Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Siasat Sandra , taktik Salsa


__ADS_3

Sandra tetap pergi mengunjungi mertuanya, namun bukan untuk mengadu seperti apa yang dia niatkan tadi. Dia hanya meminta simpati emak, agar bisa menambah uang belanjanya, emangnya uang dua ratus ribu dapat apa?


Apalagi kalau Dadang malah lebih dari satu Minggu menginap di dangau pak haji..


" Hai. tante Salsa sedang apa ?" Sandra menyapa Salsa yang duduk didepan laptop diruang tamu.


" Waalaikumsalam...!!" Ujar Salsa tak menyahuti pertanyaan Sandra


" Iya Assalammualaikum..!" Sandra mendudukkan diri di samping Salsa. Meski agak jengkel akan sindiran halus adik iparnya itu.


" Emak mana te ?"


Salsa menatap aneh kakak iparnya, tumben manis begini.


" Ada. Lagi istirahat di kamar! kenapa Mbak ?"


" Minta uang !!" Ujar Sandra tanpa dosa, sementara Salsa menghentikan ketikan jemarinya pada keyboard.


" Untuk apa ? dan kenapa minta ke emak ?"


" Untuk biaya makan mbak dan Kania..!! Abangmu sedang bekerja di kebun pak Haji. Karena uangnya sudah lebih dulu diambil buat jajan anak-anak Siti. Jadinya mbak nggak dikasih uang, dan ditinggalkan begitu saja..!!" Sandra memasang wajah sedih, berharap simpati dari adik iparnya ini. Lumayan kan jika Salsa juga memberinya uang, Sandra tahu meski selalu berada di rumah Salsa punya gaji setiap bulannya..


Sementara Salsa menatap curiga pada sosok yang kini tampak sedih itu. Masa iya abangnya sekejam itu pada Sandra dan bayinya.


" Mbak yakin ? "


" Kamu nggak percaya sama mbak Sa, kamu pasti mikir mbak nggak tahu malu karena datang kesini. Tapi mau gimana lagi, hutang kita sama Tantenya mbak sudah menumpuk. Mbak agak sungkan jika harus ngutang lagi, sementara bon yang lama tak berkurang sedikitpun.."


Salsa menatap Kania sekarang, bayi itu sangat cantik, mirip ibunya . Mudah-mudahan tingkah lakunya kelak tak ikut ibunya, yang penuh drama dan licik.


" Kalau begitu biar aku telpon bang Dadang dulu ya mbak !! "


Salsa mengeluarkan benda pipih dari sakunya dan mulai mencari nama Sang kakak.


" Ehhh..Sa..!!! " Sandra merebut hape Salsa dan menyembunyikannya dibelakang tubuhnya " Jangan telpon abangmu !! Nanti dia malah pulang dan semakin marah sama mbak. Sebenarnya kita lagi marahan. Karena mbak protes soal pemberiannya pada Rama dan adik-adiknya. Mungkin itu juga sebabnya dia nggak kasih mbak uang. kalau dia tahu mbak kesini dan cerita semuanya sama emak dan kamu. Mbak akan semakin dibenci sama Abangmu Sa !!"


Sandra menangis , sangat keras hingga terdengar oleh emak Lastri,


Salsa tersenyum kecut, pasti ini cuma alasan saja, sudah terlalu sering dia mendengar kebohongan dari bibir Sandra dan tentu saja semuanya masih segar dalam ingatannya, Dan tabiat buruk seperti ini akan sulit untuk dirubah apalagi tidak ada tindakan untuk menghentikan semua kebohongan ini, sebagai efek jera...


" Loh kamu kenapa San ? Kok nangis, kamu apakan mbakmu Sa ?" Emak datang dengan tergesa, matanya seolah menuduh anak gadisnya yang membuat Sang menantu menangis.


" Ehh ..Kok aku sih mak !! aku nggak ngapa-ngapain mbak Sandra kok..tanya aja tuh sama orangnya .."


Salsa menatap Sandra yang malah semakin menangis kencang !

