
sepanjang perjalanan pulang Siti memilih untuk diam. Dia sangat lelah dan juga mengantuk, namun seluruh perhatiannya kini tertuju pada Dio,meski dokter bilang jika Dio bakal baik-baik saja, tapi tetap saja rasa khawatir memenuhi jiwanya.
Akhirnya mereka sampai didepan rumah bude, dapat dilihat oleh Siti jika pintu rumah kini terbuka lebar.
" Terima kasih ya ,sudah mau jenguk Dio dan nganterin aku !!"
ucapan Siti terdengar Formal, membuat Fian merasa jika dirinya telah membuat wanita itu tak nyaman. Entah karena apa lagi, apakah ini berhubungan dengan kondisi Dio ? Sungguh sampai detik ini Fian tak terbiasa akan sikap dan sifat Siti yang penuh dengan kejutan.
Siti segera keluar dari mobil Fian, didalam dilihatnya Bara dan Rama tengah fokus nonton tv dengan banyak cemilan didepan Mereka. Bahkan si kecil Bara wajahnya kini hampir seluruhnya belepotan coklat. Ada senyum samar dibibir Siti,
Aini dan Rama sontak berdiri menyadari kehadiran Siti.
" Gimana Dio mbak ? "
Belum juga Siti membuka mulutnya. Suara langkah kaki kini mendekat.
" Kamu mandi sana , Ti !! Biar aku yang jelaskan kondisi Dio sama mereka.." Fian datang, membuat Siti segera menuju Kamarnya untuk mengambil baju ganti untuknya , dan juga memasukan beberapa lembar baju untuk ganti di rumah sakit nanti.
Semua kini selesai, Siti segera menuju kamar mandi setelah sebelumnya meletakkan baju gantinya dikamar anak-anak. Letak kamarnya yang pintunya tepat di samping ruang Tv membuatnya tak nyaman jika harus masuk kamar dengan tubuh hanya berbalut handuk.
Sementara menunggu Siti, kini Fian memangku Bara. Rupanya bocah itu tak lagi berminat dengan aneka jajanan yang merupakan pemberian dari Fian, sebelum dia ke rumah Siti pagi tadi.
" Sudah sayang ? " Fian bertanya lembut pada sosok Bara dan mengelap wajah penuh coklat itu dengan tisu basah yang memang selalu tersedia di rumah bude.
" Sudah. Bara ngantuk om !!" Mata itu langsung terpejam, sambil tangannya memeluk Fian dengan erat.
Fian diam saja, namun tangannya bergerak mengelus punggung Bara, membuat Bara semakin terbuai akan rasa kantuk.
Sementara Aini kini membersihkan ruang tv bude agar tak berantakan lagi. Bungkus Snack yang telah kosong Aini letakkan dalam satu kantung kresek, pun dengan cemilan yang belum dibuka dia letakkan dikresek terpisah.
" Bang kok lesu ? " Fian kini menyapa Rama yang tampak menyender pada sofa, wajahnya pucat dengan mata sendu.
" Abang puasa om !!"
__ADS_1
" Oh .. Abang kuat ?
Belum juga Rama menjawab Siti sudah keluar dari dalam kamar anak-anak. Jelas terlihat jika ibu tiga anak itu, tak sempat memakai bedak. karena wajahnya kini nampak polos dengan rambut dicepol asal.
"Ayo Yan. Nanti Dio nyariin aku!!"
Siti mendahului Semua orang didalam rumah itu dan langsung membuka bagasi mobil Fian. meletakkan tas yang cukup besar di sana. Tas yang juga berisi pakaian Rama dan Bara yang bakal menginap di rumah sang nenek..
Kini mobil mulai melaju, jika tadi Fian yang jadi sopir , maka. kini Rama lah yang diminta Fian untuk menggantikannya. Karena dia memangku Bara yang masih tertidur pulas.
Melihat Bara dipangkuan Fian, Siti berniat mengambilnya, namun Fian menolak dengan alasan Bara sudah nyaman . Kasihan kalau harus diganggu..
" Abang kok lesu ?" Siti menatap Rama si sulung. Tak biasanya anak pertamanya itu terlihat se lesuh ini !
" Abang sakit ?"
Rama menyingkirkan tangan Siti yang menyentuh dahinya. Merasa tak nyaman.
" Nggak Bu ! Rama kan puasa .."
" Ya Allah bang. Maaf ya , ibu sama nenek nggak bangunin kamu buat sahur ! Abang bisa batalin puasanya kok kalau nggak kuat ..!"
