
Hari ini Siti seolah dikejar deadline akan targetnya untuk menyelesaikan novel ke tiga nya. Jika dua novel terdahulu, memiliki akhir cerita menyedihkan. Maka di novel ke tiga ini, Siti akan memberikan Akhir bahagia, agar semua pembacanya tahu dan berhenti menjulukinya sebagai author Sad, di platform yang masih aktif diikutinya. meski bisa saja dia untuk melakukan penerbitan mandiri dan berhenti menuangkan tulisan yang hanya dihargai recehan, namun dia tetap ingin membersamai para penggemar yang sejatinya telah membantunya sampai dititik ini !!
Memang benar kata orang, mood author akan mempengaruhi akhir cerita yang ditulis, tadinya Siti sudah mempersiapkan akhir yang lagi-lagi ,Sad. Untuk karya ketiganya ini. Tapi karena sekarang hatinya berbunga-bunga, dia malah kepikiran akan happy ending.
" Bu !! Besok kata bu guru, ibu harus Datang !! "
Rama berucap lesu, sambil memegang gagang pintu kamar milik Siti. Kamar yang sengaja Siti persiapkan untuk menyendiri membuat Novel.
" Besok kan Hari Ayah !"
Siti yang semula penuh senyum saat menyusun kalimat-demi kalimat di novelnya, kini malah memandang Rama dengan sendu. Dia berdiri menghampiri sang putra dan memeluknya dalam diam.
" Kenapa mendadak kasih tahunya Bang !! kan bisa kabari Ayah kemarin-kemarin kalau memang Rama mau Ayah yang temani !!" Siti berbisik seraya mengelus puncak kepala Rama.
Rama menatap Siti, Agak ragu mengutarakan apa yang sebenarnya mengganggu pikirannya beberapa hari ini,
" Abang lihat ibu lagi sedih. Makanya Abang sungkan dan nggak enak. Terlebih kan hape sama ibu terus, jadi Rama nggak bisa deh hubungi Ayah..!!"
Mata Siti berkaca-kaca, sebegitu besarnya perhatian Rama padanya, meski usianya masih tergolong anak-anak,
" Lain kali, kalau kamu mau bicara, bicara saja ya Bang !! ibu pasti dengerin kok, dan nggak akan marah juga, kalian segalanya buat Ibu, apapun yang sekiranya sulit untuk kalian hadapi ibu akan mengawal dan mendorong dari belakang, supaya kalian nggak perlu takut dan akan berhasil pada akhirnya.."
Rama mengangguk, " Ibu bisa datang kan?"
Siti mengangguk dan di hadiahi sebuah kecupan dari Rama, bocah itu kini melenggang pergi dengan bersenandung riang. Dia terlihat sangat senang.
Siti memandang tubuh Rama yang perlahan menjauh, dia merasa sesak setiap kali Rama membahas kata Ayah, meskipun dia sudah melakukan hal apapun dengan maksimal supaya mengurangi sedikit rindu putranya pada sosok Ayah, namun tetap saja terasa sia-sia. Dari semua hal yang disesalinya tentang perceraian, hal inilah yang paling membuatnya tertekan dan merasa gagal.
Suara Dio dan Bara yang berceloteh riang mengalihkan pikiran Siti, dia melangkah pelan keluar rumah mencoba mencari tahu siapa yang diajak bicara oleh kedua anaknya itu.
" Bara !! Dio kalian sama siapa ?"
Siti menyapa anaknya, karena lelaki yang tampak asing kini tengah membelakanginya .
" Nenek mana Sayang !!" Siti kembali bersuara sambil melangkah semakin mendekati kedua anaknya..
" nenek bikin teh , Bu !! " Dio akhirnya bersuara , mata bulat itu menatap sosok yang enggan menoleh itu dengan berbinar,
" Om mirip Ayah !! " Dio tiba-tiba memeluk sosok itu,membuat jantung Siti seolah melompat. Dan semakin penasaran siapa sebenarnya ini yang datang !!
__ADS_1
Apalagi dengan mobil merahnya yang tampak mahal.
" Nak Agung !! " Suara bude Dewi menyadarkan Siti dan juga membuat sosok itu menoleh ramah, membuat senyum Siti juga ikut terbit, ternyata Agung, mantan adik iparnya.
Tak canggung Siti menyalami Agung, meski dia bertanya-tanya kenapa bisa Agung datang kesini ?
" Mbak!! Apa kabar ?"
" Mbak baik, ayo Gung duduk dulu di sana !! " Siti menunjuk kursi kosong di teras, karena memang sedari tadi Agung hanya berjongkok saat menyapa para ponakannya.
" Iya mbak !! " Mengikuti langkah Siti, dengan sopan lelaki itu duduk diantara Siti dan bude Dewi.
" sudah lama ya mbak !! Aku sempat nyasar tadi saat kesini, aku pikir ingatanku masih kuat, nyatanya salah hehe" Agung terkekeh pelan, mengingat dia yang beberapa kali menemui jalan buntu saat masuk ke perkampugan ini tadi.
" Sekuat-kuatnya ingatan orang pasti nyasar lah Gung, kalau cuma baru sekali kan kamu kesini , itu juga belasan tahun yang lalu saat pernikahan Mbak !! Lagian kenapa nggak telpon dulu, biar diarahin "
Agung mengangguk kaku,
" kami kan nggak punya nomor mbak lagi, bahkan nomor emak ,bapak dan seluruh anggota keluarga semuanya nggak ada lagi, karena musibah yang menimpa kami dua bulan lalu,"
" Musibah apa Gung ? Jadi emak sama bapak juga belum kamu kunjungi ?"
