Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Lamaran Agung


__ADS_3

Selesai membuat kue dan menatanya secara indah di kotak hantaran khusus. Aku berniat untuk pulang, berhubung memang hari sudah sore, sedangkan anak-anak belum mandi. Niatku memandikan anak-anak dirumah ini , entah kenapa tak terjadi, dan malah membuatku ingin segera pulang ke rumah.


Aku mengambil kresek hitam yang berisi pakaian anak-anak tadi, berniat pamit dengan emak, sekaligus mengajak Bara dan Dio.


" Loh Siti, kresek apa itu ?"


" Pakaian ganti anak-anak mak..."


Emak datang dari depan, membawa tas kantung belanjaan aneka merk ditangannya, oh ada lagi toh ,hantaran yang akan dibawa ke calon istrinya Agung, pikirku saat melihat itu.


" Sini kasih ke emak, biar anak-anak kamu emak yang mandiin.."


Aku sedikit bengong dengan ucapan emak, kok tumben dia mau repot memandikan cucu-cucunya itu.


" Kamu kedepan sana, bantuin Salsa dan Hesti, mengatur hantaran agar terlihat Cantik.."


Ohh, ternyata ada udang dibalik batu. Pantas saja. Mertuaku itu dirasuki virus baik ..


"Iya Mak.."


Aku langsung keruang tengah, dan mendapati barang-barang yang nampak mahal itu, berserakan tak beraturan. Apakah Hesti dan Salsa juga tak mengerti soal ini ?


" Kok acak-acakan kayak gini Sa ?"


Salsa malah menunjukan senyum yang menampilkan barisan giginya yang Rapi.


" aku nggak ngerti urusan beginian , Mbak. Tapi Emak maksa, jadinya malah berantakan kayak gini karena aku kebingungan hehehe"


" Kamu punya paket data nggak Sa, sini mbak pinjam bentar hape kamu. Kita buka YouTube saja, biar semua lancar.."


" Ahhhhh. Mbak Siti memang the best, aku bahkan tak kepikiran buat ngelakuin itu. Hhhh


Kalau ada Mbak, pasti semuanya bakalan beres .."


Salsa masuk ke kamarnya dengan riang, aku melirik Hesti yang sedari tadi diam saja. Entah apa yang kini tengah dipikirkan bumil itu, hingga terlihat sekali jika ia sedang melamun.


" Kamu kenapa Hes ?"


" E...eh.. Enggak kenapa-napa kok Mbak.." Hesti menjawab dengan gelagapan. Menandakan jika dia memang tak fokus sedari tadi ." Minta tipsnya dong Mbak Siti. Biar bisa sedekat dan seakrab itu dengan Salsa.."


Aku diam, tak menanggapi ucapan Hesti. Karena Salsa kini telah kembali duduk ketempat nya semula , dengan antusias Salsa melakukan pencarian Tutorial merias hantaran di Youtube.


Ketika ketemu, gadis itu langsung saja mempraktekkannya dengan semangat . Membuat kehadiranku dan Hesti serasa tak ada gunanya disini. Dan dalam waktu yang cukup singkat, setiap kotak hantaran yang berisi baju hingga aksesoris wanita dari ujung kaki sampai ke ujung kepala itu kini telah nampak cantik didalam wadahnya.


Aku takjub, untuk seseorang yang tak belajar dan langsung praktek, pekerjaan Salsa tergolong rapih dan menarik.

__ADS_1


" Huhhh...Coba aja dari tadi idenya buat lihat Tutorial nya muncul. Aku nggak bakalan ketinggalan sinetron favorit aku.." Keluh Salsa selesai menata dengan rapih semua kotak hantaran di atas meja ruang tamu.


" Huum.. Sudah selesaikan Sa, Mbak pamit pulang Ya. Gerah soalnya, bengong ngeliatin kamu dari tadi.."


" Iya Mbak, makasih ya. Mbak memang menantu dan kakak ipar terbaik. Aku nggak bisa ngebayangin tadi jadinya bakal kayak gimana kalau nggak ada mbak."


" Jangan lebai lah Sa, bukannya kamu kerja keras sendirian tadi, Mbak dan Mbak Hesti malah cuma jadi penonton saja.."


Aku menatap kearah Hesti, mencoba melibatkan sosok yang sedari tadi tak dianggap oleh Salsa kehadirannya, entah ada apa dengan dua perempuan di depanku ini sebenarnya ?


Bara, Dio dan Raja tiba -tiba datang dari arah dapur, mereka sudah wangi dengan wajah yang penuh dengan bedak, membuat bocah-bocah itu terlihat sangat lucu.


Aku ke dapur, berniat mengambil pakaian kotor anak-anak untuk ku bawa pulang, biar aku cuci di rumah saja. Tapi ternyata Emak sudah selesai mencuci semua pakaian bahkan kini mengeringkannya di mesin cuci.


" Nggak kenapa-napa kok Siti baju Rama dan adik-adiknya ditinggal disini barang satu atau dua stel. Biar mereka kalau mandi, habis main disini bisa langsung pakai baju bersih. Kalau nunggu pulang dulu ke rumah yang ada malah mereka gatel-gatel lagi.."


" Iya Mak.. Siti pamit pulang dulu ya. Mau mandi..."


" semua hantaran sudah selesai Siti. ."


" Sudah Mak. Sudah selesai juga Salsa tata dimeja tadi. Tinggal dibawa aja nanti malam.."


