
Kini Siti dan Fian dalam perjalanan pulang ke rumah. Setelah mengecek lokasi penarikan uang yang dilakukan oleh terduga, Siti semakin yakin jika ini adalah ulah mantan suaminya. Dia tak habis pikir , kenapa Dadang malah tega, padahal Siti tak pernah mempermasalahkan soal nafkah. Sebegitu sayangkah Dadang dengan istrinya yang sekarang, hingga pria itu malah mengambil uang yang seharusnya untuk kebutuhan anak-anaknya.
" Heiii..!! Gimana ?"
Siti tersentak kaget, mendengar Fian berbicara sedikit keras sambil menyenggol tangannya .
" Ehh. Gimana apanya ?"
" kamu melamun Ti ?"
" E.. enggak kok. Kenapa memangnya Dang ?"
Fian menatap Siti dengan pandangan menyelidik, " Jadi sedari tadi kamu mikirin mantan suami kamu. ? sampai aku ngomong nggak kamu dengar !"
" Kok !!! Jangan asal ngomong Ya. Aku nggak mau bahas masa lalu.." Siti sedikit merasa tak enak,mendengar kalimat itu dari mulut Fian.
" Oh ya, terus tadi apa ? namaku Fian bukan Dang, apalagi Dadang !!"
Siti melotot, masa sih dia salah panggil " jangan asal tuduh deh ., nggak lucu.."
" Kamu pikir aku ngelucu apa ? Nggak enak tahu, aku niatnya mau merencanakan masa depan, malah tak dianggap dan kamu malah asik dengan masalalu mu ?"
Siti kini lebih fokus ke jalanan yang nampak lengang. Kenapa hal ini lagi yang mesti Fian bahas ,
" Jawabanku masih belum berubah. Jangan membuatku kurang nyaman di dekatmu hanya karena tuntutan kamu soal hubungan kita ini ?"
Fian menoleh, melihat Siti yang sama sekali tak menatap kearahnya saat bicara.
" Maaf. ini akan jadi yang terakhir kalinya, aku membahas hal ini ? Aku harap kita masih bisa berteman baik..!!"
Fian kini tak lagi bicara, disepanjang perjalanan pulang mereka. Siti mengerti, dia telah menyakiti hati Fian dengan ucapannya, apalagi ia bersikap seolah masih mengharapkan Dadang sang mantan suami.
Dia memang belum mengatakan ke Fian jika Dadang sudah menikah lagi ?
Bude Dewi telah menunggu mereka di teras rumah. Dengan ketiga buah hati Siti yang telah selesai mandi dan tampak berbalut bedak tebal. Kecuali Rama , karena merasa bukan bocah lagi, Rama tak pernah mau lagi jika dipaksa neneknya memakai bedak, walau hanya sedikit.
Mereka berlarian menyambut, sang ibu, ketika melihat mobil Fian memasuki halaman rumah. Tak terkecuali si bungsu Bara yang semakin lincah saja diusianya yang menjelang tiga tahun..
__ADS_1
" Ibu !!! kok Bala nggak diajak ?"
Bara langsung memberondong sang ibu dengan suara cadelnya,ketika Siti turun dari mobil . Membuat Siti gemas dan menghadiahi sang anak dengan sebuah ciuman yang dalam.
Siti tak menjawab Bara, dan malah mengendong anaknya itu mendekati bude dan juga dua anaknya yang lain.
Fian turun, menyalami bude. Dan juga menyapa ketiga jagoan Siti ,
" Om kok nggak ngajak Dio sih ? Kan Dio juga mau ikut. Mana nggak ada oleh-oleh lagi !!"
Dio cemberut, memalingkan mukanya dari Fian.
" Siapa bilang om nggak bawa oleh-oleh. Taraa.....,!!"
Fian menunjukan tiga buah robot-robotan ditangannya.
Siti memandang terpukau akan kelakuan Fian. Entah kapan laki-laki itu membelikan hadiah untuk anak-anaknya.
ketiga putra Siti kini melompat girang, membuat rasa bahagia itu menular ke jiwa Siti. Dipandanginya Fian dengan dalam. Pria ini sangat sempurna. Tapi entah kenapa dia tak bisa merasakan perasaan yang lebih, ataukah dia saja yang tak bisa meraba isi hatinya sendiri ?
