
kondisi Dadang yang memprihatinkan membuat Lastri memilih untuk menginap di rumah Dadang, guna menemani putranya itu, karena dia tahu ini adalah titik paling rapuh yang dialami Dadang.
Tapi sebagai sesama perempuan dan juga seorang ibu, membuatnya mau tak mau, khawatir juga akan keadaan Sandra.
Kini ibu dari anak itu sedang duduk di teras rumah Dadang. Tengah menimbang-nimbang apakah dia akan menjenguk Sandra atau tidak ?
" Mak, Sandra sudah pulang dari rumah Bidan Mira !!
katanya anaknya perempuan. Ayo Mak kalau mau besuk cucunya..!!!"
Salma setengah berbisik saat mengatakan hal ini, bagaimanapun dia tahu pasti perasaan Dadang .
Lastri berdiri " Sebentar Salma !! Emak pamit dulu ke Dadang...;!!"
Ketika masuk kedalam dilihatnya jika Dadang tengah tertidur di kamarnya, dengan hape ada ditangannya.
Lastri mendekat dan mengambil hape Dadang, seketika layar menjadi terang ketika tersentuh oleh tangan Lastri. Ternyata Dadang tengah melihat foto Siti dan anak-anaknya, yang tampak bahagia dan foto itu bahkan baru saja di upload di story WA milik mantan menantunya itu. Rupanya Dadang menahan kerinduan hingga akhirnya dia tertidur pulas.
Setelah meletakkan Hape Dadang ditempatnya, Lastri segera keluar rumah, menemui Salma yang masih setia menunggunya. Dilihatnya jika Salma membawa buah tangan berupa kantung kresek warna hitam yang tidak dapat terlihat apa isinya ..!!
" Biasa , Mak !! Kebiasaan disini kan kalau jenguk bayi, bawa deterjen buat nyuci hehehe"
Seolah mengerti akan tatapan Lastri,Salma menjawab sembari tersenyum.
" Oh Iya, Emak sebenarnya bingung mau bawa apa Sal !! " Lastri menjawab jujur, jika saja tak memikirkan hubungan baiknya dengan Fatma, dia pasti akan cuek saja ,karena sudah tahu belang dari Sandra. Masih untung dia mau menjenguk dan memikirkan nasib dari perempuan yang masih berstatus sebagai menantunya itu.
" Bawa uang saja mak, buat beli popok . ." Salma menyarankan, sembari mereka kini mulai berjalan bersisian .
***
Sandra menatap wajah sang putri yang tampak seperti versi mini akan dirinya . Sedari mereka sampai di rumah Fatma, Sandra tak henti-hentinya menangis,meski tak ada suara yang terdengar. Namun ,itu cukup membuat Fatma seolah ikut merasakan betapa hancurnya perasaan Sandra sekarang.
" San. Kalau ada yang mengganjal di hati kamu dan kamu perlu teman untuk cerita, Tante siap kok mendengarkan !!. Jangan kamu pendam semuanya sendiri, supaya hati dan pikiran kamu sedikit lega.."
Sandra semakin menangis kencang, kini bahkan terdengar jelas suara isakkan dari bibir tipisnya. Dia menggeleng kuat, meski bibirnya enggan mengakui tapi rupanya air matanya tak bisa diajak kompromi.
Suara salam terdengar dari luar, ada banyak bibir yang terdengar , bicara secara bersamaan. membuat Fatma beranjak cepat ke depan, untuk membuka pintu. karena kelahiran sang cucu membuat Fatma menutup warungnya sejak tadi pagi.
__ADS_1
"Eh Bu Uci !!" Fatma menyapa Bu uci yang datang bersama Indah, sang anak yang baru kembali dari minggat beberapa waktu yang lalu.
" Silahkan masuk, ." Fatma menatap kebelakang, agak aneh.
Bukannya tadi dia mendengar banyak suara. Tapi rupanya itu tadi berasal dari mulut Bu Uci dan juga anaknya saja.
kedua wanita itu kini masuk dengan mata yang mengarah kedalam, rupanya mereka tak sabar ingin melihat Sandra dan juga bayinya.
Fatma yang mengerti segera mengajak keduanya ke ruang keluarga dimana Sandra dan bayinya berada.
" Heeii, jadi ini yang namanya Sandra Bu, pengganti Siti ?" Indah menyapa Sandra tanpa berniat mengulurkan tangan. Perempuan yang seumuran dengan Dadang itu kini malah mengibaskan tangannya didepan Fatma dan Sandra. Matanya melirik ke arah Sang Ibu yang nampak fokus pada sosok bayi Sandra yang tertidur pulas.
Sandra menatap cincin dan gelang yang tampak penuh ditangan Indah dengan pandangan Datar, dia sangat tahu jika saat ini. Perempuan yagg baru saja dilihatnya ini tengah memamerkan perhiasan miliknya itu.
" Apa nggak berat Mbak ?"
Celetuk Sandra yang akhirnya berkomentar.
