Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Rumah tangga atau rumah duka


__ADS_3

Sandra kini tertidur pulas, sementara sang anak, Kania. Masih menatap kearah langit-langit kamar.


Dadang memang benar, Kania adalah bayi yang anteng dan tak pernah rewel, apalagi jika perutnya sudah kenyang. Buktinya bayi itu hanya berceloteh sendiri meski tak ada orang dewasa yang menemani.


Jam menunjukkan pukul sembilan malam saat sosok Dadang pulang. Suasana yang sepi membuat Dadang mengintip ke kamar dan melihat Sandra tertidur, sedangkan bayinya Kania masih terjaga di samping sang ibu. Melihat hal yang terjadi di depan matanya, Dadang menggelengkan kepalanya. Sandra benar-benar sosok ibu yang ajaib. Bisa bisanya dia terlelap saat anaknya bahkan belum tidur,


" San !! Sandra !!" Dadang masuk ke kamar dan membangunkan Sandra dengan sedikit berteriak, namun tak ada reaksi dari sosok yang tengah dibuai mimpi itu.


" Sandra !!!"


Ditariknya tangan Sandra hingga Sandra terkejut dan segera terbangun.


" Apa sih Bang ? lembut dikit kenapa sih, sama istri kok kasar banget..!!"


" Salah sendiri, tidur kok kayak kebo, lagian kok bisa kamu tidur, saat Kania bahkan belum tidur,, "


" Hah aku pikir soal apaan, pakai bangunin segala, Biarin aja sih bang !! nggak nangis ini ...!"


" Huh.. Kamu itu San, aku pikir kamu ngantuk karena begadang. kalau kayak gini aku nggak yakin soal kerewelan Kania saat aku nggak tidur disini. Tingkah laku kamu aja begini ..!!"


Sandra cemberut, dan mengeluarkan buah dadanya untuk memberi Asi pada Kania..


" Loh, katamu ASImu seret ? Kok dikasihkan lagi. Terus itu susu formula yang di atas meja makan untuk apa?"


" Ya sudah kamu saja yang buat bang, aku ngantuk !!"


Dadang diam, dan meninggalkan Sandra yang kini menyusui Kania sambil matanya terpejam rapat..


Dadang keluar kamar Perutnya kini terasa lapar, Dia membuka tudung saji, dan menemukan mangkok lauk pemberian ibunya telah kosong. Padahal dia sama sekali belum mencicipinya.


Tak ingin memperpanjang masalah Dadang berniat membuat nasi goreng untuk mengisi perutnya, Dan Dadang lagi-lagi harus kecewa ,saat menemukan magic com nya hanya berisi satu sendok nasi yang mengering karena Magic com itu masih dalam keadaan menyala.


Dadang mengelus dadanya, rasa marah kini memenuhi rongga dadanya. kesabarannya benar-benar telah diuji oleh sosok Sandra.


Ditengah rasa panas menjalari hatinya, tiba-tiba Pintu kamar berbunyi dan sosok Sandra keluar dari kamar, istrinya itu menengadahkan tangannya pada Dadang,


" Ada uang bang ? aku laper, mau beli mie di warung tante !!"


" Kerjaan kamu di rumah ituu apa sih sebenarnya San ? Masa untuk basuh beras dan dimasukkan ke magic com saja kamu nggak bisa . Aku lapar loh ini..!!"


Sandra menurunkan tangannya dari hadapan Dadang,


" Aku juga laper loh bang ,!! Aku mengAsihi loh ini..!!"


Brakkk....!!!

__ADS_1


Dadang mengebrak meja dengan kuat, membuat Sandra berjingkat kaget , dan kini terdengar tangisan Kania dari dalam kamar..


Dadang segera melangkahkan kakinya keluar. Dia muak.


" Bang !!! mau kemana kamu ? Bang !!!,"


Sandra bersuara saat melihat Dadang berjalan cepat keluar. tak ditanggapi Dadang, Sandra malah berlari memanggil suaminya dengan kuat. Namun suara tangisan Kania menghentikannya, tak mungkin dia meninggalkan bayinya sendirian di rumah. Jadilah dengan lesu dia kembali lagi masuk ke kamar, mengendong bayi Kania dan kembali menyusuinya..


Sandra tak tidur lagi, sampai subuh. Dan Dadang pun tak kembali lagi, entah dimana lelaki itu tidur !!


***


Sandra tak sadar kapan ia tertidur lelap, ketika membuka mata dia menemukan matahari sudah tinggi dan cahayanya masuk melalui celah-celah kamar. Sandra beranjak, untungnya Kania masih tidur lelap.


Keluar dari kamar Sandra menemukan Dadang yang kini tengah menyusun baju-bajunya ke dalam kresek.


Hari ini Dadang memutuskan untuk bermalam di Dangau milik pak Haji yang ada ditengah-tengah kebun kopinya, Karena memang sudah musim panen kopi. Berhubung ramadhan maka bu Haji tak perlu menyiapkan bekal, dan Dadang akan memasak sendiri nanti. Keputusan ini diambilnya karena Dia sangat jengah akan kelakuan Sandra, bisa-bisa dia jadi gila jika setiap hari selalu saja disuguhi kelakuan ajaib istrinya itu.


