya semua hihihi"


Aku ikut membandingkan wajah anak-anakku dengan bang Dadang, juga wajah Raja dan juga Indra. Salsa benar cucu laki-laki emak cenderung mirip ke Ayahnya semua..


"Ahh denger kamu mengatakan ini. Bikin mbak ikut penasaran juga. Gimana ponakan perempuan kamu nanti.."


Kami kini malah tertawa bersama, merasa lucu akan obrolan yang sebenarnya tak mengandung humor sama sekali..


" Eh Mbak ikut kan nanti malam ?" Salsa membuka topik lain, tak tahan dengan keheningan yang mendadak datang diantara kami.


" Nggak ah Sa, Mbak di rumah saja. Lagian nanti malah bikin ribut tuh tiga bocil yang lagi aktif-aktifnya. Mbak bantu doa dari rumah saja Ya. Semoga semuanya lancar.."


" Salsa heran deh Mbak. Kenapa Mbak nggak pernah mau kalau diajak nampil .. Mbak itu menantu emak yang paling cantik tahu, awet muda lagi. Teman Salsa saja suka nggak percaya kalau mbak itu istrinya bang Dadang!"


Aku tertawa mendengar ucapan berlebihan dari Salsa. " Kamu kalau merayu emang bisa ya.. Mbak kan sudah bilang. waktunya yang nggak mendukung Sa, saat pernikahan Indra dan Hafiz, Bara kan masih merah . Dan kini kedua anak mbak lagi aktif-aktifnya kan, jadi daripada bikin ribut mending mbak nggak hadir sekalian.."


" Iya sih. Kok malah bisa pas gitu ya, Tapi nanti kalau Salsa yang lamaran. Salsa nggak akan terima apapun alasan mbak Siti untuk nggak datang. Pokoknya kudu ,harus, wajib dan mesti datang titik , nggak pake koma.."


" Oke ,, tapi cari calonnya dulu gih.. Biar kita bisa lihat apa yang terjadi nanti. hehe ."

__ADS_1


" Hushh Mbak. Jangan keras-keras nanti Emak dengar dan malah mikir Salsa kebelet nikah lagi.. hhhh"


Aku hanya tertawa mendengar ucapan Salsa. Hingga tak terasa kini semua kue telah selesai. Bahkan lebih cepat dari perkiraan ku. Karena hari masih siang saat kami menyelesaikan adonan terakhir.


__ADS_2