Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Tidak setuju ?


__ADS_3

Aku kini balik menatap Dadang dengan kesal. jika memang dia serius seharusnya dia tak menghilang begitu saja tanpa kabar selama dua Minggu. Siapapun orangnya pasti bakal mengira jika lelaki itu tengah bercanda, setelah perlakuannya padaku.


" Jika serius seharusnya kamu tak menghilang tanpa kabar. Dan kenapa malah datang lagi setelah dua minggu. Itu yang kamu sebut serius !!!" Emosiku ikut terpancing karena ucapan dan tingkah Dadang.


Lelaki itu nampak balas menatapku, matanya menyiratkan penyesalan dan juga keraguan " aku pikir kamu memilih cowok itu. yang kemarin nganter kamu pulang, kamu pergi, ninggalin aku bahkan tanpa jawaban.."


Jadi. Dia dan aku kini sama-sama salah paham. apakah ia tengah cemburu ?


" Setelah dua minggu berlalu. aku sadar jika aku harus berjuang jika memang aku menginginkanmu. Bukan menyerah kalah seperti ini yang bahkan mundur sebelum berjuang. Makanya aku datang kesini, untuk mengatakan hal yang sama, sekaligus meminta jawaban darimu. Dan kumohon jangan lari lagi sebelum semuanya jelas. .."


Aku merasa tertohok akan ucapan Dadang. Bagaimanapun memang terasa lucu bagiku saat itu, antara senang, nggak percaya bahkan pemikiran aneh tiba-tiba melintas di otakku. mungkin itulah yang dinamakan salah tingkah berujung salah paham.


" Aku hanya kaget kok kemarin . Lagian nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba dilamar. diajak nikah sama seseorang yang sama sekali nggak ada dibayangkan ku. Maafkan aku ya "


Pemuda itu menarik nafas panjang, " jadi . Gimana ?"


"Apanya?"


"Jawaban dari permintaanku. Kamu mau kan menikah denganku ?"


" Siapa yang mau nikah, dan sama siapa ?"


Bude Dewi tiba-tiba saja sudah ada didepan pintu dan juga ada Fian disampingnya, mungkin Fian yang mengantar bude. kenapa aku bahkan tak mendengar deru mobilnya ?


Aku tersadar dan menunduk untuk menghindari pertanyaan yang terlontar dari mulut bude. Jujur aku belum sanggup jika ini didengar oleh bude. pasti bude bakalan salah paham.


" Kalian mau menikah ? kenapa !!! Apa ini jawaban dari ucapan kamu tadi Siti. jadi kamu beneran mau nikah muda ? sama laki-laki ini " Bude bicara lantang, telunjuknya mengarah tepat didepan Dadang.


Dadang berdiri, namun sikapnya masih tenang. " Duduk dulu bude, Biar enak ngomongnya.."

__ADS_1


" nggak usah sok ngatur, rumah ini rumah saya. Kok jadi kamu yang ngatur.."


Bude memang berkelit lidah namun akhirnya dia duduk juga, dapat kurasakan kini matanya memandangku dengan tatapan tajam .


" Kamu nggak berbuat sesuatu yang fatal kan Siti?"


Aku semakin menunduk dan menggeleng berkali-kali. entah kenapa mendengar bude berkata dengan nada tinggi, membuat nyaliku menciut.


" aku melamar Siti sebagai istriku bude? Tadinya aku meminta jawaban Siti. Tapi karena bude ada disini sekalian saja , kita dengarkan sama-sama jawaban Siti atas maksud hatiku yang ingin mempersuntingnya, bude jangan salah paham, kami bahkan belum pacaran.."


" Jadi ini bukan karena kalian sudah melakukan hal tak senonoh !! ini murni niatmu Dadang ? "


" Iyah bude. Kami juga nggak ada hubungan lebih dari teman bude. Tapi saya siap jika Siti menerima saya sebagai suaminya, saya mencintainya bude, Saya berjanji pada bude akan membahagiakan Siti. Dan menjaga Siti selama sisa hidup saya.."


" keputusan ada dari Siti sendiri.Tapi apakah tak terlalu cepat? maksud bude, kalian masih muda. masih dalam tahap mencari jati diri. Ini akan mempengaruhi pola pikir kalian nantinya, Rumah tangga itu bukan sekedar penyaluran nafsu, tapi juga tentang komitmen.."


