
Dadang akhirnya pulang, meski bude tak lagi menampakkan dirinya didepan kami, setelah ucapan ketidak setujuannya tadi. Aku memang sengaja tak mengizinkan Dadang untuk pamit ke bude. karena aku tahu watak bude yang keras, takutnya nanti bude kembali mengatakan hal yang menyakitkan hati lagi kepada Dadang.
Saat aku masuk kedalam rumah, ternyata bude ada di kursi ruang tamu. Memandang kosong pada foto lama pernikahan Ibu dan ayahku, Ibuku adalah saudara satu-satunya bagi bude, Sedangkan Ayah juga merupakan anak tunggal dan juga yatim piatu sedari kecil. Jadilah hanya bude yang sekiranya memang dapat diandalkan untuk mengasuhku. menurut bude, hanya aku yang selamat saat kecelakaan yang menimpa kami saat usiaku baru menginjak tiga tahun, sedangkan ibu ,ayah dan juga supir travel yang membawa kami untuk mengunjungi bude ,semuanya tewas ditempat kejadian ..
Bude yang lama menanti keturunan namun tak juga diberi kepercayaan, bersyukur sekaligus menyimpan kesedihan yang mendalam atas kehadiranku ditengah-tengah bude dan suaminya. Aku dibesarkan tanpa kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua, karena mereka benar-benar mengasuhku seperti anak sendiri. Sedangkan Pakde meninggal ketika aku baru saja masuk SMA karena beliau sudah lama terkena TBC.
" Maafkan bude ya Ti . jika membuat kamu kesal terhadap sikap bude ke Dadang tadi. Tapi jujur saja, semuanya murni berasal dari dalam hati bude , Melihat Dadang entah kenapa rasa tak yakin bude lebih dominan meski bude sudah berusaha untuk menahan lidah bude dan menerimanya dengan baik.
Ayah dan ibumu pasti sedih jika bude tak menjalankan amanat mereka dengan baik..." Bude membuka suara dengan apa yang tadi dia ucapkan pada Dadang.
Aku menghampiri bude dan duduk tepat disampingnya, tanpa adanya jarak memudahkan aku untuk bisa memeluknya erat.
" Seharusnya aku yang minta maaf bude, aku tadi ngomong nggak sopan sama bude didepan Dadang. Aku juga belum yakin jika bisa hidup berdua saja dengan Dadang, tapi bude pasti dengarkan apa yang tadi Dadang ucapkan . Meskipun belum terbukti , setidaknya lelaki itu sudah berusaha untuk menjadi lebih baik lagi bude, Aku harap dia tak mengecewakan aku maupun bude .."
" Bude dengar semuanya Siti. Dadang memang telah berpikir dewasa untuk ukuran pemuda usianya. Tapi balik lagi, itu tidak menjamin dia bisa menepati janji-janjinya. Kalian masih butuh waktu untuk saling mengenal dan mendalami sifat masing-masing. Yang kamu lihat sekarang sudah pasti yang baik-baik saja, tapi nanti setelah menikah. semua sifat jelek pasanganmu akan terbuka secara perlahan, dan itu juga akan mempengaruhi mental kalian untuk melanjutkan rumah tangga atau tidak"
"Maaf sekali lagi ya bude. Siti benar-benar merasa jadi bucin nih hehehe..terima kasih karena sudah mengingatkan Dadang dan Siti sebelum kami akhirnya mengambil keputusan yang mungkin saja bakal kami sesali karena kurang pemahaman dan pengetahuan.."
Bude mencium keningku dengan lembut, rasa hangat menjalar di hatiku . sungguh bude adalah anugerah terindah yang tuhan kirimkan dikehidupanku, aku janji akan menjaga wanita ini hingga akhir hayat.
__ADS_1
***
Sinar matahari kini telah memasuki kamarku, Aku memang tak bisa tidur semalam. Dan malah berakhir bangun kesiangan seperti ini.
Suara denting wajan dan spatula menghampiri indera pendengaran ku. Rupanya bude juga bangun kesiangan, karena biasanya jam segini bude telah berangkat ke kebun sawit untuk melakukan pengecekan, sekaligus menentukan panen pada buah yang dianggap telah memenuhi syarat panen.