" Mau kemana kamu bang ? Semakin hari kamu semakin kejam sama aku sebagai istri kamu.. pantes saja mbak Si..!"


" Apa ? Jangan bandingkan dirimu dengan ibu dari anak-anakku itu, ya San. Karena kamu tak akan bisa menyamainya, bahkan hanya seujung kuku.."


Dadang menatap murka pada Sandra.


" Aku sangat-sangat sadar, tapi tingkahmu yang seperti ini membuatku menyesal, telah mengantikan sosok bidadari dengan upil genderuwo macam kamu ...!"


Sandra menangis, dia tak menyangka jika Dadang tega membandingkan dirinya dengan Siti.


" Aku akan nginap di dangau pak haji. Sampai panen kopinya selesai..."


Dadang melunak, melihat Sandra kini menangis terisak dan memegang perutnya.


" Terus kami makan apa selama Abang di sana ?"


" Ini !!" Dadang memberikan uang dua ratus ribu kepada Sandra. " belajarlah berhemat, aku nggak mau mendengar kamu berhutang lagi sama mbak Fatma. Meski beliau itu tantemu tapi aku malu jika tak bisa membayarnya nanti..."


Sandra diam saja,menatap dua lembar uang merah itu dengan nelangsa.


" berapa lama Abang bermalam di sana ?"


" bisa seminggu, bisa dua minggu. Tergantung cuaca. .!!"


Dadang beranjak, kemudian pamit. Sandra menatap kearah Kania, Ada sedih di hati Sandra, karena hingga detik ini, Dadang hanya mau melihat wajah Kania, tanpa mau mengendong bahkan menyentuh tubuh mungil itu.


***

__ADS_1


" Aku nggak tahan lagi Tante !! Bang Dadang benar-benar bukan lelaki yang bertanggung jawab. pantas saja, mbak Siti ngotot bercerai, dia benar-benar minus ..!!"


Sandra memutuskan langsung ke rumah tantenya, ketika Kania bangun. Dia sangat lapar, tak perduli meski sang anak bahkan belum dimandikan..


" Aku kelaparan Tan !! Dan suamiku itu sama sekali nggak perduli.!"


Sandra sedang makan sekarang, namun mulutnya tetap saja bicara tentang keburukan suaminya.


Sedangkan Fatma terlihat tak perduli dan malah memberi susu pada cucunya Kania yang kini berada digendonganya.


" Te !! Kok diam saja sih ? Aku rasa yang kujalani sekarang itu bukanlah rumah tangga, melainkan rumah duka ..!!"


" Makan saja dulu San. Dengan datang kesini dan numpang makan di rumah Tante, Tante sudah tahu siapa yang sebenarnya salah diantara kalian ..!!"


Sandra tersenyum dengan mulut penuh nasi. Dia mengangguk-angguk, karena merasa tantenya akan mendukungnya.


Selesai makan. Sandra menemui tantenya yang kini berada di ruang tengah ,ternyata Kania sudah selesai dimandikan dan kini tengah dipakaikan baju oleh sang tante.


" Jadi Tante!! gimana ? Apa aku harus mengadukan sikap bang Dadang sama emak dan bapak agar dia berubah ?"


Tak ada respon dari sang tante membuat Sandra sedikit kesal karena penasaran " Te !!!"


" Apa ?!!!"


" Gimana dong !!"


" Emang kamu yakin, bukan kamu yang salah disini ?"


Fatma bertanya, matanya kini menatap lekat Sang keponakan.


" Kalau kamu benar, kamu nggak bakalan datang ke rumah Tante, dan numpang makan disini !!"


" Aku kan sudah bilang kalau aku kelaparan tan. Dan bang Dadang hanya ngasih dua ratus ribu untuk dua Minggu ...!!" Sandra menunjukkan uang itu pada Fatma.


" Memangnya di rumah kalian tak ada beras , dan juga bahan mentah untuk kamu masak sebagai lauk..?"


" Ada tan . Stoknya banyak. Tapi ..,"


" Tapi apa ? Kamu malas masak, dan maunya kamu , suami kamu yang masak, Iya ? Terus guna kamu sebagai istri itu apa ? Pantas saja Dadang marah. Jika tante ngelakuin hal itu pada om kamu. Detik itu juga tante akan ditalak.. Talak tiga ..!!"


Sandra terdiam sekarang, meski gengsi dia membenarkan ucapan sang tante .


" Jadi, suamimu itu pergi bekerja dengan perut lapar..?


Dan kamu dengan tak tahu malu, malah menyalahkannya,.!! kalau kamu mau ngadu ke mertua kamu silahkan. ..Tapi jangan menyesal jika mereka yang malah akan meminta anaknya untuk segera menceraikan kamu..!!"

__ADS_1


__ADS_2