
Kedatangan Dadang tempo hari, membuat hubungan antara anak dan ayahnya itu kini jadi semakin baik.
Bahkan hampir setiap hari Dadang melakukan video call kepada ketiga jagoannya.
Kondisi ini membuat Siti merasa damai. Dan bisa mendapatkan inspirasi dengan mudah untuk kelanjutan novel buatannya.
Meski belum mendapatkan pundi-pundi rupiah, tapi Siti senang karena bisa menyalurkan hobinya pada hal yang positif.
Komunikasi antara dirinya dan Salsa juga semakin intens, mereka bertukar ide dan pembelajaran tentang dunia tulis menulis. Tentu saja Salsa lebih senior dari Siti. Tapi Siti senang karena Salsa mendukung penuh semua yang kini Siti coba wujudkan.
" Kamu sudah punya pacar Sa ?"
wajah dilayar nampak malu-malu. Siti tentu tak harus mendengar pengakuan jika Salsa sudah menunjukkan ekspresi ini .
" Mbak. Dia ini orangnya agak pendiam. Kita belum pacaran sih ? Tapi , sudah deket banget, aku takutnya aku malah kepedean, dan malah salah kaprah dengan kedekatan kami ini ?"
" Tunggu. Dia ini siapa ? Teman kuliah kamu dulu kah ? Atau kenalan yang baru-baru ini kamu temui ?"
Salsa tersenyum canggung. " Baru-baru ini sih kenalnya mbak!!"
" Jangan terlalu gegabah , Sa. Apalagi kalau baru kenal, cuma saran saja sih. Tapi kalau kamu sudah klop ya lanjutkan.."
Siti berucap bijak. memandang Salsa dengan senyuman dukungan.
" Dia ganteng, mbak..hehehe.
Dan yang pasti dia anak tunggal juga hiihihi.."
Siti ikut tersenyum, bisa-bisanya Salsa menjadikan hal itu sebagai pertimbangan.
" Oh ya. Ibunya gimana ?"
" Gimana apanya Mbak ? "
" Ya gimana, galak atau baik atau gimana gitu ?"
Salsa malah tertawa, " Belum ketemu sih mbak. Doakan saja, perasaan Salsa ini nggak bertepuk sebelah tangan .."
" Aamiin..!!"
" Mbak sendiri gimana ? Sudah ada gebetan kah ?"
__ADS_1
Siti terdiam kemudian menunduk, entah kenapa pertanyaan Salsa membuatnya tak nyaman.
" Assalammualaikum...!!"
Suara lelaki terdengar hingga ke telinga Salsa, membuatnya menatap kearah Siti dengan curiga..
" Itu siapa mbak ?"
" Maaf ya , Sa. Ada tamu. mbak tutup dulu telponnya, nanti kita lanjut lagi.."
Flippp...
Layar menghitam membuat Salsa menerka-nerka siapa yang datang bertamu pada mantan kakak iparnya itu. Sebenarnya Salsa akan sangat bahagia jika Siti telah menemukan kebahagiaannya sendiri.
Sudah cukup, ibu dari keponakannya itu menderita karena kelakuan abangnya..
sudah waktunya Siti menemukan kebahagian sendiri.
Sementara Siti kini segera menyambut kedatangan Fian. Lelaki didepannya ini memang telah menyampaikan niatnya untuk mempersunting Siti. Namun, Siti belum siap membuka hati lagi untuk lelaki.
Baginya prioritas utamanya tetaplah anak-anak. Apalagi perpisahannya dengan Dadang bahkan belum sampai satu tahun.
" Bagaimana Jawaban kamu Ti ? jikalau kamu memang belum siap. Aku akan menunggu saat itu. Kamu tahu sendiri kan jika perasaan ini sejak dulu telah ada padamu, tapi kita belum jodoh saat itu, dan kini tuhan seolah mempertemukan kita lagi dengan status yang sama, sama-sama menjalani takdir buruk soal pernikahan. Maka biarkan aku mewujudkan impian yang sejatinya sudah lama aku harapkan..."
" Aku nggak bisa , Yan. Anak-anak sudah memenuhi segala isi pikiran dan hatiku. Aku belum bisa jika harus membuka hati dan menerima kamu. Aku tahu kamu lelaki yang baik, tapi. Rasanya masih terlalu cepat bagiku,, "
Fian terdiam, ikut memandang halaman rumah bude. Jika berkunjung kesini, Siti memang selalu memintanya untuk duduk di teras saja, karena status mereka bisa saja menjadi bahan gunjingan para tetangga jika nekad bicara didalam rumah dan hanya berdua..
