
Bang Dadang akhirnya bangun juga ketika jam menunjukkan pukul 15:23, Tadinya aku pikir dia akan tidur sampai besok, hhe
Rupanya bang Dadang terbangun karena perutnya keroncongan minta diisi, wajar saja jika dia merasa lapar. Bang Dadang sarapan pada pukul tujuh pagi tadi, dan telah melewatkan makan siangnya. Untuk seseorang dengan porsi makan banyak, tentu saja ini membuat bang Dadang merasa sangat lapar,
Aku masih sibuk menata baju anak-anak ke dalam lemari. Kebetulan hari ini sangat panas jadi aku bisa lebih cepat melipat dan sekaligus menyusun pakaian yang aku cuci hari ini..
" Dek, Abang baru ingat loh. Semalam pak Wendi nawarin mau ngambil bank keliling atau enggak ? "
Aku menghentikan gerakan tanganku, mengeryit heran. Apakah bang Dadang berniat gali lobang tutup lobang?
ini namanya bukan solusi tapi semakin mencekik diri.
" Terus...? Kenapa bang, kamu mau ambil juga begitu !!"
Kulihat bang Dadang mencomot tempe goreng dimeja sebelum dia menjawab pertanyaanku,
" Iya dek, buat bayar cicilan bank. Mau pinjam sama bapak nggak enak, sudah habis ide abang Dek...."
Padahal tadi aku ingin mengutarakan pendapat dan ide ku , Tapi nyatanya yang nyangkut dipikiran suamiku, cuma cara instan seperti itu..
Memang uang Lima juta yang dipakai emak dan Bapak untuk wisuda Agung belum mereka kembalikan, sementara tiap bulan cicilan selalu kami yang bayar, Ingin rasanya aku mengembalikan ucapan bang Dadang tadi. Jika tak bisa membantu, alangkah baiknya jika tak menambah beban lagi..
Tapi ku tahan lidahku, tak ingin membahas ini lebih lanjut.
" Kalau aku melarang, menurut Abang bagaimana ?"
" Ya, berarti kamu yang harus usahain bayar untuk bulan ini. dikasih solusi kok malah menolak ?" Ucapnya enteng.
" Kok aku yang harus pusing, bayar bank bulanan saja kamu sudah kelabakan kayak gini, gimana harus bayar mingguan juga. Udah deh bang, jangan aneh-aneh. Pinjam saja sama pak Haji. Biarpun kamu kerja nggak dibayar itu lebih baik.
Karena Saat terima uangnya emang enak. Giliran bayarnya yang bikin pusing. Bisa-bisa anak kita malah nggak makan lagi , karena harus mengejar cicilan.."
Aku segera keluar rumah, tak ingin mendengar jawaban kalimat selanjutnya yang aku yakini adalah keputusan mutlak dari sosok suamiku itu, selalu seperti ini. Lagi, dan lagi...
__ADS_1
***
Kehidupan yang sejatinya penuh kedamaian kini malah dinodai dengan beragam cicilan, Uang mingguan yang sejatinya juga lumayan kini terasa sangat kurang dan membuat pusing, meski jualan online ku tetap laris dan ramai pembeli, tapi jika modal selalu saja digunakan untuk kebutuhan rumah, tentu saja ini akan mengurangi laba, karena pengeluaran selalu lebih besar dari pada pemasukan.
Meskipun begitu, aku tetap mengirimi bude uang. Dan bertukar kabar dengan ceria melalui video call. Aku selalu menghindari acara kangen-kangenan kami didepan bang Dadang, takut bude keceplosan dan bisa menjadi senjata bang Dadang untuk mengolok-olokku, pasti aku akan dianggapnya mencuri uang suami nantinya.
"Assalammualaikum.. Siti...Siti.."
Itu suara emak, meski heran kenapa emak datang kesini namun aku segera menemuinya yang sepertinya enggan jika langsung masuk kedalam rumah..
Aku menyalami emak, karena sudah menjadi kebiasaan ku setiap kami bertemu, meski kediaman kami tak terlalu jauh..
" Masuk mak..!!"
Mata mertuaku menelisik ruang tamuku yang nampak berantakan, sedangkan Dio dan Bara memang telah main dengan mbak Salma dari tadi.
Meski seperti orang Jijik, emak tetap masuk dan kini duduk lesehan setelah menyingkirkan beberapa mainan yang nampak penuh dan tak memberi ruang untuk duduk.
