Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Dilamar !!!!


__ADS_3

Sejak hari itu hubungan ku dengan Dadang semakin dekat. Meski belum ada kepastian akan ke arah mana hubungan ini sebenarnya, namun kami tetap enjoy dan menjalani semuanya dengan santai . Dia masih pribadi yang humoris namun kini dia terlihat lebih bisa menjaga candaannya, dan itu semakin membuatku nyaman jika berada dekat dengannya.


Kami memang semakin dekat, apalagi Dadang sering datang untuk sekedar bertamu ke rumah bude.


Hari ini aku berjanji bertemu dengannya di suatu tempat. Tempat biasanya anak muda nongkrong dan melewati waktu dengan santai.


Dibawah rindangnya pohon dan semilir angin menerpa wajah. Kami duduk berdampingan. Entahlah jika biasanya muda-mudi sukanya nongkrong di kafe ataupun hangout bareng menjelajah kuliner. Namun tidak dengan kami berdua.


kami sempat membeli beberapa cemilan untuk menemani kami duduk santai disini, dengan disuguhi balap liar anak muda yang tengah mencari jati diri.


"Bagaimana hubunganmu dengan Angga.."


Aku menoleh, merasa aneh dengan pertanyaan Dadang. wajah itu memang tak memandang ke arahku namun aku tahu dia butuh jawaban atas pertanyaan yang telah dilontarkannya.


" Resikonya terlalu besar, jika pacaran dengan anak seorang diplomat. Dia Harus Pindah-pindah kota. Sedangkan sejujurnya mana ada cewek yang mau LDR kan apalagi seusia kita gini. Bukankah hubungan itu harus didasari dengan kepercayaan . tapi untuk orang seperti Angga big no. Dia tampan, kaya dan berkharisma. Dia tipe setia sih kayaknya, tapi mengikat hubungan yang tak tahu akan kemana ujungnya sama saja menjalani sesuatu yang percuma. Kita udah lama putus dan bahkan kita tak lagi bertukar kabar untuk sekedar melanjutkan silahturahmi. Semuanya benar-benar telah berakhir.."


Dadang tersenyum. Jawabanku mungkin membuatnya merasa lucu. entahlah karena menurutku semuanya biasa saja. Aku hanya mengungkapkan isi hatiku.


" Untuk orang yang seharusnya sedang menikmati masa remajanya, pikiranmu sudah terlalu jauh. Atau kamu memang berniat menikah muda ? "


ada rasa panas menjalar di pipi. Ucapan Dadang membuatku berpikir. Apa iya aku seperti itu. Sebagai seorang penggemar novel. hal-hal yang berkaitan dengan kata tampan dan kekayaan menjadi hal yang biasa bagiku. Tapi untuk menikah muda , rasanya aku belum pernah terpikirkan untuk kearah sana. Aku memang selalu terlarut dalam hayalan. apalagi jika tulisan orang itu bisa membuatku terbawa dalam cerita yang dia ciptakan.


Maka imajinasi ku akan semakin liar dan mengalahkan logika.


" aku tidak berpikiran untuk menikah muda. tapi jika Tuhan telah mengirimkan jodoh. Kenapa enggak ??"


helaian rambutku yang panjang ditiup semilir angin, membuat rambut menutupi hampir sebagian wajahku.


jarak duduk kami yang dekat memudahkan Dadang menyampingkan rambut ini kebelakang telinga. Mata kami beradu untuk sesaat.

__ADS_1


Dia tersenyum " pasti lelaki itu beruntung bisa berjodoh dengan gadis cantik seperti dirimu..!"


" aku tak secantik itu. untuk merasa istimewa. Oh ya, gimana kuliahmu ?"


Mata Dadang masih menatapku lekat ketika ku utarakan pertanyaan itu, sebenarnya kau hanya mencoba mengalihkan pembicaraan


" Aku memutuskan tidak melanjutkan kuliahku. Karena sekarang aku lebih memfokuskan diri untuk menjadi petani kopi yang sukses. Kamu tahu jika kita sudah merasa nyaman dan bisa menghasilkan uang dari rasa nyaman itu sendiri. Kenapa kita harus mencari jalan yang baru lagi dan memulainya dari awal . setiap pekerjaan apa pun itu akan menghasilkan kesuksesan jika dilakukan dengan tekun dan pantang menyerah.."


