Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Istri Baru Dadang


__ADS_3

Lastri bangun lebih pagi hari ini. Karena mereka akan melakukan panen padi.


Jika biasanya ada Siti yang bisa diandalkan tapi kali ini hanya Dia dan Salsa yang disibukkan dengan segala jenis masakan dan juga dapur yang nampak berantakan.


Sementara Sandra, menantu baru yang dua bulan lalu diboyong Dadang ikut ke rumah ini malah seolah tak peduli, alasan kehamilan selalu saja dijadikannya senjata untuk menolak melakukan pekerjaan rumah.


Bahkan sampai baju yang dipakainya pun, Lastri yang mencucinya.


Untuk menutupi tabiat buruk sang istri baru , Dadang bahkan tak sungkan turun ke dapur, memasak dan juga mencuci pakaian mereka sekeluarga .


" Ehh Dang, sudah bangun kamu ?" Lastri menyapa Dadang yang tampak masih mengantuk, " Udah kalau mau tidur lagi, silahkan. Salsa dan Emak bisa kok, menghandle semuanya berdua.."


Emak berbicara lembut, tapi tangannya tak berhenti mengerjakan adonan Donat ,untuk jamuan pagi ini.


" Dadang mesti ngapain ini Mak?" Seolah tak mendengar ucapan Emak, Dadang malah balik bertanya. " Sandra sakit kepala, Mak. Makanya Dadang yang mewakili. .!!"


" Sebenarnya usia kandungan Istrimu itu berapa Dang ?


Kalian baru nikah dua bulan, tapi kenapa perutnya Sandra sudah segede itu, kayak sudah enam bulanan.." Emak bertanya juga, karena hal ini memang mengganjal pikirannya sejak Sandra masuk ke rumah ini sebagai menantu.


"Jangan nanya aneh-aneh Mak. Bang Dadang nggak akan jawab, kalau bukan digrebek warga kurasa sampai anak itu lahirpun, mereka nggak akan nikah..." Salsa menjawab diplomatis, membungkam Dadang yang baru saja hendak bersuara..


" Beneran itu anakmu Dang ?" Emak bertanya dengan kuat, membuat Dadang kaget. Dia sengaja tak memperdulikan ucapan Salsa yang bisa saja adalah kebenaran.


mendengar pertanyaan emak, Dadang Salah tingkah. Dia tetap diam sembari menghitung sudah berapa lama, dia dan Sandra berhubungan.


Sandra dan Dadang bertemu Enam bulan yang lalu. Kebiasaan Dadang yang sering bergadang di warung mbak Fatma, membuat keduanya saling mengenal, karena Sandra merupakan keponakan Fatma, yang memang statusnya janda kembang, sebagai wajah baru yang bening dan juga bahenol, tentu saja Dadang terpikat. Benih-benih cinta timbul di hati Dadang yang gersang, karena perceraiannya dengan Siti. Bak gayung bersambut, Sandra juga menunjukkan perasaan yang sama. janda muda itu bahkan tak menolak saat Dadang membawanya ke hotel untuk memadu cinta.


Dadang yang telah lama menahan hasrat b****i, sejak perpisahannya dengan Siti, seolah merasakan Candu, dan terus menerus melakukan hubungan tak sehat dengan Sandra.


Puncaknya adalah dua bulan yang lalu, saat mereka digrebek warga saat sedang menikmati indahnya surga dunia. Dan akhirnya mereka dinikahkan di rumah kepala desa, Sebenarnya Dadang tak tahu kehamilan Sandra, tapi melihat perubahan buah Dada Sandra yang semakin montok diikuti dengan perutnya yang semakin membuncit , dia akhirnya tahu jika Sandra telah hamil.

__ADS_1


" Usia kandungannya mungkin lima bulan , Mak.. Dadang yakin kok itu anaknya Dadang.." Ragu-ragu Dadang mengutarakan pemikirannya.


" Itu sudah gede loh Dang, masa sih masih pusing dan mual-mual. Seharusnya sudah bisa istrimu itu kalau hanya mengerjakan pekerjaan rumah.."


Ucapan Emak mengingatkan Dadang dengan sosok Siti. Sebenarnya dia juga heran kenapa Sandra masih juga mengalami morning sicknes ? berbeda dengan Siti yang sudah bisa melakukan hal apapun saat usia kehamilan sudah sebesar Sandra sekarang..


" Entahlah Mak, Dadang juga nggak ngerti soal begituan.."


Lastri diam, ditatapnya kening Dadang yang berkerut bingung. Pasti anaknya ini sebenarnya sadar jika telah dibodohi sang istri, tapi entah kenapa Dadang jadi lelaki lembek begini..?


Akhirnya lauk dan juga makanan kini telah matang, semuanya bahkan telah tersusun rapi didalam rantang. Matahari kini telah tinggi, memaksa mereka harus bergerak dengan cepat, meski Dapur kini malah seperti kapal pecah.


Tapi Lastri meninggalkannya tak perduli, tak enak jika mereka datang terlambat ke sawah.


