
Hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam saat Agung dan Elis memutuskan untuk pulang ke rumah emak.
Aku sudah menawari mereka untuk tidur di rumah kamj, namun malah disambut gurauan dari Elis kalau mereka masih pengantin baru dan masih giat olahraga malam.
Setelah kepergian sejoli itu, aku segera masuk kedalam, dan menemukan bang Dadang menatapku dengan binar ceria.
" Maafkan Abang yang membuat kamu merasa kesal ya dek !! Terima kasih karena sudah jadi istri yang baik. Meski kadang Abang tak menghargai usahamu . Tapi di hati Abang, Abang sangat sayang padamu dan juga anak,-anak kita.."
Aku tersenyum,dan memeluk bang Dadang. mungkin juga disini aku yang salah karena tak bisa menahan intonasi suaraku saat sedang kesal. Dan itu membuat suamiku terpancing dan semakin sulit untuk mengendalikan emosi dan akhirnya kami malah bertengkar.
" Malam ini! Boleh Ya dek ?"
Mata itu sangat menyiratkan permohonan. Aku lagi-lagi hanya tersenyum dan menganggukkan kepalaku sebagai persetujuan.
Bang Dadang nampak semangat dan segera menggendongku, menuju kamar kedua, karena kami selalu menghargai keberadaan anak-anak dan tak ingin mereka terbangun ditengah aktifitas pertempuran kami. Makanya kami memilih kamar yang ada berdempetan dengan kamar tidur yang isinya hanya lemari dan sebagai ruang ganti.
Aku melirik ke bawah, rupanya bang Dadang telah menyiapkan tikar di sana. Tak ku sangka, jika dia sudah sematang ini merencanakan keinginannya. Jika aku kembali menolak, aku tak tahu akan seperti apa kelakuan suamiku ini nantinya ..
Aroma mint dari mulut bang Dadang membuatku merasa nyaman. Tumben suamiku memperhatikan soal bau mulutnya. Biasanya dia selalu saja cuek, meminta haknya meski bau rokok menyengat .
" Kata Agung. Biar kamu senang dan nyaman, aku harus bisa merawat diri dan menjaga kebersihan diri . Terutama mulut.. Biar makin Hot..."
Aku tertawa, bisa-bisanya adik ipar ku itu mengajarkan hal ini pada bang Dadang padahal dia sendiri adalah pengantin baru..
" Jadi. Sekarang Agung lebih ahli nih daripada kamu bang,?"
.
" Nggak lah dek, aku sudah membuktikan dengan hadirnya ketiga jagoan kita. Agung kan belum apa-apa dibanding kan Abang..."
Bang Dadang membusungkan dada, membanggakan diri disertai kekehan .
Kemudian dia mulai menciumi seluruh wajahku, aku tetap menatapnya dengan senyuman.
__ADS_1
Ketika tangannya mulai menggerayangi tubuhku .
Rasa rindu dan haus akan sentuhan seolah dilepaskan bang Dadang, dia bahkan tak melewatkan seincipun kulitku dari kecupan bibirnya.
Aku melenguh, ketika gelenyar aneh menguasai diri. Dan rasanya kupu-kupu tengah memenuhi perutku, menghadirkan rasa senang dan nikmat secara bersamaan.
Bang Dadang sepertinya tahu jika aku telah mencapai *******, dan segera memulai permainan inti. Dengan pelan dan deru nafas yang semakin cepat , bang Dadang akhirnya menyatukan tubuh kami, irama yang semula terasa syahdu dan lembut, kini semakin cepat .
Aku mengigit bibirku yang hendak mengeluarkan *******, meski akhirnya, suara itu lolos juga dan semakin memacu bang Dadang untuk mempercepat tempo permainan.
Tubuhku telah basah oleh keringat, tapi entah kenapa malam ini semangat bang Dadang jadi lebih besar dan malah memperlama durasi permainan.
Meski begitu, aku seolah tak lelah. Mencoba menyeimbangi bang Dadang.
Hingga akhirnya, sodokan terakhir dia berikan, diikuti semburan hangat di rahimku, menghantarkan kami pada puncak surga dunia.
Bang Dadang mencium keningku, ketika dia beranjak dari atasku pertanda permainan kami telah usai. Dia tersenyum hangat dan wajahnya menunjukkan kepuasan.
" Makasih ya, dek !! Coba kalau kamu terus seperti ini sama Abang . Abang pasti nggak akan marah, dan uring-uringan nggak jelas.."
