Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Bertemu mantan


__ADS_3

Aku segera turun dan memperhatikan sekitar, disini benar-benar sepi. lagian apa maksudnya coba berhenti disini?


Pikiran kotor kini menghantuiku apakah Dadang tak sebaik yang aku kira. Jangan jangan dia benar-,benar akan melakukan hal buruk terhadapku.


" Kenapa kamu ? Sudah selesai belum ngambeknya ? Kalau sudah kita bisa jalan. kalau belum, ya kita tetap disini. Bahaya kalau kamu marah saat di atas motor yang melaju. Nanti kita kenapa-napa dijalan .."


" Bude bakalan marah kalau kita pulang telat. Lagian kenapa berhenti sih Dang ?"


" Lah bukannya kan sudah aku bilang nunggu emosimu reda, aku lebih khawatir kita kenapa-napa dijalan daripada akan kemarahan bude.."


" Maaf ya karena sudah kekanak-kanakan. Ayo jalan !! Aku nggak akan ngelakuin sesuatu yang bisa bikin kita bahaya, ok! "


Dadang menoleh kearah ku !! aku hanya bisa menunduk karena malu, semestinya aku lebih bijak tadi. Bukan malah terlarut akan egoku yang masih sangat besar.


" Ayoo...!!!"


Tinnnnn...,!!!


Klakson mobil itu membuat telinga berdenging. Membuat umpatan kasar lolos dari bibirku. mentang-mentang kami hanya naik motor terus seenaknya dia bikin kami jantungan dengan tingkah jahilnya..


" Heiii Siti...!!!"


Baru saja, motor hendak.melaju pangilan itu menghentikan Dadang. Mobil tadi mensejajarkan diri dengan posisi kami, meski memang arah kami berlawanan.


Sosok dari masa laluku menyembul dari balik kemudi, setelah seluruh kaca mobil terbuka sempurna.


" Heiii...!!!"


Angga, sosok yang tadi membuatku mengumpat adalah dia, mantan ku saat SMA.


aku melirik Dadang yang berekspresi datar namun dia tetap diam ditempat tak mencoba melanjutkan perjalanan kami. Mobil jenis Fortuner itu kini terlihat mundur, dan sedikit menepi dari tengah jalan ., Angga keluar dari mobil, adegan itu bak slowmotion dimataku, jujur saja Melihat lelaki itu aku terpesona. Dia semakin tampan dan berkharisma saja.

__ADS_1


Huhh apalagi kini mataku fokus memandang kearah bibirnya yang sensual aku malah teringat akan ciuman kami, yang merupakan ciuman pertamaku...


hhhh


otakku sepertinya tak beres lagi.. bagaimana bisa aku terus berpikiran mesum . Sepertinya aku harus meresmikan hubunganku dengan Dadang kejenjang pernikahan daripada aku terlarut dalam fantasi gila.


"Tadi aku kerumah mu ..


Cuman kata bude kamu lagi pergi sama TEMAN..!!"


Angga melirik kearah Dadang dengan tatapan mencemooh, kemudian menatap ke arahku dengan senyuman termanisnya.


"Oh .. Mau ngapain ?" Entah kenapa pesonanya terkalahkan ketika aku melihatnya seolah menghina pujaan hatiku yang baru.


" Silahturahmi aja sih .. Oh ya Ti. Ada waktu nggak dalam Minggu ini ? Aku mau ajak kamu jalan, sepertinya kami bakalan menetap di kota ini.. "


Kulirik lagi Dadang yang diam saja, pemuda itu masih tak menampakkan ekspresi diwajahnya.


" Oh boleh, kalau gitu aku kabarin nanti Ya. Nomormu masih samakan dengan yang dulu..?"


" Oh aku sudah ganti nomor. Aku aja yang simpan nomormu!! Berapa ?"


Angga mendekat kepadaku, dan mengeluarkan hapenya , aku pun menyebutkan nomorku dengan lancar. Dan memintanya langsung menyebutkan nama lewat pesan, aku memang anti jika ada nomor baru menghubungi, jadi jika sudah tahu nomor siapa , mungkin saja aku bisa memikirkan apa yang akan aku lakukan selanjutnya, entah itu menerima dan meladeni atau malah mengacuhkannya ..


" Sudah sore nih. Aku harus antar Siti pulang.. Kalau masih mau bicara banyak hal, sebaiknya lewat telpon saja. Biar lebih leluasa.."


