Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Lamaran


__ADS_3

Kami kini telah berada diruang tamu. Bude , aku dan bang Dadang kini duduk melingkari sebuah meja .


kami memilih diam untuk beberapa saat, jujur saja aku masih malu karena tadi kepergok oleh bude, meski hanya sekedar berpelukan namun rasanya sangat berbeda mendengar bude menyebut kami tengah bermesraan tadi.


" Jadi. Gimana Dang ? tujuan kamu datang kemari kenapa ? mau peluk-peluk Siti, atau mau menepati janji kamu ?"


Dadang tergagap ketika bude masih membahas soal pelukan tadi, ku lirik pemuda itu yang kini nampak salah tingkah dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


" Maaf bude Saya refleks karena terlalu senang tadi..hehe "


Bude tak merubah ekspresinya dan menunggu Dadang bersuara kembali.


" Tujuan saya kesini memang menemui bude, meminta restu bude secara pribadi . Jika bude berkenan maka insya Allah lusa saya akan membawa keluarga saya kesini untuk lamaran secara resmi !!!"


Aku memandang Dadang yang nampak tenang saat mengutarakan niatnya, ada senyum yang terbit di bibirku. Bismillah semoga pilihanku tepat Ya Allah..


" memangnya Siti sudah bilang, iya..?"


Bude malah bertanya, sembari melihat kearah ku. Dan ku anggukkan kepala sebagai jawaban.


" Kalau begitu bude memberikan kalian restu, Maaf kan bude ya Dang, karena telah mempersulit jalan kalian kearah halal. Bude harap tak ada dendam di hati kamu atas penolakan bude setahun yang lalu..!!"


" Aku yang minta maaf bude, sekaligus berterima kasih karena bude sudah menyadarkan sekaligus mengajarkan Dadang kesabaran dan ketekunan dalam meraih impian kami untuk menikah. Oh iya bude soal mahar apakah bude ada permintaan khusus ?"


" Bude akan menurut saja apapun yang diminta Siti Sebagai mahar, Dan juga kamu sendiri yang bisa menentukan mahar yang pantas dan sesuai dengan kemampuanmu. Bude sudah cukup mengikuti cerita kalian, dan bude tak akan lagi mempersulit jalan yang kalian pilih. karena niat baik harus disegerakan ...!!"

__ADS_1


Aku menggumamkan terima kasih berkali-kali didepan bude, seraya memeluknya dengan penuh tangis haru. Aku masih berpikir negatif semalam tapi sekarang Allah malah menjawabnya dengan kemudahan. semoga saja semuanya akan baik dan lancar sampai hari H nanti.


" Baiklah sebagai mahar aku akan memberikan Siti sebidang kebun kopi, dan juga uang tunai seratus juta. Ini hasil ku pribadi bude dan insya Allah aku tidak merasa diberatkan akan ini. Kedua orang tuaku juga setuju perihal mahar yang aku sebutkan tadi.."


Dadang berucap mantap dan memberikan senyum padaku dan juga bude..


" Lusa Saya akan datang kesini bude untuk melamar Siti dan juga sebagai pengenalan kepada keluarga besar.!


Saya pamit bude, karena masih banyak keperluan untuk diurus perihal acara yang akan diadakan lusa, Tapi Kalau bude meminta waktu diundur juga nggak papa karena walaupun acara sederhana biasanya masih banyak perintilan yang harus diurus, itu sih yang Emak bilang.."


Dadang terlihat ragu diakhir kalimat.


" nggak apa Dang, lakukan sesuai rencana awal keluargamu, kalau masalah persiapan di rumah ini insya Allah nggak akan terlalu direpotkan, bude akan meminta bantuan tetangga agar bisa membantu kesini besok..."


" Baiklah kalau begitu bude, aku pamit Assalammualaikum..."


sepeninggal Dadang bude kembali memelukku, " Bismillah ya nak, semoga ini adalah jodoh terbaik dan terakhir untukmu..!!"


" Aamiin...!!! Makasih bude, aku sayang bude.. Sangat...!!!!!"


***


Aku kini telah duduk diruang tamu, Ruangan 3x 4 itu telah disulap oleh EO. EO itu secara khusus dihubungi oleh bude atas rekomendasi dari Fian. .