Sejak kematian Pakde bude memang menyibukkan diri dengan berkeliling memantau kebun sawit mereka. Meski bude tak mengucapkan kerinduannya pada pakde tapi aku tahu dari matanya jika luka kepergian pakde sampai kini masih menyelimuti hati bude. Mereka adalah pasangan harmonis. karena sepanjang ingatanku, mereka tak pernah bertengkar. jikapun ada yang salah, pasangan itu akan lebih nyaman mengutarakannya dengan cara duduk berdua dan bertutur kata yang lembut supaya tak memancing keributan.
Aku kini duduk dimeja makan, mencomot ayam goreng yang sudah tersedia dimeja dan dengan santai memakannya. tak lupa aku mencocol nya dengan sambal bawang yang memang diletakkan bersisian.
" Hmmm masakan bude emang the best. Ajarin Siti dong bude. Biar jago, dan bisa memanjakan lidah suami.."
Aku jadi mengingat akan ucapan ibunya Dadang , entah kenapa aku malah menjiplak kalimatnya. Aku menoleh kearah bude yang ternyata sedang menyeduh kopi. Bude benar-benar pecinta minuman pekat berwarna hitam itu.
" Kepengen aja sih bude, sekaligus memantaskan diri menjadi seorang istri.." aku terkikik dengan ucapan ku sendiri.
" Emak baik kok orangnya Bude. Keluarganya semuanya baik . Apalagi adik perempuannya, masih kecil sih. Tapi sepertinya nggak julid deh orangnya.." Aku semakin intens memakan Ayam goreng di atas meja.
Membuat bude memukul tanganku dengan sendok yang tadi digunakan untuk mengaduk kopi supaya manisnya merata..
__ADS_1
" Awwww sakitt bude..kenapa sih.." aku meniup tanganku yang jadi sasaran kekesalan bude.
" Kenapa-kenapa. Kalau mau makan ayamnya pake nasi Siti biar kenyang. Bude lagi males masak yang lain jadi lauk kita hari ini ya cuma itu..."
Aku menunjukan deretan gigiku didepan bude, cengengesan. Karena sadar akan kelakuanku..
" Hmm belum lapar bude. nanti aja makannya. ."
Ku kembalikan lagi potongan ayam yang memang belum sempat aku gigit kedalam piring. sekaligus menatanya seindah mungkin.
" Siti...Siti...makan aja pemilih kamu, , inilah yang bude khawatirkan. Kamu itu pemilih soal makanan, bagaimana mungkin kamu bisa hidup dengan pas-passan setelah menikah nanti.."
" Ya elah bude . jangan khawatir akan rezeki dari Allah . Bukannya rezeki sudah diatur oleh sang pencipta. Jadi jangan khawatir akan sesuatu yang belum tentu terjadi. Siapa tahu kan , setelah kami menikah Dadang dapat warisan dari bapaknya dan bisa bikin kami kaya tujuh turunan, ,,"
Lagi bude malah menimpuk ku, kini sasarannya adalah kepala. membuatku merasa pusing untuk sesaat.
" warisan dari mana, Emangnya calonmu itu keturunan ningrat, atau CEO perusahaan ternama. . Lagian saudara Dadang itu banyak, jadi mana mungkin bagi warisan dini. kecuali orang tuanya modar, baru itu bisa terjadi.."
" Astagfirullah bude kok ngomongnya gitu sih, itu sama aja nyumpahin loh bude. Dan itu bukan sifat yang baik.." Aku mengelus Dada, membalas bude dengan nasehat bijak adalah jurus ampuh dariku jika bude tengah kesal .
__ADS_1
" Siti ...Siti...Bude ngomongnya serius malah kamu bikin bahan candaan..! Tapi benar nih kalau keluarga Dadang menyambutmu dengan baik. Jangan -jangan kamu malah direndahkan lagi, karena punya hubungan dengan anak seorang PNS. Biasanya kan begitu, PNS itu seolah pekerjaan paling mulia dan paling besar gajinya dimuka bumi. Makanya orang orang desa kita berbondong-bondong buat kuliah dengan tujuan melamar jadi PNS. padahal mah, gajinya nggak seberapa kalau dibandingkan dengan petani sawit kayak bude.."
bude membusungkan Dada menatapku, membuatku hanya menampilkan senyum didepannya. Meski bibir ini ingin mengatakan jika ibunya Dadang memang merendahkanku yang hanya lulusan SMA, tapi peringatan bude soal komitmen yang telah aku ambil membuat lidahku keluh. Ini baru awal, Tapi jika aku mengadu. bukankah akan membuat bude semakin melarang hubunganku dengan Dadang. .!!!