__ADS_1


" Sudah Mbak. Kalau mau minta uang ke emak minta saja. Aku nggak bakalan telpon bang Dadang . Sini balikin hapeku, aku dikejar deadline nih..!!" Salsa menengadahkan tangan didepan Sandra dan dengan cepat ibu muda itu mengembalikan hape iparnya yang sempat dia sembunyikan dibelakang tubuhnya..


Emak memandang kelakuan kedua perempuan didepannya dengan pandangan bingung, jadi apa sebenarnya yang membuat menantunya menangis, dan apa maksud Salsa yang bilang minta uang dengannya ?


" Kenapa San ? Uang Apa yang dimaksud Salsa. .?"


" Uang belanja dan pegangan aku selama bang Dadang menginap di dangau pak Haji , Mak !! Bang Dadang abai akan nafkah untuk kami, aku kesini mau minta ke emak sebagai anak, nggak apa emak berpikiran buruk tentangku, yang jelas aku butuh uang mak. Kalau tidak datang kesini, aku mau kemana lagi. Tante Fatma sudah sering aku repotkan, jika terus-terusan hutang sama beliau, beliau bisa bangkrut mak !!"


Emak mendesah panjang, menatap menantunya yang kini tampak menunduk dihadapannya. Kenapa bisa dia dihadapkan dengan situasi seperti ini. Jelas-jelas kemarin malam Dadang datang kesini, meminjam uang padanya untuk memberi uang pada Sandra selama dia ikut pak Haji. Tapi sekarang ? Kedatangan Sandra disini , membuatnya bingung. Siapa sebenarnya yang sedang membuat drama.


Kalau memikirkan Dadang tentu saja dia akan lebih percaya akan anak kandungnya itu, tapi dia tak menemukan raut kebohongan dari Sandra sekarang .


" Kamu butuh berapa ?" Emak mengalah pada rasa ragunya, dia pernah memperlakukan menantunya dengan buruk, akibat terlalu percaya akan ucapan Dadang, dan kini anggap saja dia sedang memperbaiki semuanya sekarang..


Mata Sandra berbinar, ingin sekali mulutnya menyebutkan nominal tapi


" Berapapun. Asal Emak ikhlas , Sandra akan terima ..!!"


Emak mendesah lagi. kemudian beliau beranjak masuk ke kamar, melewati Salsa yang ternyata menguping.


" Berapa itu mak ?" Salsa menodong sang ibu dengan cepat, tepat ketika Emak keluar dari kamarnya.


" Tiga ratus,..!"


Salsa masuk ke kamarnya, tak lama dia telah kembali lagi dengan sebuah amplop ditangannya. Salsa mengandeng Emak dan duduk di samping Sandra .


" Ini Mbak, diterima yah !! Salsa sudah tambahin kok buat jajan Kania..!"


" Kamu itu ada-ada saja , Sa !! Kania kan belum ngerti jajan, .." Emak protes namun tersenyum lembut.


" ya maksudnya susunya Mak..hheheh!!"


Sandra ikut tersenyum karena emak tersenyum. Dia agak curiga akan tingkah Salsa, namun tak tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh gadis itu.


" Eh gimana kalau selama bang Dadang bermalam di kebun, mbak Sandra tinggal disini saja..!!" Salsa mengusulkan itu dengan antusias, menunjukkan diri bahwa dia adalah ipar yang baik dan perduli.


" E.. ehe.. Itu.. a ..aku kayaknya nggak bisa deh Sa, takut Kania malah bikin sekeluarga jadi begadang, soalnya dia rewel kalau malam.. Iya ..Itu.. Maaf ya .. !!"


" Ohh...Jadi nggak bisa ya mbak, padahal disini bakalan banyak yang momong Kania loh..


Tapi kalau mbaknya nggak nyaman ya mau gimana !!"


Sandra tak menjawab lagi, dia malah memandang kearah emak yang diam saja sedari tadi, rupanya mertuanya itu sedari tadi menatap lekat kearah bayi Kania.