" Ukuran Dewasa tidak tergantung umur bude. kan yang penting kita memang sama-sama saling menyayangi dan ada niat yang tulus yang mendasari. Tapi itu sih jika Siti memiliki perasaan yang sama denganku bude. Karena percuma jika hanya aku yang menginginkan hal demikian sementara Siti tidak..."


Denting hape memecah kesunyian, memaksa kami memandang kearah pintu. aku lupa jika disini juga ada Fian, yang masih setia berdiri didekat pintu. Raut lelaki itu juga nampak tegang. Dengan salah tingkah dia mengangkat telponnya, setelah membungkuk pamit sosok itu pergi keluar, mungkin juga merasa tak nyaman jika pembicaraannya di hape di dengar oleh kami.


Sepeninggal Fian ,mataku yang sedari tadi awas mengamati pergerakan lelaki itu kini malah beradu pandang dengan mata hitam bude, Aku menunduk lagi. Entah kenapa aku serasa tengah terciduk melakukan kesalahan besar.


" Jadi Siti. Apa jawabanmu ? Bukankah sudah terlalu lama Dadang menunggu. Apa kamu butuh waktu lagi untuk berpikir ?"


Bude memaksaku lagi untuk kembali ke kenyataan yang kini ku hadapi.


" a-ku... Bisa minta waktu kan Dang ?"


Ya aku memang tak bisa memberinya jawaban sekarang.

__ADS_1


Apalagi mengingat perkataan bude tentang komitmen. Mampukah aku jika hanya harus melayani dan berada disisi Dadang nantinya. Jujur pikiranku bahkan belum sampai kearah situ. " Jikapun nanti kita tak berjodoh. Kamu masih mau kan berteman denganku ?"


Dadang menampilkan senyum meneduhkan, Sikapnya benar-benar dewasa menurutku. Tapi entahlah, otakku belum memikirkan jawaban meski selama dua Minggu ini aku menunggu lelaki ini menghubungiku.


Rasanya masih ada yang mengganjal , entah itu soal apa ..


" Kalau begitu aku pamit ya bude, Siti. kapanpun kamu merasa jika keputusanmu sudah mantap maka aku, akan menunggu waktu itu tiba. Tapi jangan kelamaan ya. Nanti lumutan hehe"


Dadang menyalami bude untuk pamit, sementara aku hanya tersenyum kecil merasa lucu dengan apa yang diucapkannya tadi.


***


" Sudah berapa lama kalian kenal ?"


Aku menoleh kearah dimana suara itu berasal, tadinya aku memang mengantar Dadang sampai depan pintu. Tapi ternyata bude masih tetap duduk ditempatnya tadi.


" Bukankah setahu bude, masih hitungan bulan. kamu kenal sama lelaki itu ?"


"kenalnya udah lama bude dari SMA.." Aku duduk didekat bude, sembari menjawab pertanyaannya.


" Satu sekolah ? Kok kamu nggak pernah cerita. Yang kamu sering sebut malah si Angga itu."


" Enggak satu sekolah kok bude. Makanya Siti nggak cerita. lagian kita kan nggak pacaran dulunya.."


" Ohh bude kira si Angga itu kamu ganti namanya, supaya bude nggak ngelarang kamu buat deket-deket dengan dia.."


Bude memang kurang suka dengan Angga kata bude masih pacaran aja udah LDR, gimana kalau mau menikah..


" Bude ada-ada aja .." Aku terkekeh, melihat kearah bude yang memasang wajah tanpa dosa.

__ADS_1


" Tapi bude kayaknya nggak setuju deh kalau kamu sama dia ..! Mending sama si Fian, anaknya baik, rajin dan asal usulnya bude tahu. Kamu akan bahagia kalau sama dia, secara ibu dan Bapaknya baik. Nggak pernah merendahkan orang lain. Tapi kalau si Dadang. Kita nggak tahu gimana keluarganya. Baik atau tidak, bisa menghargai atau tidak. Nanti bisa-bisa setelah menikah kamu dijadikan Pembantu gratisan lagi. Kayak ditv-tv. Meski memang keinginan kamu untuk tak melanjutkan kuliah tapi mereka mana mau tahu kan alasan kamu apa . Biasanya pendidikan jadi tolak ukur adab dan kesopanan seseorang. Padahal itu adalah konteks yang berbeda. Bude nggak mau sampai kamu direndahkan, karena titel...."


Aku merenungi semua ucapan bude. Entahlah sebelum memberi jawaban pun bude seolah mengultimatum kepadaku jika aku harus berpikir Baik-baik terlebih dahulu. Apakah bude akan setuju jika aku mengiyakan ajakan Dadang ..


__ADS_2