
Sore ini aku memutuskan untuk melajukan motor matic ku untuk menjemput bude, meski sudah berjam -jam didepan laptop tapi tetap saja, tak ada yang menarik minatku dalam membaca, pun otakku yang tengah malas untuk memberi ide pada novel yang sedang ku tulis.
Agaknya pikiranku terpengaruh lagi dengan ucapan Emak. Untuk apa jika tak dipublish, tapi tetap saja ragu menguasai hati, karena kupikir ini hanya sekedar hobi. Mungkin nanti tiba saatnya aku memutuskan untuk mempublish nya di sosial media atau sebuah platform kepenulisan, atau ide terakhir yang paling tepat biarlah semuanya tetap tersimpan rapi didalam dokumen.
Jalanan menuju kebun sawit bude terasa sepi, meski hari belum terlalu sore. Tanah yang kering menimbulkan banyak debu berhamburan, sudah seminggu hujan tak datang meski mendung selalu saja terasa, sama seperti hubunganku dengan Dadang yang masih stuck ditempat. Tak ada lagi pembahasan tentang pernikahan dari mulut lelaki itu, jika dia menghubungiku lewat telpon entah ia tengah fokus dengan janjinya atau memang dia kecewa dengan ucapan bude. sepertinya hatiku juga mulai berdebu karena Dadang.
Dibelokkan terakhir aku melihat Ada mobil milik Fian terparkir. Sepertinya si empunya sedang pergi, atau mungkin juga tengah bernegosiasi lagi dengan bude masalah harga sawit. Panen buah sawit Memang satu kali dalam dua Minggu, tapi soal harga bude selalu up date dan akan memaksakan kenaikkan harga tiap dia menjual..
Aku kadang geli sendiri jika mengingat bude selalu saja berdebat hal yang sama ketika tiba masa panen.
" Kualitas buah bude itu A Siti jadi bude berhak jika diberikan harga terbaik '' Itulah jawaban bude ketika aku protes pada kelakuannya. Tapi ucapannya memang benar, karena meski cerewet dan menyebalkan masalah harga, buah sawit bude tetap jadi rebutan para pengepul..
"Heii.. bengong aja Ti. Nanti kesambet baru tahu rasa kamu..!!"
Pak Rohim tiba-tiba telah ada di depanku, beliau merupakan orang kepercayaan bude, Karena saat masa panen tiba pak Rohim lah yang akan melakukan nya,
" Eh pak.. Lihat bude nggak ? dicari dari tadi kok nggak ketemu-temu..!!"
aku celingukan, siapa tahu bude akhirnya dapat kutemukan .
" Dewi tadi di pondok, sama Fian. Biasa lah nego harga..."
." oh iya pak !! makasih ya pak, kalau gitu Siti pamit mau nyusulin bude , assalammualaikum.."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam .. "
Aku melajukan motorku kearah Utara
tempat dimana pondok bude berada.
(pondok adalah sebutan untuk rumah panggung kecil dengan tiang tinggi dan biasanya dimanfaatkan saat buruh sawit istirahat minum kopi maupun berteduh saat hujan)
Aku mendekat dan mematikan mesin motor setelah melihat jika benar ada sepatu milik bude didekat tangga bambu .
Niatnya aku ingin mengagetkan bude tapi suara tangisan bude malah menyambut ku, ada apa dengan bude. Kenapa beliau menangis, apakah terjadi sesuatu.
" Tenangkan hati bude. Siti itu sudah dewasa , dia pasti tahu yang terbaik bagi dirinya dan untuk masa depannya, jadi bude jangan terlalu khawatir, ,"
"Dadang memang baik Fian. Tapi bukankah dalam hidup ini baik saja tidak akan cukup. Kita juga butuh makan, butuh uang disaat kita kepingin akan sesuatu. Bude lihat semua itu nggak ada di Dadang, bude khawatir dia nggak akan bahagia. Bude sayang dengan Siti. Tapi bude nggak bisa jika tetap pada pendirian bude ,jika itu akan menyakitinya.."
