
Siti menatap anak-anaknya yang sudah tertidur lelap, sehabis mereka buka tadi. Bahkan Rama yang biasanya tidur agak malam, malah berbaring lebih dulu dan tampak mendengkur halus. Ada senyum dibibir Siti saat mengingat manisnya Rama saat memberikan amplop pemberian kakek dan Ayahnya tadi.
' Ini juga uang ibu kok. jadi jangan sungkan kalau ibu mau menggunakannya.. Rama sama adik-adik cuma butuh ibu, selebihnya kita anggap bonus '
' Loh kok gitu bang !kenapa ?'
' Pisah sama ibu itu nggak enak, ternyata tempat ternyaman adalah berada di samping ibu. Meski kita harus makan telur satu untuk bertiga..'
Siti tersenyum haru, ternyata Rama ingat saat itu. Saat dimana dia sama sekali tak punya uang lagi. Dan mesti berhemat untuk makan anak-anaknya, padahal mereka masih punya Dadang yang seharusnya memberikan nafkah .
" Mereka sudah tidur mbak ?"
Elis bersuara, entah sejak kapan dia telah berdiri disitu. Yang jelas, Siti tak sedikitpun merasakan kehadiran istri dari mantan iparnya itu.
" Padahal aku mau pamitan ini!"
" Humm.. Kayaknya mereka kecapekan El !"
Siti menghapus air mata yang masih tersisa disudut matanya.
Siti berdiri dan menemukan wajah Elis yang sudah basah oleh air mata..
" Aku ... Aku Iri sama mbak Siti!!" Elis menangis dan memeluk Siti dengan erat.
" Aku nggak akan kuat jika harus menjalani hidup sendiri sepanjang hayat ku, mbak !! "
Siti sempat tertegun kemudian dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi mencoba menahan desakan air mata yang hendak keluar.
Dia tak tahu harus merespon seperti apa, akan semua keluh kesah yang diutarakan Elis. Mendadak hati Siti terasa tertampar, selama ini dia tak pernah bersyukur akan apa yang telah terjadi di hidupnya. Meski sekarang dia tak akan bisa hamil lagi mesti dia kembali berumah tangga, tapi setidaknya dia sudah punya tiga jagoan yang lucu menemaninya. Sedangkan Elis, merasakan hamil saja dia tak pernah..
" Dek ...!!! " Agung membuka sedikit pintu kamar anak-anak. Suara tangisan Elis memang terdengar hingga keruang tamu, dimana Agung dan bude Dewi tengah bercengkrama.
Elis menoleh, dan segera memeluk erat suaminya..
" Maafkan ketidaksempurnaan ku bang !!! MAAF ...!!"
__ADS_1
Agung menenggelamkan kepala Elis di dadanya, dia sekarang ikut menangis dan menatap Siti yang berdiri kaku dengan muka basah..
Siti malah menunduk, teringat akan permintaan Agung tempo hari. Apakah tatapan lelaki itu masih dengan permintaan yang sama. Memikirkan itu Siti malah merasa nelangsa. Jika kemarin dia marah, tapi kali ini dia tak tahu harus bersikap seperti apa ..
" Kita pulang ya dek.. Jangan menangis disini. Nanti anak-anak malah bangun !!" Agung mengusap kepala istrinya, mencoba memberi pengertian.
Kemudian dia menuntun Elis untuk keluar dari kamar keponakannya.
" Ayo pulang Bang !! aku lelah ..."
Elis berucap dengan wajah menunduk, dia sekarang malah berlalu tanpa kata . padahal mereka baru saja tiba diruang tamu, dimana ada bude Dewi menatap prihatin pada sosok Elis.
" Maafkan sikap Elis ya mbak. Bude..!! Kami pamit dulu.."
Agung menyalami Siti dan juga bude Dewi. Keduanya hanya mengangguk sebagai jawaban..
Siti mengikuti langkah agung dan menatap kearah kabin mobil dimana Elis terlihat duduk diam di sana, saat mata mereka bertabrakan. Elis memalingkan wajah dan tak menghiraukan Siti lagi. jujur saja sikap ini membuat perasaan Siti terasa diaduk. Kenapa bisa Elis berubah seperti itu hanya dalam hitungan detik..
" Kamu pasti heran dengan perubahan sikap Elis kan Ti ?"
" Tadi dia bilang ke Agung jika ingin mengadopsi salah satu anakmu !! Dan agung langsung menjawab kalau dia pernah mengutarakan hal itu padamu, dan kamu tolak. Makanya dia sedih, Bude khawatir Elis nanti depresi lagi. Kitakan tahu dari Agung jika Elis berkurang depresinya karena kabar sakitnya Dio.."
