Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Rumah Baru , Awal baik atau buruk ?


__ADS_3

Hari ini, akhirnya tiba juga. karena malam ini kami rencananya akan menempati rumah baru, sebelumnya kami sudah melakukan sedekah selamatan atas hunian baru kami ini.


Semua perabotan juga sudah ditata ditempatnya, aku sujud syukur ketika menginjakkan kaki memasuki rumah minimalis kami. mungkin terkesan lebai, tapi untuk sampai dititik ini aku rela berdarah dan berkeringat air mata.


Bukan dendam, namun perlakuan emak dan bang Dadang yang membuatku kejam, Tapi tetap saja kuarahkan dendam ini ke arah positif...


" Alhamdulilah ya Ti, meski anak masih pada kecil, kamu sudah punya rumah sendiri.." Bude mengungkapkan rasa syukurnya dihadapan keluarga bang Dadang. Aku memang sengaja menghubungi bude kemarin untuk ikut merasakan kegembiraan atas selesainya rumah kami.


" Iya bude. Siti yakin ini juga balasan dari doa-doa bude buat keluarga kecil Siti. Terima kasih ya bude uang 50 jutanya "


Bude mencubit pinggangku, refleks aku menjauhkan posisiku dari jangkauan tangan bude.


Aku sengaja membahas ini . Biar keluarga bang Dadang tahu, terutama emak yang suka menyindir dan merendahkan orang lain. Tujuanku baik, agar nanti kehadiran bude tak dianggap benalu, jika bude sering datang ke rumah ini.


mataku melirik kearah Emak yang terlihat mengerjapkan matanya berkali-kali. Aku yakin mertua ku itu kena mental, karena hanya memberi 30 juta saja , dia malah keberatan .


" Malam ini. Gimana kalau kita semua tidur disini aja. . " Salsa bersuara, mencoba mengalihkan suasana yang tiba-tiba dingin.


" Itung-itung nemenin mbak Siti dan bang Dadang. .Kan ini malam pertama mereka nginap disini .."


" Iya bapak juga berpikir begitu,"


Bapak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah kami.


" Bapak bangga loh dang akhirnya kamu bisa membuktikan jika kamu mampu membahagiakan istri dan anak-anakmu. "


Bapak akhirnya menyuarakan itu. meski hatiku sedikit tak terima, tapi tetap saja suamiku memang turut andil dalam keberhasilan ini.


Bude kini memelukku erat. entah apa yang sedang beliau pikirkan hingga bude menangis dan air mata itu kini membasahi baju yang kupakai.


" Orang tuamu pasti bahagia nak. Sekarang hidupmu sudah senang, punya suami baik, mertua pengertian, anak-anak yang ganteng dan juga sekarang sudah punya rumah sendiri. Bude benar-benar merasa lega sekarang..


Setidaknya jika nanti bude berumur pendek kamu sudah berada ditangan dan keluarga yang tepat.."

__ADS_1


Aku ikut menangis mendengar ucapan bude disela tangisnya. Dalam hati aku mengamini semua ucapan itu . Bude tak perlu tahu rasa sakit dan kecewaku yang sempat hadir saat mengandung Bara hingga empat bulan yang lalu.


" Insya Allah bude, Dadang tak akan mengkhianati kepercayaan bude. Dan terima kasih karena selama ini bude selalu membantu finansial kamu, hingga kami akhirnya berada dititik ini. "


Bang Dadang menyalami bude, mengecup tangan itu lama. Tepat ketika aku melepaskan pelukan bude padaku.


Aku dapat melihat jika suamiku itu menangis, Apakah ia teringat perlakuannya padaku beberapa bulan lalu. Atau ini hanya karena merasa terharu akan ucapan dan kepercayaan bude.


" kamu sudah seperti anak lelaki bagi bude Dang. Tetaplah ingat, jika Siti salah tegur dia dengan lembut. Karena bude tahu jika dikerasi, anak ini tak akan menurut malah semakin tertantang untuk melawan.."


Bang Dadang mengangguk saja tanpa menjawab. Ucapan bude memang benar, tapi aku merasa selama ini , aku masih menghadapi suamiku itu dengan mode diam. bukan melawan, seperti kata bude. Tapi aku tak tahu kedepannya akan seperti perlakuanku jika hati ini dibuat sakit kembali.


***


Tak terasa sudah seminggu kami menghuni rumah ini. Memang benar, rasa nyaman yang berbeda kini aku rasakan. Meski sedikit kerepotan karena biasanya Bara ada yang momong tapi kini aku harus mengasuh Bara seorang diri..


Anakku itu memang tak rewel, tapi tentu saja aku repot jika memasak sambil menggendong nya. Bang Dadang juga suka menolak ketika aku menyuruhnya mengasuh Bara barang sebentar.


