Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Bunda Elis


__ADS_3

Kepergian Siti membuat Dadang juga pamit pada anak-anaknya untuk pulang kerumahnya mengambil baju ganti . ketiganya sebenarnya ingin ikut dengan Dadang, namun dialihkan Salsa dengan hal lain karena dia tak ingin jika Sandra menyakiti ponakan-ponakannya ini. mengingat sifat Sandra bukan suatu hal yang mustahil jika perempuan itu akan melakukan hal nekad dan tak terduga. Jadinya dia malah mengajak Dio dan Bara jajan, sedang Rama yang sedang puasa. Memilih tak ikut.


" Ayah janji nggak bakal sampe satu jam. Jadi kalian tunggu disini saja yah?"


Rama ingat dengan jelas akan ucapan Dadang, dia juga seolah diingatkan tentang sosok ibu tirinya.


" Te, Apa dedek bayinya sudah lahir ?"


Elis yang ditanya oleh Rama, kini malah menunjukkan wajah bingung. Dia memang tahu jika Dadang sudah beristri lagi, dan sekarang istrinya sedang hamil tapi dia sama sekali tak tahu menahu, apakah istri dari iparnya itu sudah melahirkan atau belum.


"Kok Te sih Rama. Panggilnya bunda dong !. .


Soal itu, bunda nggak tahu nak, nanti kita tanyakan langsung sama Ayah saja ya !"


Rama mengangguk dan melanjutkan lagi permainannya yang sempat ditunda.


***


Dadang sampai di rumah dengan disambut oleh Sandra yang berdiri didepan pintu , sementara Kania kini tertidur lelap dalam ayunan.


Dadang memang memilih mengikuti saran emak dan bapak. Dia menjemput Sandra dan anaknya. Mencoba menerima dan berdamai dengan takdir. Mereka telah menikah kembali sesuai usulan Bapak.


" Gimana Dio bang, sudah sembuh ?"


Sandra mengikuti langkah Dadang, sementara suaminya itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Melihat Dadang memasukan pakaiannya kedalam kresek berukuran sedang, membuat Sandra jadi Panik. Dia dilanda pikiran negatif takut Dadang pergi meninggalkannya


" Loh bang, mau kemana ? Kok malah bawa baju ?"


" Aku mau nginap lagi di rumah emak. Anak-anak sekarang menginap lagi di sana. Dio juga ada..!"


" Bang!!! " Sandra memasang wajah lelah


"Kania kalau malam rewel, aku sampai kewalahan semalam. Aku ngantuk tapi nggak ada yang gantiin.." Sandra malah mengeluh, membuat Dadang menghentikan tangannya yang ingin memasukan ********** kedalam kantung kresek.


" Lagian , di sana kan ada Salsa emak, dan juga bapak. sementara aku disini sendiri Bang.. Kamu mestinya lebih perhatian ke aku.."


Gigi Dadang kini bergemerutuk, dia jelas saja emosi akan ucapan tak tahu malu dari Sandra..

__ADS_1


" oh Jadi, kamu mau bilang jika anak-anakku itu tak lebih penting dari kamu dan anak haram kamu ini ? jangan ngelunjak Sandra. Masih untung aku menerima kamu dan anakmu kembali di rumah ini. Jika bukan karena Bapak dan Emak aku lebih memilih hidup berempat dengan anak-anakku. Mereka juga hanya sementara disini, Aku rindu sama mereka. Aku lebih damai hidup berdampingan dengan mereka daripada hidup denganmu dan bayi yang tak jelas asal usulnya itu..!! Dan kamu harus ingat, ini rumah anak-anakku. . !"


Sandra sekarang malah gelagapan. Dia tak menyangka jika Dadang mengucapkan kata kejam seperti itu tepat didepannya.


" Dan lagi, jika ngantuk !! Kamu seharusnya tidur saat anakmu itu tidur bukan malah berselancar di dunia maya..! sekarang mana hape ku ? aku ingin video call dengan Siti sesuai pemintaan anak-anakku!"


" Loh bang kenapa dibawa, aku nggak bisa kalau tanpa hape bang. gimana kalau mati lampu, kamu kan bisa pinjam sama Salsa kalau anak-anak butuh, aku sendirian loh bang disini. Mana ada bayi lagi.. .. !"


Sandra tak melanjutkan ucapannya saat melihat Dadang mencari sendiri keberadaan benda pipih itu.


