Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi

Ketika Nafsu Birahi Lebih Besar Daripada Nafsu Menafkahi
Isi hati Siti


__ADS_3

Bude Dewi telah dijemput oleh travel tadi pagi. Ternyata usaha Siti dan bujukan cucu-cucu beliau tak mampu menahan bude Dewi lebih lama. Demi menghemat waktu beliau memutuskan untuk mengunakan jasa travel lagi, karena kemarin bude merasa tak lagi merasakan mabuk kendaraan . Dan dia berharap ia juga tidak akan mabuk kendaraan pada kepulangannya kali ini.


Siti sebenarnya berat melepas kepergian budenya tapi dia tidak bisa jika menahan budenya itu terlalu lama dirumahnya. walau dengan alasan anak-anaknya sekalipun. Karena memang bude adalah tipe yang tak mau jika harus terus berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun. Bude memang selalu memantau lahan sawitnya sendiri dan membayar orang setelah dia sendiri tahu akan semua perincian yang harus dikerjakan. Makanya bude Dewi sering dianggap pelit oleh orang sekitar rumahnya, padahal tujuannya berkeliling dan memantau para pekerja hanya karena dia merasa bosan selalu diam di rumah.


Dadang juga tahu jika sebenarnya Siti hendak ikut pergi ke kampung budenya. Dia mendengar sendiri ketika Siti merengek pada kakak dari ibunya itu. Tapi bude tetap menolak karena menganggap jika Siti kekanak-kanakan jika terus saja lari dari masalah. Apalagi kini mereka telah terikat perjanjian . Jadi bude merasa jika Siti dan Dadang harus bisa memulai semuanya dari awal lagi. Dan dengan ini juga bude menegaskan jika dia akan memberikan waktu untuk mereka menyelami kesalahan masing-masing.


" Dek sepertinya kita harus bicara..!"


Dadang berucap pelan, anak-anaknya nampak terlelap, karena memang ini jamnya mereka tidur siang. Dadang merasa ini adalah saat yang tepat untuk mereka bicara empat mata. Waktu yang mereka lewati setelah operasi Siti seolah membatasi interaksi mereka sebagai suami istri. Dan jujur saja Dadang tak nyaman dengan kenyataan itu.


Siti diam saja namun dia mengangkat tubuhnya untuk bangun, niat awalnya memang ingin juga ikut tidur bersama anak-anaknya siang ini. Entah kenapa tubuhnya benar-benar terasa lelah dari pagi tadi, tapi mendengar permintaan Dadang dia langsung mengurungkan niatnya. Takutnya Dadang malah semakin menguatkan nada suaranya jika ia acuhkan.


" Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi Bang !!" Siti berucap ketus, memalingkan wajah kearah teras, karena mereka memang berada diruang tamu sekarang.


" Hargai aku sekarang . Maka aku juga akan menghargai mu.. "

__ADS_1


Dadang mengernyit


" Maksudnya apa dek ? Kok sikap kamu begini !!"


" Jangan membuatku semakin muak Bang. Aku masih disini karena surat perjanjian bodoh itu. Jangan siksa aku lagi dengan semua omong kosong mu..."


Dadang dibuat semakin tidak mengerti akan arah pembicaraan Siti " apa maksudnya sih Dek ? bukankah kamu sendiri yang ingin aku menandatangani surat itu. Mengapa sikapmu seolah terpaksa sekarang. Bukankah kita telah sepakat memperbaiki semuanya. memulai semuanya dari awal lagi,.."


"jika kamu bertanya apakah aku terpaksa..? Maka jawabannya adalah Iyah... aku memang terpaksa.... puas kamu sekarang hah!!!....Kamu tahu aku sekarang semakin hancur karena ulah mu, satu -satunya orang yang aku yakini sebagai tempat kembali malah dengan terang-terangan menolak ku dan menjebak ku lagi dengan lelaki berhati batu seperti mu..!!


a-ku Saaakkkiiiit Bang..Sakiiitt....."