" Jangan mulai lagi bang. Tak akan ada asap jika tak ada api.."
suamiku itu kini balas menatapku, " iya, Maaf Dek !!! Jangan marah lagi ya, abang janji nggak akan ungkit ini lagi oke !!" Dia kembali mencium bibirku singkat dan memelukku.
" Sana bang, panas. Mana lengket lagi huh...."
Aku mengambil semua pakaianku dan langsung menuju ke kamar mandi. Meski aku telah tidur sore tadi. Tapi aku masih merasa lelah dan mengantuk, jadi aku menyiasatinya dengan segera mandi junub agar meski bangun kesiangan, Aku tak diburu waktu untuk mandi saat subuh nanti.
***
Beberapa Minggu ini aku memilih menghadapi sikap bang Dadang dengan diam dan mengalah, berharap dia sadar dengan sendirinya .
Dia masih ikut bang Haji dan kini sistem borongan , karena ditugaskan membuka lahan baru. Jadi saat dia lelah dia bisa beristirahat di rumah.
__ADS_1
Uang pemberian Salsa bisa aku simpan, dan aku kini menggunakan uang yang dikembalikan emak tempo hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami, juga membayar angsuran bank..
Aku juga mulai aktif lagi berjualan online dan menjadikan bang Dadang sebagai kurir paket dadakan.
Biasanya suamiku itu tak protes dan menurut saja, tapi karena mungkin hari ini ,paket COD an yang aku suruh bang Dadang mengantarnya mempunyai nominal total hampir satu juta, dia akhirnya menyuarakan keheranannya.
" Dek, kamu jualan gini. Pakai uang yang dari bapak ya ? Ini Apa sih dek, kok berat dan mahal ?"
" Iya bang. Aku putar uangnya, lumayan bisa buat nambah jajan anak-anak. Itu gorden bang, makanya berat dan agak mahal..Eh, abang nggak marah kan aku pakai uang itu ?"
" Enggak lah dek, kamu atur mana baiknya aja,, "
" oke bang. Berangkat sana gih. Nanti hujan bang, sudah mendung ini..!!"
Bang Dadang akhirnya melaju dengan membawa motor baru Salsa, motor yang kata adik perempuan bang Dadang itu adalah hasil keringatnya.
Aku sebenarnya semakin dibuat penasaran akan apa sebenarnya yang dilakukan oleh adik ipar ku itu tapi rupanya dia belum merasa nyaman jika harus bercerita dan hanya meyakinkanku jika dia tetaplah gadis baik-baik.
Kepergian bang Dadang membuatku merasa sepi, ingin posting jualan . Baterai hape malah habis, karena dimainkan Bara dan Dio, hingga mereka tertidur tadi.
Aku tersentak, dan seketika ingat jika aku belum melakukan KB, dan kini memilih langsung ke rumah Bidan Ratih yang merupakan Bidan desa, untuk suntik KB.
Aku menitipkan Bara dan Dio dengan mbak Salma, jaga-jaga kalau-kalau mereka bangun saat aku masih diluar.
Setelah sampai di rumah bidan Ratih yang memang hanya berjarak beberapa rumah saja dari rumah kami. Aku segera mengatakan niatku datang padanya.
" Tih, mbak mau suntik KB nih. Tapi bisa nggak yang bisa melancarkan haid . Dan yang tiga bulan aja. Soalnya, perut Mbak belakangan ini nggak enak, kayak begah gitu karena nggak mens..!!,"
Aku bersuara dengan banyak permintaan, Ratih memang pendiam, tapi dia bukan tipe pemarah.
Gadis manis yang baru dua tahun lulus dari Akbid itu mengangguk tanda mengerti. Dia memintaku menunggu, sementara dia masuk kedalam ruangan khusus obat, mengambil botol cairan KB yang aku maksudkan tadi.
" Biasanya kalau pake KB yang ini akan mens mbak. Tapi tergantung hormon juga sih, jadi kita coba aja dulu ya mbak. Atau mbak mau pake yang satu bulan aja, seperti yang mbak biasa pakai ?"
__ADS_1
" Coba yang itu dulu deh Tih, Mbak ngeri juga kalau harus disuntik terus setiap bulan.."
Aku memang takut akan jarum suntik. bahkan saat ketiga putraku imunisasi aku tak akan melihat. Kasihan sekaligus ngeri. Aku menyerahkan tugas itu sepenuhnya pada dokter ataupun bidan yang bersangkutan langsung.