"Maafkan aku bude, tapi kita sebagai manusia tidak bisa jika mendahului kehendak tuhan. jika mereka memang jodoh , maka tak akan ada yang bisa menghalangi mereka untuk mengarungi bahtera pernikahan. Bude harus belajar menerima Dadang yang telah menjadi pilihan Siti. Jangan meemikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, mending bude terus kasih arahan Sama Siti biar bisa menjalani rumah tangga yang harmonis nantinya.
Aku khawatir jika Siti tahu akan isi hati bude, dia malah memutuskan untuk memilih bude dan meninggalkan lelaki yang dia cintai. Dan itu akan mempengaruhi pola pikirnya tentang bude dan juga pandangannya terhadap lelaki seperti apa yang akan bude sukai. Yang menjalani rumah tangga itu nantinya adalah Siti bude. jadi biarkan dia memilih sendiri, dengan siapa dia akan mengarungi ibadah terlama dalam hidup ini nantinya...!!!"
Aku tergugu, tak menyangka jika Fian sedewasa itu. pantas jika bude menyukainya dan berharap kami berjodoh, tapi meskipun dari segi wajah dan kemapanan Dadang kalah telak, tetap saja. aku tak bisa jika membohongi hatiku yang telah mencintai Dadang sangat dalam hingga membuatku tak mampu melihat pesona lelaki lain, yang bisa mengalahkan Kehadiran Dadang dihidup ku..
Hape disaku ku tiba-tiba berbunyi nyaring, membuatku kaget dan segera mengangkatnya, entah kenapa membuatku sedikit khawatir akan reaksi bude.
__ADS_1
' Kenapa Dang !! aku lagi cari bude nih, nanti aja ya telponnya soalnya lagi dijalan..'
aku memutuskan panggilan Dadang setelah sebelumnya mengucap salam, entah akan berpikiran seperti apa Dadang nanti akan sikap cuekku padanya Aku melirik kearah pondok, ternyata bude dan Fian sudah turun dan kini berdiri didekat tangga. Dapat kulihat mata sembab bude, namun beliau memalingkan wajahnya tak mau membalas tatapanku..
" Kenapa kesini Ti ? " Bude bertanya dengan suara serak, beliau kemudian berdehem agar aku tak curiga, " Tumben kamu kelayaban biasanya betah banget di rumah mandangin laptop..!!
" La itu bude, yang bikin aku bosen dan memutuskan mencari bude, sekalian jemput karena hari sudah sore.."
" Jadi kalau nggak bosen kamu nggak akan inisiatif buat jemput bude. gitu ?"
" Ya , mungkin sih !!
Tapikan lebih baik kalau aku kelayabannya kesini nggak kearah yang aneh-aneh kan.
Aku itu anak baik bude, jadi bude harusnya bersyukur punya aku.."
Aku mendekati bude dan memeluknya dengan erat. Ada senyum yang nampak di wajah ayu bude, membuatku ikut merasakan hangat, entahlah bagaimana bisa aku meyakinkan bude soal Dadang, tapi aku harap keputusan apapun yang akan aku ambil tak membuat bude sedih dan khawatir ..
"Sudah selesai bude ? Ayo pulang!!" Aku menuntun bude kearah motor,
" Bude masih merundingkan pembayaran sama Fian Siti. jadi kalau kamu mau pulang , kamu pulang duluan aja.."
" Ish bude apaan sih , ya udah Siti tunggu . sampai se-le-sai..."
__ADS_1
Aku mengacungkan jempolku pada bude yang memang sudah berjalan menjauh sedari tadi. Pasti bude khawatir jika aku mendengar semua pembicaraan mereka tadi. aku tetap akan berpura-pura tak tahu, dan tetap bersikap biasa didepan bude, agar bude tak curiga dan malah semakin menjadi beban dipikirannya, semoga saja ucapan Fian tadi membuat bude lebih lega dan percaya jika segala sesuatunya akan baik kedepannya nanti..