Siti menatap jam dihape miliknya, hampir pukul satu siang.
" Enggak Bu !! Rama kuat kok. Kan sudah janji sama ibu untuk puasa full tahun ini.."
Siti kini malah hendak menangis mendengar jawaban sang anak. namun ditahannya dia mengalihkan rasa terharunya dengan memeluk Rama erat.
" Oke !!! Tapi kalau Abang nggak kuat, jangan takut bilang ke ibu Ya .. Insya Allah, Allah sudah mencatat amalan puasa Abang hari ini. Meski buka sebelum beduk maghrib.."
" Iyah bu !! Rama bakal ngomong kalau Rama nggak kuat lagi " Rama menunjukkan giginya yang rapih pada Siti. Menularkan senyum yang sama pada wajah yang masih cantik walau tak tersentuh bedak itu.
Semua orang dalam mobil ikut tersenyum, bahkan Rama dan Aini yang mendengar pembicaraan anak dan ibu itu, kini menyimpan kagum pada sosok Siti. Karena berhasil mendidik putranya dengan baik.
__ADS_1
Sesampainya didepan diruang rawat Dio, ternyata semua orang kini berkumpul di sana. Hanya sosok Dadang yang tak terlihat.
" Dio sudah bangun Bude ?"
"Bangun sebentar buat makan tadi, tapi sekarang sudah tidur lagi."
Siti segera masuk kekamar rawat Dio. Dan melihat Dadang yang kini tampak menangis dihadapan putranya, sepertinya mantan suaminya itu tak menyadari kehadirannya di ruangan ini !! Tak ingin menganggu Siti tetap diam saja dan memilih keluar dan memanggil Fian yang masih mengendong Bara. Menyuruh lelaki itu untuk meletakkan Bara yang masih tertidur di atas Sofa yang tersedia dikamar ini.
Setelah memastikan Bara tertidur dengan nyaman. Siti kembali menatap ke Dio. Dan menemukan jika Dadang kini berdiri dibelakangnya. Pria itu menatap kearah Fian yang juga menatapnya. Tak berapa lama Fian tersenyum ramah, mencoba mencairkan suasana yang terasa canggung !!
" Bang. Kalau lelah biar aku saja yang jaga Dio disini ? Atau kamu mau makan siang dulu, silahkan !!" Siti tak bermaksud merendahkan Dadang dihadapan Fian. Tapi setahunya Dadang memang tak pernah mau jika diminta puasa. karena tak tahan jika mulutnya tidak merasakan nikotin dari benda yang disebut rokok, benda perusak organ tubuh yang paling populer.
Dadang tak menjawab Siti. Dia memilih berjongkok didepan Sofa dimana Bara tertidur lelap. Dengan pelan Dadang mengelus kepala Bara, dan menciumi wajah itu dengan lembut.. Dia sangat-sangat rindu dengan putra-putranya tapi. Jarak dan biaya menjadi kendala yang sangat menyulitkan Dadang. Meski diliputi rasa sedih namun ada rasa syukur yang dirasakan hati Dadang karena dapat menyentuh dan memeluk anak-anaknya.
" Rama mana Dek ?"
Ada getar aneh yang dirasakan Siti ketika Dadang menyebutkan panggilan saat mereka masih sah menjadi suami istri, namun Siti cepat-cepat menepisnya.
" Ada didepan . Sama Bude !!"
Dadang berdiri setelah sebelumnya dia mencium lama kening Bara.
Meninggalkan Fian dan Siti berdua di ruangan ini. Mendadak keduanya bertingkah canggung Namun kecanggungan itu tak berlangsung lama karena kini Aini dan juga Rama masuk, berniat melihat keadaan Dio.
" Syukurlah suhu badannya sudah normal ya mbak..!! mudah-mudahan nggak terlalu lama nginep nya, dan Dio bisa pulang dengan cepat !!!" Aini berucap tulus , saat tangannya menyentuh dahi Dio. Melihat wajah damai anak dari Siti itu membuatnya tersenyum .
" Aamiin..!! makasih Na, kalian juga. ."
Siti menatap ketiga orang dewasa itu bergantian.
" Maaf ya dari kemarin saya selalu merepotkan..!!"
Siti berucap tulus namun ada nada segan diakhir kalimatnya.
__ADS_1
" Yaelah mbak. Santai saja, kan manusia itu memang diharuskan tolong menolong. lagian kita senang kok ketemu sama mbak. Jadi bisa banyak belajar tentang hidup hehehe "
Rama dan Fian hanya tersenyum, saat Siti dan Aini kini berpelukan erat.