Uang yang masih tersisa ditangan kini aku gunakan untuk berjualan online. hitung-hitung nambah penghasilan buat jajan anak.


" Dek, buatkan Abang kopi dong !!"


Aku yang tengah Menganti baju Bara dan Dio yang baru selesai mandi kini menoleh kearah bang Dadang. Padahal dia hari ini tak ada perjalanan kemana-mana. Tapi kenapa perkara kopi saja harus merepotkan ku yang juga sedang kerepotan.


" Bikin sendiri saja bang. Aku lagi ganti baju anak-anak nih.."


" Apa susahnya sih dek. bikin kopi doang . kan selesai ganti baju anak-anak juga bisa..


Belakangan ini kenapa kamu jadi makin malas aja sih ?"


Aku memilih mengacuhkan ayah dari anak-anakku itu. Bisa-bisanya dia malah bilang begitu, padahal semenjak kami pindah rumah, bang Dadang tak sekalipun berangkat ke kebun dan hanya ongkang-ongkang kaki di rumah. Tak berniat membantu kerepotan ku setiap harinya sedikitpun.


Aku memberikan Dio dan Bara pada bang Dadang. Dan langsung ke dapur untuk membuat kopi.

__ADS_1


" kenapa semenjak pindah rumah kamu jadi nggak gesit lagi soal kerjaan dan momong Anak dek. Heran aku. kenapa disini aku sering direpotkan sama anak-anak.Kata orang rumah sendiri bikin nyaman. Tapi kalau begini , apa nya yang nyaman. tambah ribet iya.."


aku kembali diam, beristighfar dalam hati dan mengendong Bara dan Dio menuju ke rumah mbak Salma tetangga samping rumah.


Semalam aku terlalu lelah , dan ketiduran Jadi tak sempat mencuci baju yang selalu nampak menggunung meski telah dicuci setiap hari.


Biasanya di rumah emak kami menggunakan mesin cuci. Makanya meski harus mencuci seluruh pakaian keluarga aku sama sekali tak merasa direpotkan tapi kami disini memang belum ada dana untuk membeli mesin penggiling pakaian itu.


" Kemana ? kerumah mbak Salma lagi !!! Apa dia nggak bosen dijejali anak-anak terus , jangan terlena nanti jadi bahan ghibah tetangga disini. Karena keseringan merepotkan .."


Aku tetap melangkahkan kakiku, kearah tujuanku semula.


Mendengar ucapan bang Dadang malah aku berpikir jenis lelaki seperti apa suami ku ini sebenarnya, jika tak bisa membantuku dengan momong anak. setidaknya jangan tambah beban pikiranku karena harus memikirkan konsekuensi dari tindakan ku yang selalu menitipkan Bara dan Dio .


" Kamu itu loh dek, dari tadi kenapa malah diam saja. Bukannya mikir dan nurutin ucapan suami malah diterusin dan pergi gitu aja.."


aku baru saja sampai di teras rumah. Sudah kena omelan tak berbobot dari bang Dadang lagi.


" Bang. Bisa tidak jika masalah yang menurut Abang remeh ini jangan dibahas didepan anak-anak. Kasian mereka jika selalu mendengar orang tuanya berdebat.."


" alah anak umur segitu ngerti apa sih . ngomong aja belum bisa juga..lagian aku benar kan. malu dek kalau harus merepotkan mbak Salma terus..


Kita ini baru berada disini, kenapa malah memberi kesan buruk dengan selalu menitipkan anak. Padahal kita sendiri malah enak-enakan di rumah.."


" Kamu yang enak-enakan bang. Bukan kita. Aku nitip anak juga karena aku mau nyuci baju yang seabrek dikamar mandi. Kalau kamu keberatan dan merasa malu seharusnya kamu saja yang jaga. Toh mereka juga anak-anakmu kan...."


" Loh kok jadi aku yang jaga, kamu biasanya kan bisa nyuci sambil gendong anak. Kenapa malah manja sekarang.."


" Manja GUNDULMU..!! Emangnya kamu lupa jika kita nggak punya mesin cuci bang.. Jadi mana bisa gendong Bara sambil nyuci..."


" Kenapa kamu nyolot. aku ini suami kamu, emang bener kata emak, kalau terlalu dimanja malah bikin kamu sebagai istri jadi ngelunjak. ."


Gelas kopi yang masih panas itu kini dibanting oleh bang Dadang tepat di dekat kakiku. Beruntung aku sempat mundur dan tak terkena percikan air panas maupun pecahan kaca yang kini berserakan..

__ADS_1


Air mata ini melesak keluar, mewakili hati yang kini juga sudah hancur seperti gelas di depanku.


Sementara bang Dadang melenggang cuek entah kemana.


__ADS_2