Dadang menyela interaksi ku dengan Angga, nada suaranya terdengar sangat santai . Membuatku sedikit kesal. Apakah lelaki ini tidak cemburu, Bagaimana bisa dia mengusulkan hal itu pada Angga ?


" Iyah ngga. Maaf ya. Aku sepertinya harus pulang. Takut bude ngamuk, kamu tahu sendiri kan kalau bude ngamuk seperti apa ??"


" Aku masih ingat kok , detail malah. semua tentang kamu masih terekam jelas disini.." Angga menunjuk kearah otaknya " Dan juga disini.." Dan kini tangannya malah ia letakkan di dada.

__ADS_1


Aku merasakan hal yang biasa saja. Tapi entah kenapa raut wajahku malah menampilkan senyum canggung. jujur jika sudah sejauh ini perlakuan Angga aku khawatir juga akan reaksi Dadang nantinya. Lagian apa Angga nggak merasa ada yang aneh dengan kedekatan ku dan Dadang, atau karena sikap Dadang yang santai dia jadi menyimpulkan sendiri jika kami hanya sekedar berteman sama seperti dulu.


Aku segera naik ke boncengan Dadang, setelah membalas Angga dengan senyuman lagi-lagi terasa canggung. sebisa mungkin aku tak menoleh lagi ke sosok Angga, saat motor ini perlahan menjalan menjauh meninggalkan Sang Mantan.


Diatas motor, Kini semuanya terasa berbeda, menit berlalu seolah sangat lambat, membuatku sedikit kesal dengan situasi ini.


" Kenapa mendadak diam sih ?"


aku membuka suara, dan mengeratkan pelukanku padanya,


" Kita hampir sampai, jangan sampai bude lihat, nanti dia malah marah.."


Dadang menjawab dengan pelan, dengan satu tangannya dia mencoba melepaskan pelukanku pada tubuhnya.


" Ayolah Ti. lepasss..."


" Kamu kenapa ? Marah .."


" Nggak siapa yang marah sih !! Tapi sebentar lagi sampai di rumah nih. Aku khawatir kalau bude malah makin marah karena telat nganter kamu dan juga soal tanganmu ini..!!"


" Jadi. Kamu biasa aja saat Angga tadi jelas-jelas merayuku di depanmu ? apa perasaanmu sedangkal itu sampai kamu nggak cemburu akan sosok Angga...!"


ku lepaskan tanganku dan langsung bersedekap , meski aku tahu jika Dadang bahkan tak bisa melihat kearah ku.


Motor itu berhenti kembali. Dadang turun, membuatku semakin kesal. ternyata dia tak menunjukkan kecemburuan sama sekali, Apakah benar dia mencintaiku. kenapa aku jadi ragu begini sekarang ?


" Jadi. Kamu mau aku melakukan apa sama Angga. Harus berantem gitu di depanmu ? Atau marah-marah nggak jelas karena kamu bahkan masih meladeninya..!!"


" Ya nggak gitu juga sih Dang. Tapi masa sih kamu nggak tunjukan ke Angga kalau kita lebih dari teman. Kamu nggak takut jika nanti aku malah kepincut lagi sama dia..."


" Siti. Angga itu masa lalu kamu. Apa iyah aku harus memproklamasikan didepannya jika sekarang kamu itu milikku, orang kita aja belum nikah kok. Jadi bagaimana caranya aku menunjukkan ke dia kalau kamu milikku sekarang. Dan soal kamu mau kepincut lagi dan nostalgia sama Dia itu masih menjadi hak kamu. karena sekali lagi aku tegaskan kalau kita belum terikat hubungan yang sah. jadi kamu masih bebas untuk menilai dan memilih siapa yang menurutmu adalah yang terbaik.."

__ADS_1


Aku yang masih nangkring di atas motor Dadang kini turun. Ku tatap wajah itu dengan senyum mengembang, aku tak menyangka jika pemikiran Dadang sudah sedewasa itu dalam menanggapi hadirnya orang dari masa laluku .


" Maaf ya karena berpikiran buruk. Dan terima kasih karena telah percaya padaku. Aku janji akan jaga kepercayaan kamu. Dan aku sepertinya akan semakin mantap mengarungi bahtera rumah tangga denganmu dalam waktu dekat.." Aku kembali naik ke motor , karena malu telah mengatakan hal sebanyak dan sedetail itu ke Dadang. leherku bahkan kaku untuk menoleh guna melihat reaksinya sekarang..


__ADS_2