" Jadi, saat pertama datang kesini itu. Agung sama sekali nggak bilang ke Elis bude. Dan semuanya itu murni dari pemikiran agung sendiri ?"
Siti terduduk. Dia sekarang seolah dihadapkan dengan buah simalakama.
" Entahlah Ti. Bude juga nggak tahu harus berkomentar apa !!"
Keduanya kini diliputi keheningan, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing...
Waktu berlalu siti memutuskan merebahkan diri di samping anak-anaknya berniat untuk tidur, namun hingga waktu menunjukkan pukul Satu dini hari, Siti belum juga bisa memejamkan matanya..
Dia masih memikirkan Elis, perempuan berhati lembut dan juga cerdas dimatanya. Saat pernikahan Agung dulu dia sempat merasa insecure akan dirinya dihadapan Elis. Tapi keramahan dan sikap tak pandang bulu dari Elis, membuatnya merasa nyaman bicara dengan dokter muda itu.
Tapi mendengar kalimat keputusasaan dari Elis tadi membuatnya merasa jika penolakannya adalah hal yang kejam dan jahat.
__ADS_1
pikiran-pikiran yang kini memenuhi otaknya membuat Siti memutuskan untuk beranjak, dan menyiapkan menu untuk sahur..
" Apa nggak terlalu cepat, Ti !!
masih jam satu lewat sedikit ini. ." Bude datang dari arah kamar mandi, beliau baru saja selesai wudhu untuk sholat tahajud..
" Aku nggak bisa tidur bude, daripada suntuk nggak karuan, mending masak..!!"
Bude tahu Siti. Dia adalah orang yang tak tegaan, pasti Siti kini tengah kepikiran akan Elis . Makanya dia tak bisa tidur..
" Jangan terlalu dipikirkan nak, Kita nggak bisa selalu memenuhi keinginan orang lain. Ada kalanya kita perlu egois, karena hidup ini bukan hanya tentang kebahagiaan orang lain, tapi juga kebahagiaan kita sendiri. Meski kadang ada kalanya keadaan menuntut kita agar bersikap sebaliknya. Namun sekarang bukan saatnya kamu untuk menyanggupinya dan mengabaikan perasaanmu..!!"
Siti sudah menitikkan air mata, sebelum kalimat dari mulut budenya selesai.
" Apa aku sejahat dan seegois itu bude..!!"
Siti berbalik, dan memeluk bude dengan tubuh bergetar...
" Manusia tempatnya salah dan khilaf Siti. Tapi untuk kali ini, ini bukanlah salahmu. Ini diluar kendali mu, jadi jangan merasa bersalah sayang!! " Bude mengusap kepala Siti dengan sayang..
***
Disisi lain, Elis kini nampak lebih terpukul daripada kemarin-kemarin. Dia merasa jika tuhan semakin tak adil padanya. Meski dia tahu permintaannya sangatlah kejam pada Siti ,tapi tetap saja. penolakan mantan Istri dari kakak iparnya itu, meninggalkan luka yang besar dan masih terasa berdarah , sakit dan perih . Itulah yang dirasakan Elis..
" Dek !! Cobalah menerima semua ini..!! kamu dengar sendiri kan ucapan Rama sore tadi ? jika seusia Rama saja tak sanggup jika berjauhan dengan Siti. Apalagi Bara dan Dio. Kita bisa Adopsi anak dari panti asuhan jika kamu mau. Dan Abang sudah dapat alamat panti asuhan terdekat dari kenalan Abang !!" Agung menyodorkan hapenya pada Elis berharap istrinya itu memberikan respon positif..
" Tak akan ada yang semanis Dio dan Bara Bang !!! aku mau mereka bukan yang lain huhuhuhu " Tangis Elis pecah, entah kenapa dia jadi terobsesi seperti ini sekarang..!!
Agung berdiri, dia sudah tak sanggup lagi. Dia pikir perubahan sikap Elis kemarin akan bertahan dan membawa perempuannya itu pada kesembuhan, tapi nyatanya. Semuanya seolah hanya angan saja bagi agung.
Begitu keluar dari kamar dia menemukan mertuanya yang kini menatap pintu dengan linangan air mata..
" Kamu harus sabar menghadapi Elis Gung..!! Mama mohon seperti apapun keadaannya nanti, jangan pernah kamu tinggalkan dia ..." Ibu mertua Agung itu menangkupkan kedua tangannya didepan dada, memohon pada sang menantu..
" Mama jangan khawatir, kekurangan Elis yang sekarang tak akan pernah membuatku menyerah untuk membersamainya hingga akhir hayat..!!"
__ADS_1