" Apa maksud kamu perhiasan ini ?" Indah menunjukkan jari jemarinya , dengan bangga,
Fatma melotot, bagaimana mungkin ada manusia seperti Indah anak ibu Uci ini ?bisa-bisanya malah mengatakan hal itu didepan keponakannya.
" Oh, Enggak toh.. Aku pikir tadi mbaknya keberatan, karena sedari tadi ngibasin tangan, , "
Sandra menjawab santai. Dia tahu tantenya sedikit terpancing emosi.
" aku tuh kepanasan tahu,bukannya merasa berat..!!" Indah berucap sewot, bisa-bisanya Sandra malah memancing emosinya, padahal harusnya dia yang membuat Sandra merasa marah..
" panas ? Mbak biasa hidup di kutub Utara ya ? Kipas angin Segede itu sampai nggak kerasa !!" Sandra mengarahkan telunjuknya kearah kipas angin yang berada tepat di samping Indah, yang berjarak hanya satu setengah meter saja.
Indah terdiam, Sementara Bu Uci yang ikut malu akan kelakuan Putrinya kini malah mencubit Indah, agar tak lagi bicara.
" Eh San. Bukannya kamu belum sembilan bulan tinggal disini ? Kok sudah brojol aja !! Kamu Yakin itu anak Dadang ?"
Bu Uci mengalihkan topik pembicaraan, mencoba untuk ikut menyerang Sandra.
" Eh Indah..!! Si Asep mana ? Sepertinya kalian sudah sukses sekarang Ya !! Gimana ? Apakah sekarang Asep sudah benar-benar jadi pengusaha, bukan hoaks kayak kemarin ?"
__ADS_1
Fatma tak tahan, dia menatap Indah dengan senyuman manis, entah kenapa dua orang perempuan di depannya ini sangat - sangat tak tahu malu dan juga bisanya membaca kesalahan orang lain, tanpa bercermin diri.
" Oh iya, belum juga isi Ndah ? Sudah berapa tahun loh, kok malah nggak ada tanda-tandanya. Jangan-jangan kamu ketulah omongan ibumu, Jadi mandul !!"
Indah yang mendengarkan semua ucapan pedas Fatma kini berdiri dengan cepat, wajahnya memerah entah karena malu atau marah ?
" Eh Fatma !!! kalau punya mulut dijaga ya, mau pengusaha atau bukan. Yang pentingkan mereka sudah menunjukkan hasil positif sekarang. Dan soal momongan , Allah belum mempercayakan itu sama mereka. Jadi jangan sok mendahului kuasa tuhan !!! "
Bu Uci terdengar sangat emosi, dia bahkan juga berkacak pinggang didepan Fatma, sembari telunjuknya dengan lancang menunjuk-nunjuk sang tuan rumah.
Fatma yang kepalang emosi juga berdiri, " Bu !!! Seharusnya ibu pikirkan hal itu juga, sebelum memberi hujatan pada ponakan saya, emangnya dia mau dihadapkan situasi seperti ini. Ini Takdir, Bu !! Dia hanya menjalani takdirnya, jika kita sama -sama punya aib, sebaiknya harus pandai menjaga sikap dan juga mulut..!!!"
Fatma melemparkan kresek hitam yang memang diberikan oleh Indah saat masuk tadi,
" Ini bawa pulang, jangan pernah datang lagi ke rumah saya jika hanya ingin berbuat onar...!!!"
" Cihhh.. Sombong !!! ponakan kang Zinah malah dibela. ."
Bu Uci masih betah berceloteh, walau kakinya kini melangkah ke arah pintu keluar . Tak lupa dia mengambil kresek yang dilemparkan Fatma tadi.
Sesampainya di pintu, Bu Uci dan Indah berpapasan dengan Salma dan Emak Salsa alias Lastri.
" Eh Mak Salsa..!! Ngapain kesini ? Sudah jelas kan jika Dadang hanya sebagai penutup aibnya si Sandra itu, kok masih dibela-belain Sih buat jenguk kesini ?" Suara Bu Uci menggelegar, seolah ingin seluruh kampung mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya.
Lastri dan Salma saling pandang, Bu Uci ini memang selalu saja tak bisa membaca situasi, seharusnya dia bertamu ke rumah orang dengan sopan. Bukan malah teriak-teriak tak jelas seperti ini ?
" Kalau dari ekspresi kalian, Sepertinya kalian habis diusir ya ?
Jangan cari teman buat julid Bu Indah. Ingat umur !!"
Lastri berucap dengan pelan, tapi sepertinya mampu membuat Bu Uci terpancing, dan semakin emosi.
" Ibu ini gimana sih ? Kok malah nyerang saya. Ucapan yang saya bilang kan emang kenyataannya, Jadi nggak usah lah ditutupi lagi. Lagian kalau saya salah bicara, pasti.sejarang Sandra dan bayinya sudah diboyong Dadang kerumahnya, bukan malah dibiarkan tinggal disini sementara Dadang malah nggak mendampingi .."
Plakk
.....
__ADS_1