" Rawat anakmu baik-baik San. Tak semua perempuan bisa merasakan nikmatnya menjadi ibu !!" Emak menatap tepat kearah mata Sandra, membuat Sandra tersentuh. Dan mencium sang anak dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Salsa mengelus pundak emak, dia sangat tahu jika saat in Istri abangnya Agung yang telah menyedot perhatian dari ibunya itu. Memikirkan sakitnya seorang wanita yang harus diangkat rahimnya bahkan sebelum dia sempat merasakan hamil, apalagi melahirkan, tentu saja menjadi pikiran Emak sebagai ibu dari pihak lelaki.


" Iyah Mak. mudah-mudahan aku tetap Istiqomah menjaga peri kecilku ini ..!!"


Emak tersenyum, Salsa juga tersenyum . Dia sebenarnya takjub Sandra bisa memakai topeng sebanyak ini..


" Aku pulang dulu ya, mak !!Mau masak soalnya belum masak, karena nggak punya uang buat beli sayur mentahnya ..!!"


Emak mengangguk, kemudian mengantar sang menantu sampai ke depan pintu. Dia juga sempat mencium bayi Kania, merasakan harum khas bayi yang telah lama tak dia rasakan.


Sandra melangkah pulang dengan perasaan lega, setidaknya Emak tak bersikap seperti Salsa yang menginterogasinya terlebih dahulu. Dia pulang dengan senyum penuh, membayangkan besarnya nominal pemberian Emak dan Salsa. Dirabanya lagi amplop yang berada di sakunya dengan perasaan senang.


Kemudian cepat-cepat dia pulang ke rumah Dadang.


Sesampainya di rumah dia segera meletakkan Kania kedalam ayunan, karena sedari tadi Kania memang tertidur.


Masih dengan wajah tersenyum Sandra membuka Amplop itu, dan tulisan tangan dengan huruf kapital kini berada diurutan paling atas lembaran kertas itu.


-TOBATLAH MBAK !! ingat ini bulan puasa nggak baik jika berbohong sama orang tua. Nih buat jajan cilok semoga berkenan...-


Yah, Ternyata isi amplop yang tebal itu hanyalah potongan kertas , hanya ada uang tiga puluh ribu yang terselip di sana. Membuat dada Sandra terasa terbakar akan amarahnya sendiri,


" ARRRGHh..IPAR Sialan.....!!!" Sandra berteriak tertahan, tak ingin membuat bayinya terbangun.


Sementara itu kini Salsa sedang tertawa terbahak-bahak,membayangkan ekspresi Sandra akan apa yang dia terima dalam amplop itu.


Saat emak berbicara dengan Sandra tadi, Salsa sengaja mengirim pesan pada Dadang, menanyakan apakah Sandra punya uang selama dia berada di kebun pak haji.


[ Loh, bukankah emak sudah tahu kalau Abang ngasih dua ratus ribu ke mbakmu itu Sa ? Uangnya juga Abang pinjam sama emak kemarin ]


Memang Salsa mengunakan nama Emak saat menanyakan perihal uang nafkah itu dan Jawaban Dadang melalui pesan itulah yang menjadi dasar tingkah Salsa terhadap Sandra.


" Rasain makan tuh kertas...hahahhahah!!"


" Kamu kenapa Sa ? kesambet !!!" Emak melihat kedalam kamar anak gadisnya dengan khawatir, karena mendengar tawa penuh kegembiraan Salsa yang tak biasa..


" Ehh Enggak kenapa-napa mak..! Salsa lagi nonton kartun ini hhihihihiih!"


" Oh kirain Kamu kesambet karena keseringan mengkhayal untuk novelmu !!"


Salsa menatap wajah emak yang tanpa dosa saat mengatakan hal itu padanya. Tawanya tiba -tiba berhenti seketika


" Nggak lucu mak.. Lagian ucapan itu do'a loh mak !!"


Lastri malah tersenyum melihat wajah cemberut Salsa " Emak bercanda doang kok Sa hahhah!!"

__ADS_1


__ADS_2