Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Uang kiriman !


__ADS_3

Tidak terasa kini hari minggu telah tiba, hari ini bang Dadang akan kembali bekerja ikut dengan Rio, karena memang mereka telah sepakat memberi waktu hanya sampai hari ini .


Syukurlah masalah yang didalangi bang Asep kini tak lagi jadi buah bibir warga, topik tentang siapa sebenarnya menantu bu Uci itu kini lebih hangat dan menarik dibahas, para warga seolah-olah punya kesempatan untuk membalas hinaan dan olokan yang berasal dari mulut pedas bu Uci.


Sebenarnya sedikit kasihan, karena kabarnya bu Uci sampai sakit. Sementara Indah malah kabur , ikut Asep yang telah diusir ibunya dari rumah.


" Hati-hati dirumah ya dek.."


Kini bang Dadang mengendong Bara dan mengandeng tangan Dio, meski matanya menatap kearah ku tapi dia masih nampak bisa menguasai jalanan didepan kami, sementara aku mengekornya dengan koper sedang, yang berisi pakaian bang Dadang, kami kini tengah menuju rumah emak untuk menemani suamiku itu berpamitan.


" Apa nggak kebalik bang, kamu yang harusnya hati-hati dijalan...hhehe" Aku terkekeh, merasa lucu dengan pesan yang disampaikan bang Dadang.


" Ya ,walaupun dirumah kan masih bisa dek, kalau mau bahaya atau celaka.."


" Jangan sampai lah bang, kalau aku sih nggak kenapa-napa. Tapi kalau sama anak-anak kan aku jadi kepikiran .."


" iya, iya deh .. Maaf..."


Kami akhirnya sampai, kulihat hari ini keluarga bang Dadang masih terlihat berada dirumah. sepertinya mereka sengaja dan kini juga sedang menunggu kedatangan kami..


" Jadi berangkat kamu hari ini dang ?" Bapak lebih dulu bersuara saat aku dan bang Dadang tiba didepan mereka.


Bang Dadang menyalami bapak dan emak, " Iyah pak, ini mau langsung pamit aja, soalnya busnya datang pagi.."


" Oh nggak makan dulu dang, emak buat rendang loh, dan ini untuk oleh-oleh buat Rio. Rendang spesial buatan emak..." emak memberikan sebuah kotak makan Tupperware kepada bang Dadang.


Bang dadang langsung memasukkannya ke dalam koper, karena memang ruang koper tak terlalu penuh. Hanya berisi beberapa pakaian ganti saja.


" Makasih mak, nanti Dadang sampaikan.. Dadang pamit ya Mak, pak dan semuanya ..waktunya sudah benar-benar mepet ini.."


Agung kini telah siap dengan motornya, ia memang telah diminta bapak untuk mengantar abangnya semalam. Jadilah kini pemuda yang biasanya bangun kesiangan itu, malah bangun pagi bahkan sudah rapi karena sudah selesai mandi..


Bang Dadang masih sempat-sempatnya menciumku didepan keluarganya membuat aku malu, dan sedikit salah tingkah. Meski yang kulihat bapak dan Emak bahkan tak terlalu memperhatikan perlakuan manis anaknya itu padaku.


" Bara sama Dio jagain ibu yah, jangan Nakal. Harus akur ya bang Dio sama adek Bara.."

__ADS_1


Bang Dadang berjongkok didepan kedua bocah itu, menciumi mereka bertubi-tubi dan terakhir memberikan tangannya untuk mereka salim.


Bara yang awalnya nampak bingung akhirnya mencontoh cara abangnya menyalami sang Ayah, dan ini malah membuat bang Dadang gemas dan langsung mengendong putra bungsunya itu..


" Nih bu. anak pintar dan sholeh. Ayah berangkat dulu yah.."


" iyah ayah, hati-hati ya yah. Jangan lupa telpon kalau sudah sampai nanti.."


" Beres, dah sayang..."


Bang Dadang naik kemotor dan langsung melaju kearah terminal bus, tak disangka Dio malah menangis histeris ketika melihat ayahnya naik motor tanpa menoleh kearahnya, untungnya Salsa dengan sigap mengendong Dio dan memberikan jurus terampuh agar anakku itu tak menangis lagi, yaitu ke warung mbak Fatma, Jajan makanan ringan ...


***


Hari-hari kini ku jalani dengan sedikit tenang, apalagi bang Dadang inisiatif sendiri mengirimi kami uang ketika baru seminggu dia berada dirantauan.