" Astagfirullah Gung, kenapa nggak ngasih kabar kekeluarga sih ? " Siti menutup mulut tak percaya akan apa yang dia dengar dari Agung.
" Jadi Bagaimana kabar Istrimu sekarang ?"
" Baik. Tapi, dia seolah merasa sepi sekarang ! Apalagi dia divonis mandul karena rahimnya rusak dan harus diangkat..!!" Agung menunduk sedih, dia dipaksa mengingat keadaan Istrinya yang seolah tak dikenalinya lagi.
Bude dan Siti kembali beristigfar, mereka bahkan kini tampak ikut menangis.
" Makanya aku datang kesini Mbak, meminta bantuan mbak Siti, agar Elis tersenyum lagi .."
Agung menatap Siti penuh harap, " Biarkan Bara ikut kami, Mbak !! kami akan mengasuh Bara seperti anak kandung kami. Aku harap mbak tidak tersinggung, akan ucapanku. aku janji akan menjamin kehidupan Bara agar lebih baik,,"
Siti tertegun, ucapan yang tiba-tiba dilontarkan Agung membuat sebuah lobang terasa menganga dihatinya ,meski dia juga ikut perihatin akan kondisi Elis, tapi tetap saja jika harus menyerahkan Bara, hatinya tak akan bisa menerima.
" Gung, mbak.... "
" Aku mohon mbak !!! Aku mohon, aku sangat mencintai Elis dan aku nggak tega jika harus melihatnya depresi seperti ini..Aku mohon Mbak !!"
__ADS_1
Agung kini bersimpuh di kaki Siti membuat Siti segera berdiri untuk menghindar .
" Agung !!!" Bude mendekati Agung dan memintanya untuk berdiri, bagaimana pun juga tak enak dilihat para tetangga yang sejak beberapa menit yang lalu mulai mencuri dengar dan mengarahkan pandangan pada rumah bude .
" Sabar kan hatimu, jangan meminta orang mengambil keputusan cepat untuk menolongmu, tanpa kamu tahu arti dari permintaanmu itu !"
" Aku sadar bude. Anggap saja aku mengantikan tangung jawab bang Dadang atas Bara. Dia juga anakku Bude !!"
Siti masih mematung, dia syok. kenapa Agung yang dikenalnya paling bijak diantara anak-anak Bapak, menjadi sosok tega seperti ini !!
" Maafkan Mbak Gung !! Tapi , mbak nggak bisa jika dipisahkan dengan Bara, dengan alasan apapun itu. Mbak mampu kok, menjamin kehidupannya supaya lebih baik.."
" Aku mohon mbak, setidaknya pikirkan dulu. Aku benar-benar tak tahu harus melakukan apa sekarang !!"
"ENGGAK!!" Siti berucap tegas,
" Kamu sebagai suami saja merasakan sesakit ini, saat istrimu divonis tak bisa hamil, apalagi Mbak Gung, kamu nggak lupa kan jika mbak juga mengalami hal yang sama. Sikap dan ucapanmu bukan mengurangi beban Mbak Gung, tapi membuatnya tambah berdarah, karena kamu egois, tanpa memikirkan posisi mbak .." Siti beranjak dan menghampiri Dio dan Bara yang masih betah main di tanah dengan mainan milik mereka, dengan segera Siti mengendong keduanya di kiri dan kanan. membawa paksa sang anak masuk kedalam rumah,
Agung menunduk, mungkin tak seharusnya dia datang kesini, dia pikir Siti sudah punya tiga putra , tak masalah jika mereka membawa salah satunya, untuk diasuh. Tapi reaksi Siti diluar perkiraan Agung. Membuat lelaki itu menyugar rambutnya gusar..
" Kamu tahu Gung, anak-anaklah yang menjadi kekuatan Siti sekarang!! Jika kamu mengambil salah satu dari mereka , maka sama saja kamu telah dengan sengaja membuatnya rapuh. jangan bawa orang lain terlebih dahulu untuk mengatasi masalahmu Gung. Elis masih punya kamu, buat dia merasa beruntung akan itu, hingga hatinya akhirnya ikhlas dan menerima keadaannya yang sekarang. Setelah itu, baru kalian pikirkan dan bicarakan tentang adopsi anak.."
Agung menunduk, meresapi ucapan bude Dewi, kemudian dia mengangguk
" Terima kasih Bude, sampaikan maaf ku pada mbak Siti. Aku pamit, karena mau jemput Emak dan Bapak.. Assalammualaikum !!"
" Waalaikumsalam.. "
Sepeninggal Agung, bude segera masuk kedalam. memastikan sang keponakan baik-baik saja,
" Siti...!!! " Bude mengetuk pintu itu dengan tak sabaran, karena tak terdengar suara apapun dari dalam, padahal bude yakin jika tadi dia mendengar jika Siti mengunci pintu kamar .
" Siti, kamu nggak kenapa-napa kan ? Buka pintunya nak. ,bude mau bicara.!"
Cklekk..
Pintu terbuka, menampilkan Siti yang menutup mulut dengan telunjuknya, meminta Bude Dewi untuk diam
" Anak-anak lagi tidur bude !!"
__ADS_1
Bude yang entah sejak kapan menangis kini memeluk Siti dengan erat. Membuat Siti keheranan