Setelah ketemu, Dadang segera pergi, tak perduli akan Sandra yang tampak menangis. di samping ayunan bayi Kania.


Dadang tak perduli akan banyaknya notifikasi yang masuk ke hp miliknya..


Dia tetap melangkah dengan cepat menuju ke rumah emak. Karena dilihatnya waktu telah berlalu hampir satu jam ,dia tak mau jika dia malah ingkar janji pada anaknya hanya karena soal sepele seperti ini.


Dadang masuk tanpa salam, Membuat semua Anggota keluarga yang sedang berkumpul diruang keluarga kini menatap kearahnya


" Dang ! Dang . Jika kamu nggak tahan puasa , sebaiknya kamu hormati orang lain. Siang-siang gini malah merokok. nggak malu kamu sama umur dan anakmu Rama..!!"


Emak menatap Dadang yang santai menghisap rokok disela bibirnya. kemudian mengalihkan pandangan kearah Rama.


Dadang yang ditatap Emak dan putra sulungnya ,kini memilih untuk membuang puntung rokok pada asbak yang ada dimeja. saking emosinya dia dengan Sandra tadi. Dia melupakan jika sepanjang jalan dia malah merokok, sedangkan ini adalah bulan suci Ramadhan.


" Maaf !!!"


Dadang seolah tengah ditelanjangi didepan anak-anaknya sekarang.


Rama masih menatap lekat sosok Dadang yang kini memilih duduk didekatnya.


" Yah. Dedek bayinya sudah lahirkah ? Perempuan atau laki-laki ?"


Dadang tersedak ludahnya sendiri, tak menyangka jika Rama menanyakan soal ini padanya.


" Sudah bang !! perempuan.."


Rama kini mengulurkan tangannya pada Dadang, meski heran. Dadang tetap menyambutnya dengan senyuman.

__ADS_1


" Selamat ya yah. Akhirnya Ayah punya anak perempuan.."


" Oh itu. Anak itu bukan...!"


" Iyah Bang. Kenapa ? Abang mau ketemu ?" Nurdin memotong ucapan Dadang dengan kesal. Meski belum mendengar apa yang akan diucapkan Dadang , Nurdin tahu jika Dadang akan mengatakan hal yang tidak baik, meski itu adalah kebenaran.


" Emang boleh yah ?" Rama kembali menatap sang Ayah. Dapat dilihat dengan jelas jika Rama berharap Dadang akan mengizinkannya.


" Soalnya kan. Abang nggak sempat lihat wajah adik perempuan abang waktu itu !"


Kini wajah itu berubah menjadi sedih. Membuat mata Dadang kini berkaca-kaca.


" Bo..boleh kok Bang !!" Dadang menelan ludah dengan susah payah saat izin itu keluar dari bibirnya.


" Tapi, Tante nggak marah lagi kan sama Rama, soal waktu itu ?"


Rama menunduk, Ingatannya masih merekam jelas saat dia mengamuk karena tak terima akan kehadiran Sandra , sang ibu tiri.


" Enggak akan sayang. sekarang kalian segalanya buat Ayah. Maaf karena selama ini ayah sempat mengabaikan kalian. Dan juga tak mencukupi kebutuhan kalian lagi.."


Dadang dan Rama berpelukan, Seolah sudah lama tak bertemu.


" Maafkan Ayah nak.."


Agung dan Elis kini ikut menangis , mereka bisa merasakan seberapa besar kasih sayang yang ada diantara Ayah dan anak itu.


Tapi yang membuat mereka menangis karena semua hal yang mereka lihat saat ini, tak akan mereka rasakan secara langsung.


mengingat hal itu, Elis malah semakin terisak di pelukan Agung,suaminya.


" Dek, sudahlah !! kamu kan sedang puasa !"


Elis mengerjapkan matanya berkali-Kali. mencoba menetralkan rasa panas dimatanya, agar tidak lagi mengeluarkan air mata ..


Rama yang melihat itu kini mendekat kearah Elis dan Agung .


" Bunda kenapa ? Ada ucapan Rama yang salahkah ?"

__ADS_1


Rama bertanya polos, matanya menatap tepat di manik basah milik Elis. Bukannya berhenti , tangis Elis semakin menjadi. Dia dengan cepat memeluk Rama, sambil menangis.


" Bunda nggak kenapa-napa sayang !!!"


__ADS_2