Pagi tadi Salsa datang menjemput Bara dan Dio, namun hingga hari menjelang sore tak ada tanda-tanda jika Salsa, akan mengantarkan anak-anak. Jadinya selesai mengunci pintu, aku segera menyusul ke rumah emak, karena tak biasanya Bara bisa anteng tanpa aku dalam waktu yang selama ini.


" Ehh.. Tuh kan mak, mbak Siti jemput kesini ?"


" Assalammualaikum..!! '


" Waalaikumsalam. Siti. Duduk sini dulu Emak mau bicara sesuatu sama kamu.."


aku langsung duduk di kursi yang berada berhadapan dengan emak. Kulihat mata emak seolah memberi kode pada Salsa jika emak butuh waktu bicara berdua denganku.


" Jadi Salsa diusir nih "


Salsa masuk kedalam, membawa Bara ke dalam. Aku mengintip sedikit ke ruang keluarga, rupanya Dio lagi nonton kartun kesukaannya.


sikap emak yang tak seperti biasanya, membuatku agak sedikit deg-degan, biasanya emak selalu ceplas-ceplos didepan siapapun, tapi apa yang mau dibicarakan beliau kali ini hingga meminta waktu hanya berdua saja.


" Dadang bilang dia kirim uang satu juta sama kamu ya ,Ti ?"


" Iya , Mak . Alhamdulillah. Emangnya kenapa Mak ?" aku memberikan senyuman penuh syukur kearah emak.

__ADS_1


" Kalau begitu, kamu belikan saja racun rumput buat kebun kopi kalian, biar nggak habis dengan percuma itu hasil keringat suamimu sekalian buat bayar orang yang mau ngerjain...


Biar Emak nanti yang ikut juga ke kebun, buat ngawasin kerjaan mereka "


Aku terdiam. Uang kiriman bang Dadang memang satu juta, tapi sudah habis aku pakai buat bayar angsuran bank bulanan dan juga mingguan. Kenapa perkataan emak seolah menuduhku boros !


" Mak, Uangnya sudah Siti bayarkan ke bank bulanan. Dan juga bayar mekar. Sisanya buat jajan anak-anak dan juga makan kami berempat .." Agak pelan , aku mencoba menjelaskan supaya emak mengerti.


" Masa sih sudah habis ? emangnya berapa sih bayaran kalian perbulan? Kok bisa-bisanya uang satu juta habis dalam dua hari saja.."


Mataku sudah terasa panas, apakah Emak Enggak mikir jika kami juga butuh makan, dan juga lauk sehat buat cucu-cucu beliau .


"Enam ratus lima puluh ribu buat bayar bank, Mak. seratus lima puluh, Siti bayarkan mekar untuk dua Minggu. sisanya Siti belikan beras dan stok telur dan lauk lainnya buat anak-anak. masih ada lima puluh ribu buat jajan Rama dan adik-adiknya.."


Emak terdengar menghela nafas panjang, aku memang menunduk karena tak berani lancang menatap emak ketika bicara. Kupikir emak akan berdebat dan mempermasalahkan lagi soal uang itu, tapi lama tak ada lagi sahutan dari Emak. Mungkin beliau sedang berpikir dan tahu jika ucapan beliau sungguh telah keliru..


" Jadi ? Selama sebulan yang lalu, kalian dapat darimana uang buat makan..?"


Suara Emak kini terdengar sedih, seolah merasa miris dengan kondisi kami.


" Aku dikirimi bude Mak, alhamdulilah juga, penjualan onlineku lagi rame. Jadi nggak terlalu berat meski ditinggalkan bang Dadang tanpa uang pegangan.."


Aku sengaja mengatakan alasan yang sama seperti yang aku ucapkan kepada bang Dadang , agar nanti tak ada masalah dikemudian hari karena kebohonganku.


Suami dan mertuaku tak perlu tahu bagaimana perjuanganku bulan kemarin, untuk memenuhi kebutuhan perut kami.


Aku bersyukur masa itu kini telah ku lewati dengan baik.


" Maafin Emak ya Ti. Emak nggak kepikiran sampai kesitu, kamu istri yang baik. Bisa menjaga marwah suami mu dengan baik. semoga rumah tangga kalian sakinah, mawadah warohmah selamanya .."


Emak menggenggam tanganku, membuatku sedikit menitikkan air mata. Tak ku sangka emak akan minta maaf kali ini, dan membuatku lebih tenang dengan doa yang diucapkannya.


" Aamiin Mak, makasih.."


Kupeluk mertua Perempuanku itu dengan erat. Sungguh aku semakin yakin jika hubunganku dengan bang Dadang akan berjalan baik kedepannya..

__ADS_1


__ADS_2