" Kamu memilih tak kuliah karena hanya ingin fokus jadi petani !!" Aku bertanya sekaligus merasa takjub . bagaimana mungkin impian besar dihempaskan hanya demi pekerjaan kasar yang skillnya bahkan bisa dipelajari secara otodidak.


Dadang menggeleng ,


" Sebenarnya bukan itu permasalahan utamanya. Tapi ada musibah keluarga yang lebih dulu harus diselesaikan. Jadi Yah sebagai seorang yang merasa nyaman karena setahun sudah tak menyentuh buku. Jadi males aja kan kalau harus berkutat lagi dengan buku dengan halaman setinggi Monas. Kamu sendiri kenapa nggak kuliah..?"


" Kita sepertinya sama. aku masih mau berada di zona nyaman. Meski bude sering marah dan memaksa tapi yah kita sebagai manusia juga tak bisa kan jika terpaksa. makanya selagi masih bisa menolak kenapa harus terikat dengan keterpaksaan..."


Aku mencubit pinggang Dadang dengan kencang. " Apaan sih. Siapa yang bilang jika aku mau menikah muda..!!"


"Loh terus tadi tuh apa ? kamu sendiri tadi yang ngomong...."


.


" Kalau memang udah ketentuan Tuhan aku terima tapi, bukan berarti aku lagi cari suami..dan mengenai sikap bude mungkin hanya perasaan kamu saja, lagian bukan hanya kamu aja yang sering datang ke rumah dan ngobrol sama bude, , ,"


Aku menjawab Santai sembari mengamati balap yang semakin lama semakin ramai penonton, tapi karena posisi kami yang berada lebih tinggi. Aku tak khawatir, dan tak harus berdesakan di kerumunan ramai itu.


" Jadi. Aku bukan laki-laki satu-satunya yang sering datang!! "


Dadang tiba-tiba menggenggam tanganku , memaksaku untuk kembali melihat kearahnya. " Apa boleh jika aku meminta hubungan yang lebih dari sekedar pertemanan ?"

__ADS_1


Sialll !!!! Kenapa harus sekarang, dan kenapa tiba-tiba. Rasa nyamanku dan semua perlakuan manisnya hari ini membuat lidahku terasa kelu. Tak mampu mengucapkan satu katapun.


Aku memalingkan wajah, mencoba mengalihkan panas yang lagi-lagi menjalar di pipiku.


Aku bingung harus menjawab apa ..


" Siti Will you marry me "


Kupandangi lagi wajah Dadang, wajah itu seolah memancarkan cahaya sekarang. membuatku menyipitkan mata karena silaunya..


" Apa tidak...ter...lalu ...ce-pat.."


Aku seolah kehilangan kemampuanku untuk bicara, Namun ekspresi Dadang yang nampak tersenyum santai malah menyadarkan ku.


" kurasa kita belum terlalu mengenal pribadi masing-masing..."


" Sayangnya .. aku tak akan menunggu lagi ..Aku ingin kepastian itu sekarang juga. Kamu kan bilang sendiri kalau bukan aku saja yang sering datang ke rumahmu sebagai tamu. Aku tak akan memberi kesempatan orang lain lagi untuk mendahuluiku.. Cukup Satu orang, Yaitu Angga. jangan ada lagi Angga-Angga yang lain.


Kamu mau kan jadi istriku..??"


Aku gegas berdiri dan meninggalkan Dadang tanpa kata. sejujurnya aku sangat terkejut hingga tak bisa memikirkan hal lain yang bisa kulakukan untuk menghindari lelaki itu..


Apakah ini jawaban akan ucapan asal ku akan jodoh tadi ? Ataukah Dadang hanya menggodaku lagi. Aku harus menghindar terlebih dahulu untuk menjernihkan otakku yang terlanjur dinodai oleh ucapan Dadang.


Nikah muda, malam pertama ,mertua jahat, ipar julid dan lelaki ringan tangan.


Bayangan adegan -adegan novel berseliweran di kepalaku. Entah aku akan mengalami yang mana nantinya. Sungguh, aku benar-benar tak bisa berpikir sekarang. Apalagi jika teringat akan tingkah Dadang yang dulu sering menggodaku dengan candaannya akankah dia sedang tertawa puas sekarang ??


Memikirkan itu membuat kepalaku semakin pusing.

__ADS_1


__ADS_2