Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Emak sakit


__ADS_3

Setelah melalui proses yang panjang akhirnya pembangunan rumah kami, selesai juga. Meski belum di plafon dan juga masih berlantai semen.


Aku sangat bersyukur karenanya, semua benar-benar di luar ekspektasi ku. Niat awal aku hanya ingin membangun dulu walau hanya satu kamar, tapi harus ada kamar mandi.


Rupanya Tuhan malah mencukupi uang kami untuk membuat dua kamar.


" Alhamdullilah ya dek. Abang nggak nyangka kita telah melewati proses ini . Dan insya Allah Minggu depan kita bakalan pindah ke rumah baru.."


" Iya Bang. Aku bersyukur . Semoga kita semakin nyaman dan damai di rumah baru kita nanti ya , bang.."


Sebenarnya masih ada sejumlah uang di tanganku, tapi rencananya uang yang aku simpan ini akan digunakan untuk membeli perabotan rumah. Karena selama di rumah emak kami memang tak pernah mencicil membeli yang namanya perabotan. karena menurut emak, siapkan wadahnya terlebih dahulu. Baru mikir isinya..


" Oh ya bang, besok kan Minggu. Temenin aku ke pasar ya, beli perabotan. Kan nggak mungkin kita bawa barang-barang dari rumah ini. .!"


" Emang uangnya masih ada Dek ? Berapa ? dan beli apa aja !"


"Masih bang, uang transferan dari bude . Aku mau Beli kompor, kasur bantal, peralatan makan, lemari . pokoknya yang benar-benar kita butuhkan dulu aja kita utamakan, supaya nanti nggak bingung pas pindahan, .."


" Iya. Tapi kasih hadiah ya, biar semangat.."


Aku tahu itu adalah kode dari bang Dadang, dan karena merasa senang tentu saja aku akan melakukannya dengan suka rela.


Bang Dadang mendekat, aku menyambutnya dengan senyum manis.


Wajah manis itu mendekat ke arahku, kami saling memandang untuk beberapa saat.


Baru saja ingin memulai, Bara malah terbangun. mendengar itu, aku refleks menolak ciuman bang Dadang dan melihat ke arah Bara. Bocah delapan bulan itu menatapku dengan mata Belo nya yang lucu.


Entah kenapa, aku jadi geli sendiri. Dan benar saja suamiku kini tampak merenggut dan memilih menjatuhkan diri di kasur, Tidur tepat di samping Dio, yang nampak terlelap dengan boneka Doraemon di pelukannya.


"Gagal maning-gagal maning ckckckk"


Aku melempar bantal ke arah bang Dadang karena suaranya berhasil memancing Bara mencari-cari keberadaan ayahnya itu.


" bobok yuk dek, sudah malam.."


Aku mengASIhi Bara sekaligus menepuk punggungnya agar anak bungsuku itu terlelap.


Tak lama aku pun tak bisa menguasai rasa kantuk yang menyerang dan akhirnya aku terbuai mimpi, mengistirahatkan mata dan tubuh yang lelah seharian bekerja..


***


Aku tak tahu ini jam berapa, yang jelas mataku masih terasa sangat mengantuk, membuatku enggan untuk membuka mata. Namun tepukan di pipiku terasa semakin kuat dan berhasil menyadarkan ku dari rasa kantuk.

__ADS_1


Ditengah rasa kesal karena terganggu, aku juga enggan menanggapi karena aku tahu jika pelaku dari hal ini adalah bang Dadang. Apakah bang Dadang benar-benar horn*, hingga tak bisa menunggu dan malah membangunkan ku seperti ini ?


" Dek, bangun! Emak kayaknya demam. .."


Aku mendengar suara bang Dadang dengan jelas, hingga dengan cepat aku duduk dan menatap bang Dadang dengan penuh tanya.


" Emak sakit ? sekarang jam berapa ?"


" Iyah emak meriang Dek. masih jam 1, makanya kita bingung mau dibawa kemana.."


Aku menguap, pantas saja mataku masih sangat berat. Karena memang jam ini merupakan jam lelap alias lagi enak-enaknya tidur .


" Ya udah biar Siti kerokin. mungkin emak masuk angin.."


Aku mengikuti langkah bang Dadang ke luar kamar, dan melihat emak malah berbaring di sofa ruang keluarga.


" Kok malah tiduran disini Mak, ?"


Aku menyentuh kening mertua Perempuanku itu, panas kini terasa memenuhi punggung tanganku. Tapi, Emak malah menggigil seperti orang kedinginan. Dia juga mengunakan selimut tebal untuk membungkus tubuhnya, dan meringkuk laksana bayi di atas sofa.


" Aku kerokin ya Mak.. Bentar aku ambil koin sama minyaknya dulu.."


Tak ada sahutan dari emak, hanya suara gemerutuk gigi emak yang beradu.