" kenapa kamu nggak bilang ke bude jika kamu benar-benar nggak mau lagi bersama Abang dek . jujur Abang menyesal dan Abang beneran minta maaf akan kesalahan Abang. Tapi Abang nggak sanggup jika kamu ternyata terpaksa bertahan disisi Abang seperti ini.."


Dadang juga ikut bersimpuh, namun tangannya terasa kaku saat akan menyentuh pundak Siti. Takut sentuhannya lebih membuat Siti merasakan sakit lagi.

__ADS_1


" Menurut Abang aku bisa apa ? Bude adalah orang yang paling aku sayang dan juga yang paling aku segani. sejauh ini bude tak pernah mengecewakanku bahkan membuatku sedikit saja tersinggung akan sikap dan ucapannya..


Aku begitu beruntung mempunyai beliau dalam hidupku. aku takut menyakiti beliau dengan penolakan ku.."


Siti berusaha menetralkan emosi yang terlanjur menguasai dirinya


" Maka biarlah aku bertahan disini dengan memendam sakit ku. asal jangan bude yang sakit dengan semua kelakuan dan penolakan ku ..


JADI A-ku mohon. Bekerja samalah denganku, jangan menuntutku bertindak seperti dulu. karena luka yang setiap hari kau buat dulu kini semakin banyak dan mungkin mulai membusuk. Hingga sulit untuk diobati, Apalagi kembali sepeeti semula. Itu adalah hal yang mustahil..." Siti menumpahkan semua isi hatinya kearah Dadang. Posisinya memang sesulit ini sekarang. Karena kini yang ada dipikirannya hanyalah ingatan akan kelakuan Dadang yang tak bisa ditolerir lagi olehnya . Entah bagaimana hal ini akan bermuara yang jelas Siti merasa jika Dadang telah terlanjur buruk dan tak akan pernah bisa berubah.


Dadang memandang Siti yang berjalan kearah kamar dengan mengusap air matanya, sungguh tak pernah dia pikirkan jika Siti, wanita yang ceria dan selalu penurut itu kini menjelma menjadi orang asing dimatanya.


Apakah luka itu akan sembuh. Sekejam itukah dia pada perempuan yang telah memberinya buah hati itu..


Dadang kini menangis , sakit dihatinya mungkin belum sebanding dengan apa yang telah dia torehkan ke Siti. Jika terus seperti ini. Maka rumah tangga macam apa yang mereka akan jalani kedepannya. Mampukah terus bersandiwara hanya karena terikat sebuah kesepakatan atau dia harus mengatakan semua ini ke keluarga dan juga bude Dewi. Tapi bagaimana jika Siti semakin membenci dirinya dan menuduhnya menempatkan Siti ke situasi yang makin rumit dan lebih menyakitkan lagi.

__ADS_1


sementara itu, kini Siti bersandar di pintu kamar, air matanya mengalir dengan deras. Ada rasa lega dihatinya karena semua unek-unek yang mengganjal dihati kini telah dia ucapkan pada Dadang.


Mata sembabnya memandang wajah polos anak-anaknya yang tengah tertidur lelap. Memikirkan bagaimana mereka akan tumbuh nantinya membuat Siti semakin terisak tanpa suara. Hatinya memang menentang keputusannya untuk bertahan di samping Dadang. tapi, Budenya malah mengikatnya disini. Sungguh sebenarnya dia belum siap atau mungkin tak akan pernah mau lagi mempersiapkan diri untuk memperbaiki hubungannya dengan Dadang. Bagaimanapun juga permintaan Dadang tidak akan pernah mengembalikan sesuatu yang telah hilang darinya. Cukup baginya untuk memberi kesempatan dan menahan lukanya sendirian, Kini saatnya dia mengungkapkan hal-hal yang mengganjal di hatinya. Agar kewarasannya terjaga, dan bisa menemani anak-anaknya tubuh dewasa dengan ceria dan tanpa tekanan apapun juga . Tapi jika terus melihat wajah Dadang apakah dia akan sanggup bertahan dengan keteguhan hatinya. Bagaimana jika dia semakin merasa stress dan menjadikan anak-anaknya sebagai pelampiasan ,,?


__ADS_2