
Dadang kini duduk termenung didepan televisi rumah emak. matanya menatap televisi, namun tatapannya kosong. Seiring air mata yang kini mengalir deras,
Hatinya sangat sakit sekarang, hingga ia tak sanggup jika harus menyaksikan kepergian Siti dan anak-anaknya. Meski telah dinasehati oleh Emak dan juga Bapak, tetap saja. Dadang memilih diam disini, meratapi nasib buruk yang sejatinya memang berasal dari kesalahan dirinya sendiri.
Entah berapa lama dia duduk diam disini. Tapi yang jelas kini Emak dan Bapak juga Salsa telah kembali pulang ke rumah.
"Sebegitu nya Abang sama anak-anak sendiri. kok bisa malah diam disini sementara anak-anak nanyain keberadaan Abang.."
" Sa, sudahlah. Biarkan abangmu tenang dulu. jangan buat dia semakin tertekan.." Emak menengahi karena Dadang tampak bergeming dan masih diam dengan tatapan kosong.
" Tenang gimana ? sekarang saja begini, seolah Abang adalah orang yang teraniaya, orang yang paling merasakan sakitnya perpisahan ini. .
Kemarin-kemarin kemana ?
Apakah segini saja, cinta abang sama mbak Siti dan anak-anak ? Abang boleh sedih, tapi pikirkan juga anak-anak, mereka tadi nanyain abang. jangan salahkan mereka jika yang mereka ingat hanyalah tabiat buruk abang sebagai ayahnya. Dan mereka nggak hormat lagi keabang nantinya.."
Salsa lagi-lagi berucap pedas, mencoba menyadarkan sang kakak dari tingkahnya yang keliru.
" Abang telah gagal Sa, abang gagal jadi suami yang baik. Abang benar-benar merasakan sakitnya sekarang.."
Salsa mencelos, mendengar ucapan Dadang seolah sedang minta ditertawakan olehnya.
" Ya, Abang telah gagal menjadi suami yang baik. Tapi ? Apakah abang juga akan pasrah saat gagal juga menjadi ayah yang baik bagi anak-anak abang..!Mumpung masih ada waktu, setidaknya Abang pikirkan ini , dan mulailah memperbaiki diri.."
Suara Salsa terdengar semakin pelan. Bukannya dia menyalahkan, tapi sepertinya. Dadang perlu untuk selalu diingatkan. Agar tak terlalu larut dalam sesal yang berkepanjangan.
Bapak dan Emak kini duduk terdiam, Salsa putri mereka ternyata telah dewasa.
Nurdin kini menghela nafas panjang, menatap penuh arti pada Dadang
" Benar kata adikmu Dang ? berhentilah meratapi nasib dan mengabaikan anak-anakmu, usahakan telpon mereka jika kamu sudah siap. Karena sejatinya, mereka pasti masih mengharapkan kamu untuk menyapa. Walaupun hanya lewat telpon.." Nurdin menyentuh pundak Dadang, berharap perkataannya kali ini di tanggapi dengan baik oleh Dadang.
***
Hari-hari kini dilewati Dadang dengan giat bekerja, setiap Minggu hasil dari keringatnya ia kirimkan ke rekening Siti, sebagai nafkah pada anak-anaknya.
Meski begitu, Nurdin masih mengkhawatirkan Dadang, yang kini lebih banyak diam. Tak hanya sekali dua kali Nurdin memergoki Dadang menangis ditengah aktifitasnya.
" Dang. Kamu kenapa ? Kamu rindu sama anak-anak ?"
__ADS_1
memang sudah sebulan berlalu tanpa terasa. Wajar jika Dadang merindukan anak-anaknya..!!
" Dadang nggak bisa bilang apa-apa pak !! Dadang rindu, tapi apakah Siti mau menerima jika Dadang datang ke sana..?"
Mata itu menerawang jauh, mengingat ketiga jagoannya..
"Pasti Siti mengerti Dang. Kamu kan tahu tabiat mantan istrimu itu seperti apa ?"
" Tapi aku malu pak... Dadang malu..."
Nurdin terdiam, mendengar isakkan yang lolos dari bibir Dadang, entah kenapa hawa sedih masih saja sangat pekat menghampiri Dadang.
" Kamu harus bisa tegar Dang, karena waktu tak bisa menunggumu untuk menjadi kuat ..Waktu akan tetap berjalan, jadi jangan siksa dirimu sendiri dengan terus meratapi nasib.."
Dadang kini memeluk Nurdin, mencoba mencari kekuatan lewat pelukan lelaki yang bergelar Bapak tersebut.
"Makasih Pak, andai saja, Dadang mau sedikit mengalah dengan Ego dan semua gengsi. Pasti kejadiannya tak akan seperti ini"
"Pergilah Dang, temui anak-anakmu !! Mereka pasti merindukan sosok Ayahnya.."