" Oh ya sudah kalau begitu "


Aku segera ke depan pamit dengan yang lain. Sekalian mengajak Hesti buat main ke rumah kami. Tapi kondisinya yang hamil besar membuat Hesti menolak dengan halus. Jadilah kini aku pulang dengan ketiga anakku.


pagi ini cuaca terasa sangat dingin , memang sudah berapa hari ini hujan tak datang, membuat hawa dingin terasa menusuk tulang, hal yang biasa terjadi saat pergantian musim .


Bunga kopi yang kebetulan ada di samping rumah kami, kini juga tampak tengah mekar, menebarkan aroma harum yang menyengat indera penciuman.


Setelah selesai memasak, aku langsung mencuci piring. Baju kotor juga sudah aku rendam dengan deterjen.


Semalam tidurku sangat nyenyak, sampai aku tak tahu jam berapa bang Dadang pulang dari menghadiri lamaran adiknya, Agung.


Sebenarnya ada rasa penasaran di hati . Sekaya dan secantik apa calon menantu ke empat emak ini. Tapi lebih baik aku tahan dulu rasa penasaranku, karena sepertinya kebiasaan bangun siang bang Dadang kini kumat lagi.


" Buk, Bara pipis di kasur.!" Rama datang dengan muka bantalnya, Semalam memang aku memberi susu kepada Bara, yang dibelikan oleh Indra, sebagai oleh-oleh kepulangannya. Mungkin karena belum terbiasa, jadilah Bara ngompol.


" Iyakah. Kena kamu ya bang ? Langsung mandi aja ya, biar bau pesingnya hilang, ini juga sudah pagi."


Aku masih sibuk dengan kegiatanku ketika menyuruh si sulungku untuk mandi,


" Bajunya kasih ke ibu, bang !! Biar ibu cuci sekalian.."


Rama kini telah berbalut handuk dan menyerahkan bajunya yang lembab karena pipis adiknya.

__ADS_1


" Makasih ya bang."


"Iya, bu. Rama mandi ya, atau ibu masih perlu sesuatu ?"


" Nggak ada kok sayang, sudah mandi sana.."


Aku terharu, diusia yang masih sembilan tahun, tutur kata dan sikap Rama sangatlah dewasa, untuk anak seumurannya.


Aku akui, ajaran Bapak sudah menjadi pengaruh baik untuk anak pertama ku itu. Karena Rama masih tetap yang pertama ditanyakan jika Bapak kebetulan bertemu denganku.


Aku berharap hadirnya cucu perempuan tak mengurangi cinta Bapak mertua kepada anak-anakku...


" Dek, bikinin kopi ya "


Bang Dadang baru bangun, langsung menyuruhku. Aku diam saja dan memilih menyelesaikan tugasku.


" Dek !! Kamu denger kan ?"


" Biar Rama aja Pak. Rama sudah bisa loh !"


Rupanya putraku itu kini telah selesai mandi dan berganti baju.


" Enggak usah. Biar ibumu saja, kamu itu laki-laki tugasmu bukan di dapur. Nanti malah belok lagi, karena salah ajaran.."


Aku tentu emosi, apa maksudnya coba. Tega sekali suamiku itu mengatai anak sendiri,


" Rama beli telur dulu nak, buat lauk kalian. Emak lupa, jika stoknya sudah habis.."


Aku yang hampir selesai dengan cucian ku kini bergerak gesit menuju kamar, mengambil uang untuk diberikan ke Rama.


" Bang, Rama memang lelaki. Tapi mengajarinya urusan dapur bukan berarti mengajarinya berprilaku sesat."


Aku langsung mendamprat bang Dadang dengan rasa kesalku. ketika memastikan sosok Rama telah hilang dari pandangan.


" Lagian, apa kamu nggak tahu jika chef saja sekarang kebanyakan lelaki. Aku juga sekalian ajarkan ke anak kita suatu saat kalau punya istri itu apa salahnya membantu, bukan main suruh dan diperlakukan bagai kan pembantu ."


" Kenapa kamu seolah nyindir Abang, dek. Sudah ketentuannya kan jika wanita itu tugasnya di dapur, sumur dan kasur. Sedangkan lelaki tugasnya cuma satu, yaitu cari Nafkah. Kamu mau ngajarin anak kita jadi banci apa, dengan semua perkataan ngawur mu itu.."


" Susah ya bang, ngomong sama kamu. Pokoknya aku bakalan ajarin anakku menurut versiku, sedangkan kamu boleh juga ikut andil. Asal jangan ajaran yang telah aku ajarkan ke mereka malah kamu anggap sesat. Titik."


Rama sudah pulang dengan kantung kresek berisi telur ditangannya .


Aku memasak air buat bang Dadang, seolah tak terjadi apapun, Sikap dan perilaku Rama sudah sangat membuatku bangga aku tak mau jika anakku itu ,malah tertekan mentalnya dan malah berubah jadi anak yang pembangkang .


Untunglah bang Dadang tak memperpanjang perdebatan kami. Dan memilih menggoreng telur, untuk anak-anak makan. Entah setan apa yang merasukinya hingga mau melakukan hal itu.

__ADS_1


Aku tak ambil pusing lagi, selesai membuat kopi. Aku langsung saja menyelesaikan cucian ku yang tadi sempat ku tinggalkan..


__ADS_2