" Aku akan menunggu sampai kamu siap ,Ti..."
***
Sudah dua bulan belakangan ini Dadang tak pernah menghubungi anak-anak lagi. Bahkan uang transferan yang biasanya tak pernah telat, kini malah tak ada sama sekali. Sosok Dadang seolah hilang ditelan bumi. Nomor Salsa juga mendadak selalu sibuk.
Anak-anak yang selalu meminta bicara pada Ayahnya membuat Siti kelimpungan sendiri, dia sudah kehabisan alasan untuk menenangkan anak-anak yang sangat merindukan Ayahnya itu.
Hari ini dengan harap-harap cemas Siti mencoba kembali menghubungi Dadang.
Telpon tersambung, membuat Siti lega.
' Assalammualaikum'
__ADS_1
Siti berucap ramah seperti biasanya, tapi tak dapat jawaban apapun dari seberang
' Bang, bisa video call ? anak-anak kangen katanya. '
'Anak-anak atau ibunya yang kangen ? Jangan keganjenan yah, Dadang itu sekarang sudah punya istri dan sekarang juga sedang hamil..jadi berhenti mencari perhatian dengan mengatasnamakan anak-anak.'
Suara perempuan kini menjawab dengan judes dan malah langsung mematikan sambungan telpon.
Siti memandang hapenya dengan aneh. Kemudian matanya menatap wajah anak-anaknya yang sedari tadi telah menunggu, agar bisa bicara pada sang Ayah. Untung saja Siti tak meloudspeaker hapenya tadi. Jadi dia tak terlalu khawatir anak-anaknya mendengar ucapan perempuan asing diseberang telpon.
"Gimana Buk ? Ayah ada kan !!"
Rama bersuara dengan antusias, berharap segera bisa berbicara langsung.
Siti menggeleng, ikut merasakan kekecewaan pada wajah-wajah penuh harap anak-anaknya
" Mungkin Ayah lagi sibuk kerja di kebun, Bang. Makanya hapenya nggak aktif !"
" Terus tadi ibu bicara pada siapa ?"
" Oh.. Tadi ibu kira ada yang angkat rupanya salah hehehe"
Siti tertawa canggung dan memeluk ketiga putranya itu secara bersamaan ." Nanti kita coba lagi ya, sekarang kalian tidur siang dulu ya, siapa tahu saat bangun . Ayah yang malah telpon kalian lebih dulu.."
Rama menatap ibunya dengan lekat, dia tahu jika ada sesuatu yang disembunyikan sang ibu. Dan itu pasti tentang Ayahnya.
Saat anak-anak kini telah tertidur lelap, Siti menatap hapenya. Mencari nomor Salsa dan langsung melakukan Video call , tapi panggilan darinya malah ditolak. Tak lama sebuah pesan masuk kegawainya.
[ Maaf Mbak..!! Salsa nggak bisa kalau harus bicara lewat telpon sama mbak, lewat pesan saja ya mbak. enggak apa kan !! ]
[ loh, kenapa Sa, kamu dan Abang mu kok nggak bisa dihubungi. Tadi juga ada perempuan yang angkat telpon mbak. Apa benar Abang mu sudah menikah lagi ?]
[ iya , Mbak. Mereka digerebek warga saat sedang mesum. Aku sebenarnya malu mbak mau hubungin mbak lagi, Tapi aku dengar tadi istrinya bang Dadang malah menghina mbak ditelpon , aku jadi kepikiran..]
Siti membaca pesan Salsa dengan hati tak menentu, bukan cemburu tapi lebih memikirkan anak-anaknya. Bagaimana mereka bisa menghubungi Ayahnya lagi, jika tipe ibu tiri mereka malah seperti itu sifatnya.
[ Mbak baik-baik aja kan ?]
[ mbak baik kok ,Sa. cuman kepikiran anak-anak saja, gimana mbak ngasih tahu mereka tentang ini. Dan bagaimana juga jika mereka ingin menghubungi Ayahnya ?]
Siti berharap Salsa dapat memberikan solusi namun Satu jam berlalu, tetapi tak ada balasan apapun dari Salsa, bahkan Salsa sudah tak online lagi .
__ADS_1
Siti pikir semuanya akan berjalan baik setelah perpisahan mereka, tapi kini kenapa Siti merasakan jika anak-anaknya akan jadi korban perpisahannya dan Dadang. Terlebih kini sudah ada orang lain ditengah-tengah mereka.