Melihat hasil dari sentuhan tangan mereka aku yakin bude merogoh kocek cukup dalam untuk menikmati jasa mereka ini . Apalagi untuk acara dadakan seperti yang kami lakukan sekarang.

__ADS_1


aku mengenakan kebaya warna mocca. kebaya ini memiliki model Sabrina sehingga mengekspos bahuku, namun masih terkesan sopan . Kebaya yang lagi-lagi dibeli oleh bude kemarin secara dadakan , meski aku tidak ikut saat membeli tapi ternyata bude tahu ukuran tubuhku sehingga terasa sangat pas dan nyaman saat aku kenakan.


Dileher ku kini juga melingkar sebuah kalung berliontin Emas , Bude bilang jika ini adalah perhiasan peninggalan ibu dan sengaja bude berikan ketika aku akan menikah, sesuai dengan amanat ibu.


Sebenarnya Emas ini terdiri dari satu set lengkap, namun aku kurang nyaman jika harus menggunakannya secara bersamaan.


untuk Wajahku, bude juga menyiapkan MUA khusus, wajahku yang memang jarang tersentuh make up kini disulap dan menampilkan wajah yang hampir tak aku kenali tadi. Aku benar-benar pangling dengan pantulan diriku di cermin. Dan lagi-lagi aku terharu akan semua usaha bude yang berusaha memberikan yang terbaik meski dalam waktu singkat.


Aku kini menatap kearah bude, wanita itu tampak cantik dengan kebaya berwarna senada dengan yang aku kenakan, bude juga menggunakan hijab kali ini. Bude bilang dia merasa sangat Tua karena melihatku sebentar lagi akan menikah jadi dia berniat memperbaiki diri dengan berhijab.


aku bersyukur jika pernikahan ini membawa banyak dampak positif untuk bude dan aku kedepannya.


Dua buah mobil kini memasuki halaman rumah bude, Ternyata Bang Dadang lah yang datang , Rombongan itu sekitar 12 orang, termasuk Bang Dadang dan keluarga inti sementara lima orang lainnya tak ada yang aku kenali.


Mereka nampak berhenti sejenak didepan pintu mobil sebelum keluar, Rupanya masing-masing dari mereka memegang baki hantaran yang jumlahnya cukup banyak, bahkan ada tamu undangan yang ikut membantu menurunkan.


Meski tak direncanakan, rupanya baik bang Dadang maupun keluarganya ,menggunakan busana berwarna senada denganku dan bude, yaitu berwarna moccha.


Kami kini duduk lesehan dengan melingkar diruang tamu. sebuah meja bundar diletakan ditengah-tengah kami, aneka makanan khas daerah telah memenuhi meja itu. sesuai tradisi daerah kami jika ada lamaran. Apalagi jika sang keluarga calon pengantin pria berasal dari luar kota, maka akan disambut lebih heboh dan lebih meriah lagi..


Acara berjalan dengan khidmat. Setelah rentetan acara diutarakan oleh MC, maka kini adalah acara puncak, yaitu tukar cincin sebagai simbol pengikat sebelum sah menjadi pengantin.


" Kamu cantik Dek..!! " Bang Dadang berbisik di telingaku, aku jadi kikuk, kami sedang berada ditengah-tengah keluarga sekarang, kenapa dia malah sengaja membuatku malu..


Ku balas ucapannya dengan senyuman saja, meski tak ada yang mendengar ucapannya tetap saja aku merasa sangat malu.

__ADS_1


Tukar cincin telah selesai, diiringi tepuk tangan meriah dari tamu undangan dan juga keluarga.


Ku tatap calon suamiku yang kini tengah tersenyum bahagia menerima ucapan selamat dari pada kerabat maupun tetangga yang telah hadir, aku lega. Setidaknya satu tahun kami tak menjadi sia-sia. Semoga saja pernikahan kami nantinya berjalan lancar, dan semoga Dia akan menjadi lelaki terakhirku dan merupakan imam ku, untuk menuju bahagia dunia dan akhirat. Aamiin...!!!


__ADS_2