Fian menoleh kearah bude Dewi, mengalihkan fokusnya yang asyik mengamati Bara, Dio dan Rama yang kini semakin asik dan seru bermain dengan hadiah yang dibawanya tadi.
" Oh enggak ada kok bude. Kenapa emangnya ?"
" Ya sudah kamu temani Siti saja besok.."
Fian mengerutkan keningnya
" temani kemana bude ?"
" Ke rumah Dadang, anak-anak sudah lama tak ketemu sama ayahnya itu.." Bude berbisik pelan ke Fian. Tak ingin ketiga bocah yang kini berada agak jauh dari mereka malah mendengarnya, biarlah ini akan menjadi kejutan untuk mereka besok.
" Apa nggak apa, kalau aku yang temani mereka..
Nanti Dadang salah paham bude, dan malah aku pulang-pulang babak belur ?" Meski bercanda, tapi ada kegetiran di hati Fian saat mengatakan hal itu. Dia kini memandang Siti yang malah mendekati anak-anaknya yang sedang sibuk bermain.
" Loh. Emangnya Siti nggak cerita ?"
__ADS_1
" Soal apa bude ?"
" Soal Dadang, mantan suami Siti itukan sudah punya istri baru. Sudah lebih dari dua bulan ini malahan, makanya Siti mau ke sana ajak anak-anak agar bisa ketemu sama ayahnya, karena semenjak Dadang menikah lagi , dia seolah lupa sama Rama dan juga adik-adiknya, namanya anak-anak kan sudah pasti rindu sama Ayahnya, bahkan sekarang mau nelpon Dadang saja susahnya minta ampun. .." Bude malah jadi berkeluh kesah, sangat kecewa dengan kelakuan Dadang, membuatnya malah kebablasan cerita semuanya ke Fian.
Fian seolah merenungi ucapan Bude Dewi yang baru saja didengarnya
" Benarkah bude !! Siti Enggak ada cerita tuh bude.."
Dewi menatap Siti dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya Siti masih trauma akan pernikahan dan juga soal lelaki. Hingga ia tak mau membuka hatinya untuk Fian. Meski sebenarnya sepele. Seharusnya Siti menceritakan hal ini, agar Fian tahu yang sebenarnya. Bukan malah diam saja, seolah perasaan cinta yang selama ini dirasakan Fian tak berarti apa-apa bagi janda dengan tiga anak itu..
" Siti !!" Dewi memanggil Siti dengan sedikit keras, mengingat posisi Siti yang kini semakin jauh dari teras karena ikut bermain dengan anak-anaknya.
" Eh iya bude , kenapa ?" Siti mendekat, panggilan sang bude yang tiba-tiba jujur saja sedikit membuatnya kaget.
" Jadikan besok. .? Bude sudah ngomong ke Fian. katanya dia nggak ada kesibukan besok, jadi kalian bisa pergi ..!!"
Siti melirik kearah Fian yang ternyata sedang menatapnya dengan pandangan yang menurut Siti sangat aneh, entah apa yang dipikirkan Fian hingga menatapnya dengan begitu lekat.
" Ter ...serah sih bude. Kalau Fian nggak keberatan . aku sih nurut aja.."
Fian malah menunduk dan kembali menatap kearah bude dan mengangguk, " Ya sudah bude , aku pamit pulang dulu. Sudah sore soalnya.." Fian menyalami Dewi tanpa melihat kearah Siti. Membuat Siti merasa aneh.
" Fian kenapa bude ?"
Fian baru saja menghidupkan mesin mobil ketika pertanyaan itu keluar dari bibir Siti
"nggak biasanya dia cuekin aku seperti itu ?"
" Entahlah ..!!! Bude juga nggak tahu kenapa dia begitu,, ada yang salah kali sama kamu Siti ?"
Bude malah balik bertanya membuat Siti semakin mengerutkan keningnya dalam, matanya masih mengawasi mobil Fian yang kini semakin pergi menjauh .
Sementara Bude Dewi, malah memandang ekspresi Siti yang kini nampak datar. Dia tak mau ikut campur terlalu dalam, akan hubungan Fian dan Siti. Dia akan memposisikan dirinya hanya sebagai penonton. Dan biarlah tangan tuhan yang bekerja dan membawa hubungan kedua orang yang telah gagal dalam rumah tangga itu kearah mana ?
Yang jelas, Dewi selalu berdoa tentang hal baik jika menyangkut Siti dan juga ketiga cucunya.
" Bu
__ADS_1