Lagi-laginkondisi ini mengingatkan Lastri pada sosok Siti, mantan menantunya itu sangat gesit dan cekatan, hingga jika masakan telah matang, maka dapur juga bersih dan rapih seolah tak pernah digunakan sebelumnya. Tak terasa air mata Lastri menetes , entah kenapa selalu saja kenangan baik yang diingatnya tentang perempuan yang telah memberinya tiga cucu tersebut..


***


Meski Panen musim ini mengalami penurunan karena hama, namun Nurdin dan Lastri masih bersyukur panen padi mereka tak terlalu banyak mengalami penyusutan.


Jiwa yang lelah membuat mereka mengistirahatkan pinggang di kursi makan . Sementara Sandra yang sejatinya di rumah saja sedari tadi kini nampak asyik, nyemil Donat yang sengaja ditinggalkan untuknya, didepan televisi yang menyala.


Lastri mencoba melihat dapurnya, apakah Sandra kali ini peka dan melakukan tugasnya sebagai Ibu rumah tangga. Tapi nyatanya, Dapur itu masih terlihat berantakan, bahkan kini lebih banyak piring yang menumpuk di sana. Lastri mengelus dadanya yang sesak. Tak mengerti lagi, jenis manusia seperti apa yang kini jadi menantunya itu.


" Kenapa Mak ?"


Dadang menghampiri sang ibu, ikut melongok kearah dapur. Kini matanya merah, dadanya naik turun . Namun tentu saja ekspresinya ini tak dilihat Lastri.


Hingga ia cuek saja ketika Dadang meninggalkannya meski tak mendapat jawaban darinya.


Dadang menghampiri Sandra dengan penuh emosi. Sudah cukup baginya untuk memaklumi tingkah Istri barunya ini. Semakin Dadang bersabar, Sandra seolah semakin ingin menginjak harga dirinya.

__ADS_1


" Abang mau bicara San ?"


" Aku lagi asyik nonton nih bang. Ngomong aja disini. Nanggung soalnya bentar lagi habis nih ..."


Sandra masih asyik menatap layar datar itu, sama sekali tak melihat ke arah sang suami yang memandangnya dengan tatapan emosi.


Dadang menarik Sandra kedalam kamar dengan memegang lengan wanita itu kuat. Membuat Sandra memekik karena merasakan sakit.


Setelah sampai didalam kamar mereka, Sandra menghempaskan tangan Dadang dengan sekuat tenaga, mata bulat itu menatap nyalang kearah sang suami,


" Kamu apa-apaan sih bang. Sakit tahu nggak !!"


" Kamu yang apa-apaan. Emang apa kerjaan kamu di rumah ?Dapur berantakan bukan malah dibereskan. Tapi malah kamu tambah dengan piring kotor bekasmu makan..!!!"


" Eh .. Bukan aku ya yang bikin Dapur berantakan. Salah sendiri, kenapa malah ninggalin dapur yang masih berantakan !! seharusnya Emak dan Salsa berbenah dulu sebelum berangkat ke sawah. mereka yang buat berantakan kok malah aku yang disalahkan ?"


Sandra membalas Dadang tak kalah keras, suaranya bahkan menarik perhatian Lastri , Nurdin dan juga Salsa yang kini berada di teras, mengawasi ojek yang membawa karung padi. Hingga ketiganya masuk kedalam, mencoba mencari tahu apa yang terjadi.


" Lalu guna kamu sebagai istri apa hah ? Pantas saja jika mantan suamimu menalakmu dengan talak tiga.."


Sandra mendelik , " Ehh apaan kamu bang, bahas mantan segala. Tugasku sebagai Istri ya melayanimu di atas ranjang. Kamu sendiri kan yang bilang jika mantan istrimu, kamu ceraikan karena jarang memberimu nafkah batin..Jadi tugasku hanya itu, sementara yang lainnya aku nggak akan perduli. Aku tak sebodoh Siti. Sudah capek momong anak, ngurusin mertua, eh juga dituntut melayani suami bringas seperti kamu tanpa nafkah yang pantas.."


Plakkk....


Nurdin kini menahan tangan Dadang yang masih ingin memberi tamparan tambahan. Sementara Sandra kini memegang pipinya yang terasa panas, air mata perempuan muda itu kini telah mengalir deras .


" Kamu bakalan nyesal bang, memperlakukan aku seperti ini..AAAGHhhH!!!"


Sandra mendorong Dadang yang menghalangi pintu. Kemudian keluar rumah dengan berlari. Tak ia pedulikan Lastri dan Salsa yang menyuruhnya untuk berhenti karena dapat membahayakan kandungannya.


Sementara Dadang kini duduk dibibir ranjang. Kedua tangannya meremas kepalanya frustasi. Bagaimana bisa Sandra berpikir seperti itu tentang ucapannya tempo hari. Dadang menyesal, ternyata nafkah batin yang selama ini dikeluhkannya pada Siti, seolah jadi boomerang bagi dirinya sendiri.

__ADS_1


" Pak.. Andai waktu bisa diputar kembali..!!!"


Dadang menangis , dan tangisnya semakin keras saat melihat kondisi kamar yang nampak tak ada dasarnya karena baju kotor yang berserakan dimana-mana. Apakah ini pantas disebut sebuah kamar ?


__ADS_2