" Kamu ngapain dibelakang ? lain kali bereskan dulu yang didepan , Sudah kelar baru urusan dapur. Atau kamu juga bisa bangun lebih awal lagi, biar enggak berantakan kayak begini, Nanti malah cucuku yang celaka karena ibunya kurang gesit.."
Emak diam saja meski aku berusaha untuk menenangkan ekspresinya yang sedari datang tadi memang nampak tegang dan tak enak dipandang.
" Anak-anak di rumah sebelah
Ya..?"
" Iya Mak. Tadi dijemput sendiri oleh mbak Salma katanya biar aku bisa beberes dan leluasa nyuci di rumah.."
Emak terlihat memperbaiki posisinya, beliau menatapku dengan lekat, " Emak mau tanya Siti. Apa benar kalian juga ngambil uang dari mekar ! bank keliling itu ?"
" Memang bang Dadang nggak cerita Mak ?" aku malah balik bertanya membuat emak mengerutkan kening.
" Enggak ada tuh Dadang bilang apa-apa ke emak..
__ADS_1
Kenapa kalian malah semakin menyusahkan diri sih !
Kan kamu bisa pinjam sama bude mu, dia itu sudah seperti ibumu, Pasti dia bantu kalau kepepet ...
Terus sisa uangnya kamu putarkan ke jualan online kamu ya ?"
Aku menunduk, jujur saja aku tak tahu menahu jumlah uang yang dipinjam oleh bang Dadang, tapi katanya dia telah membayar angsuran bank sebanyak tiga bulan ke depan, makanya suamiku itu nampak santai, dan hanya bekerja jika dia mau, selebihnya dia akan malas-malasan di rumah..
Dan jujur saja usul emak tentang bude , entah kenapa mengingatkan ku akan ucapan bang Dadang tempo hari, sepertinya aku tahu sekarang bang Dadang lebih condong ke siapa soal kemiripan..
"Siti nggak tahu ada sisa atau enggaknya Mak, soalnya bang Dadang yang atur semua uangnya.."
Emak diam, aku mengangkat wajah ingin melihat ekspresinya, rupanya mertuaku itu memandang kosong pada foto Rama saat wisuda TK tahun kemarin. Entah apa yang ada dipikirkan Emak.
" Nanti biar emak tanyakan sama suamimu. Entah kenapa kalian malah nggak akur terus sejak menghuni rumah ini ?"
Aku mengernyit, apa ini artinya bang Dadang mengadu ke emak, tapi kenapa bang Dadang malah menyembunyikan tentang peminjaman uang pada ibunya ini.
" Jadi , emak pikir aku yang pinjam uang ke bank keliling itu ?"
" Iya, kan kamu jualan online jadi butuh biaya buat modal.
Emangnya kenapa suamimu sampai nekat ngambil mekar Ti?"
" Buat bayar angsuran bank yang perbulan itu Mak, Sudah aku cegah. tapi, Ya gitu. tetap saja bang Dadang ngotot.."
Biar saja sesekali aku melaporkan kelakuan bang Dadang, lagian sebegitu hinakah aku di mata emak sampai emak malah langsung menuduh tanpa bertanya dulu kepada anaknya,
" Maaf ya, Emak sudah nuduh kamu. Nanti biar emak yang nasehati suamimu, biar apa-apa melibatkan kamu sebagai istrinya. Biar kamu nggak bingung kalau ada orang yang bertanya, supaya nggak terlalu kentara, kalau rumah tangga kalian itu lagi bermasalah. Jaga nama baik Bapak , sebagai seseorang yang disegani di desa ini..Ngerti kan kamu Siti..?"
" Insya Allah Siti mengerti kok Mak.."
Mertuaku itu pamit, setelah meminta izin membawa Dio dan Bara ke rumah beliau, katanya Bapak kangen sama cucu-cucunya. Tapi agak sungkan untuk datang kesini apalagi jika bang Dadang tak ada di rumah.
__ADS_1
Aku mengawasi kepergian emak dengan dua anakku dari pintu, setelah emak tak terlihat lagi, aku segera menuju dapur dan meneruskan pekerjaanku yang tertunda tadi. Biarlah urusan mainan anak-anak dibereskan nanti saja, toh mereka pasti bakalan betah di rumah kakek dan neneknya..