Sementara kini Siti dan anak-anak hidup dengan damai, Siti menyibukkan diri menulis novel disebuah platform online, membuka dokumen yang lama tersimpan dan mempublikasikannya. Sebenarnya ini adalah dorongan dari Salsa, karena Salsa sendiri mengaku telah menghasilkan banyak rupiah dari hasil menulis hingga dia bahkan telah menerbitkan dua buah Novel cetak yang best seller.
" Eh ... Fian kok Bara bisa sama kamu ? "
Siti yang tengah fokus menyusun kalimat pada novelnya, kini mengalihkan pandangan karena suara si bungsu Bara.
" Iya nih. Disuruh bude nganter kesini katanya Bara ngantuk belum tidur siang..!!!"
" Loh, emangnya bude kemana ?"
Siti mendekat kearah Fian, mengambil bocah yang semakin hari semakin gembul itu dari gendongan Fian.
" Bude, Ada urusan sedikit tuh di rumah tetangga makanya, aku disuruh duluan.."
Kini suasana hening, meski bukan sekali dua kali mereka dipertemukan karena Fian masih tetap menjadi pemborong sawit, termasuk sawit milik bude. Tapi, entah kenapa Siti merasa tak nyaman jika berhadapan dengan lelaki itu. padahal dulu dia tak seperti ini jika didekat Fian.
" Bara sudah ngantuk tuh ,Ti !!
nggak papa kok kalau kamu nemenin dia tidur dulu. .Aku tunggu disini aja, soalnya aku ada perlu sama bude, oh ya, aku boleh duduk disini kan ?"
__ADS_1
Siti mengangguk tak enak hati, Dia sama sekali tak sadar jika telah mengabaikan Fian dengan tidak mempersilahkan lelaki itu duduk.
Siti juga akhirnya duduk dengan canggung. Memilih menidurkan Bara di pangkuannya. Tak enak juga kalau meninggalkan Fian disini sendiri.
Suara deru mobil mengalihkan perhatian mereka. Sosok yang turun dari mobil itu menarik perhatian Bara..
" A..yah...!!!" Bara meminta turun dengan tak sabaran, melangkah cepat menuju Dadang yang nampak datang dengan banyak kantung belanjaan dikedua tangannya.
Melihat Bara berlari kearahnya dengan sigap Dadang menyambutnya, mengendong putra bungsunya itu dan meletakkan kantung yang tadi dibawanya begitu saja di tanah..
Adegan itu membuat Siti terharu, tak sadar matanya kini malah melelehkan butiran bening tanpa bisa dia cegah. Dia mendekati Ayah dan anak yang tengah melepas rindu itu, mengambil barang yang dibawa Dadang dan mengajak mantan suaminya itu untuk masuk kedalam.
"Ayo Bara. Ajak Ayah kedalam ya..Disini panas soalnya.."
Siti mengisyaratkan Dadang untuk mengikutinya, dan ditanggapi dengan baik oleh Dadang. Segera dengan masih mengendong Bara dia masuk kedalam, Tak lupa menyapa ramah sosok Fian yang sedari tadi ikut berdiri seolah menyambut kedatangannya.
" Fian. Ayo masuk.. Nunggu bude nya didalam aja.."
Siti bersuara, kehadiran Fian serasa penyelamat baginya bagaimanapun dia tak nyaman jika harus berdua saja dengan Dadang didalam.
Fian menurut, seolah mengerti akan perasaan Siti.
" Rama dan Dio mana dek ?"
Dadang bertanya dengan tenang, meski sejujurnya kehadiran Fian mengusik hatinya. Kenapa seolah lelaki ini menjadi pengawal bagi Siti. Ataukah memang mereka telah punya hubungan spesial, apakah semudah itu Siti membuka hati ?
" Tadi ikut bude , main ke tetangga. Katanya bentaran doang, paling juga sebentar lagi pulang..Ini juga Fian lagi nungguin bude.."
Kemudian suasana menjadi hening, hanya Dadang yang kini sibuk mengajak Bara bermain dengan mainan baru yang tadi dibawanya sebagai oleh-oleh.
Tak begitu lama, akhirnya bude pulang juga, pun Rama dan juga Dio. melihat sosok sang ayah. Sontak saja keduanya merasa bahagia dan dengan cepat menghambur ke pelukan Dadang.
Air mata Dadang kini tumpah, dia tak menyangka akan disambut seperti ini oleh anak-anaknya.
Sesal semakin menguasai dirinya, membuat dia kehilangan rasa malu karena menangis didepan Fian, yang notabene orang asing.
" Kendalikan dirimu Dang ! Tidak baik bagi anak-anak jika melihatmu seperti ini.."
Teguran bude menyadarkan Dadang, segera ia menghapus air matanya. Dan menciumi anak-anaknya bertubi-tubi..
__ADS_1