" Iya Sa, sekalian dikasih bawang merah iris ya Sa, minyaknya.."


" Iya mbak, siap!!!"


Tak lama Salsa kembali dengan apa yang aku perintahkan tadi. karena bukan hanya kali ini emak sakit, jadi aku agak tenang karena biasanya emak akan sembuh setelah dikerok.


" Mak, pindah yuk ke kamar. Siti kerokin.."


Hubunganku memang renggang belakangan ini, namun aku berusaha bersikap biasa saja. Seperti awal-awal menikah, emak dulu bahkan tak sungkan jika dia meriang untuk meminta bantuan ku, karena katanya kalau orang lain yang ngerokin malah sakit semua, seolah tak pakai perasaan.


" Disini aja Siti, emak nggak kuat kalau jalan lagi.."


Aku menatap Bapak yang sedari tadi memang duduk di sofa single arah kaki emak, mertuaku itu mengangguk dan masuk ke kamar. Beliau tahu aku agak risih juga kalau dia tetap di sana, meski ada bang Dadang sekalipun.


" Kenapa bisa sampai separah ini Mak ? kan biasanya emak emang minta kerokin kalau sudah merasa nggak enak badan.."


aku utarakan juga isi hatiku, Apakah emak sungkan karena merasa tak enak dengan perlakuan dan perkataannya padaku .


" Sudah Siti, kalau kamu mau kerokin emak. Kerokin saja. Jangan banyak tanya, emak bener-bener tak tahan ini hhhh!!!"

__ADS_1


Salsa cekikikan, membuatku menoleh kearahnya. " Iya Mbak cepetan. Emak nggak tahan lagi tuh .."


aku hanya mendelik heran, apa coba maksud adik ipar ku itu?


Aku meminta emak untuk duduk , dan membuka bajunya, Badannya benar-benar panas.


Aku sedikit ragu apakah tindakanku ini, akan berhasil seperti biasanya ?


Setelah selesai aku meneliti lagi, semua area. Siapa tahu ada yang tertinggal, rupanya semua sudah selesai dan tersentuh koin dengan merata.


Emak juga sudah tampak berkeringat, aku memang agak menekan kuat, tak seperti biasanya. Tapi emak tak protes dan malah diam saja, meski dia mendesis seolah kesakitan.


" Sudah Mak. Pakai bajunya, dan pindah aja ke kamar. Siti juga sudah oleskan balsem, agar anginnya cepat keluar.. "


Emak dengan cepat memakai kembali bajunya. Tanpa kata, wanita yang telah melahirkan suamiku itu kini berlalu dan masuk ke kamar, menutup pintu dengan pelan .


" Makasih ya Mbak. Meskipun emak suka menyindir dan mengatakan hal yang menyakitkan hati, tapi nggak membuat mbak berubah sikap ke Emak.." Salsa memelukku yang masih duduk di sofa, sepeninggal emak tadi.


" Aku berharap apapun yang telah membuat Emak seolah benci ke Mbak, mulai malam ini bisa sedikit berkurang, meski belum sepenuhnya hilang.."


" Semoga ya Sa, kita ini satu keluarga, sudah sepantasnya mbak melakukan itu untuk Emak .."


Aku membalas pelukan Salsa, dan mengaminkan ucapannya . Suara tangis Bara terdengar, mungkin dia haus. aku pamit pada Salsa dan masuk kamar.


Saat masuk, aku mendapati suamiku kini tengah berbaring di samping Bara, menepuk pelan punggung anak nya. Terlihat juga jika Bara telah kembali terlelap.


Aku juga ikut berbaring di samping Bara, kini anakku itu tepat berada ditengah kedua orang tuanya, wajahnya yang cubby membuatku tersenyum.


" Makasih ya Dek. kamu selalu bisa diandalkan jika emak sakit,"


mata bang Dadang menyampaikan ketulusan saat mengatakannya.


" Emak juga ibuku bang, apa yang aku lakukan memang sudah tugas seorang anak. ."


" Maaf ya Dek. mungkin sikap emak adalah imbas dari aduan Abang tentangmu. Kita bisa melewati masa itu dengan mudah tapi ternyata, malah membekas di hati emak. Hingga ia malah membencimu.." pandangan bang Dadang kini menatap lekat ke arah Bara seolah enggan menatapku.


Tak ku pungkiri, jika ucapan bang Dadang ada benarnya, Tapi aku tak mau memanfaatkan situasi yang seharusnya telah damai ini, dengan mengungkit masa lalu.


" Mudah-mudahan emak membaik ya bang. ."


"Ya dek. Mending kamu tidur aja lagi ini masih setengah tiga pagi.."


Aku yang memang masih mengantuk akhirnya berusaha untuk tidur kembali.

__ADS_1


__ADS_2